<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273</id><updated>2011-12-28T06:09:14.206-08:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Manajemen'/><category term='Akuntansi'/><category term='Keuangan'/><category term='Tesis'/><category term='Skripsi'/><title type='text'>Referensi Contoh Judul Tesis-Skripsi Ekonomi Akuntansi-Keuangan</title><subtitle type='html'>Perpustakaan Online, Penyedia Layanan Referensi Online LENGKAP untuk judul-judul Tesis Skripsi Ekonomi, Tesis Akuntansi, Tesis Keuangan, Skripsi Akuntansi, Skripsi Keuangan,. Berikut kami tampilkan ringkasan dari setiap judul</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>157</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6588300933175249582</id><published>2011-12-28T06:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T06:09:14.225-08:00</updated><title type='text'>Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap Hubungan Asimetri Informasi Dengan Praktik Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Perbankan (Ekn-154)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Masalah agensi telah menjadi bahasan yang sangat menarik untuk diteliti oleh para peneliti di bidang akuntansi keuangan. Jensen dan Meckling (1976) dalam Rahmawati, dkk (2006) menyatakan bahwa hubungan keagenan sebagai suatu kontrak antara manajer selaku agent dengan pemilik sebagai principal perusahaan. Principal memberikan kewenangan dan otoritas kepada agent untuk menjalankan perusahaan  demi kepentingan principal. Manajer selaku agent mengetahui informasi internal lebih banyak mengenai perusahaan dibandingkan dengan   principal,   sehingga   manajer   harus   memberikan   informasi   mengenai   kondisi perusahaan kepada pemilik. Informasi yang disampaikan oleh manajer terkadang tidak sesuai dengan  kondisi perusahaan yang sebenarnya karena manajer cenderung untuk melaporkan sesuatu yang memaksimalkan utilitasnya. Keadaan yang seperti ini dikenal dengan asimetri informasi yang dapat  memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan praktik manajemen laba (earning management) (Richardson, 1998 dalam Wardhana, 2009).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asimetri informasi yang terjadi antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) memberikan kesempatan kepada manajer untuk bertindak oportunis, yaitu demi memperoleh keuntungan  pribadi  (Ujiyanto,  2007).  Asimetri  informasi  inilah  yang  kemudian  menjadi pemicu  munculnya  praktik  manajemen  laba  di  perusahaan.  Asimetri  informasi  ini  dapat dikurangi dengan cara transparansi dalam penyampaian laporan keuangan terhadap principal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik manajemen laba yang memunculkan kasus skandal pelaporan akuntansi telah banyak terjadi di Indonesia seperti kasus yang terjadi pada PT. Lippo Tbk. dan PT. Kimia Farma Tbk. yang melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang diawali dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;deteksi adanya praktik manipulasi (Gideon, 2005).   Salah satu penyebab terjadinya kasus- kasus ini adalah karena lemahnya penerapan praktik corporate governance di Indonesia.&lt;br /&gt;Corporate  governance  sendiri  adalah  sebuah  konsep  yang  didasarkan  pada  teori keagenan, yang diharapkan dapat berfungsi sebagai suatu alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor  bahwa  mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer  akan  memberikan  keuntungan  bagi  mereka,  yakin  bahwa  manajer  tidak  akan mencuri  atau  menggelapkan  atau  menginvestasikan  ke  dalam  proyek-proyek  yang  tidak menguntungkan berkaitan dengan dana (capital) yang telah ditanamkan oleh  investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer (Saputri, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corporate Governance diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan melalui pengawasan  atau monitoring kinerja manajemen serta menjamin terciptanya akuntabilitas manajemen terhadap   principal berdasarkan peraturan yang ada. Konsep corporate governance ini pada intinya menghendaki adanya transparansi yang lebih baik bagi semua pengguna laporan keuangan yang bila berhasil diterapkan dengan baik secara otomatis akan meningkatkan kinerja perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem corporate governance dapat memberikan perlindungan terhadap pemegang saham dan  kreditor akan investasi yang telah mereka lakukan. Corporate governance juga dapat   menciptakan   suatu   kondisi   lingkungan   yang   kondusif   yang   dapat   menunjang terciptanya pertumbuhan yang efisien. Corporate governance dapat diartikan sebagai suatu susunan aturan yang menentukan hubungan yang tercipta antara pemegang saham, manajer, kreditor,  pemerintah,  karyawan,  dan  stakeholder  internal  dan  eksternal  yang  lain  sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya (Forum for Corporate Governance in Indonesia, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asimetri informasi yang dapat menimbulkan praktik manajemen laba mungkin terjadi akibat lemahnya penerapan corporate governance. Menurut Lins dan Warnock (2004) dalam&lt;br /&gt;Yana (2007), secara umum mekanisme corporate governance yang dapat mengendalikan perilaku  manajemen (dalam hal ini perilaku manajemen yang menyimpang seperti praktik manajemen  laba)  dapat  diklasifikasikan  dalam  dua  kelompok.  Kelompok  yang  pertama adalah mekanisme internal spesifik  perusahaan yang terdiri atas struktur kepemilikan dan struktur pengelolaan. Kedua adalah mekanisme  eksternal spesifik negara yang terdiri atas aturan hukum dan pasar pengendalian korporat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian mengenai corporate governance dan manajemen laba juga dilakukan oleh Nasution dan Doddy (2007) yang dilakukan terhadap perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ dari tahun 2000-2004.  Hasil dari penelitian ini adalah (1) komposisi dewan komisaris independen  berpengaruh  negatif  secara  signifikan  terhadap  manajemen  laba,  (2)  ukuran dewan komisaris berpengaruh positif secara signifikan terhadap praktik manajemen laba, (3) keberadaan komite audit berpengaruh secara signifikan terhadap  manajemen laba, dan (4) ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini dilakukan berdasarkan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmawati,   dkk.  (2006)  yang  meneliti  pengaruh  asimetri  informasi  terhadap  praktik manajemen laba pada perusahaan perbankan di BEI. Hasil dari penelitian Rahmawati, dkk. (2006)  adalah  bahwa  variabel  independen  asimetri  informasi  memiliki  pengaruh  secara positif  signifikan  terhadap  variabel  dependen   manajemen  laba.  Dari  penelitian  yang dilakukan oleh Rahmawati, dkk. (2006) ini peneliti ingin memasukkan pengaruh corporate governance sebagai variabel pemoderasi untuk mengetahui apakah  corporate governance mampu memperkuat atau memperlemah hubungan antara asimetri informasi dengan praktik manajemen laba.&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran di atas, maka penelitian ini diberi judul Analisis Pengaruh Corporate   Governance  Terhadap  Hubungan  Asimetri  Informasi  Dengan  Praktik Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di BEI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/12/download-contoh-tesis-ekonomi-dan.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau klik &lt;a href="http://ilmiahtesis.blogspot.com/2011/12/download-contoh-tesis-ekonomi-dan.html"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6588300933175249582?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6588300933175249582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6588300933175249582&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6588300933175249582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6588300933175249582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/analisis-pengaruh-corporate-governance.html' title='Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap Hubungan Asimetri Informasi Dengan Praktik Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Perbankan (Ekn-154)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-4169857949809525047</id><published>2011-12-13T17:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T17:02:51.073-08:00</updated><title type='text'>Segmentasi Pasar Dan Pemetaan Posisi  Produk Simcard GSM DENGAN TEKNIK  MULTIDIMENSIONAL SCALLING (EKN-153)</title><content type='html'>Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi serta pertumbuhan dan penyebaran penduduk yang sangat pesat menyebabkan kebutuhan masyarakat akan kelancaran dan penyampaian informasi semakin meningkat. Banyak alat komunikasi yang bermunculan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Salah satunya adalah telepon seluler (ponsel) yang saat ini mendominasi industri telekomunikasi nasional.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) mencatat bahwa hingga akhir 2004, pelanggan layanan ponsel mencapai 32 juta. Diproyeksikan pada 2005, pengguna ponsel akan meningkat 1,25 juta lebih pelanggan per bulan. Bahkan bisa terlampaui jika melihat jumlah pelanggan seluler yang hingga akhir Juni sudah mencapai 40 juta. Jadi, bisa dikatakan dalam satu dasawarsa atau dalam sepuluh tahun ini bisnis jasa telekomunikasi seluler berkembang sangat pesat walaupun negeri ini sempat mengalami krisis ekonomi yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang belum sesuai dengan yang diharapkan, tetapi bisnis di industri ini terus berkembang hingga sekarang. &lt;br /&gt;Heru Sutadi (2005) mengemukakan sedikitnya ada tiga alasan terus meningkatnya pengguna telepon seluler. Pertama, perubahan gaya hidup masyarakat yang going mobile, ingin dapat dihubungi dan menghubungi di manapun berada, menyebabkan adanya kebutuhan memiliki telepon seluler. Kedua, dengan melihat daya beli seperti itu, maka sesungguhnya angka teledensitas yang berkisar pada angka 22%, maka jika dibandingkan dengan beberapa negara Asean, seperti Singapura, Malaysia maupun Filipina, angka teledensitas tersebut masih dapat ditingkatkan lagi. Karenanya tak mengherankan, jika investor dari Singapura dan Malaysia begitu berminat untuk ekspansi di sini mengingat pasar mereka yang nampaknya jenuh, sementara di tanah air masih bisa ditingkatkan lebih banyak pengguna. Ketiga, mungkin juga menjadi contoh bagi sektor telepon tetap, yaitu adanya iklim kompetisi antar operator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis telekomunikasi nasional telah mencapai sukses yang sangat fenomenal baik bagi pabrik-pabrik pembuatnya maupun para operatornya. Berawal dari dua perusahaan jasa telekomunikasi pemerintah yakni PT Telkom dan PT Indosat pada pertengahan 1995 yang mulai mengembangkan saluran distribusi dengan open market atau disebut dengan penjualan melalui saluran distribusi para pedagang seluler. Pada awalnya perusahaan ini hanya mengeluarkan kartu SIM (simcard) GSM sebagai sarana telekomunikasi. Tahun 1997 datang pendatang baru di GSM khususnya yakni perusahaan swasta PT Exelcomindo atau lebih dikenal dengan XL. Dengan adanya tiga pemain seluler di GSM dan dengan meningkatnya aktivitas promosi yang dilakukan oleh para operator yang gencar di stasiun-stasiun televisi menyebabkan semakin bergairahnya bisnis di industri telekomunikasi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan telah membuat operator silau untuk berbuat apapun guna mengejar pasar. Aksi yang paling sering didapati adalah dengan banting harga, bonus bicara gratis, hingga membebaskan pelanggan dari biaya roaming. Aksi ini mendorong pengguna simcard untuk menggunakan banyak kartu dan mengganti-ganti kartu SIM. Menurut pengamat telematika Roy Suryo, pasar ponsel Indonesia seperti orang memencet remote control televisi. “Kalau ditanya mana yang terbaik, tergantung acaranya. Itu sekarang yang hampir terjadi. Orang menganggap ganti nomor bukanlah masalah penting.” Harus diakui, saat ini kartu perdana nyaris dijual gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan pendapat Roy, hasil riset Ericsson (2004) terhadap 1500 pelanggan telekomunikasi bergerak di Indonesia. Hasil riset Ericson menemukan bahwa ternyata pelanggan Indonesia paling suka berganti layanan di banding negara tetangganya di Asia Tenggara. Dari 1500 pelanggan yang disurvey, 390 orang atau sebesar 26% menjawab ganti operator dalam satu tahun ini dan 255 orang atau 17% mengaku akan berpindah operator dalam satu tahun ke depan. Ini tentunya menjadi catatan penting bagi operator seluler di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kompetisi yang terkesan sangat ketat antar operator di satu sisi merupakan berkah bagi para pelanggan namun disisi lainnya menjadi bumerang dengan aksi ganti-ganti kartu yang dilakukan pelanggan. Oleh karena itu, operator harus bisa mengetahui apa yang sangat diinginkan pelanggan dalam memilih merek dan tipe simcard agar bisa terus eksis di dunia ini.  &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-4169857949809525047?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/4169857949809525047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=4169857949809525047&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4169857949809525047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4169857949809525047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/segmentasi-pasar-dan-pemetaan-posisi.html' title='Segmentasi Pasar Dan Pemetaan Posisi  Produk Simcard GSM DENGAN TEKNIK  MULTIDIMENSIONAL SCALLING (EKN-153)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3971602575203490113</id><published>2011-12-13T17:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T17:01:43.501-08:00</updated><title type='text'>Aspek Seni Arsitektural Kemahasiswaan dan Logo Terhadap Reputasi yang Terbentuk Di Kalangan Mahasiswa Universitas Negeri Malang (EKN-152)</title><content type='html'>Perkembangan global memicu intensitas kompetisi untuk menjadi yang terbaik semakin tinggi, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Setiap tahun, saat lulusan SMA dan SMK bersaing untuk mendapatkan institusi pilihan, perguruan tinggi pun berlomba-lomba mempromosikan diri dan menjaring calon-calon mahasiswa potensial. Potensial bisa berarti mampu secara akademis atau finansial.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan tinggi dari luar negeri pun tidak mau kalah, dan gencar berpromosi. Begitu pula perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) melakukan berbagai upaya pemasaran dan menjadikan dunia pendidikan tinggi seperti bisnis dan industri. Kini beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) tidak mau ketinggalan dengan membuka jalur khusus atau ekstensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketatnya persaingan tersebut memaksa berbagai universitas untuk melakukan promosi mereka lebih awal. Jika pada beberapa tahun sebelumnya kompetisi dimulai setelah calon mahasiswa atau lulusan SMA/SMK telah memperoleh status kelulusan mereka dengan menerima STTB, maka beberapa tahun terakhir ini, seleksi mahasiswa baru menjadi makin dini karena perguruan tinggi berlomba-lomba memajukan tanggal penerimaan mahasiswa baru untuk menjaring mahasiswa pilihan sebelum didahului perguruan tinggi pesaing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat persaingan ini, ada perguruan tinggi yang menetapkan seleksi gelombang pertama pada awal tahun, tetapi sebetulnya diam-diam sudah memastikan untuk menerima mahasiswa pilihan sekitar bulan Oktober dan November ketika siswa SMA/SMK belum mengikuti ujian akhir semester gasal. Seleksi pra-gelombang pertama ini dibungkus dengan nama jalur prestasi, jalur khusus, jalur kerja sama, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun telah dikenal sebagai universitas terkemuka dengan berbagai keunggulan yang sudah diakui publik, Universitas Negeri Malang tetap perlu menjalankan komunikasi strategis untuk dapat digunakan untuk semakin mengukuhkan diri sebagai universitas terbaik dalam persepsi publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi komunikasi adalah kegiatan atau kampanye komunikasi yang sifatnya informasional maupun persuasive untuk membangun pemahaman dan dukungan terhadap suatu ide, gagasan atau kasus, produk maupun jasa yang terencana yang dilakukan oleh suatu organisasi baik yang berorientasi laba maupun nirlaba, memiliki tujuan, rencana dan berbagai alternative berdasarkan riset dan memiliki evaluasi. (Smith, 2005:3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi strategis bukan hanya pada kegiatan public relations. Komunikasi pemasaran juga merupakan perwujudan dari konsep-konsep komunikasi (Smith, 2005: 3). Public relations dan pemasaran atau marketing merupakan bidang yang sering kali bertubrukan atau overlapping. Public relations merupakan fungsi manajemen yang memusatkan perhatian pada interaksi jangka panjang antara organisasi dengan publik yang berkaitan dengan organisasi untuk memperoleh goodwill, pengertian yang saling menguntungkan serta dukungan (Smith, 2005: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan komunikasi pemasaran adalah fungsi dalam manajemen yang memusatkan perhatian pada produk atau jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen (Smith, 2005: 4). Namun, koordinasi dari dua kegiatan tersebut dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu organisasi dan dikenal sebagai integrated marketing communication (IMC). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotler (2004) memberikan empat tahap proses dalam komunikasi pemasaran yakni analisas lingkungan, identifikasi khalayak dan tujuan, pengembangan pendekatan strategis dam mengembangkan rencana implementasi. Sedangkan Smith (2005) memberikan sembilan fase yang dikelompokkan menjadi empat fase dalam komunikasi strategis untuk public relations yakni formative research, strategy, tactic dan evaluation research.&lt;br /&gt;Dalam kondisi persaingan yang dinamis, keunggulan berada pada organisasi yang berhasil membedakan diri secara positif dari pesaing. Demikian halnya dengan universitas. Pembedaan berdasarkan aset intangibel menjadi sebuah aspek yang penting dalam kompetisi untuk meraih loyalitas dan menjaga konsumen. Menanamkan keterikatan dengan pihak internal dan eksternal, menciptakan reputasi yang lebih luas, melakukan inovasi serta pengembangan menjadi sumber utama kekuatan dalam lingkungan kompetisi global. Reputasi menjadi elemen kunci dari aset organisasi dan sumber keunggulan kompetitif jangka panjang. Reputasi organisasi dalam persepsi publik yang luas memiliki dampak terhadap kemampuan kompetitif, pangsa pasar, dan keuntungan yang sangat berarti dalam menempatkan posisi dalam persaingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reputasi perusahaan merupakan penilaian publik dari indentitas dan image kunci dari sebuah organisasi yang memberikan penguatan posisi jangka panjang yang menguntungkan. Reputasi mewakili kemampuan yang berbeda yang menjadi atribut dari organisasi akibat kegiatan yang dilakukan sebelumnya. Berlawanan dengan persepsi stakeholder tentang identitas, reputasi organisasi mewakili persepsi jangka panjang dari integritas total sebuah organisasi. Hal tersebut didasarkan pada pengalaman yang dirasakan publik terhadap organisasi dan sebagai hasil dari perilaku, simbol, dan komunikasi organisasi dengan lingkungan. Berbeda dengan image, reputasi tidak dapat diubah dalam jangka pendek dan didalamnya mencerminkan kredibilitas, keandalan, kepercayaan, dan tanggung jawab dari sebuah organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak image dan reputasi organisasi dapat memiliki kecenderungan yang negatif maupun positif terhadap kesuksesan organisasi. Hal tersebut bergantung pada tingkat korespondensi dengan identitas yang bersangkutan. Image yang diciptakan dengan baik sulit untuk ditiru oleh kompetitor karena memiliki kekuatan yang dapat bertahan lama dalam posisi pasar. Nilai konsumen yang lebih tinggi dalam fase penilaian terhadap organisasi dengan posisi image yang tinggi dalam persepsinya akan mengarahkan pada performa, kepuasan, loyalitas, hubungan yang lebih baik dengan organisasi lain dan sebagainya. Interaksi mutual dari image dan identitas sangat penting untuk membangun reputasi yang menyatu dalam diri organisasi. Image organisasi merupakan gambaran mental yang multidimensional dalam lingkungan pasar, yaitu merupakan totalitas impresi dari publik kunci yang terbentuk tentang organisasi tertentu.&lt;br /&gt;Universitas Negeri Malang merupakan salah satu universitas tertu di Kota Malang. Meski nama yang disandang relatif baru diresmikan, sebelumnya universitas ini dikenal dengan nama IKIP Negeri Malang. Ketika masih sebagai IKIP Negeri Malang layanan pendidikan yang disediakan masih terbatas dalam bidang keguruan dan ilmu pendidikan. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah, IKIP Negeri Malang berganti nama menjadi Universitas Negeri Malang dan memperluas layanan pendidikan dengan menambahkan beberapa fakultas umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu diantara fakultas umum tersebut adalah Fakultas Ekonomi. Hal ini menjadi dasar pentingnya mengukur image Universitas Negeri Malang dikalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi mengingat fakultas ini diadakan pada saat perluasan layanan pendidikan ketika IKIP Negeri Malang berganti nama secara resmi menjadi Universitas Negeri Malang. Jika dikaitkan dengan image, maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa Fakultas Ekonomi lebih mengenal image Universitas Negeri Malang dibandingkan dengan IKIP Negeri Malang. Namun demikian sebagian orang juga masih lebih akrab dengan image IKIP Negeri Malang.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik Hubungan Identitas Visual Universitas Negeri Malang dengan Reputasi yang Terbentuk Dikalangan Mahasiswa. &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3971602575203490113?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3971602575203490113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3971602575203490113&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3971602575203490113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3971602575203490113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/aspek-seni-arsitektural-kemahasiswaan.html' title='Aspek Seni Arsitektural Kemahasiswaan dan Logo Terhadap Reputasi yang Terbentuk Di Kalangan Mahasiswa Universitas Negeri Malang (EKN-152)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3375169431573823438</id><published>2011-12-13T16:57:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T17:00:01.837-08:00</updated><title type='text'>Analisis Pengaruh Tingkat Investasi, Pendapatan Asli Daerah Dan Tenaga Kerja Terhadap Pdrb Jawa Tengah (EKN-151)</title><content type='html'>Pembangunan ekonomi adalah proses merubah struktur ekonomi yang belum  berkembang dengan jalan capital investment dan human investment bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran penduduk atau income per capita naik (Hasibuan, 1987: 12). Suparmoko, pembangunan ekonomi adalah usaha- usaha untuk meningkatkan taraf hidup  suatu bangsa yang seringkali diukur dengan  tinggi  rendahnya  pendapatan  riil  perkapita  (2002:  5).  Jadi  tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk meningkatkan pendapatan  nasional riil  juga  untuk  meningkatkan  produktivitas.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan  ekonomi  dapat memberikan kepada manusia kemampuan yang lebih besar untuk menguasai alam sekitarnya dan mempertinggi tingkat kebebasannya dalam mengadakan suatu  tindakan  tertentu.  Pembangunan  ekonomi  ini  mempunyai  tiga  sifat penting, yaitu :&lt;br /&gt;a.  Suatu  proses  yang  berarti  merupakan  perubahan  yang  terjadi  terus- menerus.&lt;br /&gt;b.  Suatu usaha untuk menaikkan pendapatan per jiwa/income per capita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Kenaikan income per capita itu harus terus-menerus dan pembangunan itu dilakukan sepanjang masa (Hasibuan, 1987: 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberlakuan Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pelimpahan sebagian wewenang pemerintah daerah untuk mengatur dan menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri dalam rangka pembangunan nasional negara Republik Indonesia dan pemberlakuan Undang-undang No.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah  daerah, diharapkan bisa memotifasi peningkatan kreatifitas dan inisiatif  untuk  lebih  menggali  dan  mengembangkan  potensi-potensi  yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah, dan  dilaksanakan secara terpadu, serasi, dan terarah agar pembangunan disetiap daerah dapat  benar-benar sesuai dengan prioritas dan potensi daerah.&lt;br /&gt;Kegiatan  pembangunan  nasional  tidak  lepas  dari  peran  seluruh Pemerintah  Daerah yang telah berhasil memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia di daerah  masing-masing. Sebagai upaya memperbesar peran dan  kemampuan  daerah  dalam  pembangunan,  pemerintah  daerah  dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai  kegiatan  operasional rumah tangga. Dalam melaksanakan kegiatan pembangunan, pemerintah daerah tingkat satu memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia di daerah  itu dan dituntut untuk bisa lebih mandiri. Terlebih dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka pemerintah daerah tingkat satu harus bisa mengoptimalkan pemberdayaan   semua   potensi   yang   dimiliki   dan   perlu   diingat   bahwa pemerintah daerah tingkat satu tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat seperti pada tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi adalah  sebagian  dari perkembangan kesejahteraan masyarakat yang  diukur dengan besarnya  pertumbuhan domestik  regional  bruto  perkapita  (PDRB  perkapita)  (Zaris,  1987:  82). Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingginya nilai PDRB menunjukkan bahwa daerah tersebut mengalami kemajuan dalam perekonomian.  Provinsi-provinsi  yang  berada  di  pulau  Jawa  (kecuali  DKI Jakarta)  ternyata mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tergolong rendah. Ini dikarenakan  sedikitnya sumber daya alam yang dimiliki oleh provinsi- provinsi yang berada di pulau Jawa. Sumber daya alam ini merupakan salah satu   faktor   pendorong   pertumbuhan   daerah,   selain   pola   investasi   dan perkembangan prasarana transportasi (Zaris, 1987: 86).  Salah satu indikator keberhasilan  pelaksanaan  pembangunan  yang  dapat  dijadikan  tolok  ukur secara  makro  adalah  pertumbuhan  ekonomi.  Akan  tetapi,  meskipun  telah digunakan  sebagai  indikator  pembangunan,  pertumbuhan  ekonomi  masih bersifat  umum  dan  belum  mencerminkan  kemampuan  masyarakat  secara individual. Pembangunan daerah  diharapkan akan membawa dampak positif pula  terhadap  pertumbuhan  ekonomi.  Pertumbuhan  ekonomi  daerah  dapat dicerminkan dari perubahan PDRB dalam suatu wilayah.  Jawa Tengah yang dikategorikan memiliki pertumbuhan ekonomi yang rendah ternyata memiliki sumber daya alam yang cukup banyak. Laju pertumbuhan ekonomi di  Jawa Tengah  selama  kurun  waktu  lama  tahun  terakhir  ini  selalu  mengalami kenaikan,  walaupun kenaikan itu tudak terlalu signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan  dengan  propinsi  lain  di  pulau  Jawa,  nilai  PDRB Provinsi Jawa Tengah relatif lebih rendah. Dari Tabel 1.2 menujukkan bahwa nilai PDRB Jawa Tengah selalu berada di bawah Provinsi Jawa Timur, bahkan lebih rendah dari Jawa Barat  meskipun telah dimekarkan menjadi Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. Ini terlihat dalam Tabel 1.2, pada 2 tahun terakhir  PDRB  Jawa Tengah yang selalu mengalami kenaikan tetapi masih kalah di banding dengan Jawa Barat dan Jawa Timur. Angka tersebut cukup signifikan yaitu hampir 2 kali lipat dari PDRB Jawa Tengah. Sedangkan untuk D.I. Jogjakarta dan Banten masih kalah dengan Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan penerimaan daerah provinsi Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 1.3 dimana komposisi dan proporsi Pendapatan Asli Daerah yang digali  oleh  pemerintah  daerah  sudah  mengalami  peningkatan  baik  jumlah maupun  proporsi  pendapatan  dari   dari   subsidi  masih  tetap  naik,  tetapi proporsinya terhadap total penerimaan sudah mengalami penurunan. Pendapatan  Asli  Daerah  Jawa  Tengah  selalu  mengalami  kenaikan  setiap tahunnya. Tahun 2000 PAD Jawa Tengah hanya 474.210.349  (dalam ribu rupiah) dan mengalami kenaikan tiap tahunnya hingga pada tahun 2005 telah mencapai nilai 2.491.395.611 (dalam ribuan rupiah). Ini menunjukkan bahwa penggalian  dana oleh pemerintah daerah propinsi melalui sumber daya asli daerah  dapat   termanfaatkan  dengan  maksimal.  Meningkatnya  PAD  dan penurunan  proporsi  tingkat  subsidi  diharapkan  dapat  menjadi  sinyal  bagi kemampuan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan daerah secara menyeluruh dan berkesinambungan akan lebih sulit dilakukan pemerintah daerah apabila tanpa adanya dukungan dari pihak swasta. Untuk  mendukung hal tersebut, pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang mendukung   penanaman modal yang saling menguntungkan baik bagi pemerintah daerah, pihak swasta maupun terhadap masyarakat  daerah.  Tumbuhnya  iklim investasi  yang  sehat  dan  kompetitif diharapkan akan memacu perkembangan investasi yang saling menguntungkan  dalam  pembangunan  daerah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai investasi di Jawa Tengah sangat fluktuatif. Kenaikan yang sangat signifikan terjadi pada tahun 2004. Dari 17 proyek penanaman modal dalam negeri yang  ditanamkan oleh investor dalam negeri tersebut bernilai&lt;br /&gt;5.608.617,36 (dalam juta rupiah). Sedangkan untuk penanaman modal asing nilainya  sangat  fantastis,  yaitu  mencapai  3.086.867,96  (dalam  ribu  US  $) dengan total proyek  mencapai 46 buah proyek. Walupun mengalami jumlah kenaikan dari segi jumlah total proyek yang mencapai 20 buah proyek untuk PMDN tetapi nilainya turun yang hanya  mencapai 1.912.678,00 (dalam juta rupiah). Hal  itu  juga  terjadi  pada  PMA,  jumlah  total  proyek  mengalami kenaikan  yaitu  sebanyak 47 buah proyek tetapi nilainya turun sangat drastis dibandingkan  dengan  tahun  2004.  Nilai  investasi  tahun  2005  untuk  PMA hanya bernilai 610.432,00 (dalam ribu US $).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal  pembangunan  yang  penting  selain  keuangan  daerah  dan investasi   adalah   sumber   daya   manusia.   Partisipasi   aktif   dari   seluruh masyarakat akan mempercepat pembangunan daerah karena rasa kepemilikan yang lebih besar terhadap  daerah. Hasil yang dicapai dalam pembangunan juga akan lebih cepat dirasakan untuk daerah sendiri sehingga nantinya dapat merangsang kesadaran masyarakat membangun wilayah lokal masing-masing. Untuk  mendukung  pelaksanaan  pembangunan  memerlukan   sumber  daya manusia  yang  berkualitas  disamping  terpenuhinya  kuantitas  permintaan tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan daerah diharapkan akan membuka lapangan pekerjaan baru yang  sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyerap tenaga kerja lokal untuk kepentingan  daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari Tabel 1.5 terlihat bahwa jumlah  angkatan kerja yang bekerja apabila dipersentase selalu diatas 90 persen. Pada tahun 2004 jumlah angkatan kerja yang bekerja di Jawa Tengah mencapai 14.930.097 dari total angkatan kerja yaitu sebanyak 15.974.670 orang. Pada tahun 2005 jumlah angkatan kerja mengalami kenaikan yaitu mencapai 16.635.255 orang dengan jumlah orang yang bekerja mencapai 15.655.303 atau mencapai 94,10 %. Ini menunjukkan bahwa tingkat  pengangguran yang ada sangatlah sedikit dan juga lapangan perkerjaan yang ada dapat menyerap tenaga kerja yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalian pendapatan daerah, peningkatan  peran  serta  swasta  dan peningkatan partisipasi tenaga kerja lokal sebagai modal pembangunan daerah diharapkan   menjadi   salah   satu   faktor   pendorong   pertumbuhan   daerah. Pemerintah daerah harus melaksanakan pendekatan perencanaan pembangunan daerah dari bawah ke atas (bottom up) agar pembangunan yang dilaksanakan daerah merupakan keinginan bersama dan sesuai dengan potensi yang ada agar kesinambungan pembangunan dapat tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa tingkat investasi, pendapatan  asli  daerah  dan  tenaga  kerja  mempunyai  pengaruh  terhadap pertumbuhan  ekonomi  di  Jawa  Tengah.  Apabila  nilai  dari  masing-masing variabel meningkat maka peningkatan juga terjadi pada pertumbuhan ekonomi dalam hal ini adalah PDRB. Apabila terjadi penurunan dari variabel-variabel&lt;br /&gt;tersebut penurunan juga terjadi terhadap PDRB, dari fenomena tersebut di atas maka  perlu  adanya  suatu  penelitian  yang  diharapkan  dapat  memberikan rekomendasi demi kelangsungan pertumbuhan  ekonomi di Jawa Tengah. Hal ini  yang  melatarbelakangi   penelitian  dengan  judul  “Analisis  Pengaruh Tingkat Investasi, Pendapatan Asli Daerah dan Tenaga Kerja terhadap PDRB Jawa Tengah”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3375169431573823438?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3375169431573823438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3375169431573823438&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3375169431573823438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3375169431573823438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/analisis-pengaruh-tingkat-investasi.html' title='Analisis Pengaruh Tingkat Investasi, Pendapatan Asli Daerah Dan Tenaga Kerja Terhadap Pdrb Jawa Tengah (EKN-151)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1068927762921674940</id><published>2011-12-13T16:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T16:57:08.601-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis kinerja berdasarkan metode camel pada pd. Bpr-bkk di kabupaten kudus (EKN-150)</title><content type='html'>Perbankan menempati posisi yang strategis dalam pembangunan dan perekonomian negara, karena sektor perbankan berfungsi sebagai penghimpun dana dan  menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk pembiayaan pembangunan. Berkaitan dengan fungsi diatas, Pemerintah melalui berbagai kebijaksanaan ekonomi telah  mendorong  partisipasi  masyarakat  seluas-luasnya  dalam  meningkatkan  jasa perbankan termasuk bagi pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan. Salah satu cara untuk mengantisipasi meningkatnya  aktivitas ekonomi pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan adalah dengan mengembangkan kegiatan usaha jasa perbankan melalui Bank Perkreditan Rakyat.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mempunyai peran yang sangat penting bagi aktivitas perekonomian, diharapkan sebagai wahana yang mampu menghimpun dan menyalurkan dana bagi  masyarakat secara efektif dan efisien kearah peningkatan taraf hidup rakyat. BPR merupakan salah satu lembaga keuangan yang secara umum fungsi utamanya adalah menghimpun dana langsung dari masyarakat dan menyalurkan  kembali  kepada  masyarakat   untuk  berbagai  tujuan  atau  financial intermediary  (Susilo,  2000:6).  Selain  sebagai  lembaga  perantara  keuangan,  bank melakukan  kegiatan  perbankan  berdasarkan  kepercayaan  (agent  of  trust),  dapat memperlancar kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi (agent of development) serta menberikan penawaran jasa-jasa perbankan yang lain kepada masyarakat (agent of  services).  BPR   mempunyai  pangsa  pasar  sendiri  yang  cukup  establish  dan memiliki loyalitas tinggi , meskipun mulai banyak bank umum yang beroperasi pada penyaluran kredit dilevel usaha kecil dan mikro. Hal ini dimungkinkan karena sifat pelayanan  kredit  BPR  yang  lebih  sederhana  dibandingkan  dengan  bank  umum. Namun  demikian,  untuk  menyikapi  persaingan  yang  semakin  ketat,  BPR  perlu meningkatkan daya saing dan pengelolaan manajemen agar mampu bersaing dengan bank umum dan lembaga keuangan lainnya yang beroperasi dalam penyaluran kredit usaha mikro dan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai badan perantara keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman, Bank Perkreditan Rakyat harus menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat dalam mengelola dana dari  masyarakat  dengan  menjaga  tingkat  kesehatan  kinerjanya.  Karena  kesehatan kinerja  sangat  penting  bagi  suatu  lembaga   usaha.   Dengan  mengetahui  tingkat kesehatan usaha, masyarakat dapat dengan  mudah  menilai  kinerja  tersebut.Untuk meningkatkan kinerja, Bank Perkreditan Rakyat harus mempunyai modal yang cukup dan pengelolaan manajemen secara profesional. Dengan adanya modal yang cukup dan pengelolaan manajemen yang bagus, Bank Perkreditan Rakyat dapat menyalurkan kredit secara optimal sehingga diharapkan dapat meningkatkan omzet serta volume  laba. Teori Bunga Dinamis menyatakan bahwa modal yang dipakai untuk produksi akan menghasilkan laba, maka sebagian laba akan diberikan kepada pemilik modal sebagai bunga modal (Schumpeter,www.data%20skripsi/teori%20mo dal.htm).   Diharapkan  dengan  adanya  pemberian  kredit  kepada  nasabah,  BPR memperoleh  laba  dari  suku  bunga  pinjaman  nasabah.  Penilaian  terhadap  tingkat kesehatan suatu badan usaha memang perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja dan keberlanjutan  usahanya.  Penilaian  dapat  dilakukan   melalui  beberapa  indikator. Laporan keuangan merupakan media untuk melihat kondisi kesehatan  kinerja dan kemungkinan  kegagalan  usaha,  karena  rasio  keuangan  terbukti  berperan  penting dalam   evaluasi   kinerja   keuangan   serta   dapat   digunakan   untuk   memprediksi keberlanjutan usaha (Wilopo, 2001:4). Dengan melakukan analisis laporan keuangan maka pimpinan dapat  mengetahui keadaan dan perkembangan finansial serta hasil- hasil yang telah dicapai diwaktu lampau dan diwaktu yang sedang berjalan. Indikator lain yang dapat digunakan adalah penilaian terhadap kualitas manajemen umum dan manajemen risiko. Penilaian manajemen merupakan inti dari pengukuran masyarakat, apakah suatu organisasi telah dijalankan secara sehat atau sebaliknya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh BI dalam SK No.30/3/UPPB Tahun 1997 menggunakan konsep CAMEL  (Capital,  Asset,  Management,  Earning  dan  Liquidity)  yang  terdiri  dari penilaian laporan keuangan dan manajemen.Dalam kamus perbankan (Institut Bankir Indonesia 1999), CAMEL  adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi  keuangan  bank  yang  juga  berpengaruh  terhadap  kesehatan  kinerja  bank. Peringkat CAMEL dibawah 81 memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukkan melalui neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat. Apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit  Kecamatan yang selanjutnya disingkat PD.BPR-BKK merupakan BPR yang hampir ada disemua Provinsi Jawa Tengah. Sebagai BPR yang 50 persen sahamnya dimiliki pemerintah provinsi, 42,5  persen dimiliki oleh pemerintah kabupaten, dan&lt;br /&gt;7,5 persen dimiliki oleh Bank Jateng. Seharusnya PD. BPR-BKK dapat memberikan kontribusi  dalam  meningkatkan  perekonomian  daerah,  namun  sempitnya  wilayah operasi serta lemahnya  manajemen dan kemampuan keuangan seringkali menjadi pemicu rendahnya pendapatan yang  mempengaruhi kinerja bagi lembaga tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Kudus terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dimana tahun&lt;br /&gt;2004  tingkat net income yang diperoleh sebesar 99.874,77 akan tetapi pada tahun&lt;br /&gt;2005 net income yang diperoleh mengalami penurunan menjadi 85.265,44. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga tahun 2006 sebesar 50.252,67 sedangkan pada tahun&lt;br /&gt;2007 PD.BPR BKK di Kabupaten Kudus mengalami kerugian. yang sangat besar dengan  tingkat   net  income  rata-rata  sebesar  (387.300,89).  Meskipun  itensitas pemberian kredit serta tabungan dari nasabah telah ditingkatkan akan tetapi kondisi tersebut belum bisa memperbaiki kinerja  PD.BPR-BKK di Kabupaten Kudus yang terus mengalami penurunan dan kerugian dari segi perolehan laba. Kondisi tersebut terjadi  dikarenakan  masih  tingginya  tingkat  kredit  bermasalah  yang  disebabkan kurang kehati-hatian pihak manajemen PD.BPR-BKK dalam menganalisis pemberian kredit kepada nasabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut  jelas  terjadi  kesenjangan  dengan  Teori  Bunga  Dinamis yang menyatakan bahwa modal yang digunakan untuk produksi akan menghasilkan laba maka sebagian laba akan diberikan kepada pemilik modal sebagai bunga modal. Diharapkan dengan adanya pemberian kredit kepada nasabah akan meningkatkan laba PD.BPR-BKK, akan tetapi kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa meskipun itensitas pemberian kredit serta tabungan dari nasabah  meningkat, PD.BPR-BKK masih menghadapi beberapa kendala  yaitu adanya kredit macet yang disebabkan karena pengelolaan manajemen yang kurang profesional sehingga menyebabkan laba dari  PD.BPR BKK semakin berkurang yang akhirnya menurunkan kinerja PD.BPR- BKK di Kabupaten kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kesenjangan dan permasalahan yang muncul dilapangan, maka peneliti termotivasi   untuk   mengadakan   penelitian   tentang   kinerja   PD.   BPR-BKK   di Kabupaten  Kudus  dengan  menggunakan  analisis  CAMEL.  Dengan  menggunakan analisis CAMEL diharapkan dapat diketahui kondisi kinerja BPR-BKK di Kabupaten Kudus secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1068927762921674940?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1068927762921674940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1068927762921674940&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1068927762921674940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1068927762921674940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/analisis-kinerja-berdasarkan-metode.html' title='Analisis kinerja berdasarkan metode camel pada pd. Bpr-bkk di kabupaten kudus (EKN-150)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3267800794210675190</id><published>2011-12-13T16:42:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T16:47:36.391-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Struktur, Perilaku, Dan Kinerja Industri Kaos Di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa Kota Bandung (EKN-149)</title><content type='html'>Perkembangan industri kecil termasuk industri rumah tangga yang bersifat informal  merupakan bagian dari perkembangan industri dan ekonomi nasional secara keseluruhan.  Industri kecil mempunyai peranan yang strategis dalam hal pemerataan  penyebaran  lokasi  usaha  yang  mendukung  pembangunan  daerah, pemerataan kesempatan kerja, menunjang  ekspor non migas serta melestarikan seni budaya bangsa (Safnita, 2003 : 203).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari banyaknya usaha maupun penyerapan tenaga kerja, golongan industri  kecil  dan rumah tangga ini mempunyai kontribusi terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja yang hampir sekitar 58% tenaga kerja yang ada di sektor industri (BPS, 2005). Pada waktu krisis ekonomi menunjukkan bahwa unit usaha koperasi dan industri skala kecil dan menengah  ternyata  lebih mampu menahan dampak krisis ekonomi yang sedang berlangsung. Kondisi ini semakin menunjukkan  bahwa  perhatian  pemerintah   daerah  khususnya  terhadap  unit kegiatan  ini  perlu  ditingkatkan  baik  secara  kualitas  maupun  kuantitas  dalam rangka mendorong peningkatan skala usaha dari industri kecil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu  industri  kecil  yang  sangat  potensial  berkembang  di  kota Bandung adalah industri kaos. Industri kaos merupakan salah satu industri yang sangat  potensial  dan  dapat  memberikan  pendapatan  yang  cukup  besar  bagi pemiliknya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Disamping itu, industri ini juga memberi nilai tambah dengan mengenalkan kota Bandung sebagai kota mode kepada masyarakat luar Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sentra industri kaos di kota Bandung ada di jalan Surapati. Produk  industri kaos di jalan Surapati-P.H.H.Mustopa ini menjadi trend   mode, khususnya untuk  perlengkapan olah raga (training, jaket dan kaos) tidak saja di kota Bandung bahkan diluar  Jawa, yaitu Sumatra dan Kalimantan. Pemesanan selain  banyak  dilakukan  oleh  perusahaan  ada  juga  dari  beberapa  Universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga tahun terakhir jumlah unit usaha kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa cenderung meningkat. Pada tahun 2005, jumlah unit usaha kaos hanya tercatat sebanyak 237  buah dan sampai bulan Juni 2007 telah tercatat sebanyak&lt;br /&gt;269 buah. Dengan melihat jumlah unit usaha tersebut di mungkinkan akan terjadi persaingan yang sempurna. Adapun jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai&lt;br /&gt;711 orang pada tahun 2005 dan sampai tahun 2007 meningkat dengan tajam menjadi 807 orang atau naik sebesar 7,17%. Sedangkan produksi yang dihasilkan sampai  Juni  2007  sebanyak  3.228  lusin  yang  mampu  menghasilkan  omset penjualan sebanyak Rp. 600.408.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambahnya  jumlah  perusahaan  dalam  industri  kaos  Surapati  tidak terlepas dari  dinamisnya permintaan hasil produksi industri tersebut. Selain itu pula dapat mencerminkan tidak adanya hambatan masuk dalam industri ini. Sesuai dengan teori ekonomi industri, perkembangan pasar (permintaan) akan mendorong  perusahaan-perusahaan baru untuk masuk ke pasar guna memenuhi perkembangan pasar yang  terjadi. Namun yang patut diperhatikan dampak dari meningkatnya jumlah unit usaha adalah munculnya tingkat persaingan yang tinggi di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan   yang dirasakan oleh industri kaos di jalan Surapati- P.H.H.Mustopa masih sangat ketat, indikasi ini terlihat dari tingkat persaingan harga diantara  para produsen. Melihat persaingan dalam usaha kaos di daerah tersebut, maka menjadi  penting  untuk melihat kondisi-kondisi yang mempengaruhi kinerja unit usaha tersebut, misalnya dilihat dari nilai tambah atau harga pasar. Kondisi harga pasar dalam  usaha kaos mencerminkan nilai yang diterima dalam satu tahun. Oleh karena itu harga pasar mencerminkan dari nilai tambah di industri kaos.&lt;br /&gt;Kondisi harga pasar dari suatu industri dapat dijadikan salah satu ukuran yang ideal  dalam menganalisis kinerja suatu industri, oleh karena peningkatan harga pasar menunjukkan kemajuan dan kemampuan suatu industri tak terkecuali industri kaos dalam meningkatkan outputnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan melihat uraian permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti   masalah  tersebut  dengan  judul:  Struktur,  Perilaku,  dan  Kinerja Industri Kaos di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa Kota Bandung.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3267800794210675190?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3267800794210675190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3267800794210675190&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3267800794210675190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3267800794210675190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/struktur-perilaku-dan-kinerja-industri.html' title='Struktur, Perilaku, Dan Kinerja Industri Kaos Di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa Kota Bandung (EKN-149)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1381953165704530802</id><published>2011-12-13T16:40:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T16:42:36.350-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan (EKN-148</title><content type='html'>Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Yang Masuk Dalam Kelompok Jakarta Islamic Index (Jii) Periode 2005-2007 (EKN-148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keputusan investasi selalu menyangkut dua hal, yaitu risiko dan return. Risiko mempunyai hubungan positif dan linier dengan return yang diharapkan dari suatu investasi sehingga semakin besar return yang diharapkan semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investor. Dalam melakukan keputusan investasi, khususnya pada sekuritas saham, return yang diperoleh berasal dari dua sumber, yaitu dividen dan capital gain, sedangkan risiko investasi saham tercermin dari variabilitas pendapatan (return saham) yang diperoleh.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis investasi membagi risiko total menjadi dua bagian yaitu risiko tidak sistematis dan risiko sistematis. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor unik pada suatu sekuritas dan dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Sedangkan risiko sistematis adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi semua sekuritas sehingga tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi.  Ukuran besarnya risiko sistematis saham adalah indeks beta yang menunjukkan sensitivitas tingkat pengembalian surat berharga saham terhadap tingkat pengembalian indeks pasar yang telah disesuaikan dengan tingkat pengembalian bebas risiko.  Beta sebagai pengukur risiko yang berasal dari hubungan antara tingkat keuntungan suatu saham dengan pasar. Risiko ini berasal dari beberapa faktor fundamental perusahaan dan faktor karakteristik pasar tentang saham perusahaan antara lain cyclicality, operating leverage dan financial leverage. &lt;br /&gt;Barr Rosenberg dan Vinay Marathe dalam Frank J. Fabozzi mengembangkan model yang lebih ekstensif untuk memperkirakan risiko fundamental dari sekuritas tidak hanya menggunakan data harga namun juga data keuangan dan data berhubungan dengan pasar lainnya. Produk dari mereka disebut beta fundamental. Prosedur  memperkirakan beta fundamental dimulai dengan menjabarkan perusahaan dalam hal rasio-rasio yang merefleksikan kondisi dasar perusahaan. Baik data keuangan maupun data yang berhubungan dengan pasar dapat digunakan oleh analis  untuk memperkirakan risiko sistematis sekuritas.  Rasio-rasio baik data keuangan maupun data yang berhubungan dengan pasar dalam penelitian ini meliputi asset growth, debt to equity ratio, return on equity, total asset turnover dan earning per share.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asset growth mempunyai pengaruh terhadap beta saham. Beaver, Kettler dan Scholes menyatakan variabel asset growth berhubungan positif dengan risiko sistematis dikarenakan  perusahaan yang tumbuh membutuhkan lebih banyak modal. Kebutuhan modal yang lebih besar (tingkat pertumbuhan tinggi) memberikan tekanan terhadap rasio pembayaran dividen. Pembayaran dividen yang kecil akan meningkatkan risiko sistematis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debt to equity ratio menunjukkan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri.  DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan penggunaan hutang yang semakin  besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Return on equity yaitu menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham. Investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. Semakin tinggi ROE maka semakin rendah nilai beta, sehingga ROE mempunyai pengaruh negatif terhadap beta saham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total asset turnover menunjukkan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan.  Semakin tinggi total asset turnover maka semakin rendah nilai beta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earning per share adalah perbandingan antara keuntungan bersih setelah pajak yang diperoleh emiten dengan jumlah saham yang beredar.   Semakin tinggi earning per share  maka akan menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi. Laba tersedia bagi pemegang saham biasa juga akan meningkat. Dalam kondisi demikian perusahaan tidak akan kesulitan dalam meningkatkan modal, baik dengan cara menarik investor dari luar atau dengan meyakinkan pemegang saham untuk meningkatkan jumlah kepemilikannya.  Hal ini mengindikasikan semakin rendah beta saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, penelitian yang dilakukan di pasar modal Indonesia menunjukkan ketidakkonsistenan antara penelitian yang satu dan yang lainnya. Selain itu, penelitian-penelitian terdahulu masih banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam bursa konvensional, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti pada perusahaan yang tergabung di bursa syariah seperti Jakarta Islamic Index (JII) untuk menjelaskan apakah penelitian yang dilakukan pada bursa syariah akan menghasilkan kesimpulan yang sama atau tidak dengan penelitian terdahulu yang dilakukan di bursa konvensional, sehingga bermanfaat bagi investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian perlu diuji kembali untuk pasar modal syariah di Indonesia mengenai pengaruh asset growth, debt to equity ratio, return on equity, total asset turnover dan earning per share terhadap beta saham. Maka dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap beta, khususnya pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2005-2007. Oleh karena itu, judul yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah: “Pengaruh Asset Growth, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Total Asset Turnover dan Earning Per Share terhadap  Beta Saham pada Saham Perusahaan yang Termasuk dalam Kelompok Jakarta Islamic Index (JII) periode 2005-2007”&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1381953165704530802?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1381953165704530802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1381953165704530802&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1381953165704530802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1381953165704530802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/pengaruh-asset-growth-debt-to-equity.html' title='Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan (EKN-148'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1112666482947771005</id><published>2011-12-13T16:22:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T16:27:20.175-08:00</updated><title type='text'>Analisis Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Menurut SAK Serta Undang-Undang Perpajakan Pengaruh Terhadap Penghasilan Kena Pajak (EKN-147)</title><content type='html'>147. Analisis Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Menurut Standar Akuntansi Keuangan Serta Undang-Undang Perpajakan Pengaruh Terhadap Penghasilan Kena Pajak Pada Perum Pegadaian Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perusahaan pasti memiliki aktiva tetap yang berwujud maupun yang tidak berwujud karena aktiva merupakan sarana bagi perusahaan didalam menjalankan kegiatan operasional, seperti bangunan atau gedung sebagai kantor, mesin dan peralatan untuk berproduksi, kendaraan sebagai alat untuk transportasi, dan lain-lain sebagai alat yang dapat mendukung semua kegiatan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktiva tetap biasanya memiliki masa pemakaian yang lama, sehingga bisa diharapkan  dapat memberikan manfaat bagi perusahaan selama bertahun-tahun. Namun demikian, manfaat  yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin menurun pemakaiannya secara terus menerus, dan menyebabkan terjadi penyusutan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusutan adalah proses alokasi sebagian harga perolehan aktiva menjadi biaya (cost allocation). Disini berlaku sebagai pengurang dalam menentukan atau menghitung laba. Dengan demikian penyusutan akan berpengaruh terhadap besar kecilnya laba yang diperoleh dari perhitungan komersil dan fiscal. Untuk itu perlu adanya pemahaman  terhadap perbedaaan tersebut.&lt;br /&gt;Penyusutan  dicatat  dan  dilaporkan  dengan  menggunakan  metode-metode penyusutan antara lain: Metode garis lurus (Straight line method), Metode saldo menurun ganda (Double declining Method), Metode jumlah angka tahun (Sum of years digit method), Metode jam jasa (Service hours method), Metode hasil produksi (Productive output method), dan Metode menurut perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perusahaan, pajak merupakan salah satu unsur penting dalam operasional perusahaan.  Terlebih lagi perusahaan yang berskala nasional ataupun intenasional, hampir semua transaksi yang dilakukan oleh perusahaan tidak terlepas dari masalah perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan undang-undang pajak yang dilakukan oleh pemerintah dimaksudkan untuk  menyempurnakan system perpajakan yang telah ada, adapun undang-undang perpajakan yang baru tersebut mulai berlaku tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib pajak yang diperlakukan sebagai subyek dalam system pemungutan pajak khususnya  pada bidang pajak penghasilan (PPh) disebabkan wajib pajak diberikan kepercayaan  penuh  oleh   negara  (direktorat  jendral  pajak)  untuk  menghitung, memperhitungkan, menbayar dan  melaporkan sendiri jumlah pajak yang terhutang sesuai dengan Self Assetment. Self Assetment  adalah keputusan wajib pajak dalam melaksanakan  peraturan  perundang-undangan  perpajakan  Indonesia  yang  berlaku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar latar belakang pemikiran tersebut diatas, maka penulis merasa perlu agar  penyusutan aktiva tetap khususnya aktiva tetap berwujud   mendapat perhatian khusus, sehingga  dijadikan sebagai obyek dalam penelitian yang berjudul “Analisis Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Menurut Standar Akuntansi Keuangan serta  Undang  –  Undang  Perpajakan  pengaruh  terhadap  Penghasilan  Kena Pajak  pada Perum Pegadaian Pusat”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1112666482947771005?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1112666482947771005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1112666482947771005&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1112666482947771005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1112666482947771005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/147-analisis-perhitungan-penyusutan.html' title='Analisis Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Menurut SAK Serta Undang-Undang Perpajakan Pengaruh Terhadap Penghasilan Kena Pajak (EKN-147)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3043601151173603249</id><published>2011-12-13T16:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T16:26:10.882-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><title type='text'>Analisis Penerapan Capital Assets Model Pricing (CAPM) Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Investasi Saham Pada Perusahaan Lq 45 Di BEI (EKN-146)</title><content type='html'>Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungi-fungsi keuangan. Fungsi-fungsi keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund). Manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva tersebut.&lt;br /&gt;Dalam mengambil keputusan-keputusan yang benar, manajer keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai. Keputusan yang benar adalah keputusan yang akan membantu tujuan tersebut. Secara normative tujuan keputusan keuangan adalah unutk memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan sendiri meruapakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan-keputusan yang diambil dalam manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan pembagian laba.&lt;br /&gt;Keputusan investasi akan tercermin pada sisi aktiva perusahaan. Dengan demikian akan mempengaruhi struktur kekeyaan perusahaan, yaitu perbandingan antara aktiva lancar dengan aktiva tetap. Sebaliknya keputusan pendanaan dan pembagian laba akan tercermin pada sisi pasiva perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi merupakan komitmen sejumlah dana dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Harapan keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan.&lt;br /&gt;Tujuan dari berinvestasi antara lain mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa yang akan datang, mengurangi tekanan inflasi dan dorongan untuk menghemat pajak.&lt;br /&gt;Dengan adanya dana investasi yang cukup diharapkan dapat menunjang kelancaran pembangunan yang telah direncanakan, sehingga mencapai hasil yang baik. Sumber dana investasi sendiri diperoleh dari dalam negeri maupun luar negeri. Akan tetapi sumber dari luar negeri tidak mungkin selamanya diandalkan untuk pembangunan karena itu diperlukan adanya usaha untuk mengerahkan dana investasi yang bersumber dari dalam dalam negeri. Dana tersebut salah satunya dapat diperoleh dari masyarakat. Oleh karena itu lembaga keuangan perbankan maupun non-perbankan perlu dituntut bekerja keras lagi untuk meningkatkan peneriakan dana masyarakat. Lembaga keuangan non-perbankan antara lain terdiri dari leasing, asuransi, dan pasar modal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersedianya dana yang diperoleh dari masyarakat salah satunya dapat digunakan untuk memberi bantuan dana bagi perusahaan yang membutuhkan modal. Bagi perusahaan yang membutuhakan modal dapat memperoleh dana tersebut dari bank. Tetapi pasti akan terdapat batas dalam menggunakan utang pada setiap perusahaan. Pasar modal dapat digunakan sebagai alternative penghimpunan dana masyarakat yang nantinaya dapat dimanfaatkan perusahaan unutk memnuhi kebutuhan dananya. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang atau dikenal dengan obligasi dan tanda kepemilikan yang dikenal dengan saham. Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, pemodal mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan tersebut beruapa penghasilan dividend an capital gains. Dari pihak yang membutuhkan modal, tersedianya dan dari pihak luar, memungkinkan mereka melakukan investasi tanpa harus menuggu tersedianya dana dari hasil operasi perusahaan. Dalam proses ini diharapkan akan terjadi peningkatan produksi, sehingga akhirnya secara keseluruhan akan terjadi peningkatan kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar modal adalah tempat pertemuan  antara penawaran denagan permintaan surat berharga. Di tempat inilah para pelaku pasar yaitu individu-individu atau badan usaha yang mempunyai kelebihan dana melakukan investasi dalam surat berharga yang ditawarkan oleh perusahaan. Sebaliknya ditempat itu pula perusahaan yang membutuhkan dana menawarkan surat berharga dengan cara listing terlebih dahulu pada badan organisasi di pasar modal sebagai emiten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk pasar modal adalah Bursa Efek. Dan di Indonesia ada dua Bursa Efek, salah satunya adalah Bursa Efek Surabaya (BES). Bursa Efek Surabaya dibuka secara resmi pada tanggal 16 Juni 1989, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 654/KMK.010/1989. bursa Efek Surabaya didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan pasar modal dan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.(www.bes.co.id)&lt;br /&gt;Selama tahun 2006, total nilai transaksi saham mengalami penurunan  sebesar 5,69% dari Rp. 5,2 triliun  pada tahun 2005 menjadi Rp. 4,9 triliun pada akhir tahun 2006. &lt;br /&gt;Rata–rata nilai harian transaksi saham tahun 2006 sebesar Rp. 20,72 milyar atau turun 4,91% dari Rp. 21,7 milyar pada tahun 2005. &lt;br /&gt;Sementara volume perdagangan saham 13,6 miliar saham, atau mengalami penurunan sebesar 16,12% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 16,2 miliar saham.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata–rata volume harian saham tahun 2006 adalah sebesar 56,48 juta saham, turun 15,43% dari 66,79 juta saham pada tahun sebelumnya. &lt;br /&gt;LQ 45 mencakupi 45 saham blue chip yang paling likuid di Indonesia. Indeks yang memperhitungkan nilai ini menawarkan fee transaksi yang paling rendah dan dapat dijadikan alat lindung nilai pada transaksi di pasar saham Indonesia. Pada akhir tahun 2006, Indeks LQ-45 naik 0,684 poin (0,17%) pada level 393,12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berinvestasi setiap individu akan selalu berusaha memiliki investasi yang aman. Dan hal ini memerlukan satu analisis yang cermat, teliti dan didukung dengan data-data yang akurat. Teknik yang benar dalam analisis akan mengurangi risiko dalam berinvestasi. Sehingga modal yang diinvestasikan diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal dan aman. Jika terdapat risiko diharapkan risikonya lebih kecil dibandingkan denagan kemungkinan keuntungan yang dapat diraih. Untuk itu para investor dapat menggunakan model keseimbangan, yang salah satunya adalah Capital Assets Pricing Model. Capital Assets Pricing Model merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat risiko dengan tingkat pengembalian yang digambarkan dalam Security Market Line yang menerangkan bahwa tingkat keuntunagan yang diharapkan ditentukan oleh besarnya risiko sistematik () atau merupakan kepekaan tingkat keuntungan terhadap perubahan-perubahan pasar.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3043601151173603249?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3043601151173603249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3043601151173603249&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3043601151173603249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3043601151173603249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/12/146-analisis-penerapan-capital-assets.html' title='Analisis Penerapan Capital Assets Model Pricing (CAPM) Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Investasi Saham Pada Perusahaan Lq 45 Di BEI (EKN-146)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3153161324734198367</id><published>2011-03-16T16:37:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:39:50.743-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Locus Of Control Terhadap Kinerja Dengan Etika Kerja Islam Sebagai Variabel Moderating (studi pada karyawan tetap Bank (EKN-145)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan perusahaan,selain itu mempermudah  alur  pertukaran  barang  maupun  informasi  yang  terkini.  Globalisasi  yang terjadi secara besar – besaran   ditanggapi secara berbeda – beda oleh masyarakat didunia. Menurut Anthony Giddens dalam Runaway  World (2001), globalisasi telah menciptakan sebuah kampung dunia dengan tatanan yang beroperasi di dalamnya membuat dunia semakin 'lepas kendali', kehilangan kontrol, dan sebagainya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat hubungan tatanan kemanusiaan menjadi begitu kerdil, persahabatan tak dibatasi dengan sekat-sekat wilayah, pelbagai fasilitas hidup yang serba instan membuat manusia semakin pragmatis, perempuan menggugat hak- hak emansipasinya, nilai-nilai etika-moral  dijungkirbalikkan, dan perubahan sosial (social change) menjadi niscaya, yang kaya bisa menjadi miskin karena persaingan yang terlalu ketat dan kompetitif, yang miskin dan sederhana bisa menjadi sebaliknya jika menggunakan nalar- budi-luhurnya untuk terus bersaing dan berkompetisi. Sedangkan menurut Francis Fukuyama dalam The Great Disruption (2002) bahwa globalisasi salah satunya menciptakan kekacauan besar  dalam struktur sosial. Peran agama menjadi nihil, terjadinya dekadensi etika-moral, kemiskinan semakin merajalela, banyak terjadi kriminalitas, bunuh diri (suicide) akibat stres dan depresi hidup karena serba bersaing, korupsi pejabat di dunia ketiga semakin menggurita&lt;br /&gt;untuk menyelamatkan diri dari tuntutan hidup keluarga, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  gambaran  diatas  dapat  dilihat  bahwa  individu  memainkan  peranan penting dalam  perilaku manusia. Dalam ilmu ekonomi lebih dikenal dengan manajemen sumber daya manusia (SDM) dimana merupakan salah satu faktor kunci untuk mendapatkan kinerja terbaik, karena selain menangani masalah ketrampilan dan keahlian, manajemen SDM juga  berkewajiban  membangun  perilaku  kondusif  karyawan  untuk  mendapatkan  kinerja terbaik.  Hal  tersebut  didasarkan  pada  aplikasi  ilmu  kebijakan  manajemen  SDM  untuk mengkaji mengenai berbagai faktor perilaku organisasional terhadap kinerja yang disebut dengan ilmu prilaku organisasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya keyakinan besar bahwa setiap individu berpengaruh langsung sebagai efek substantive dalam pandangan dan reaksinya terhadap lingkungan (Spector,1986). Keyakinan inilah yang menurut Rotter (1966) disebut Locus of Control merupakan “generalized belief that a person can or cannot control his own destiny”. Menurut Kustini dan Suharyadi (2004) berdasarkan pendapat Rotter disebut bahwa locus of control atau adanya keyakinan seseorang terhadap sumber  yang mengontrol  kejadian –  kejadian dalam  hidupnya.  Brownell(1981) menulis  tentang  pendapat  rotter  dalam  papernya  yang  mendefinisikan  locus  of  control sebagai tingkatan dimana seseorang menerima tanggung jawab personal terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Locus of control berhubungan baik dengan beberapa variabel seperti peran  stress,  etika  kerja,  kepuasan  kerja,  dan  kinerja.  Seperti  yang  dikemukakan  oleh Falikhatun (2003;264) bahwa peningkatan  kinerja pegawai dalam pekerjaan pada dasarnya akan dipengaruhi oleh kondisi – kondisi tertentu, yaitu kondisi yang berasal dari luar individu yang disebut dengan faktor situasional dan kondisi yang berasal dari dalam  yang disebut dengan faktor individual. Faktor individu meliputi jenis kelamin, kesehatan, pengalaman, dan karakteristik psikologis yang terdiri dari motivasi, kepribadian, dan Locus of Control. Adapun faktor  situasional  meliputi  kepemimpinan,  prestasi  kerja,  hubungan  sosial  dan  budaya organisasi .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jurnal “The Islamic Work Ethic As A Mediator Of The Relationship Between Locus  Of Control, Role Ambiguity, And Role Conflict” penelitian Jones (1997) menemukan  adanya  korelasi  dalam  penelitian  empiris  antara  nilai  etika  kerja  protestan dengan  locus  of  control  internal.   Furnham(1987)  menemukan  bahwa  individu  yang cenderung percaya pada etika kerja protestant maka locus of controlnya lebih tinggi. Terpstra (1993)  menemukan  bahwa  etika  perilaku  individu  berpengaruh  penting  dalam  locus  of control.  McCuddy  dan  Peery  (1996)  berpendapat  bahwa  individu  yang  beretika  baik memiliki locus of control internal lebih tinggi dibanding dengan locus of control eksternal. Menurut Martin (1976) dan Rokeach (1968) dalam Ghozali (2002) hubungan antara tingkat religiusitas dan sikap karyawan  dapat dijelaskan dari sudut pandang teori personality yang dinyatakan  bahwa  tingkat  religiusitas  akan  menjadi  bagian  dari  identitas  diri  seseorang (personality). Personality itu sendiri terutama locus of control pada gilirannya menjadi faktor penting untuk menentukan perilaku di dalam organisasi maupun sikap kerja karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal  tersebut  dikarenakan  etika  kerja  protestant  didasarkan  pada  teori  Weber  yang menghubungkan  keberhasilan  di  dunia  bisnis  dengan  kepercayaan  religius.  Weber  juga berpendapat   bahwa   kepercayaan   protestant-Calvinistis  memiliki   pandangan   mengenai kapitalisme   dan   berdasarkan   anggapan   bahwa   pekerjaan   dan   keberhasilan   finansial merupakan tujuan yang tidak hanya ingin dicapai seorang individu  tetapi juga merupakan tujuan religius (Kidron, 1978 dalam Falah, 2007). Arslan (1985) dalam Fuad Mas’ud (2004) mengukur PWE melalui : (1) bekerja sebagai tujuan itu sendiri, (2) menghemat uang dan waktu, (3)  lokus pengendalian internal, (4) kerja keras membawa kesuksesan, (5) sikap negatif terhadap waktu santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Weber kemudian diperkenalkan ke dalam ilmu psikologi oleh McClelland (1961) dalam Yousef (2000) yang lalu mengajukan penjelasan sosio psikologis mengenai hubungan antara Protestanisme dan  kapitalisme. McClelland kemudian memasukkan konsep PWE kedalam  kebutuhan akan  prestasi  yang seringkali  dilihat  sebagai  dimensi  dari  kepribadian&lt;br /&gt;(Furnham, 1990 dalam Yousef, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini terdapat perbedaan antara etika kerja Protestant dengan etika kerja Islam.  Menurut  Kidron  (1978)  dalam  Yousef  (2000),  pada  etika  kerja  Protestan  lebih menekankan pada peran aktif individu secara dinamis dan otonom dalam meraih keutamaan moral. Keutamaan moral disini secara  universal  manusia sepakat sebagai suatu kebaikan hidup di dunia. Sedangkan etika kerja Islam lebih berorientasi pada penyelamatan individu di dunia dan akhirat berdasarkan pedoman agama. Maksudnya bahwa  kerja mempunyai etika harus selalu diikutsertakan didalamnya, oleh karena kerja merupakan bukti adanya iman dan parameter bagi pahala dan siksa (Al Khayyath, 2000 dalam Yousef, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori mengenai etika kerja yang berfokus pada PWE dengan setting dunia belahan Barat  sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dirasakan kurang tepat untuk diterapkan pada lingkungan yang  mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia (menurut BPS 85%  penduduk Indonesia adalah muslim). Sehingga perlu dilakukan kajian mengenai Islamic Work Ethic (IWE) yang lebih sesuai dengan kondisi-kondisi dunia belahan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika kerja islam berasal dari Al-Quraan dan Hadist yang menekankan untuk menjalin kerjasama dan selalu bekerja keras yang merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa. Selain  itu,  adanya  keyakinan   bahwa  tuhan  tidak  akan  menguji  hamba-Nya  melebihi kemampuannya dan percaya bahwa tuhan akan memberikan seseuatu yang lebih indah jika kita berhasil melampauinya. Sehingga etika kerja islam disini  sebagai variabel mediating yang dapat memperkuat atau memperlemah kinerja. Berdasarkan keyakinan diatas kemudian muncul adanya penghayatan, maka orang – orang yang mendapat tekanan atau gangguan – gangguan  yang  tidak  menyenangkan  yang  berasal  dari  luar  diri  seseorang  merupakan tantangan bagi dirinya untuk bisa lebih maju yang terlihat dari peningkatan kinerjanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan informasi juga data yang tersedia dan didukung oleh adanya kesempatan yang memadai maka dipilihlah Bank Jateng Semarang yang merupakan bank konvensional yang dimiliki oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah bersama – sama dengan pemerintah kota atau kabupaten sejawa tengah. Pendirian bank bertujuan untuk mengelola keuangan daerah yaitu sebagai pemegang kas daerah dan membantu  meningkatkan  ekonomi daerah dengan memberikan kredit kepada pengusaha kecil. Dalam penelitian ini  peneliti ingin mengetahui apakah  didalam  aktivitas  perbankan  konvensional  para  karyawannya  yang   mayoritas beragama  islam  bertindak menggunakan etika  kerja  islam  seperti  yang sering dikatakan masyarakat  bahwa  agama  merupakan  landasan  hidup  manusia,  baik  dalam  bekerja, berkeluarga, ataupun bermasyarakat.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3153161324734198367?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3153161324734198367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3153161324734198367&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3153161324734198367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3153161324734198367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/analisis-pengaruh-locus-of-control.html' title='Analisis Pengaruh Locus Of Control Terhadap Kinerja Dengan Etika Kerja Islam Sebagai Variabel Moderating (studi pada karyawan tetap Bank (EKN-145)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-8666391792667236684</id><published>2011-03-16T16:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:36:32.763-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Job Performance Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Di Semarang (EKN-144)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Kinerja di dalam perusahaan sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku karyawan  yang dimiliki perusahaan tersebut. Fenomena yang seringkali terjadi adalah kinerja suatu  perusahaan terganggu karena berbagai perilaku karyawan yang sulit dicegah terjadinya. Kinerja perusahaan yang telah bagus dapat dirusak, baik  secara  langsung  maupun  tidak  langsung.   Salah  satu  bentuk  perilaku karyawan yang dapat mengganggu kinerja perusahaan adalah keinginan berpindah (turnover intentions) dimana karyawan memiliki keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya tingkat turnover di dalam perusahaan akan mengakibatkan  semakin  banyak  potensi  biaya  yang  akan  di  keluarkan  oleh perusahaan. Baik untuk biaya pelatihan yang sudah diinvestasikan pada karyawan, tingkat kinerja yang sudah dikorbankan, maupun biaya rekruitmen dan pelatihan kembali (Suwandi dan Indriantoro, 1999).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi  akuntan  publik  merupakan  suatu  pekerjaan  yang  berlandaskan pada  pengetahuan  yang  kompleks  dan  hanya  dapat  dilakukan  oleh  individu dengan  kemampuan  dan  latar  belakang  pendidikan  tertentu.  Salah  satu  tugas akuntan  publik  dalam  menjalankan  profesinya  adalah  menyediakan  informasi yang berguna bagi publik untuk pengambilan keputusan ekonomi. Profesi akuntan publik merupakan profesi yang unik. Setiawan dan Ghozali  (2006) menyatakan bahwa pada umumnya profesional (contoh: pengacara dan dokter) sebagai pihak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertama, bekerja untuk kepentingan klien yang merupakan pihak kedua (pemohon jasa). Profesi  akuntan publik bukan saja dituntut untuk melayani klien (pihak kedua), tetapi lebih  mengutamakan tanggung jawab kepada masyarakat (pihak ketiga). Oleh sebab itu, akuntan publik diharapkan mampu menjalankan tanggung jawab yang ada dalam profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi akuntan publik harus bersifat independen dan berkomitmen secara eksplisit melayani kepentingan publik. Permintaan terhadap jasa audit, pajak, dan manajemen oleh berbagai organisasi baik lokal maupun multinasional, merupakan tanggung jawab utama para  akuntan profesional (Setiawan dan Ghozali 2006). Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, aset utama yang harus dimiliki oleh sebuah kantor akuntan publik (KAP) adalah tenaga kerja profesional. Agar dapat  bertanggung  jawab  pada  publik,  para  auditor  harus  berupaya   untuk meningkatkan  job  performance  dalam  menjalankan  profesinya.  Tercapainya performance yang baik tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang  baik   pula.   Seperti  yang  diungkapkan  oleh  Hellriegel  (2001)  bahwa performance yang  baik  dapat  dicapai  saat  1)  tujuan  yang  diinginkan  telah tercapai, 2) moderator (kemampuan,  komitmen, motivasi) telah tersedia dan, 3) mediator (petunjuk, usaha, ketekunan, dan strategi ) telah dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan peningkatan job performance profesional, karakter pribadi profesional dan kondisi tempat profesional bekerja menjadi konsekuensi penting bagi KAP, bagi profesional itu sendiri, dan bagi pihak-pihak yang menggunakan jasa profesional (publik). Beberapa karakter pribadi dan kondisi kerja profesional dapat menghasilkan tingkat job performance yang  berbeda,  keadaan psikologis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang berbeda, dan juga dapat mempengaruhi keputusan profesional untuk tetap atau meninggalkan KAP (turnover). Dalam penelitian Barrick dan Mount (1993) dijelaskan  bahwa  beberapa  meta-analisis  telah  membuktikan  bahwa  karakter pribadi dapat memprediksi dengan baik tingkat performance individu. Ditemukan pula  hubungan  antara  karakter  pribadi  dan  tindakan  dipengaruhi  oleh  situasi dimana  individu  itu  bekerja.  Fisher  (2001)  berpendapat   bahwa  KAP  dapat meningkatkan job performance dan job satisfaction auditor dengan  mengurangi tekanan  di  lingkungan  kerja  profesional.  Berdasarkan  paparan  diatas  dapat disimpulkan bahwa tidak hanya karakter pribadi yang mempengaruhi tindakan seseorang,  tetapi  juga dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang menentukan kebebasan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan adanya korelasi positif yang kuat  antara pengalaman dengan job performance (Quinones et al., 1995). Mereka juga menyatakan bahwa seseorang dapat menilai job performance sesuai dengan  tingkat  pengalaman   yang   dimiliki.  Pernyataan  itu  juga  dipertegas Mumford &amp; Stokes (1992), (dalam Quinones et  al., 1995 ) yang menyatakan bahwa  pengalaman  merupakan  faktor  yang  paling  menentukan  tingkat job performance,  sementara  itu  Fiedler  (1970),  (dalam  Quinones  et  al.,  1995  ) menyatakan pengalaman bukan merupakan hal penting bagi job performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi telah dikaitkan dengan motivasi dan job performance yang baik dari   seorang  pegawai  (Xie  dan  Johns,  1995).  Xie  dan  Johns  (1995)  telah membuktikan jika  otonomi sudah dimiliki maka kebutuhan akan tugas dan job performance akan semakin tinggi juga. Menurut Au dan Cheung (2004), (dikutip&lt;br /&gt;oleh Pearson, et al., 2009) otonomi juga dapat mengurangi tekanan saat bekerja dan meningkatkan inisiatif dan kepercayaan diri saat bekerja. Hal itu dipertegas oleh  penelitian  oleh  Tai  dan  Liu  (2007)  yang  menyatakan  bahwa  otonomi memiliki pengaruh positif bagi  pegawai yang memiliki emosional yang tinggi disaat mengalami tekanan dan ketegangan.  Perusahaan sebaiknya memberikan keleluasan  bekerja  bagi  pegawai  yang  memilki  emosional  tinggi  agar  dapat bekerja lebih baik. Dengan adanya otonomi mereka akan lebih bijaksana  dalam bekerja tanpa ketegangan dan tekanan. Morgeson  et al., (2005) membuktikan adanya hubungan yang kompleks antara  otonomi dan job performance. Otonomi mencerminkan  tingkat  kebijaksanaan,  kebebasan,  dan  independensi  seseorang merencanakan  pekerjaan  dan   membuat   keputusan  dalam  pelaksanaan  tugas. Sementara  itu,  Wrzesniewski  &amp;  Dutton  (2001)  (dalam  Tai  dan  Liu,  2007) menyatakan bahwa individu yang memiliki pekerjaan  yang sama akan memiliki tingkat performance yang berbeda dalam menyelesaikan tugas yang  diberikan, sehingga  membuat  peranan  mereka  berbeda  juga.  Teori  ini  sebagai  landasan percobaan untuk memahami peran seseorang dalam pekerjaan melalui keahlian dan cara mereka melaksanakan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu organisasi yang kompleks, sebaiknya memiliki keterangan yang jelas mengenai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada penerima mandat. Hal ini berkaitan dengan role requirements yang menurut  Rizzo et al., (1970),  (dalam  penelitian  Michael  et  al.,  2009)  pengertian  role  requirements adalah wewenang seseorang untuk bertanggung jawab dalam melaksanakan peran mereka. Jika pegawai tidak menyadari  keberadaan tanggung jawab dan apa yang&lt;br /&gt;diharapkan maka mereka akan sulit mengambil keputusan dan bekerja tidak sesuai dengan apa  yang diharapkan. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan adanya  hubungan  negatif   yang  signifikan  antara  ambiguitas  peran  dan  job performance  (Fisher,  2001).  Ambiguitas   peran  dan  role  conflict  memiliki hubungan negatif dengan job performance (Kalbers dan Cenker, 2008). Keduanya dapat menimbulkan ketagangan dalam bekerja, job dissatisfaction, kecenderungan meninggalkan perusahaan, dan job performance yang buruk (Jackson dan Schuler,&lt;br /&gt;1985). Dari sudut pandang motivasi, expectancy theory Vroom, job performance seharusnya memiliki korelasi negatif terhadap ambiguitas peran dan role conflict sebab keduanya   memiliki  hubungan negatif terhadap usaha dan harapan dalam pekerjaan (Jackson dan Schuler, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini dikembangkan berdasarkan penelitian Kalbers dan Cenker (2008) dengan menguji kembali keterkaitan antara job experience, job autonomy dan  role  ambiguity  terhadap   job  performance  auditor  di  KAP  Indonesia. Konsisten dengan penjelasan diawal, bahwa karakter pribadi menjadi konsekuensi penting dalam peningkatan job performance professional  di KAP, maka dalam penelitian ini digunakan variabel kepribadian yang meliputi aspek biografis untuk mengukur tingkat job performance profesional di KAP. Variabel tersebut adalah exercised responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya kebutuhan akan kualitas dan kinerja   auditor pada tingkat individu  maupun  perusahaan  (lokal  dan  multinasional),  menyebabkan  profesi auditor di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Agar dapat memenuhi kebutuhan  dan  tanggung  jawab   tersebut,  profesional  dituntut  untuk  dapat&lt;br /&gt;meningkatkan job performance pada profesinya. Profesional yang bekerja dengan job performance yang baik dapat meningkatkan kepuasan klien, kredibilitas dan eksistensi. Hal  tersebut yang mendorong penulis meneliti kembali sejauh mana konsep  Kalbers  dan  Cenker   (2008)  dapat  diterapkan  pada  profesional  di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-8666391792667236684?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/8666391792667236684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=8666391792667236684&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8666391792667236684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8666391792667236684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/analisis-faktor-faktor-yang.html' title='Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Job Performance Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Di Semarang (EKN-144)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3328656309277393280</id><published>2011-03-16T16:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:34:51.957-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Partisipasi, Motivasi Dan Pelimpahan Wewenang Dalam Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial ( EKN-143)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Anggaran  merupakan  salah  satu  komponen  penting  dalam  perencanaan perusahaan, yang berisikan  rencana kegiatan  dimasa datang dan mengindikasikan kegiatan  untuk mencapai tujuan tersebut ( Hansen &amp; Mowen,2000). Penganggaran merupakan suatu  proses yang cukup rumit pada organisasi sektor publik, termasuk diantaranya pemerintah  daerah. Hal tersebut  berbeda dengan penganggaran pada sektor swasta.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sektor swasta anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup  untuk publik, namun sebaliknya pada sektor   publik anggaran justru harus diinformasikan   kepada  publik  untuk  dikritik  dan  didiskusikan  untuk  mendapat masukan. Anggaran sektor  publik  merupakan  instrumen  akuntabilitas  atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan program –program yang dibiayai dari uang publik (  Mardiasmo,  2005; 61). Penganggaran sektor publik  terkait dalam proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap –tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mardiasmo, (2005) menyatakan bahwa tahap penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat   menggagalkan   perencanaan   yang   telah   disusun.   Anggaran   merupakan manajerial  plan   of  action  untuk  memfasilitasi  tercapainya  tujuan  organisasi. Anggaran  sektor  publik  mempunyai  beberapa  fungsi  utama,  yaitu  sebagai  alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat politik, alat koordinasi dan&lt;br /&gt;komunikasi, alat penilaian kinerja, alat motivasi,   dan alat penciptaan ruang publik&lt;br /&gt;( Haryanto dkk, 2007: 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hofstede  (1968)  dalam  Marani  dan  Supomo  (2003)  menyatakan  bahwa penggunaan  anggaran  dapat  dipergunakan  sebagai  alat  untuk  mendelegasikan wewenang atasan  kepada  bawahan.  Penggunaan  anggaran  itu  sendiri  akan memunculkan   berbagai dimensi perilaku aktivitas orang dalam hal pengendalian, evaluasi  kinerja, dan koordinasi. Penggunaan anggaran dapat dilaksanakan dengan baik  apabila   anggaran  yang  ditetapkan  terjadi  kesesuaian  terhadap  pelimpahan wewenang  atasan   kepada  bawahan.  Penggunaan  anggaran  akan  sesuai  dengan sasaran apabila proses  penyusunan anggaran yang dibuat sesuai dengan kebutuhan bawahan.&lt;br /&gt;Hansen dan Mowen (2000) menjelaskan bahwa proses penyusunan anggaran memotivasi manajer  untuk  mengembangkan  arah  bagi  organisasi,  meramalkan kesulitan,  dan  mengembangkan  kebijakan  masa  depan,  disisi  lain  bahwa  proses penyusunan  anggaran  merupakan  kegiatan  yang  penting  dan  kompleks,  karena anggaran  mempunyai kemungkinan dampak fungsional dan disfungsional terhadap sikap  dan  perilaku  anggota  organisasi  (  Milani,  1975),  sedangkan  cara  untuk mencegah   terjadinya   dampak   disfungsional   anggaran,   bawahan   harus   diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran (Argyris 1952).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brownell  (1982a)  mengatakan  bahwa  partisipasi  dalam  penyusunan anggaran  merupakan  proses  dimana  individu,  yang  kinerjanya  dievaluasi  dan memperoleh  penghargaan  berdasarkan  pencapaian  target  anggaran,  terlibat  dan mempunyai pengaruh dalam penyusunan target anggaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil   penelitian   dilakukan   oleh   Govindarajan   (1986),   Browwnell   dan Mclnnes  (1986),  Indriantoro  (1993)  dalam  Supomo  (  1998)  menemukan  adanya pengaruh  positif  partisipasi  dalam  proses  penyusunan  anggaran  yang  merupakan pendekatan manajerial terhadap perilaku dan kinerja manajerial&lt;br /&gt;Adanya berbagai hasil penelitian yang berbeda hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial, menimbulkan banyak perdebatan para peneliti, sehingga menarik minat para peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap hubungan tersebut diantarnya; (Argyris, 1952; Milani, 1975; Kenis,&lt;br /&gt;1979;  Brownell,  1981,  1982b,  Brownell  dan  Mclnnes,  1986;  dan  Birnberg  dkk,&lt;br /&gt;1990). Hasil yang diperoleh dari penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan  antara partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial tidak dapat disimpulkan secara pasti. Berbeda menurut Milani (1975), Brownell dan Hirst (1986), hasil penelitiannya menyatakan hubungan yang tidak signifikan.&lt;br /&gt;Variabel   individual   yang   mengungkapkan   hubungan   antara   partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manjerial merupakan variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti-peneliti sebelumnya antara lain; hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial dipengaruhi oleh sifat indifidu locus of control  ( Brownell, 1981, 1982b), Motivasi (Brownell dan Mclnnes, 1986; Mia,&lt;br /&gt;1988), dan sikap terhadap pekerjaan dan perusahaan ( Millani, 1975; Mia, 1988). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  Variabel  organisasional  akan  dihadapkan  pada  kondisi  ketidakpastian lingkungan dimasa yang akan datang, dimana untuk mengantisipasi ketidakpastian lingkungan tersebut. Dalam struktur organisasi yang terdesentralisasi para manajer diberikan   wewenang  dan  tanggungjawab  yang  lebih  besar  dalam  pengambilan&lt;br /&gt;keputusan   dan   melakukan   kegiatan   daripada   dalam   struktur   organisasi   yang tersentralisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galbraith  (1973)   menjelaskan  struktur  organisasi  yang  terdesentralisasi diperlukan  pada  kondisi  administratif,  tugas  dan  tanggung  jawab  yang  semakin kompleks,  yang selanjutnya memerlukan pendistribusian otoritas pada manajemen yang  lebih rendah. Pelimpahan wewenang desentralisasi diperlukan karena dalam struktur  yang   terdesentralisasi  para  manajer/bawahan  diberikan  wewenang  dan tanggung jawab lebih besar dalam pengambilan keputusan. Menurut Miah dan Mia (1996) desentralisasi  adalah  seberapa jauh manajer yang lebih tinggi mengijinkan manajer  dibawahnya  untuk   mengambil  keputusan  secara  independen.  Hal  ini didukung dengan penelitiannya Gul dkk (1995), bahwa partisipasi anggaran terhadap kinerja akan berpengaruh positif dalam  organisasi  yang pelimpahan wewenangnya bersifat desentralisasi.  Riyanto (1996)  dalam  Marani     dan  Supomo(2003) menemukan desentralisasi  tidak  dapat mempengaruhi  hubungan  partisipasi penyusunan   anggaran   dengan   kinerja   manajerial.   Tanggung  jawab   dalam pendelegasian  dari  top  manajemen  ke  level  manajemen  yang  lebih  rendah  akan membawa konsekwensi semakin besar tanggung jawab manajer yang  lebih  rendah terhadap pelaksanaan keputusan yang dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitosudarsono  dan  Sudita(1997)  dalam  Marani  dan  Supomo(2003) mengatakan bahwa proses timbulnya motivasi seseorang merupakan gabungan dari konsep   kebutuhan,   dorongan,tujuan   dan   imbalan,   sedangkan   Mitchell   (1982) menjelaskan  motivasi  merupakan  derajat  sampai  sejauhmana  individu  ingin  dan berusaha dalam  mengerjakan suatu pekerjaan  dengan baik dan upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi akan dikondisikan oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;individual  Robbin (1996). Menurut Mia (1988) dalam proses penyusunan anggaran mungkin akan lebih efektif  pada kondisi karyawan mempunyai motivasi yang tinggi, dan  sebaliknya.  Pengaruh  motivasi  dalam  penyusunan  anggaran  terhadap  kinerja manajerial banyak  dilakukan oleh penelitian-penelitian terdahulu, dan hasilnya ada hubungan  yang  positif  (   Kennis,  1979;  Merchant,  1981;  serta  Brownell  dan mclnnes,1986). Hasil Penelitian Mia (1988) menunjukkan pengaruh positif motivasi terhadap kinerja manajerial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  survei  pendahuluan  diperoleh  informasi  bahwa  permasalahan yang  ada  di lembaga sektor  publik  yaitu pada dinas daerah dan lembaga teknis daerah Kabupaten Rembang adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Kurangnya  partisipasi  staf  dalam  penyusunan  anggaran  sehingga  hasil  yang diharapkan tidak maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Pengalokasian   anggaran   yang   diterima   tidak   sesuai   dengan   perencanaan, disebabkan terbatasnya kemampuan anggaran yang tersedia untuk pembiayaan, kurangnya   perhatian   pemerintah   daerah   terhadap   kebutuhan   satuan   kerja perangkat daerah  (  SKPD)  yang  diperlukan  untuk  kepentingan  publik,  masih adanya   kepentingan  politik  akibatnya  anggaran  yang  direncanakan  untuk kepentingan dinas daerah dan lembaga teknis daerah kurang maksimal sehingga pelayanan SKPD untuk kepentingan publik tidak maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Kurangnya perhatian pimpinan yang mendorong middle management sehingga untuk   memenuhi   tujuan   organisasi   kurang   maksimal   yaitu   tidak   adanya penghargaan  dan  sanksi  yang  tegas  pimpinan  terhadap  bawahannya,  masih lemahnya peraturan-peraturan birokrasi yang mengatur tentang pegawai sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Kurang  maksimalnya  pelimpahan  wewenang  terhadap   middle   management sehingga  mengurangi ruang  gerak middle  management  lebih  kreatif, inovatif dan aktif dalam pemilihan dan pemindahan staf  sesuai dengan kemampuan atau skill staff, adanya pengalokasian anggaran dan keputusan top management yang tidak sesuai dengan kebutuhan  sehingga kurang memberikan hasil dan manfaat untuk organisasi.&lt;br /&gt;Penelitian  ini  difokuskan  pada  permasalahan  diatas  yang  belum  teratasi, karena dapat mempengaruhi kinerja pada Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Hasil   penelitian   dengan   sampel   pada   perusahaan   yang   berorientasi   mencari keuntungan  kemungkinan  akan  menunjukkan  hasil  yang  berbeda  jika  diterapkan pada sektor publik (Dinas Daerah  dan Lembaga Teknis Daerah) yang berorientasi tidak mencari keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya  Penyusunan anggaran yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah  berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006, di mana dalam  penyusunan  rencana  keuangan  tahunan  dilakukan  secara  terintegrasi untuk   seluruh   jenis   belanja   guna   melaksanakan   kegiatan   pemerintahan   yang didasarkan  pada  prinsip   pencapaian  efisiensi  alokasi  dana.  Penyusunan  APBD terpadu  selaras  dengan   penyusunan  anggaran  yang  berorientasi  pada  anggaran berbasis kinerja atau prestasi kerja. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.30 /&lt;br /&gt;2007 tentang  ”  Pedoman  Penyusunan  Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Daerah Tahun Anggaran 2008” Menyebutkan bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalalam penyusunan APBD yaitu; (1) penyusunan kebijakan umum  APBD  (KUA),  (2)  penyusunan  prioritas  dan  plafon  anggaran  sementara (PPAS),  (3)  penyusunan  dan  penyampaian  surat  edaran  kepala  daerah  tentang&lt;br /&gt;pedoman penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD, (4) penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD, (5) penyusunan rancangan peraturan daerah tentang penjabaran APBD, (6) penyampaian rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman penyusunan anggaran tersebut harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan  dilaksanakan  oleh  seluruh  dinas  daerah  dan  lembaga  tehnis  daerah. Dalam penelitian  ini terdapat penyusunan anggaran di dinas daerah dan lembaga tehnik  daerah  sebagian   masih  ketergantungan  pada  keputusan  top  manajemen&lt;br /&gt;,kurangnya pelimpahan wewenang kepada middle management yang secara langsung berhubungan  dengan  tehnik  lapangan,  sehingga  anggaran  untuk  kegiatan  yang direncanakan   tidak sesuai dengan target yang diharapkan, berkurangnya  motivasi kerja dan  berakibat  berkurangnya  kinerja  manajerial  terhadap  tujuan  organisasi. Kinerja manajerial yang dimaksud disini adalah kinerja pada pejabat eselon III dan IV Pemerintah Kabupaten Rembang karena pejabat eselon III dan IV tersebut yang terlibat  langsung  dalam  penyusunan  anggaran  yang  berarti  mereka  yang  banyak dilibatkan perencanaan dan   pelaksanaan   penyusunan anggaran, menggunakan dan melaporkan realisasi  anggaran atau sebagai pelaksana anggaran pemerintah daerah, yang menjadikan keberhasilan dan tidak seorang pimpinan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab memimpinan dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3328656309277393280?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3328656309277393280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3328656309277393280&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3328656309277393280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3328656309277393280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/pengaruh-partisipasi-motivasi-dan.html' title='Pengaruh Partisipasi, Motivasi Dan Pelimpahan Wewenang Dalam Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial ( EKN-143)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-7984539476385698817</id><published>2011-03-16T16:30:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:32:09.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan: Corporate Governance Sebagai Moderating Variable (EKN-142)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Laba  merupakan  indikator  yang  dapat  digunakan  untuk  mengukur kinerja   operasional  perusahaan.  Informasi  tentang  laba  digunakan  untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi yang telah ditetapkan (Siallagan dan Machfoeds, 2006). Salah satu cara yang dilakukan oleh manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan  yaitu dengan earnings management yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan pada saat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scott  (dalam  Kusumawardhani  dan  Sylvia,  2009)  mendefinisikan earning management sebagai “the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some  specific objective”, yang kurang lebih memiliki arti: pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk  mencapai  tujuan  tertentu.  Dengan  kata  lain,  earnings  management berkaitan  dengan  pemilihan  metode  akuntansi  yang  dapat  mempengaruhi tingkat laba untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki oleh manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumanti  (2000)  menyatakan  bahwa  earnings  management  diduga muncul atau  dilakukan oleh manajer atau para pembuat laporan keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena mereka&lt;br /&gt;mengharapkan   suatu   manfaat   dari   tindakan   yang   dilakukan.   Earnings management   menjadi   menarik  untuk  diteliti  karena  dapat  memberikan gambaran akan perilaku  manajer dalam melaporkan kegiatan usahanya pada suatu  periode  tertentu,  yaitu  adanya   kemungkinan  munculnya  motivasi tertentu  yang  mendorong  mereka  untuk  memanaje   atau  mengatur  data keuangan yang dilaporkan. Perlu dicatat disini bahwa earnings  management tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi (accounting methods) untuk mengatur keuntungan yang bisa dilakukan karena memang diperkenankan menurut accounting regulations.&lt;br /&gt;Jika  pada  suatu  kondisi  dimana  pihak  manajemen  ternyata  tidak berhasil   mencapai  target  laba  yang  ditentukan,  maka  manajemen  akan bertindak  untuk   memodifikasi  laba  yang  masih  sesuai  dengan  standar akuntansi yang berlaku. Manajemen termotivasi untuk memperlihatkan kinerja yang  baik  dalam  menghasilkan   keuntungan  maksimal  bagi  perusahaan sehingga manajemen cenderung memilih dan  menerapkan metode akuntansi yang dapat memberikan informasi laba yang lebih baik (Halim, dkk; 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari earning management adalah meningkatkan kesejahteraan pihak  tertentu  walaupun  dalam  jangka  panjang  tidak  terdapat  perbedaan kumulatif  perusahaan   dengan  laba  yang  dapat  diidentifikasikan  sebagai keuntungan  (Fischer  dan  Rosenweirg  1995  dalam  Herawaty  2008),  Scott&lt;br /&gt;1997:294. Morck, Scheifer &amp; Vishny (dalam Herawaty, 2008) menyatakan bahwa  earnings  management yang dilakukan manajemen perusahaan akan&lt;br /&gt;meningkatkan nilai perusahaan (tobin’s q) lalu kemudian akan turun searah dengan peningkatan kepemilikan manajerial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik earning management dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap  pihak   berusaha  untuk  mencapai  atau  mempertimbangkan  tingkat kemakmuran yang  dikehendakinya. Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi  mengadakan  kontrak  untuk  menyejahterakan   dirinya  sendiri dengan  profitabilitas  yang  selalu  meningkat.  Sedangkan  agent  termotivasi untuk  memaksimalkan  pemenuhan  kebutuhan  ekonomi  dan  psikologisnya, antara  lain  dalam  hal  memperoleh  kompensasi/bonus  (sifat  opportunistic manajemen) hal inilah yang disebut masalah keagenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik  keagenan  yang  mengakibatkan  adanya  sifat  opportunistic manajemen  akan  mengakibatkan  rendahnya  kualitas  laba  atau  laba  yang dilaporkan semu. Rendahnya kualitas laba tersebut berakibat pada kesalahan pembuatan keputusan oleh para  pemakai laporan keuangan tersebut seperti para  investor  dan  kreditor,  sehingga  nilai   perusahaan  akan  berkurang (Siallagan dan Machfoeds, 2006).&lt;br /&gt;Berdasarkan teori keagenan, permasalahan tersebut dapat diatasi atau diminimumkan  dengan  pengawasan  melalui  good  corporate  governance. Shleifer dan  Vishny (dalam Herawaty, 2008) menyatakan bahwa corporate governance merupakan cara  atau mekanisme untuk memberikan keyakinan&lt;br /&gt;pada para pemasok dana perusahaan akan diperolehnya return atas investasi mereka.   Forum   of  Corporate  Governance  in  Indonesia  (FCGI,  2001) menyatakan bahwa corporate governance adalah seperangkat peraturan yang menetapkan  hubungan  antara  pemegang  saham,  pengurus,  pihak  kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar good corporate governance sebenarnya merupakan kebutuhan yang mendasar dalam rangka implementasi good corporate governance. Prinsip-prinsip utama dari corporate governance yang  menjadi  indikator,   sebagaimana  ditawarkan  oleh  Organization  for Economic Cooperation and Development  (OECD) adalah: Fairness (keadilan),  Disclosure/  Transparancy (keterbukaan/ transparansi), Acccountability (akuntanbilitas), Responsibility (responsibilitas) dan Independency (independen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan terdapat beberapa mekanisme corporate governance sebagai  sarana  monitoring  untuk  menyelaraskan  (alignment)  perbedaan kepentingan pemilik dan manajemen (konflik keagenan) antara lain dengan:&lt;br /&gt;1.  Memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(manajerial ownership) (Jensen Meckling, 1976).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Memperbesar  kepemilikan  saham  oleh  institusional  karena  mereka dianggap  sebagai sophisticated investor dengan jumlah kepemilikan yang cukup signifikan dapat memonitor manajemen yang berdampak mengurangi motivasi manajer untuk melakukan Earnings Management&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Midiastuty dan Mas’ud, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Peran   monitoring   yang   dilakukan   dewan   komisaris   independen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Barnhart dan Rosenstein, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Kualitas   audit   yang   dilihat   dari   peran   auditor   yang   memiliki kompetensi yang memadai dan bersikap independen sehingga menjadi pihak  yang dapat  memberikan kepastian terhadap integritas  angka- angka akuntansi yang dilaporkan manajemen (Mayangsari, 2003). Praktik  corporate  governance  memiliki  hubungan  yang  signifikan&lt;br /&gt;terhadap earnings management, dan berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan  hal tersebut, seperti penelitian yang dilakukan Midiastuty dan Machfoedz,  2003,  Wedari,  2004,  dan  Boediono,  2005.  Praktik  earnings management yang dilakukan oleh manajer  akan mempengaruhi tingkat laba yang  selanjutnya   akan   berpengaruh   pada   nilai   perusahaan.   Sedangkan corporate governance akan mempengaruhi hubungan antara earnings management dan nilai perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penelitian ini diberi judul: “PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP  NILAI  PERUSAHAAN;  CORPORATE   GOVERNANCE SEBAGAI MODERATING VARIABLE”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-7984539476385698817?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/7984539476385698817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=7984539476385698817&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/7984539476385698817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/7984539476385698817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/pengaruh-earnings-management-terhadap.html' title='Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan: Corporate Governance Sebagai Moderating Variable (EKN-142)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1899955825420015876</id><published>2011-03-16T16:27:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:29:52.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri, Dan Belanja Modal Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi ..(EKN-141)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, Indonesia tidak lepas dari berbagai hambatan dan tantangan dalam pembangunan. Masalah kemiskinan, rendahnya  modal,  rendahnya  kualitas  sumber  daya  manusia  adalah  beberapa contoh  masalah  pembangunan  yang  harus  segera  diatasi,  termasuk  masalah keamanan dan politik yang belum stabil. Dalam kaca mata  ekonomi, salah satu cara untuk mengatasi berbagai masalah tersebut adalah dengan  mengupayakan peningkatan pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan  ekonomi  merupakan  suatu  gambaran  yang  nyata  dari dampak suatu kebijakan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan tersebut dimaksudkan  sebagai  laju  pertumbuhan  yang  terbentuk  dari  berbagai  macam sektor ekonomi yang secara  tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi.  Bagi  daerah,  ini  merupakan   suatu  indikator  yang  penting  untuk mengetahui  keberhasilan  pembangunan  dan  berguna  untuk  menentukan  arah kebijakan  pembangunan  di  masa  yang  akan  datang.  Laju  pertumbuhan  suatu daerah  dapat  ditunjukkan  dengan  PDRB  (Produk  Domestik  Regional  Bruto). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PDRB  yang  lebih  rendah  dimiliki  oleh  Provinsi  Jawa  Barat,  dengan pertumbuhan  sebesar  6,01  persen.  Stelah  Jawa  Barat,  Provinsi  Jawa  Tengah memiliki nilai PDRB dengan  pertumbuhan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,42 persen. PDRB yang lebih rendah dari Jawa Tengah adalah Provinsi Banten yang merupakan  provinsi  yang  baru  terbentuk  di  Pulau   Jawa,  dengan  rata-rata pertumbuhan sebesar 4,25 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diperingkat, rata-rata pertumbuhan PDRB selama tahun 2005 hingga tahun 2007, DKI Jakarta memiliki pertumbuhan yang paling tinggi di Pulau Jawa, yaitu  sebesar  6,13  persen  pertahun.  Kemudian  Jawa  Barat,  dengan  rata-rata pertumbuhan sebesar 6,01 persen  pertahun.  Selanjutnya Jawa Timur memiliki rata-rata pertumbuhan sebesar 5,92 persen pertahun, dan Banten dengan rata-rata&lt;br /&gt;pertumbuhan sebesar 5,83 persen pertahun. Meskipun Jawa Tengah memiliki nilai PDRB lebih  tinggi dibandingkan Banten, namun tiap tahunnya hanya  tumbuh sebesar 5,42 persen.  Rata-rata  pertumbuhan PDRB paling rendah dimiliki oleh Provinsi DIY dengan nilai 4,25 persen pertahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai PDRB pada suatu tahun, bila dibagi dengan jumlah penduduk tahun tersebut akan menghasilkan PDRB per kapita yang biasa digunakan untuk melihat kesejahteraan penduduk pada tahun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provinsi  Jawa  Tengah  merupakan  juru  kunci  perkembangan  ekonomi diantara enam provinsi di Pulau Jawa. Dengan menggunakan variabel PDRB per kapita  dan  laju  pertumbuhan  ekonomi,  maka  Jawa  Tengah  termasuk  dalam kelompok  “RR”  (rendah-rendah)  bersama   dengan  Propinsi  D.I  Yogyakarta. Artinya, baik dari segi PDRB per kapita maupun laju  pertumbuhan ekonomi, kedua  propinsi  tersebut  berada  di  bawah  rata-rata  nasional.  Sedangkan,  Jawa Tengah, adalah yang paling rendah dalam kelompok “RR” tersebut. Jawa Tengah adalah tulang punggung nasional karena menampung 16 persen lebih penduduk Indonesia (Alex Emyll, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan daerah merupakan bagian integral dan sebagai penjabaran dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi, aspirasi, dan permasalahan pembangunan di daerah. Pembangunan daerah diharapkan  dapat memotivasi peningkatan kreatifitas dan inisiatif untuk dapat lebih menggali dan  mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah, dan dilaksanakan secara  terpadu, serasi, terarah, agar pembangunan di tiap daerah dapat benar-benar sesuai dengan prioritas dan potensi daerahnya ( Nugroho, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, setiap proses pembangunan termasuk di daerah didasarkan atas kemampuan  sendiri  (self  reliant  development)  dengan  mengoptimalkan  semua potensi  sumber  daya  yang  dimiliki.  Namun  keinginan  seperti  itu  sangat  sulit diwujudkan. Kondisi  objektif  menunjukan   bahwa  daerah-daerah  biasanya mengalami  kesulitan  dalam  membangun  perekonomian   karena  keterbatasan sumber daya manusia, keterbelakangan teknologi dan kekurangan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  ketiga  hal  tersebut  yang  sering  mendapat  perhatian  lebih  adalah masalah  kekurangan  modal  (Hendra,  1991).  Dalam konteks inilah  pemerintah memandang perlunya  menempuh kebijaksanaan yang memberikan kesempatan yang  lebih  luas  kepada  sektor  swasta,  baik  domestik  maupun  asing,  untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Adapun bentuk partisipasi ini adalah penanaman modal atau investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman  modal   merupakan   langkah   awal   kegiatan  pembangunan sehingga investasi pada hakekatnya juga merupakan awal kegiatan pembangunan ekonomi. Urgensi tentang pembentukan modal di daerah juga mendapat perhatian dan  penekanan  oleh  Zaris  (1987)  yang  menyatakan  bahwa  investasi  swasta memainkan  peranan  penting dalam  membentuk  pola  pembangunan  di  daerah. Investasi  ini  akan  menyebabkan  terbentuknya  modal  daerah  (regional  capital formation). Hal ini merupakan konsekwensi logis dari terbatasnya sumber daya, teknologi dan modal yang dimiliki oleh daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  Jawa  Tengah  usaha-usaha  menjalankan  program  pembangunan melalui  kebijakan  penanaman  modal  swasta  sebenarnya  telah  dilakukan  sejak pelita  I  yaitu  dengan  dikeluarkannya  serangkaian  kebijakan  oleh  pemerintah&lt;br /&gt;daerah  dalam  hal  ini  Badan  Penanaman  Modal  setempat  dan  mendapatkan momentumnya  pada awal pelita III dimana peran swasta dalam pembangunan pada  waktu  itu  dirasakan  sangat  diperlukan.  Inti  dan  maksud  dari  berbagai kebijakan tersebut tentu saja agar para  investor mau menanamkan modalnya di Jawa Tengah.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1899955825420015876?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1899955825420015876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1899955825420015876&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1899955825420015876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1899955825420015876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/pengaruh-penanaman-modal-asing.html' title='Pengaruh Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri, Dan Belanja Modal Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi ..(EKN-141)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6742268934333351143</id><published>2011-03-16T16:21:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:24:47.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Kualitas Auditor, Corporate Governance, Leverage Dan Kinerja Keuangan Terhadap Manajemen Laba (EKN-140)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Salah satu sumber informasi dari pihak eksternal dalam menilai kinerja perusahaan  adalah  laporan keuangan.  Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku bersangkutan. Laporan keuangan dibuat oleh  manajemen  dengan  tujuan  untuk  mempertanggungjawabkan  tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan  keuangan  juga  digunakan  untuk  memenuhi  tujuan-tujuan  lain salah satunya  yaitu sebagai laporan kepada pihak di luar perusahaan.  Kinerja manajemen perusahaan tercermin pada laba yang terkandung dalam laporan laba rugi.  Menurut  Statement  of   Financial   Accounting  Concept  (SFAC)  No  1. informasi   laba merupakan   perhatian   utama untuk menaksir   kinerja   atau pertanggungjawaban manajemen. Selain itu informasi laba juga membantu pemilik atau pihak lain dalam menaksir earnings power perusahaan dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;Informasi  laba  ini  sering  menjadi  target  rekayasa  tindakan  oportunis manajemen   untuk   memaksimumkan  kepuasaannya,   tetapi  dapat   merugikan pemegang saham atau  investor. Tindakan oportunis tersebut dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan maupun diturunkan sesuai dengan keinginannya. Perilaku manajemen&lt;br /&gt;untuk  mengatur  laba  sesuai  dengan  keinginannya  ini  dikenal  dengan  istilah manajemen laba (earnings management).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen laba adalah   campur tangan manajemen   dalam   proses pelaporan   keuangan   dengan   tujuan   untuk   menguntungkan   dirinya   sendiri (manajer).  Salah  satu  cara  untuk  mengukur  manajemen  laba  adalah  dengan menggunakan proksi Discretionary Accrual (DA). Discretionary Accrual adalah komponen akrual yang berada dalam kebijakan manajer, artinya manajer memberi intervensinya dalam proses pelaporan akuntansi. Manajemen laba berbeda dengan perataan laba (income smooting) karena perataan laba (income  smooting) adalah tindakan untuk meratakan laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan, dengan tujuan  pelaporan  eksternal,  terutama  bagi  investor,  karena  umumnya  investor menyukai laba yang relatif stabil. Oleh karena itu perataan laba (income smooting) merupakan bagian dari manajemen laba (Gumanti, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen laba diduga muncul atau dilakukan oleh manajer atau para pembuat  laporan keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena  mereka  mengharapkan suatu  manfaat  dari tindakan  yang dilakukannya (Gumanti, 2000). Tindakan manajemen laba tersebut dapat mengurangi kredibilitas  laporan  keuangan  apabila  digunakan  untuk  mengambil  keputusan, karena   manajemen   laba   merupakan  suatu  bentuk   manipulasi  atas   laporan keuangan yang menjadi  sasaran komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan  earnings  management  telah  memunculkan  beberapa  kasus skandal pelaporan akuntansi yang secara luas diketahui, antara lain Enron, Merck,&lt;br /&gt;WorldCom, dan mayoritas perusahaan lain di Amerika Serikat (Cornett  et al.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006). Beberapa kasus juga terjadi di Indonesia, seperti PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang berawal dari terdeteksi adanya manipulasi (Boediono, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan  manajemen  laba tersebut  dapat  diminimumkan  melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk menyelaraskan (alignment) berbagai kepentingan yang disebut corporate governance. Corporate governance merupakan konsep yang diajukan  demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi  atau   monitoring   kinerja   manajemen   dan   menjamin   akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan pada kerangka peraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Barnhart dan Rosenstein (1998),  mekanisme  corporate governance meliputi mekanisme internal, seperti adanya struktur dewan direksi, kepemilikan  manajerial  dan  kompensasi  eksekutif,  dan  mekanisme  eksternal, seperti  pasar  untuk  kontrol  perusahaan,  kepemilikan  institusional  dan  tingkat pendanaan dengan hutang  (debt  financing).  Sedangkan  menurut  Veronica dan Bachtiar (2004),  beberapa    mekanisme corporate governance antara lain diwujudkan  dengan  adanya  dewan  direksi,  komite  audit,  kualitas  audit ,  dan kepemilikan institusional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chtourou  et  al.  (2001)  dan  Midiastuty  dan  Machfoedz  (2003)  yang meneliti tentang hubungan antara kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,  dan  ukuran dewan  direksi  yang  menyatakan  bahwa  kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berhubungan negatif dengan manajemen laba, sedangkan ukuran  dewan  direksi berhubungan positif dengan manajemen&lt;br /&gt;laba. Hasil penelitian ini berkontradiksi dengan Boediono (2005) yang menyatakan   bahwa   kepemilikan   institusional,   kepemilikan   manajerial,   dan komposisi dewan komisaris memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian di atas merupakan penelitian terhadap perusahaan- perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selain sektor perbankan. Oleh karena itu, perlu  suatu penelitian tentang efektivitas corporate governance pada industri perbankan karena karakteristik dan kompleksitas industri perbankan yang berbeda dengan sektor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998, disebutkan   bahwa  bank  adalah  badan  usaha  yang  menghimpun  dana  dari masyarakat  dalam  bentuk  simpanan  dan  menyalurkannya  kepada  masyarakat dalam bentuk kredit  atau bentuk  lain  dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat   banyak.   Berdasarkan   pengertian   tersebut   maka   untuk   menjalankan aktivitasnya  perbankan  harus  mempunyai  integritas  tinggi  supaya  masyarakat memiliki kepercayaan dalam rangka menjalin hubungan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbankan adalah perusahaan “kepercayaan”, sehingga apabila perusahaan diketahui melakukan tindak manajemen laba otomatis kepercayaan investor akan berkurang  dan satu  persatu ataupun bersama-sama akan  melakukan penarikan dana sehingga bisa menimbulkan rush (penarikan dana secara besar-besaran) yang kemudian  akan  merugikan  bank  tersebut  bahkan  menyebabkan  bank  tersebut collapse (bangkrut). Bank Indonesia sebagai pengawas semua bank yang ada di&lt;br /&gt;Indonesia menerapkan cara penilaian kesehatan bank dengan berdasarkan pada laporan keuangan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian atas status suatu bank (apakah bank tersebut merupakan bank yang  sehat   atau  tidak)  dengan  menggunakan  laporan  keuangan  itulah  yang menyebabkan  manajer   memiliki  inisiatif  untuk  melakukan  manajemen  laba supaya perusahaan mereka dapat  memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh BI (Setiawati  dan  Na’im,  2001).  Untuk  mencegah  tindakan  manajemen  laba  di perbankan tersebur  maka Bank Indonesia selaku regulator  lembaga perbankan telah  mengeluarkan  banyak  peraturan  yang  terkait  langsung  dengan   upaya penerapan  Good  Corporate  Governance  (GCG)  antara  lain  dikeluarkannya Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang dibentuk tahun 2004 yang mempunyai visi untuk menciptakan suatu sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan  kestabilan  sistem keuangan  dalam  rangka  membantu  mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahun  2008  pemerintah  juga   membentuk  Pedoman  Akuntansi Perbankan  Indonesia (PAPI)  yang  diatur  dalam  Surat  Edaran Bank  Indonesia Nomor 11/4/DPNP tanggal 27 Januari tahun 2009 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Dengan PAPI diharapkan dapat terjadi peningkatan transparansi kondisi keuangan bank sehingga laporan keuangan bank menjadi semakin relevan, komprehensif, handal, dan dapat diperbandingkan.&lt;br /&gt;Bank Indonesia sebagai badan yang mengawasi semua bank yang ada di Indonesia tahun 2006 mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006  tentang pelaksanaan Good Corporate Governance bagi&lt;br /&gt; bank  umum.  Dalam  peraturan  tersebut  tercantum  hal  mengenai  keanggotaan komisaris  independen dan komite audit yang bertugas mengawasi kinerja bank berdasarkan informasi-informasi dalam laporan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tentang pelaksanaan corporate governance di perbankan antara lain  dilakukan  oleh  Nasution  dan  Setiawan  (2007)  yang  menyatakan  bahwa komposisi dewan  komisaris dan komite audit  berpengaruh  negatif,  sedangkan ukuran  dewan  komisaris   berpengaruh  positif  terhadap  manajemen  laba  di perbankan.  Hasil  ini  berbeda  dengan   Ujiyantho  dan  Pramuka  (2007)  yang menyebutkan bahwa proporsi dewan komisaris  independen berpengaruh positif terhadap manajemen laba, sedangkan jumlah dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.&lt;br /&gt;Selain penerapan corporate governance yang baik untuk meminimalkan manajemen  laba terdapat faktor lain yang dapat menimbulkan manajemen laba oleh manajer.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widyaningdyah (2001) mengungkapkan bahwa jika hutang yang dipergunakan secara efektif dan efisien maka akan meningkatkan nilai perusahaan. Tetapi apabila dilakukan dengan dalih untuk menarik perhatian para kreditur, maka justru akan memicu manajer untuk melakukan manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan yang mempunyai rasio leverage tinggi akibat besarnya jumlah utang  dibandingkan dengan aktiva yang dimiliki perusahaan, diduga melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban  pembayaran  utang  pada  waktunya.  Widyaningdyah  (2001),  Tarjo (2008), dan Halim et al. (2005) mengatakan bahwa leverage berpengaruh positif&lt;br /&gt;dan signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan berdasarkan Indrayani (2009)&lt;br /&gt;dan Nurlatifiyanti (2008) leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Watts dan Zimmerman (dalam Sulistyanto, 2008), pemeriksaan laporan  keuangan  oleh  kantor  akuntan  publik  juga  dapat  digunakan  sebagai monitoring terhadap  tindakan manajemen yang oportunistik dalam melaporkan kinerja perusahaan.  Jasa audit merupakan alat monitoring terhadap kemungkinan timbulnya konflik kepentingan antara kepentingan antara pemilik dengan manajer dan antara pemegang saham dengan jumlah kepemilikan yang berbeda serta dapat mengurangi asimetris informasi antara manajer dengan  stakeholder perusahaan dengan memperbolehkan pihak luar untuk memeriksa validitas laporan keuangan (Jensen dan Meckling, 1976).&lt;br /&gt;Pemeriksaan  laporan  keuangan  yang  dilakukan  oleh  auditor  memiliki kualitas yang  berbeda-beda. Oleh karena itu, auditing berkualitas tinggi (high- quality auditing) bertindak sebagai pencegah manajemen laba yang efektif, karena reputasi  manajemen  akan  hancur  dan   nilai  perusahaan  akan  turun  apabila pelaporan yang salah ini terdeteksi dan terungkap (Ardiati, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen laba yang terjadi pada perusahaan yang diaudit oleh auditor yang termasuk Big Six lebih rendah daripada auditor Non Big Six. Menurut Becker et  al.  (dalam  Sanjaya,  2008)  auditor  Non  Big  Six  lebih  dapat  menggunakan akuntansi secara fleksibel. Penelitian ini  sesuai  dengan hasil penelitian Meutia (2004)  dan  Nuraini  dan  Sumarno  (2007)  yang   menyatakan  bahwa  tindakan manajemen laba terhadap hasil audit yang dilakukan oleh KAP  Big Four lebih rendah daripada KAP Non Big Four.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fan dan Wong (2001) yang melakukan penelitian di Asia Timur yang menguji pengaruh auditor Big Five dan Non Big Five menyatakan bahwa kualitas auditor tidak  mempengaruhi manajemen laba. Ketidakkonsistenan ini pula yang menyebabkan peneliti ingin menguji kualitas auditor dalam penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  melihat  hasil  audit  yang  telah  dilakukan  oleh  KAP  Big  Four, kinerja  perusahaan juga dapat menjadi tolok ukur para investor untuk melihat perkembangan  perusahaan.  Sehingga  manajer  akan  melakukan  berbagai  cara untuk  menampilkan kinerja  yang  terbaik  untuk  menarik  investor.  Ketika  laba perusahaan  pada  saat  ini  meningkat  maka  manajer  akan  melakukan  tindakan manajemen  laba  dengan  menaikkan  laba  (Halim  et  al.,  2005).  Begitu  pula sebaliknya, jika laba masa depan meningkat maka manajer akan menurunkan laba saat ini. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ujiyantho dan Pramuka  (2007)  yang  menyatakan bahwa kinerja keuangan tidak  berpengaruh terhadap manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan kinerja keuangan sebagai faktor yang mempengaruhi manajemen laba berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setiawati dan Na’im (2000)  yang  menyatakan  bahwa  manajemen  laba  dilakukan  oleh  bank  yang mengalami  penurunan  tingkat  kesehatan  sebagai  salah  satu  indikator  kinerja keuangan bank. Penilaian kinerja keuangan pada perbankan berdasarkan pada tiga rasio  keuangan  yaitu  rasio  likuiditas,  rasio  rentabilitas,  dan  rasio  solvabilitas (Dendawijaya, 2003). Pada penelitian ini peneliti hanya  menggunakan Capital Adequacy  Ratio  (CAR)  sebagai  proksi rasio  solvabilitas.  CAR  dipilih  karena variabel tersebut  menempati persentase yang tertinggi dalam kriteria penilaian&lt;br /&gt;bank oleh Biro Riset Infobank (2009) yaitu sebesar 20,00%. CAR merupakan hal yang harus dipertahankan jika bank tersebut ingin mendapat kehormatan sebagai bank yang berkinerja sangat bagus (Biro Riset Infobank, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  latar  belakang  di  atas  maka  penulis  tertarik  untuk mengambil judul “Pengaruh Kualitas Auditor, Corporate Governance, Leverage dan Kinerja Keuangan Terhadap Manajemen Laba (Studi pada Perusahaan   Perbankan  yang  Terdaftar  di  Bursa  Efek  Indonesia  (BEI) Tahun 2006-2008)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6742268934333351143?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6742268934333351143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6742268934333351143&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6742268934333351143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6742268934333351143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/pengaruh-kualitas-auditor-corporate.html' title='Pengaruh Kualitas Auditor, Corporate Governance, Leverage Dan Kinerja Keuangan Terhadap Manajemen Laba (EKN-140)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-256888191226557548</id><published>2011-03-16T16:16:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:20:57.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Visibilitas Obligasi, Perbedaan Opini, Dan Asimetri Informasi Terhadap Likuiditas Obligasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (EKN-139)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Pasar  modal  adalah  pasar  dari  berbagai  instrumen  keuangan  jangka panjang yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi) maupun modal  sendiri  (saham)  yang   diterbitkan  pemerintah  dan  perusahaan  swasta (Husnan, 1994). Pasar modal telah menjadi  bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan ekonomi di berbagai negara. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pasar  modal  yang pesat memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian karena pasar modal memiliki dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan (Ang,  1997). Dalam melaksanakan fungsi ekonomi, pasar modal menyediakan fasilitas untuk  memindahkan dana dari pihak yang surplus dana kepada pihak yang membutuhkan dana. Sementara dalam melaksanakan fungsi keuangan, pasar modal menyediakan dana yang  dibutuhkan oleh pihak yang memerlukan dana, dan pihak yang memiliki kelebihan dana dapat  ikut terlibat dalam kepemilikan perusahaan tanpa harus menyediakan aktiva riil yang diperlukan untuk melakukan investasi (Bachri, 1997 dikutip oleh Krisnilasari, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran  pasar  modal  sangat  penting  bagi  perusahaan  dan  investor. Perusahaan  sebagai  pihak  yang  membutuhkan  dana  dapat  menghimpun  dana melalui pasar modal dengan menjual sahamnya kepada publik atau menerbitkan surat hutang (obligasi), sedangkan investor  sebagai pihak yang memiliki dana&lt;br /&gt;dapat mempergunakan pasar modal sebagai salah satu alternatif investasi guna&lt;br /&gt;memperoleh keuntungan. Perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat melalui pasar  modal dapat memberikan imbal hasil berupa dividen atau dapat memberikan bunga berupa kupon apabila menerbitkan obligasi. Namun tentu saja sebelum melakukan penjualan saham  ataupun menerbitkan obligasi, perusahaan perlu melakukan perhitungan terlebih dahulu dengan  membandingkan berbagai alternatif  yang dapat  ditempuh  sebagai  sumber  pendanaan  perusahaan  karena setiap  kebijakan  yang  ditempuh  akan  memberikan  keuntungan  dan  kerugian (Hartono, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bermanfaat bagi perusahaan, pasar modal juga akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana yang berkeinginan menginvestasikan dana tersebut ke instrumen investasi yang telah ada pada saat ini. Para pihak  yang memiliki kelebihan dana tersebut atau seringkali disebut dengan   investor,   dapat   memanfaatkan   pasar   modal   sebagai   sarana   untuk menyalurkan dana yang menganggur,  sehingga diperoleh tambahan penghasilan berupa perolehan investasi, dalam bentuk peningkatan nilai modal (capital gain) dan laba hasil usaha yang dibagikan (dividen) untuk investasi di pasar saham dan bunga (coupon) untuk investasi di pasar obligasi (Krisnilasari, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obligasi adalah efek pendapatan tetap yang diperdagangkan di masyarakat dimana  penerbitnya setuju untuk membayar sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan  membayar kembali jumlah pokoknya pada jatuh tempo (Ang, 1997). Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN, atau pemerintah baik  pemerintah  pusat  maupun  daerah  (Krisnilasari,  2007).  Salah  satu  jenis obligasi  yang  diperdagangkan  di  pasar  modal  saat  ini  adalah  obligasi  kupon&lt;br /&gt; (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi (Astuti, 2003).  Obligasi merupakan janji pihak penerbit kepada pihak pembeli obligasi  untuk  membayar  sejumlah  bunga  dalam  periode  waktu  tertentu  dan membayar nilai nominal obligasi pada waktu jatuh tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbitan obligasi merupakan salah satu keputusan penting yang diambil oleh  pengelola perusahaan dalam rangka mendapatkan modal untuk kebutuhan usahanya.   Dalam   prakteknya,   pengelola   perusahaan   akan   membandingkan berbagai alternatif yang ada untuk memperoleh dana yang dibutuhkan perusahaan. Pada saat suku bunga (SBI/BI rate) turun maka mereka akan cenderung memilih untuk menerbitkan obligasi karena biaya modalnya relatif lebih kecil dibandingkan menjual sahamnya yang memiliki potensi menyebabkan penurunan kepemilikannya karena dijual ke publik (Krisnilasari, 2007). Pertimbangan utama yang mendasari pemilihan perusahaan swasta untuk menerbitkan obligasi sebagai alternatif  pendanaan  jangka  panjang  karena  tingkat  bunga  obligasinya  lebih rendah daripada tingkat bunga pinjaman bank (Nurfauziah dan Setyarini, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brigham (1996) dalam  Krisnilasari (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa   keuntungan  bagi  perusahaan  dalam  menggunakan  hutang  jangka panjang (obligasi) yaitu:  (1) biaya modal setelah pajak yang rendah, (2) bunga yang dibayarkan merupakan pengurang  pajak penghasilan, (3) melalui financial leverage  dimungkinkan  laba  per  lembar  saham  akan  meningkat,  (4)  kontrol terhadap operasi perusahaan oleh pemegang saham tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;Husnan (1998) mengilustrasikan bahwa sumber pencarian dana melalui obligasi  akan   lebih  menguntungkan  dibanding  melalui  lembaga  perbankan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Husnan  (1998)  mencontohkan,  bahwa  jika  perusahaan  meminjam  dari  bank, perusahaan  mungkin harus membayar bunga 18% pertahun. Perusahaan dapat menerbitkan obligasi dengan coupon rate hanya 15% pertahun dan terjual dengan harga sama dengan nilai nominal, maka perusahaan dapat menghemat biaya dana (cost of debt) sebesar 3%. Pembeli obligasi yakni investor memperoleh manfaat karena mereka dapat memperoleh keuntungan sebesar 15%  pertahun. Tingkat bunga ini lebih besar daripada tingkat bunga deposito (13%). Tetapi  investasi obligasi tidak lagi menarik manakala coupon rate lebih rendah dari tingkat bunga deposito karena coupon rate obligasi bersifat fluktuatif apabila jenis obligasi suku bunga mengambang (floating rate).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping adanya alasan mengenai kepastian akan return yang diterima dan juga  tingkat risiko yang rendah, ada beberapa alasan lain yang mendukung mengapa   para investor memilih   investasi   pada   obligasi. Faerber (2000) menyatakan bahwa investor memilih berinvestasi pada obligasi dibanding saham karena dua  alasan, yaitu: (1) volatilitas saham lebih tinggi dibanding obligasi, sehingga   mengurangi   daya   tarik   investasi   pada   saham,   dan   (2)   obligasi menawarkan tingkat pengembalian yang  positif dengan pendapatan tetap (fixed income), sehingga obligasi lebih memberikan jaminan dibanding saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor  yang membeli  obligasi  perusahaan  (corporate bond) tentunya akan  memperoleh keuntungan atau yield. Namun demikian pemilihan obligasi tentunya tetap mengacu pada preferensi investor untuk lebih memilih tingkat yield yang  lebih  tinggi  yang  dihasilkan  obligasi  perusahaan  dan  juga  keadaan  di&lt;br /&gt;lapangan yang jarang mengindikasikan adanya risiko gagal bayar pada perusahaan yang menerbitkan obligasi.&lt;br /&gt;Preferensi  investor  ini  juga  didukung  oleh  alasan  adanya  rating  yang dimiliki oleh  setiap perusahaan emiten yang   dikeluarkan  oleh lembaga pemeringkat efek seperti Moody’s, Standard &amp; Poor, Kaznic maupun PEFINDO yang  ada  di   Indonesia.  Peran  peringkat  obligasi  menjadi  penting  karena memberikan pernyataan yang informatif dan memberikan sinyal  tentang profitabilitas default utang perusahaan.  Kualitas suatu obligasi dapat dimonitor dari informasi peringkatnya (Almilia dan Devi, 2007). Semakin tinggi peringkat, semakin  menunjukkan  bahwa  obligasi  tersebut  terhindar  dari   risiko   default (Setyapurnama dan Vianey, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perkembangan perdagangan pasar obligasi tersebut, tentunya perlu   diketahui   bagaimana  sebenarnya  persepsi  investor  selama  melakukan investasi pada obligasi perusahaan. Persepsi investor terhadap obligasi perusahaan dapat dicerminkan oleh likuiditas dari suatu obligasi perusahaan. Likuiditas surat berharga dapat diukur dari besar kecilnya volume  perdagangan surat berharga tersebut. Likuiditas obligasi menjadi suatu hal yang menarik untuk  diteliti lebih lanjut karena likuiditas dapat menjadi cerminan dari pertimbangan investor untuk berinvestasi pada obligasi perusahaan. Pada umumnya obligasi yang diterbitkan di Indonesia dicatat pada Bursa Efek Indonesia yang transaksinya umumnya masih terjadi secara OTC (over-the-counter market).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Likuiditas menunjukkan kemampuan untuk membeli atau menjual sekuritas  tertentu  secara  cepat  (marketability)  dan  pada  harga  yang  tidak&lt;br /&gt;terlampau berbeda dengan harga sebelumnya, dengan asumsi tidak ada informasi baru yang timbul (Price Continuity). Dalam pasar modal yang likuid, penjualan suatu sekuritas dapat  dilaksanakan dengan cepat tanpa menimbulkan execution cost. (Woodley, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Likuiditas  merupakan  suatu  pertimbangan  penting  bagi  investor  dan penerbit.   Investor  bersedia  membayar  premi  untuk  aset  yang  lebih  likuid, sehingga  berdampak   pada  keamanan  pengembalian  dan  biaya  modal  bagi perusahaan (Amihud dan Mendelson (1986, 1991); Brennan dan Subrahmanyam (1996); Longstaff, dkk (2005) dalam Woodley (2007)). Perdagangan yang lebih sering   menghasilkan   lebih   banyak   informasi   digabungkan   kedalam   harga sekuritas, membuat pasar lebih likuid secara informational efisien (Holmstrom dan Tirole, 1993 dikutip oleh Woodley, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perdagangan sekuritas, investor yang berkeinginan untuk membeli atau menjual  sesuai dengan harga yang diinginkan tidaklah selalu memperoleh harapan tersebut secara  simultan, keinginan investor tersebut teralirkan dalam waktu yang cukup lama pada harga pasar yang sebenarnya (market-clearing price atau true price) (Hamilton, 1991 dikutip oleh Fatmawati  dan Asri, 1999). Oleh karena itu, market makers baik dealer maupun broker berusaha untuk mengatasi adanya ketidaksamaan tersebut terhadap order investor. Dealer dan broker dapat dikatakan sebagai perantara perdagangan sekuritas yang dilakukan individu secara tidak  langsung.  Broker  akan  melakukan  transaksi  atas  nama  investor  untuk mendapatkan komisi. Sedangkan dealer melaksanakan transaksi untuk memperoleh keuntungan sendiri. Market makers memperoleh kompensasi karena&lt;br /&gt;aktivitasnya membeli dilakukan pada saat harga beli (bid price) lebih rendah daripada true  price dan menjual saham atau obligasi pada saat harga jual (ask price) lebih tinggi dari true price (Stoll, 1989 dikutip oleh Fatmawati dan Asri,&lt;br /&gt;1999). Perbedaan antara bid price dan ask price disebut dengan bid-ask spread (Jaffe dan  Winkler, 1976 dikutip oleh Fatmawati dan Asri, 1999). Jadi, dapat dilihat  juga  bahwa  obligasi  yang  dilakukan  oleh  market  makers  memperoleh kompensasi dari aktivitasnya  membeli obligasi pada saat harga beli (bid price) lebih rendah daripada true price dan menjual obligasi pada saat harga jual lebih tinggi dari true price. Perbedaaan antara bid price dan ask price disebut dengan bid-ask.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran umum dari asimetri informasi dalam pasar modal adalah bid-ask. Barclay, dkk (1998) dan   Chordia, dkk  (2000) dalam Woodley  (2007) mendokumentasi korelasi negatif  antara bid-ask  spread  dengan volume perdagangan, sementara Amihud dan Mendelson (1986), Atkins dan Dyl (1997), dan Grullon, dkk (2004) (dikutip oleh Woodley, 2007) menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara bid-ask spread  dan turnover. Untuk memperluas bid-ask atas asimetri informasi mengenai perusahaan, bid-ask  ekuitas permintaan harus memiliki jumlah asimetris informasi tentang utang perusahaan juga.  Perusahaan dengan ekuitas  yang lebih besar dari bid-ask diharapkan memiliki penurunan aktivitas  perdagangan  di  pasar  obligasi.  Sehingga  dengan  adanya  asimetri informasi yang diproksi dari bid-ask bisa mempengaruhi dari nilai yang dimiliki oleh bid-ask tersebut karena  dengan adanya perbedaan informasi yang di dapat&lt;br /&gt;dari agent dengan principal bisa memanipulasi nilai dari bid-ask yang dilakukan&lt;br /&gt;agent untuk menarik para investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  tentang  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  likuiditas  obligasi perusahaan masih jarang dilakukan di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi karena instrumen obligasi di Indonesia masih terbilang baru, dan juga transparansi serta pelaporan  mengenai  transaksi  yang   dilakukan  oleh  investor  pada  obligasi perusahaan  dalam  pasar  obligasi  tidak   dipublikasikan   secara  umum  kepada masyarakat layaknya pasar saham ataupun laporan keuangan (terjadi secara over- the-counter market). Direktori mengenai pasar obligasi pun baru ada mulai tahun&lt;br /&gt;2008.  Selain  adanya  berbagai  fenomena  yang  terjadi  di  lapangan,  berbagai penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu dari pihak asing maupun dari dalam negeri masih terdapat inkonsistensi hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, literatur tentang likuiditas pasar obligasi perusahaan jarang memberikan kejutan. Perkembangan yang masih tertinggal dari literatur likuiditas obligasi perusahaan  disebabkan oleh kurangnya data  yang tersedia. Mayoritas aktivitas pasar perdagangan obligasi  perusahaan terjadi secara over-the-counter market yang artinya pasar bursa dimana harga dari  sekuritas ditentukan dengan cara  negosiasi  (tawar-menawar) antara  investor  dan dealer  yang  dihubungkan melalui jaringan komunikasi dimana over-the-counter market tidak mempunyai suatu tempat tertentu untuk perdagangan sekuritas seperti hall pada bursa efek (Ang,  1997),  hal  ini  berarti  sistem  pelaporan  pada  over-the-counter  market bersifat  sukarela  dan  informasi  sistem  ini  hanya  terbatas  untuk  kepentingan sendiri yang transaksinya tidak  dipublikasikan secara umum kepada masyarakat&lt;br /&gt;sehingga catatan transaksi melalui over-the-counter market tidak tercatat di bursa efek utama  yang  mengakibatkan transaksi yang terjadi tidak resmi karena ada transaksi  yang  tidak  terdaftar  di  Bursa  Efek  Indonesia.  Akibatnya,  pekerjaan sebelumnya telah difokuskan pada segmen kecil pasar dengan beberapa data yang tersedia termasuk transaksi perusahaan asuransi, hasil obligasi tinggi, dan catatan jangka menengah penerbitan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woodley  (2007)  menguji  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  likuiditas obligasi  perusahaan dan menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan bergantung pada   visibilitas   obligasi,   pendapat  opini,  dan  asimetri   informasi.  Dimana visibilitas obligasi  yang diproksi  dengan umur  penerbitan, ukuran penerbitan, kapitalisasi  pasar,  dan  penerbitan  outstanding;  perbedaan  opini  yang  diproksi dengan  perkiraan  analis  dispersi,  peringkat  kredit,  dan   beta;   dan  asimetri informasi yang diproksi dengan analis ekuitas, rating S&amp;P, industri  teknologi tinggi, dan bid-ask spread. Hasil dari penelitian Woodley (2007) membuktikan bahwa   umur  penerbitan,  ukuran  penerbitan,  kapitalisasi  pasar,  penerbitam outstanding, peringkat kredit, beta, analis ekuitas, rating S&amp;P, dan bid-ask spread berpengaruh terhadap likuiditas obligasi, sedangkan perkiraan analis dispersi dan industri teknologi tinggi tidak berpengaruh terhadap likuiditas obligasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penelitian ini yang mengacu pada penelitian Woodley (2007) dalam  menguji  faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas obligasi bergantung pada  visibilitas   obligasi,  perbedaan  opini  dan  asimetri  informasi.  Dimana visibilitas  obligasi  yang  diproksi  dengan  umur  obligasi,  ukuran  obligasi,  dan kapitalisasi pasar obligasi; perbedaam opini yang diproksi dengan rating obligasi;&lt;br /&gt;dan  asimetri  informasi   yang  diproksi  dengan  bid-ask.  Adapun  perbedaan penelitian  yang  dilakukan Woodley (2007)  dengan penelitian ini adalah pada penelitian ini menggunakan umur obligasi dengan melihat term to maturty, ukuran obligasi dengan melihat nilai par dari obligasi, kapitalisasi pasar obligasi dengan melihat harga obligasi dikalikan dengan jumlah obligasi yang diterbitkan, rating obligasi dengan melihat definisi yang dikeluarkan oleh PT. PEFINDO, dan bid- ask  dengan  menilai  perbedaan  harga  penawaran  beli  tertinggi  dengan  harga permintaan jual terendah. Sedangakan pada penelitian Woodley (2007) menggunakan umur penerbitan dengan melihat jumlah obligasi setelah beredar pada  hari  pertama,  ukuran  penerbitan  dengan  melihat  nilai  par  dari  jumlah outstanding untuk obligasi  pada hari pertama bulan tertentu, kapitalisasi pasar dengan melihat perusahaan menerbitkan obligasi pada hari pertama bulan tertentu, peringkat kredit dengan melihat peringkat kredit yang dikeluarkan oleh Standard&lt;br /&gt;&amp; Poor’s Corporation, dan bid-ask spread dengan melihat rata-rata ekuitas bid- ask dari perusahaan yang menerbitkan obligasi pada bulan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini akan menggunakan data transaksi obligasi perusahaan untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas obligasi perusahaan. Secara khusus,  penelitian  ini  mencoba  untuk  menentukan  apakah  perbedaan  dalam aktivitas perdagangan obligasi perusahaan didorong oleh perbedaan dalam setiap visibilitas obligasi, perbedaan opini, dan  asimetri informasi sebagaimana yang pernah diteliti oleh Woodley (2007). Penerbitan obligasi  lebih terlihat ke pasar karena mereka baru-baru ini diterbitkan, dikeluarkan oleh perusahaan besar, atau bagian dari pengalaman penerbit yang memiliki turnover lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Likuiditas  obligasi  diukur  dengan  menggunakan  perdagangan  obligasi perusahaan.  Seperti halnya perdagangan dalam sekuritas, juga dapat dimotivasi oleh visibilitas dan  informasi  (Woodley, 2007). Investor memilih perdagangan untuk berbagai alasan. Untuk  panduan analisis ini, dapat mengidentifikasi tiga pertimbangan utama untuk perdagangan: visibilitas obligasi, perbedaan opini, dan asimetri  informasi.  Woodley  (2007)  mengidentifikasi  variabel  penjelas  untuk menguji  dampak  dari  setiap  motivasi  potensial  pada  likuiditas  obligasi  yang diukur dengan volume perdagangan obligasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obligasi terlihat memiliki turnover lebih besar dan probabilitas yang lebih tinggi dari perdagangan yang dilaksanakan pada waktu bulan tertentu, sementara penerbitan  obligasi  yang  lebih  cenderung  menjadi  subjek  asimetri  informasi perdagangan kurang sering terlaksana dan  jumlahnya lebih rendah. Selain itu, penerbitan obligasi tentang dimana pilihan investor lebih cenderung sering pada penyimpangan perdagangan. Secara kolektif hasil ini menyiratkan bahwa investor obligasi perusahaan cenderung berdagang dalam penerbitan obligasi yang terkenal atau  penerbitan  obligasi  yang  dianggap  salah  nilai,  selama  berada  jauh  dari penerbitan obligasi yang mungkin untuk menarik investor dengan informasi non publik (Woodley, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Houweling, et al. (2003) yang meneliti mengenai hubungan beberapa faktor dengan likuiditas obligasi. Beberapa variabel yang diteliti adalah  jumlah  obligasi yang diterbitkan, kupon, harga yang hilang, volatilitas  harga,  jumlah   kontronusi  dan  dispersi  yield.  Berdasarkan  hasil penelitian diperoleh variabel jumlah obligasi yang diterbitkan, kupon, harga yang&lt;br /&gt;hilang dan dispersi yield sedangkan volatilitas harga dan jumlah kontronusi tidak memiliki hubungan yang signifikan.&lt;br /&gt;Penelitian Wang (2009) yang menguji hubungan antara likuiditas obligasi dengan  bid-ask  spread obligasi mendapatkan bahwa likuditas obligasi memiliki pengaruh yang  signifikan  terhadap spread obligasi. Namun demikian, pengaruh bid-ask terhadap likuiditas obligasi belum diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  Choudhry (2009)  mendapatkan  bahwa  likuditas  pasar  dapat dipengaruhi   oleh  tingkat  spread,  volatilitas  pasar,  dan  penerbitan  obligasi benchmark. Pada waktu ada  koreksi pasar atau ketidakstabilan, otoritas akan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam pengambilan kebijakan pasarnya.&lt;br /&gt;Penelitian  ini  mengacu  pada  model  penelitian  yang  dilakukan  oleh Woodley  (2007) yaitu dengan mempertimbangkan bahwa volume perdagangan obligasi dapat dipengaruhi oleh visibilitas obligasi, perbedaan opini, dan asimetri informasi. Atas dasar pertimbangan mengenai penelitian Woodley (2007) tersebut serta  adanya  fenomena-fenomena  yang  terjadi   di  dalam  pasar  obligasi  di Indonesia mengenai faktor yang berpengaruh terhadap likuiditas obligasi. Dengan demikian, penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Visibilitas Obligasi, Perbedaan Opini, dan  Asimetri Informasi terhadap Likuiditas Obligasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-256888191226557548?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/256888191226557548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=256888191226557548&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/256888191226557548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/256888191226557548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/pengaruh-visibilitas-obligasi-perbedaan.html' title='Pengaruh Visibilitas Obligasi, Perbedaan Opini, Dan Asimetri Informasi Terhadap Likuiditas Obligasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (EKN-139)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1050837814596595013</id><published>2011-03-16T16:12:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:16:19.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin Terhadap ROE (EKN-138)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diartikan sebagai prospek atau masa  depan,  pertumbuhan  potensi  perkembangan  yang  baik  bagi  perusahaan. Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi, yang mungkin dikendalikan di masa depan dan untuk memprediksi kapasitas produksi dari sumber daya yang ada (Barlian, 2003). Sedangkan laporan keuangan  yang  telah  dianalisis  sangat  diperlukan  pemimpin  perusahaan  atau manajemen untuk dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan lebih lanjut untuk masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan  keuangan  merupakan  sebuah  media  informasi  yang  mencatat, merangkum segala akivitas perusahaan dan digunakan untuk melaporkan keadaan dan  posisi  perusahaan  pada  pihak  yang  berkepentingan,  terutama  pada  pihak kreditur, investor, dan manajemen  perusahaan itu sendiri. Untuk menggali lebih banyak lagi informasi yang terkandung dalam suatu laporan keuangan diperlukan suatu analisis laporan keuangan. Apabila suatu informasi disajikan dengan benar, informasi tersebut sangat berguna bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan dan untuk mengetahui kinerja perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi kineja keuangan dapat dilakukan menggunakan analisis laporan keuangan. Dimana analisis laporan keuangan dapat dilakukan menggunakan rasio&lt;br /&gt;keuangan.  Rasio-rasio  yang  digunakan  untuk  menilai kinerja keuangan perusahaan  seperti  rasio  likuiditas,  rasio  leverage,  rasio  aktivitas  dan  rasio profitabilitas.  Analisis rasio memungkinkan manajer keuangan dan pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan  pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi kondisi keuangan akan menunjukkan kondisi sehat tidaknya suatu perusahaan. Analisis rasio juga menghubungkan unsur-unsur rencana dan perhitungan laba rugi sehingga dapat menilai efektivitas dan efisiensi peusahaan. Laba perusahaan itu sendiri dapat diukur melalui  ROE perusahaan. Karena  ROE  mempunyai   hubungan   positif  dengan   perubahan   laba.   ROE digunakan  untuk mengukur efekivitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan  dengan  memanfaatkan  ekuitas  yang  dimilkinya.  ROE  merupakan rasio antara laba setelah pajak (EAT) dengan total ekuitas. Alat ukur kinerja suatu perusahaan yang paling popular antara penanam modal dan manajer senior adalah hasil atas hak pemegang  saham adalah return on equity (ROE). Semakin tinggi laba perusahaan maka akan semakin tinggi ROE, besarnya laba perusahaan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti CR, DER, TAT dan NPM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kondisi ekonomi yang selalu mengalami perubahan, maka dapat mempengaruhi   kondisi   perusahaan   yang   dapat   dilihat   dari   labanya.   Laba perusahaan yang harusnya meningkat, justru sebaliknya mengalami penurunan. Di pasar saham, perusahaan yang telah go publik dikelompokkan kedalam beberapa sektor  industri.  Dari  pengelompokkan   tersebut,  sektor  industri  manufaktur memiliki jumlah perusahaan yang paling besar, merupakan industri yang bergerak menghasilkan  barang  dan  jasa  yang  bukan   tergolong   produk  primer  dan&lt;br /&gt;merupakan emiten terbesar dibanding industri lain. Kondisi tersebut sebagai sebab penelitian ini  dilakukan, disamping alasan lain yaitu untuk mengetahui apakah penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya. Penelitian dilakukan pada perusahaan yang sahamnya terdaftar di BEI pada periode 2005-2009 dan termasuk dalam   kelompok   industri   manufaktur.   Hal   ini   dapat   dilihat   dari   industri manufaktur terdapat 22 sektor industri dan 205 perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada rata-rata DER menunjukkan perubahan yang tidak konsisten, terjadi kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2005 dan 2008 DER mengalami kenaikan, tahun  2005  DER  mengalami  kenaikan  sebesar  1,75%  dan  tahun  2008  DER mengalami kenaikan sebesar 4,55%. Sedangkan tahun 2006, 2007 dan 2009 DER mengalami penurunan. Untuk tahun 2006 DER menunjukkan penurunan sebesar&lt;br /&gt;2,33%, penurunan DER semakin meningkat pada tahun 2007 sebesar 4,57%. Pada akhir  periode  pengamatan  penelitian  tahun  2009  DER  mengalami  penurunan sebesar 0,75%. Hal ini berarti  apabila DER semakin rendah maka kemampuan perusahaan  untuk  mendapatkan  laba  semakin  tinggi.  Begitu  pula  sebaliknya, semakin  tinggi  DER  maka  kemampuan  perusahaan  untuk  mendapatkan  laba semakin rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari rata-rata TAT dari tahun 2005 mengalami penurunan sebesar&lt;br /&gt;16,24% dan pada akhir tahun periode pengamtan, tahun 2009 TAT mengalami penurunan sangat besar yaitu 51,95%, sedangkan  selama 3 tahun TAT mengalami kenaikan pada tahun 2006 sebesar 1,35%, tahun 2007 sebesar 2,49%, dan tahun&lt;br /&gt;2008 TAT mengalami kenaikan yang sangat besar yaitu 50,20%. Apabila TAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengalami kenaikan ini berarti semakin tinggi TAT menunjukkan bahwa semakin efisien penggunaan asset dan semakin cepat pengembalian dana dalam bentuk kas. Tetapi  pada  tahun   2009  mengalami  pernurunan  yang  cukup  besar  berarti penggunaan  aset  yang  tidak  efisien  menyebabkan  pengembalian  dana  dalam bentuk kas lambat atau berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari rata-rata NPM menunjukkan kenaikan pada tahun 2006 dan&lt;br /&gt;2008. Pada tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 1,60%, dan pada tahun&lt;br /&gt;2008 kenaikkan  sebesar  1,29%.  Sedangkan  yang  mengalami  penurunan  pada tahun  2005  sebesar  1,85%  dan  2007  sebesar  0,42%  dan  pada  tahun  2009 penurunan  sebesar  0,64%,  berarti  tinggi  rendahnya  rasio  NPM  merefleksikan kemampulabaan dan efektivitas penggunaan  asset. Semakin rendah rasio NPM, semakin buruk pula efektivitas dari penggunaan asset.  Terlihat dari penurunan yang besar tetapi kenaikannya persentasenya lebih kecil dibandingkan penurunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan   rata-rata   ROE   setiap   tahunnya   menunjukkan   trend   yang mengalami  kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun walaupun kecil. Pada tahun  2005  dan  2006,  untuk  tahun  2005  ROE  mengalami  penurunan  sebesar&lt;br /&gt;1,78% dan tahun 2006  mengalami penurunan sebesar 0,56%. Sedangkan dari tahun  2007-2009 menunjukkan kenaikkan, pada tahun 2007 ROE menunjukkan kenaikkan  sebesar  1,39%,  tahun  2008  ROE  menunjukkan  kenaikkan  sebesar&lt;br /&gt;3,41%, dan pada tahun 2009 ROE mengalami kenaikkan sebesar 4,39%. Hal ini mengindikasikan   bahwa   kemampuan   perusahaan   dalam   menghasilkan   laba&lt;br /&gt;dengan memanfaatkan ekuitas yang dimiliki dan kinerja perusahaan yang semakin meningkat dari tahun 2007-2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan kinerja keuangan sutau perusahaan dapat dilihat dari ROE yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Selama ini telah banyak penelitian tentang ROE, karena ROE  merupakan hal yang penting dan diperhatikan banyak pihak baik itu investor dan kreditur, yang mempengaruhi ROE dalam menginvestasikan modalnya.  Dengan  menggunakan  berbagai  rasio   keuangan  dapat  diketahui berhasil tidaknya suatu perusahaan. Keberhasilan kinerja keuangan  perusahaan dapat diukur dari ROE (Suad Husnan, 2001). Variabel kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah CR,TAT, NPM dan DER. Hasil penelitian terdahulu yang  dilakukan oleh Buchary Jahja (2002), Cyrillius Martono (2002), Pieter  Leunupun  (2003),  Yuli   Orniati  (2009),  Ni  Putu  dan  Agung  (n.d), Machfoedz (1994), Kwan Billy Kwandinata  (2005), tidak dikemukakan adanya konsistensi hasil penelitian yang menguji pengaruh CR,  TAT, dan DER, NPM sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan. Berikut ini research gap dari keempat variabel independen yang mempengaruhi ROE tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Penelitian  Debora  Setiati  Santosa  (2009)  dimana  CR  tidak  berpengaruh signifikan terhadap perubahan ROE. Sedangkan penelitian, Machfoedz (1994) dimana CR berpengaruh  signifikan negative terhadap laba perusahaan dan Yuli Orniati (2009) tentang pengaruh CR terhadap kinerja perusahaan (ROE) berpengaruh signifikan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  TAT diteliti  karena  adanya research  gap  dari  hasil  penelitian  Kwan  Billy&lt;br /&gt;Kwandinata (2005)  dan  Debora Setiati  Santosa  (2009)  yang menunjukkan&lt;br /&gt; adanya pengaruh positif terhadap ROE, sedangkan penelitian Pieter Leunupun&lt;br /&gt;(2003) tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap ROE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Debt to Equity menurut Buchary Jahja (2002) secara signifikan berpengaruh terhadap  ROE  dimana  semakin  tinggi  tingkat  penggunaan  risk  (financial leverage) akan menghasilkan  semakin tinggi pula ROE. Sementara Ni Putu dan Agung (n.d) menguji pengaruh  pemoderasi pertumbuhan laba terhadap hubungan  antara  ukuran  perusahaan,  DER  dengan  profitabilitas.  Sehingga perusahaan  dengan  pertumbuhan  laba  rendah  akan  memperkuat  hubungan antara DER yang berpengaruh negative dengan profitabilitas. Dan penelitain Debora  Setiati  Santosa  (2009)  dimana  DER  tidak  berpengaruh  signifikan terhadap   perubahan   ROE.   Sedangkan   Kwan   Billy   Kwandinata   (2005) menunjukkan  pengaruh   yang  signifikan  positif  DER  terhadap  ROE  dan penelitian Cyrillius Martono (2002)  menunjukkan pengaruh yang signifikan negative DER terhadap ROE dan ROA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Penelitian  NPM  berdasarkan  adanya  research  gap  dari  hasil  penelitian terdahulu,  dimana Penelitian Yuli Orniati (2009) , Pieter Leunupun (2003), dan Kwan Billy Kwandinata (2005) tentang pengaruh NPM terhadap kinerja perusahaan (ROE) berpengaruh signifikan positif, berbeda dengan penelitian Machfoedz (1994) meneliti tentang pengaruh NPM terhadap laba perusahaan, hasil NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap laba perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan manufaktur yang listed  di  BI  dalam  menghasilkan  laba dengan  modal  sendirinya menunjukkan tidak konsisten. Karena ROE masih mengalami fluktuasi kenaikan dan penurunan,&lt;br /&gt;ROE mengalami kenaikan dari tahun 2007-2009, dan pada tahun 2005 dan 2006&lt;br /&gt;ROE mengalami penurunan. Data empiris rata-rata ROE, menunjukkan persentase kenaikan ROE  lebih besar daripada penurunannya, oleh karena itu perlu diteliti faktor  yang mempengaruhi  peningkatan  ROE tersebut.  Oleh  sebab  itu,  dalam penelitian  ini  penulis  memberi  judul  dalam  penelitian  ini  penulis  memberi  judul  : ANALISIS  PENGARUH  CURRENT  RATIO, DEBT  TO  EQUITY  RATIO, TOTAL ASSETS TURNOVER, NET PROFIT MARGIN  TERHADAP  ROE(Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Go – Public di BEI Periode 2005-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1050837814596595013?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1050837814596595013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1050837814596595013&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1050837814596595013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1050837814596595013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/analisis-pengaruh-current-ratio-debt-to.html' title='Analisis Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin Terhadap ROE (EKN-138)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5338476701535335978</id><published>2011-03-16T16:08:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:11:23.501-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Prosedur Pelaksanaan Audit Operasional Terhadap Instansi Pemerintah Pada Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan ( BPKP ) (EKN-137</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Dalam  menyelenggarakan  kegiatan  bisnis  salah  satu  tantangan  yang harus   dihadapi  ialah  bagaimana  meningkatkan  efisiensi,  efektivitas   dan produktivitas kerja   perusahaan  karena  manajemen  selalu  menghadapi suasanan kelangkaan dalam pengadaan berbagai sumber berupa daya tenaga, sarana dan prasarana yang dapat digunakan dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan efisiensi , efektivitas, dan produktifitas kerja suatu perusahaan, dibutuhkan  kehadiran  atau   keberadaan  suatu   kelompok manajemen  puncak  yang  memiliki  ketangguhan  dalam  menentukan  tujuan filsafat,  strategi  akbar  dan  budaya  organisasi  yang  penting.  Disamping  itu masih diperlukan manajemen oprasional yang tangguh dan hadal karena pada analisa terakhir, semua  hal  yang telah disinggung diatas bermuara pada dan diuji operasionalnya. Strategi  akbar dan strategi induk harus dirinci menjadi strategi dasar sebagai pedoman dan pegangan dalam menyelenggarakan semua jenis dan bentuk kegiatan operasional.  Dengan kata lain, apakah perusahaan dikelola   dengan  efisien  atau  tidak, dan  apakah  perusahaan  mampu menampilkan produktifitas  kerja yang tinggi  atau tidak akan terlihat dalam penyelengaraan  seluruh   aktivitas   yang sifatnya  operasional&lt;br /&gt;(Siagian,1996:215).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan  jaman, dalam Instansi Pemerintah baik itu  Pemerintah Pusat  maupun Pemerintah daerah, juga harus meningkatkan kinerja  manajemen operasionalnya. Dalam pencapaian tujuannya, tidak beda jauh  dengan   perusahaan,  Instnasi  Pemerintah  pun  perlu  memperlihatkan kegiatan operasionanya guna mempertanggungjawabkan atas segala kegiatan yang sifatnya operasional. Sehingga dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuannya berjalan dengan baik. Dalam hal ini jika sebuah instansi pemerintah manajemen  operasionalnya  baik,  maka  akan  baik  pula  dalam  pemberian pelayanan kepada masyarakat maupun tanggung jawabnya kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat  begitu  pentingnya  penyelenggaraan  aktivitas  yang  sifatnya operasional, maka diperlukan instrumen yang mampu memberikan penilaian dan   jaminan   akan   efektifnya   suatu   kegiatan   operasional,   yaitu   “Audit Operasional”. Audit  Operasional  dimaksudkan  untuk  mengidentifikasi kegiatan, program, aktivitas yang memerlukan perbaikan atau penyempurnaan dengan tujuan memberikan rekomendasi agar pengelolaan kegiatan, aktivitas, dan   program   yang   dilaksanakan   secara   ekonomis   efisien   dan   efektif (BPKP,1993:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit   ini   akan   menghasilkan   informasi   bagi   manajemen   Instansi Pemerintah mengenai problema yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan operasional yang memerlukan perbaikan guna mencapai tingkat operasi yang lebih  efisien  dan  ekonomis.  Jadi  sebenarnya  audit  operasional  berorientasi pada  usaha   peningkatan  efesiensi  operasi/aktivitas  manajemen.  Sehingga nantinya dengan  adanya  audit  operasional,  manajemen  akan  bisa  menilai&lt;br /&gt;apakah  kegiatan  yang  sifatnya  operasional  yang  telah  dilaksanakan  oleh instansi pemerintah tersebut sudah efektif, efisien, dan ekonomis. Dalam hal ini,  yang  mempunyai  kewenangan  untuk  melaksanakan  Audit  Operasional terhadap  Instansi   Pemerintah  adalah  Badan  Pengawasan   Keuangan  dan Pembangunan (BPKP).&lt;br /&gt;BPKP adalah sebuah lembaga Pemerintahan non Departemen yang bertanggungjawab   langsung   kepada   Presiden.   BPKP   mempunyai   tugas melaksanakan pengawasan  keuangan  dan  pembangunan  serta penyelenggaraan  akuntabilitas  didaerah  sesuai  dengan  peraturan  undang- undang  yang berlaku.  BPKP  diberikan  kepercayaan oleh  pemerintah  untuk melaksanankan  Audit  Operasional  terhadap  Instansi  Pemerintah  baik  pusat maupun daerah dan kemudian melaporkannya kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  latar  belakang  di  atas  maka  penulis  tertarik  mengambil judul “PROSEDUR  PELAKSANAAN  AUDIT  OPERASIONAL TERHADAP INSTANSI   PEMERINTAH    PADA  KANTOR PERWAKILAN  BADAN  PENGAWASAN  KEUANGAN  DAN PEMBANGUNAN (BPKP) PROVINSI JAWA TENGAH”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5338476701535335978?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5338476701535335978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5338476701535335978&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5338476701535335978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5338476701535335978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/prosedur-pelaksanaan-audit-operasional.html' title='Prosedur Pelaksanaan Audit Operasional Terhadap Instansi Pemerintah Pada Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan ( BPKP ) (EKN-137'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5113968716385067103</id><published>2011-03-16T16:06:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:08:11.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Baku Pada CV. Aneka Ilmu Semarang (EKN-136)</title><content type='html'>BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatannya suatu perusahaan tentunya tidak lepas dari kegiatan transaksi-transaksi  untuk  pemenuhan  kegiatan  perusahaan  dalam  rangka menghasilkan barang  atau jasa untuk  dijual  di pasaran.  Untuk  menunjang semua kegiatan yang ada di pasaran diperlukan adanya transaksi pembelian.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bagi sebagian besar perusahaan, transaksi pembelian merupakan hal utama dalam menjalankan kegiatan produksinya. Dalam perusahaan industri yang   memproduksi  barang  jadi  yang  siap  dikonsumsi  oleh  konsumen, transaksi  pembelian dilakukan perusahaan dengan memperoleh bahan baku atau bahan mentah untuk diolah menjadi barang jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CV. Aneka Ilmu yang merupakan salah satu perusahaan yang mengolah bahan  baku menjadi barang jadi, mempunyai kegiatan  produksinya adalah mengolah  bahan  baku yaitu kertas menjadi barang jadi yang berupa buku- buku. Kualitas  suatu produksi tergantung pada kualitas bahan mentah yang dipergunakan, sehingga  jelas bahwa kegiatan produksi memerlukan adanya bahan baku.  Pembelian  bahan  baku  yang  berkualitas  akan  menghasilkan produk yang berkualitas juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem  Akuntansi  Pembelian  Bahan  Baku  pada  CV.  Aneka  Ilmu Semarang   melalui   prosedur-prosedur   yang   cukup   kompleks   mengingat perusahaan banyak memiliki fungsi yang terkait yang tentunya fungsi-fungsiini  saling  bekerjasama  dalam  melakukan  pembelian  bahan  baku  mulai memesan   sampai  dengan  datangnya  bahan  baku.  Masing-masing  fungsi mempunyai tanggungjawab yang berbeda-beda, seperti fungsi pembelian bertanggungjawab memperoleh  informasi  mengenai  harga  barang, menentukan  pemasok  dan  mengeluarkan  order  pembelian  pada  pemasok. Sedangkan  fungsi  penerimaan  bertanggungjawab  melakukan  pemeriksaan terhadap jenis, mutu dan kualitas barang yang diterima pemasok. Pemisahan fungsi-fungsi  di  perusahaan  ini  dimaksudkan  untuk  mencegah  terjadinya kecurangan-kecurangan   dalam   transaksi   pembelian.   Meskipun   memiliki tanggungjawab   yang   berbeda,    tetapi   tetap   saling   bekerjasama   untuk kelancaran transaksi pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  menunjang  kegiatan  transaksi  pembelian  bahan  baku  perlu adanya formulir dan dokumen serta perlu adanya pencatatan-pencatatan dari hasil transaksi yang tertera dalam formulir dan dokumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir  dan  dokumen  adalah  “blangko-blangko   yang  digunakan  untuk melakukan transaksi seperti faktur penjualan, voucher, formulir, rekening dan lain-lain” (Baridwan, 1998 : 7-8).&lt;br /&gt;Selain formulir dan dokumen, perlu adanya pencatatan-pencatatan dari hasil transaksi yang tertera dalam formulir dan dokumen yang disebut catatan akuntansi,   termasuk   di   dalamnya   mengumpulkan   informasi   mengenai metode-metode pencatatan dalam buku jurnal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  penulisan   Tugas  Akhir   ini  diharapkan   dapat  memberikan gambaran tentang Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Baku pada CV. Aneka&lt;br /&gt;Ilmu Semarang. Sistem Akuntansi merupakan organisasi, formulir, catatan dan   laporan  yang  dikoordinasikan  sedemikian  rupa  untuk  menyediakan informasi  keuangan  yang  dibutuhkan  oleh  manajemen  guna  memudahkan pengelolaan perusahaan (Mulyadi, 2001 :3).&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya hal yang seharusnya ada dalam kegiatan perusahaan adalah unsur pengendalian intern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur  pengendalian  intern  yang  harus  ada  dalam  sistem  akuntansi pembelian  dirancang  untuk  mencapai  tujuan  pokok  pengendalian  intern akuntansi   berikut  ini  :  menjaga   kekayaan  (persediaan)   dan  kewajiban perusahaan  (utang  dagang  atau   bukti   kas  keluar  yang  akan  dibayar), menjamin  ketelitian  dan  keandalan  data  akuntansi  (utang  dan  persediaan) (Mulyadi, 2001 : 311).&lt;br /&gt;Selain itu perlu dikemukakan juga bahwa dengan adanya  pembelian bahan baku yang melalui jaringan prosedur yang saling berkaitan, bahan baku yang dibeli bisa memenuhi syarat, datang tepat waktu, dan dengan harga yang sesuai  dengan  rencana.  Dengan  demikian,  prosedur  ini  bisa  mendukung pencapaian produk yang berkualitas.&lt;br /&gt;Setiap  sistem  pembelian  mempunyai  kelebihan  maupun  kelemahan. Demikian juga dengan sistem pembelian di CV. Aneka Ilmu Semarang. Oleh karena  itu,  perlu  diteliti  kelebihan  dan  kelemahan  untuk  selanjutnya  bisa didesain sistem pembelian yang lebih sempurna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari uraian  tersebut  maka dalam penulisan  Tugas Akhir ini diambil judul “SISTEM AKUNTANSI PEMBELIAN BAHAN BAKU PADA CV. ANEKA ILMU SEMARANG”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5113968716385067103?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5113968716385067103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5113968716385067103&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5113968716385067103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5113968716385067103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/sistem-akuntansi-pembelian-bahan-baku.html' title='Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Baku Pada CV. Aneka Ilmu Semarang (EKN-136)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-7905293042828850494</id><published>2011-03-16T15:59:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:04:38.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Kinerja Koperasi Berdasarkan Kep.Men.No.129/Kep/M/ Kukmm / Xi / 2002, Hambatan, Permasalahan Dan Implementasinya (EKN-135)</title><content type='html'>Koperasi merupakan  satu-satunya  bentuk  perusahaan  yang  paling  sesuai dengan demokrasi ekonomi Indonesia seperti yang terkandung dalam pasal 33 ayat 1&lt;br /&gt;Undang Undang Dasar tahun 1945, yang menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Dalam Undang Undang Nomor 25 tentang  Perkoperasian, disebutkan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang  atau  badan hukum koperasi  sekaligus sebagai gerakan rakyat berdasarkan atas asas kekeluargaan.  Oleh karena itu, sebagai salah satu   pelaku   ekonomi,   diharapkan   koperasi   akan   mampu   menjadi   soko   guru perekonomian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu-satunya bentuk badan usaha yang paling sesuai dengan pasal&lt;br /&gt;33 UUD 1945, koperasi mempunyai tujuan seperti yang tercantum dalam Undang Undang  Nomor   25  pasal  3,  yaitu  :  ”memajukan  kesejahteraan  anggota  pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian  nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945”.&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan tersebut, koperasi sebagai badan usaha memerlukan pengukuran  kinerja yang tepat sebagai dasar untuk menentukan efektifitas kegiatan usahanya  terutama   efektifitas   operasional,  bagian  organisasi  dan  karyawannya&lt;br /&gt;berdasarkan  sasaran,   standar   dan   kriteria   yang   telah   ditetapkan   sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mulyadi,2001:416).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  itu,  Departemen  Koperasi  telah  memberikan  berbagai  konsep pengukuran  kinerja koperasi yaitu konsep pengukuran kinerja sebelum tahun 1997, yang meliputi Tiga Sehat (3S) yaitu sehat organisasi, sehat usaha, dan sehat mental. Konsep pengukuran kinerja dapat juga diukur dari produktivitas, efisiensi, kemampuan, pertumbuhan, cooperative effect (Keputusan Dep. Kop &amp; PPK RI No.&lt;br /&gt;20/PPK/1997). Sedangkan  konsep  pengukuran  kinerja  untuk  penilaian  kesehatan Koperasi Simpan Pinjam (KSP)/Usaha Simpan Pinjam (USP) koperasi, dapat dinilai dengan  menggunakan  CAMEL  (Capital,  Asset,  Management,  Earning,  Liquidity) atau  Aspek  Permodalan,  Aspek   Kualitas  Aktiva  Produktif,  Aspek  Manajemen Pengelolaan, Aspek Rentabilitas, Aspek Likuiditas  (Kep. Men. Koperasi dan PPK No.  227/KEP/M/IV/1998).  Dan  konsep  pengukuran  kinerja   menurut  pedoman klasifikasi koperasi (KEP. MEN. No. 129/KEP/MUKMMI/XI/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi  Pegawai  Republik  Indonesia  (KPRI)  se-Kabupaten  Pemalang mempunyai anggota kurang lebih 64 KPRI, yang masing-masing KPRI berkedudukan di  instansi  pemerintahan  yaitu  kantor  dinas  sampai  degan  sekolah-sekolah  yang tersebar luas se-Kabupaten Pemalang  dengan usaha simpan pinjam yang menjadi kegiatan usaha saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM telah memberikan konsep penilaian   kinerja  koperasi  salah  satunya  yaitu  Pedoman  Klasifikasi  Koperasi (Kep.Men.  129/Kep/M/KUKMI/XI/2002). Ada 7 aspek dalam kriteria atau standar&lt;br /&gt;penilaian ini yaitu keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka dengan indikator rasio peningkatan  jumlah anggota dan rasio pencatatan keanggotaan dalam buku daftar anggota ; Pengendalian oleh anggota secara demokratis dengan indikator penyelenggaraan  RAT,  Rasio  Kehadiran  Anggota,  Rencana  Kerja  dan  Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi, realisasi anggaran pendapatan koperasi, realisasi  anggaran  biaya   koperasi,  realisasi  surplus  hasil  usaha  koperasi,  dan pemeriksaan ; Partisipasi ekonomi  anggota  dengan indikator pelunasan simpanan pokok dan simpanan wajib anggota keterkaitan usaha koperasi dengan usaha anggota, pengembalian  piutang  ;  Otonomi  dan  kemandirian  dengan  indikator  rentabilitas ekonomi,  return  on  asset,  assets  turn  over,  profitabilitas,  likuiditas,  solvabilitas, modal  sendiri  terhadap  piutang  ;  Pendidikan  dan  pelatihan  dengan  indikator pendidikan bagi anggota dan pengelola koperasi, penerangan dan penyuluhan, media informasi, tersedianya anggaran khusus dan penyisihan dana pendidikan ; Kerjasama dengan  koperasi  lain  dengan  indikator  kerjasama  secara  horisontal  dan  vertikal, manfaat kerjasama ; Kepedulian terhadap komunitas  dengan indikator penyerapan tenaga kerja, pembayaran pajak dan dana pembangunan daerah kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan survey  awal  yang  dilakukan  peneliti  pada  20  KPRI  se- Kabupaten  Pemalang, telah diperoleh fakta yaitu bahwa pengukuran kinerja yang selama ini diterapkan  pengurus KPRI di Kabupaten Pemalang yaitu menggunakan metode  konvensional  yang  sebatas  penilaian  kinerja  dari  segi  keuangan  berupa penilaian dari laporan keuangan Rentabilitas, Likuiditas, dan Solvabilitas (RLS) serta pelaksanaan anggaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ukuran finasial tersebut belum mampu mencerminkan kompleksitas dan nilai yang melekat dalam organisasi bisnis. Pengukuran kinerja seperti ini memiliki beberapa kelemahan antara  lain yaitu (1) ketidakmampuan untuk mengukur kinerja harta  tak  tampak  (intangible  assets)  dan  harta  intelektual  (Intelectual  Property) misalnya  sumber  daya  manusia,  (2)  kinerja  yang  diukur  secara  keuangan  hanya mampu bercerita mengenai masa lalu organisasi bisnis dan tidak mampu sepenuhnya menuntun mereka ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengukuran kinerja tersebut, mengakibatkan  perlunya  pengukuran  yang  menyeluruh,  yaitu  pengukuran  kinerja yang  tidak   hanya  mengukur  kinerja  keuangan  saja  akan  tetapi  juga  mampu menggambarkan   kondisi   koperasi   secara   lengkap,   jelas   dan   akurat   terutama menyangkut  sumber  daya  manusia  yang  diintegrasikan  dalam  perencanaan  baik organisasi maupun usaha. Konsep pengukuran kinerja yang menyeluruh, memberikan manfaat sebagai acuan dalam penilaian kinerja keuangan yang lebih  akurat  efektif dan efisien (Munawir, 1989:66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dari uraian di atas, melihat pentingnya suatu pengukuran kinerja dan penilaian kinerja dengan menerapkan standar pengukuran kinerja sesuai dengan pedoman klasifikasi  koperasi (KEP.MEN.No 129/KEP/MUKMMI/IX/2002), untuk mengetahui apakah KPRI dengan menerapkan pengukuran kinerja tersebut berada di atas rata-rata, pada rata-rata, atau di bawah rata-rata kinerjanya selama ini, serta untuk mengetahui mengapa penilaiannya hanya menggunakan ukuran rentabilitas,&lt;br /&gt;likuiditas,  solvabilitas  dan  pelaksanaan  anggaran  serta  bagaimana  peran  Dinas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi dalam pengukuran kinerja koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, melihat pentingnya suatu pengukuran kinerja, maka penulis  tertarik untuk mengambil  judul  “KINERJA KOPERASI BERDASARKAN KEP.MEN.NO.129/KEP/MUKMM/XI/2002, HAMBATAN, PERMASALAHAN   DAN IMPLEMENTASINYA (STUDI   KASUS PADA KOPERASI PEGAWAI   REPUBLIK INDONESIA SE-KABUPATEN PEMALANG)”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-7905293042828850494?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/7905293042828850494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=7905293042828850494&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/7905293042828850494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/7905293042828850494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/03/kinerja-koperasi-berdasarkan.html' title='Kinerja Koperasi Berdasarkan Kep.Men.No.129/Kep/M/ Kukmm / Xi / 2002, Hambatan, Permasalahan Dan Implementasinya (EKN-135)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-2040665488450185297</id><published>2011-02-21T06:52:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:54:35.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh  Kinerja  Keuangan Terhadap  Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan  Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance (EKN-134)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian yang memeriksa pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan  diantaranya yang dilakukan oleh Ulupui (2007), Makaryawati (2002), Carlson dan Bathala (1997). Teori  yang mendasari penelitian-penelitian tersebut adalah  semakin  tinggi  kinerja  keuangan  yang  biasanya  diproksikan  dengan  rasio keuangan, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Melalui rasio-rasio keuangan tersebut dapat dilihat seberapa berhasilnya  manajemen perusahaan mengelola aset dan modal yang dimilikinya untuk  memaksimalkan nilai perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian prestasi suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan itu untuk menghasilkan laba. Laba perusahaan selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi para penyandang dananya juga merupakan  elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Suranta dan Pratana (2004); Maryatini (2006) menemukan bahwa   struktur  resiko  keuangan  dan  perataan  laba  berpengaruh  terhadap  nilai perusahaan. Andri dan  Hanung (2007) juga menemukan investment opportunity set dan  leverage  berpengaruh  terhadap   nilai  perusahaan.  Hasil  penelitian  tersebut&lt;br /&gt;mendukung pernyataan bahwa semakin baik kinerja keuangan yang diperoleh, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan ketidak konsistenan  mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini return  on equity (ROE) terhadap nilai perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanafi  dan  Halim  (1996)  menyatakan  bahwa  ROE  merupakan  ukuran profitabilitas   dari  sudut  pandang  pemegang  saham.  Salah  satu  alasan  utama perusahaan   beroperasi   adalah   menghasilkan   laba   yang   bermanfaat   bagi   para pemegang saham. Ukuran dari keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE yang berhasil dicapai. Semakin besar ROE mencerminkan  kemampuan perusahaan dalam  menghasilkan  keuntungan  yang  tinggi  bagi  pemegang  saham.   Hal  ini berdampak terhadap peningkatan nilai perusahaan. Ross (2002) menyatakan Return bagi   pemegang  saham  bisa  berupa  penerimaan  dividen  tunai  ataupun  adanya perubahan harga saham pada suatu periode. Kennedy JSP (2003) meneliti pengaruh ROA, ROE, EPS, Profit Margin, Asset Turnover, Rasio Leverage, dan DER terhadap Return saham. Sampel yang digunakan adalah LQ 45 di BEJ tahun 2001 dan 2002. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan hanya variabel  asset turnover, ROA, ROE, leverage ratio, DER, dan EPS memberikan hubungan yang nyata dengan return saham. Saepudin (2008) memeriksa tentang pengaruh rasio profitabilitas dan IOS terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2005-2007. Dari penelitian  tersebut  diketahui  bahwa  ROE,  ROA,  NPM  memiliki  korelasi  positif terhadap harga saham.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, hasil yang berbeda diperoleh oleh Sasongko dan Wulandari (2006) yang memeriksa pengaruh EVA dan rasio profitabilitas antara lain; ROA, ROE, ROS, EPS, BEP terhadap harga saham. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hanya EPS yang berpengaruh terhadap harga saham. Begitu pula dengan Wibowo (2005), yang meneliti  tentang  pengaruh  EVA,  ROA,  dan   ROE  perusahaan  terhadap  return pemegang saham.  Hasil pengujian statistik secara parsial terhadap masing – masing variabel bebas yaitu EVA,   ROA,   dan ROE tidak menunjukkan adanya  pengaruh yang  signifikan  terhadap  return  pemegang  saham,  sehingga  variabel  –  variabel tersebut  tidak mempunyai pengaruh secara parsial terhadap return pemegang saham perusahaan manufaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakkonsistenan hasil penelitian yang meneliti pengaruh ROE terhadap nilai   perusahaan  menunjukkan  adanya  variabel  kontingen  yang  mempengaruhi hubungan diantara keduanya. Di Indonesia, telah ada penelitian yang menggunakan CSR  dan  GCG  sebagai  variabel  kontingensi  untuk  mengetahui  pengaruh  kinerja keuangan  terhadap  nilai  perusahaan  karena   adanya ketidakkonsistenan  hasil penelitian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di dalam   penelitiannya,  Yuniasih  dan  Wirakusuma  (2007)  menggunakan  sampel penelitian sebanyak 27 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006. Yuniasih dan Wirakusuma menggunakan ROA sebagai proksi dari variabel kinerja keuangan,  78 item pengungkapan CSR sebagai proksi dari variabel CSR, dan kepemilikan manajerial  sebagai  proksi dari variabel  GCG.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  ROA  berpengaruh   positif&lt;br /&gt;statistis pada nilai perusahaan, demikian juga dengan pengungkapan CSR sebagai variabel  pemoderasi  terbukti  berpengaruh  positif  secara  statistis  pada  hubungan antara ROA dan nilai perusahaan yang berarti bahwa selain melihat kinerja keuangan, pasar  juga  memberikan  respons   terhadap  pengungkapan  CSR  yang  dilakukan perusahaan.  Namun  kepemilikan  manajerial  tidak  terbukti  berpengaruh  terhadap hubungan antara ROA dan nilai perusahaan,   hal ini dimungkinkan  karena struktur kepemilikan  manajerial  di  Indonesia  masih  sangat  kecil  dan  didominasi  oleh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  ini  mereplikasi  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Yuniasih  dan Wirakusuma  (2007),  akan  tetapi  yang  akan  diteliti  dalam  penelitian  ini  adalah variabel ROE sebagai proksi dari kinerja keuangan, karena variabel ROE merupakan salah satu variabel yang terpenting yang dilihat investor sebelum mereka berinvestasi. ROE  juga  merupakan  suatu  basic  test  seberapa  efektif  manajemen  perusahaan menggunakan  uang  investor  dibandingkan  dengan  ROA  yang  hanya  mengukur keefisienan suatu perusahaan dalam menghasilkan return dari asetnya (Mc  Clure,2009). Penelitian ini juga menggunakan 78 item pengungkapan sebagai proksi dari CSR  dan  kepemilikan  manajerial  sebagai  proksi  dari  GCG.  Penelitian  ini  akan menganalisa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta antara tahun&lt;br /&gt;2005-2007,  sehingga  hasilnya  dapat  digeneralisasi  dan  dapat  mempresentasikan semua perusahaan manufaktur yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, banyak perusahaan semakin menyadari pentingnya menerapkan  program Corporate  Social  Responsibility (CSR)  sebagai  bagian  dari strategi  bisnisnya. Menurut Wirakusuma dan Yuniasih (2007), akuntabilitas dapat dipenuhi dan asimetri  informasi dapat dikurangi jika perusahaan melaporkan dan mengungkapkan  kegiatan  CSRnya  ke  para  stakeholders.  Dengan  pelaporan  dan pengungkapan CSR,   para   stakeholders  akan  dapat   mengevaluasi  bagaimana pelaksanaan CSR dan memberikan penghargaan/sanksi terhadap  perusahaan sesuai hasil evaluasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Herdinata (2008), perusahaan di Indonesia memiliki karakteristik yang tidak  berbeda dengan perusahaan di Asia pada umumnya, dimana perusahaan dimiliki  dan  dikontrol  oleh  keluarga.  Meskipun  perusahaan  tersebut  tumbuh  dan menjadi perusahaan publik, namun kendali  keluarga masih signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Claessens, Stijin, Simeon  Djankov dan Larry H.P dalam Herdinata (2008), ditemukan bahwa dalam tahun 1996 kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 10 perusahaan keluarga di Indonesia mencapai 57,7%. Untuk  Filipina dan Thailand mencapai 52,5% dan 46,2%. Sedangkan kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 15 perusahaan keluarga di Korea sebesar 38,4% dan Malaysia sebesar 28,3%. Hal ini menunjukkan rendahnya struktur  kepemilikan manajerial  karena  sebagian  besar  masih   didominasi  oleh  keluarga.  Pola  dan kepemilikan   usaha   seperti   ini   akan   mendorong   praktik   korupsi,   kolusi,   dan nepotisme,  yang  pada  akhirnya  akan  menjatuhkan  nilai  perusahaan.  Kepemilikan manajerial merupakan salah satu mekanisme GCG yang dapat mempengaruhi insentif bagi manajemen  untuk  melaksanakan  kepentingan  terbaik  dari  pemegang  saham (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). GCG muncul dan berkembang dari teori agensi, yang menghendaki adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Semakin  tinggi  kepemilikan manajerial diharapkan pihak manajemen akan berusaha semaksimal mungkin  untuk kepentingan para pemegang saham. Hal ini  disebabkan  oleh  pihak  manajemen  juga  akan  memperoleh  keuntungan  bila perusahaan memperoleh laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas memberikan inspirasi perlu diadakannya sebuah penelitian  tentang bagaimana pengungkapan CSR dan GCG memoderasi pengaruh antara ROE terhadap nilai perusahaan.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-2040665488450185297?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/2040665488450185297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=2040665488450185297&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2040665488450185297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2040665488450185297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/pengaruh-kinerja-keuangan-terhadap.html' title='Pengaruh  Kinerja  Keuangan Terhadap  Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan  Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance (EKN-134)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-2591153902608787483</id><published>2011-02-21T06:49:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:55:14.296-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Frekuensi Perdagangan, Volume Perdagangan, Kapitalisasi Pasar, Dan Trading Day Terhadap Return Saham Pada Perusahaan (EKN-133)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Kemajuan perekonomian suatu negara dapat dilihat dari perkembangan pasar   modalnya.  Pasar  modal  merupakan  suatu  wadah  atau  tempat  untuk memperjualbelikan  instrumen keuangan (berupa obligasi dan saham)  biasanya untuk jangka panjang (biasanya lebih dari jangka waktu satu tahun) (Van Horne dan Wachowicz, 2005). Pasar modal mempunyai fungsi sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman (lenders) ke peminjam (borrowers). Selain itu, pasar modal juga merupakan sarana  perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menerbitkan sekuritas atau surat  berharga.  Yang  termasuk  dalam  sekuritas  antara  lain  saham,  obligasi, reksadana, warrant, dan option.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diantara  sekuritas  yang  paling  banyak  diperdagangkan  adalah  saham. Saham   merupakan  surat  berharga  sebagai  bukti  kepemilikan  dalam  suatu perusahaan.  Tujuan   para  investor  dalam  melakukan  transaksi  saham  adalah keuntungan (return) yang optimal.  Return tersebut dapat berasal dari dividen yang dibagikan oleh perusahaan yang menerbitkan saham tersebut (emiten) atau dapat juga berupa selisih positif harga saham antara harga saham pada saat saham itu dibeli dan harga pada saat saham tersebut dijual (capital gain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam menghitung return saja tidaklah cukup. Risiko dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu investasi juga perlu dipertimbangkan. Dalam Jogiyanto (2003) return dan risiko merupakan dua hal yang tidak terpisah, karena pertimbangan suatu investasi merupakan   trade-off  dari  kedua  faktor  ini.  Return  dan  risiko  mempunyai hubungan yang positif yaitu semakin besar return maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya investor tidak hanya menanamkan saham untuk sekuritas tunggal,  akan  tetapi  melakukan  diversifikasi  portofolio,  karena  dengan  begitu risiko  portofolio   mungkin  dapat  lebih  kecil  dari  risiko  rata-rata  tertimbang masing-masing sekuritas tunggal.  Markowitz (1990) menyatakan bahwa secara umum risiko mungkin dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke dalam bentuk portofolio. Diversifikasi risiko ini sangat penting untuk investor, karena dapat meminimumkan risiko tanpa harus mengurangi return yang diterima.&lt;br /&gt;Pertimbangan harga saham juga menjadi dasar bagi investor karena harga saham  mencerminkan  nilai  perusahaan.  Semakin  tinggi  harga  saham  berarti semakin tinggi pula  nilai perusahaannya, sebaliknya harga saham yang rendah berarti nilai perusahaan juga rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai harga suatu saham. Pendekatan yang banyak digunakan diantaranya adalah pendekatan tradisional dan pendekatan portofolio modern (Sunariyah, 2000). Untuk menganalisis surat berharga saham dengan pendekatan tradisional digunakan dua analisis yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu maupun pasar secara keseluruhan. Pendekatan analisis ini  menggunakan data pasar yang dipublikasikan seperti harga saham, volume perdagangan  saham,  indeks harga saham gabungan dan individu, serta faktor-faktor lain yang bersifat teknis. Pendekatan analisis fundamental didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik yang diestimasikan oleh investor. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari variabel- variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu return yang diharapkan dan suatu risiko yang melekat pada saham tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pendekatan  analisis  modern  menekankan  pada  aspek  bursa dengan  asumsi hipotesis mengenai bursa yaitu hipotesis pasar efisien. Menurut Suad Husnan (1998)  pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada  harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Dengan demikian akan sangat sulit (atau  bahkan hampir tidak mungkin) bagi para pemodal untuk memperoleh tingkat keuntungan di atas normal secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frekuensi perdagangan saham sangat mempengaruhi jumlah saham yang beredar, jika jumlah frekuensi perdagangan besar maka saham tersebut dinyatakan sebagai saham teraktif yang diperdagangkan dan   secara  tidak  langsung berpengaruh pada volume perdagangan saham. Saham yang frekuensi perdagangannya besar diduga dipengaruhi transaksi saham yang sangat aktif, hal ini   disebabkan   karena   banyaknya   minat   investor.   Terjadinya   peningkatan permintaan saham maka secara tidak langsung akan terjadi peningkatan frekuensi perdagangan (Ang, 1997). Dalam penelitian yang dilakukan Yadav et al (1999) mengungkapkan  bahwa  ada  hubungan  positif  antara  frekuensi  perdagangan dengan return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volume perdagangan saham merupakan hal yang penting bagi seorang investor,  karena volume perdagangan saham menggambarkan kondisi efek yang diperjualbelikan  di  pasar  modal  (Wahyu  dan  Andi,  2005).  Saham  yang  aktif perdagangannya sudah pasti memiliki volume perdagangan yang besar dan saham dengan volume yang besar akan menghasilkan return saham yang tinggi (Tharun Chordia,  2000).  Sementara  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Gong  Meng  Chen (2001)  menunjukkan  bahwa  volume  perdagangan  positif  signifikan  terhadap return saham, sedangkan hasil penelitian Cheng F. Lee et al (2001) menunjukkan bahwa  volume  perdagangan  berpengaruh  negatif  tidak  signifikan  menjelaskan return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang (1997) menyatakan bahwa kapitalisasi pasar dari saham-saham yang diperdagangkan   di   pasar   modal   dapat   dibagi   atas   kelompok   berdasarkan kapitalisasinya,  yaitu kapitalisasi besar (big-cap), kapitalisasi sedang (mid-cap), dan kapitalisasi kecil (small cap). Pada umumnya saham dengan kapitalisasi besar menjadi   incaran   investor   untuk   investasi   jangka   panjang   karena   potensi pertumbuhan perusahaan yang mengagumkan disamping pembagian dividen serta eksposur  risiko  yang  relatif  rendah.  Karena  banyak  peminatnya,  maka  harga saham umumnya relatif tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Teguh  Prasetya (2000)  menyatakan  bahwa  kapitalisasi  pasar  mempunyai  pengaruh  signifikan&lt;br /&gt; negatif terhadap return pada periode bullish sedangkan pada periode bearish juga mempunyai pengaruh yang negatif, tetapi tidak signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  menilai  saham  baik  atau  buruk  dapat  dilihat  dari  aktivitas perdagangannya melalui trading day. Trading day adalah kurun waktu saham diperdagangkan   di  lantai  bursa.  Penelitian  yang  dilakukan  oleh  Eduardus Tandelilin (1999) menyatakan  bahwa trading day berpengaruh terhadap return saham,  sedangkan  menurut  Ichsan  Setiyo  Budi  dan  Erni  Nurhatmini  (2003) menyatakan bahwa trading day tidak berpengaruh terhadap return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  penelitian-penelitian  terdahulu  yang  masih  menunjukkan pengaruh   yang  beragam,  maka  dari  itu  perlu  dilakukan  penelitian  kembali mengenai  faktor-faktor   yang  mempengaruhi  return  saham,  dengan  periode penelitian yang belum pernah diteliti sebelumnya. Maka penelitian ini mengambil judul  :  ANALISIS  PENGARUH  FREKUENSI  PERDAGANGAN,  VOLUME PERDAGANGAN, KAPITALISASI PASAR, DAN TRADING DAY TERHADAP  RETURN   SAHAM  PADA  PERUSAHAAN  MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE TAHUN 2006-2008.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-2591153902608787483?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/2591153902608787483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=2591153902608787483&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2591153902608787483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2591153902608787483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-pengaruh-frekuensi-perdagangan.html' title='Analisis Pengaruh Frekuensi Perdagangan, Volume Perdagangan, Kapitalisasi Pasar, Dan Trading Day Terhadap Return Saham Pada Perusahaan (EKN-133)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6031083821207406605</id><published>2011-02-21T06:47:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:49:32.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tax Compliance Wajib Pajak Badan Pada Perusahaan Industri Manufaktur Di Semarang (EKN-132)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki   Pembangunan   Jangka   Panjang   Kedua   pemerintah   Indonesia berusaha menggalakkan sumber penerimaan negara khususnya sumber utamanya yaitu dari sektor pajak. Langkah pemerintah dimulai dengan melakukan reformasi perpajakan secara menyeluruh pada tahun 1983, dan sejak saat itulah, Indonesia menganut  system  self  assasment  yakni  suatu  sistem  pemungutan  pajak  yang meberikan wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan  sendiri besarnya pajak terutang (Elia Mustikasari, 2007). Dalam sistem ini mengandung pengertian bahwa wajib pajak mempunyai kewajiban untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan surat pemberitahuan (SPT) secara benar, lengkap dan tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan sistem self assasment akan efektif jika kondisi kepatuhan sukarela pada   masyarakat   telah   terbentuk   (Darmayanti,   2004).   Mustikasari   (2007) mengatakan  bahwa   kenyataan  yang  ada  di  Indonesia  menunjukkan  tingkat kepatuhan masih rendah, hal ini bisa  dilihat dari belum optimalnya penerimaan pajak   yang   tercermin   dari   angka   tax   ratio   (perbandingan   antara   jumlah penerimaan  pajak  dibandingkan  dengan  produk  domestik  bruto  (PDB)  suatu negara.  Angka  ini  merupakan  sebuah  rasio  yang  dipergunakan  untuk  menilai tingkat kepatuhan pembayaran pajak oleh masyarakat dalam suatu negara) dan&lt;br /&gt;angka tax gap (kesenjangan antara penerimaan pajak yang seharusnya terhimpun dengan realisasi penerimaan pajak yang dapat dikumpulkan setiap tahunnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kasus mafia pajak Gayus Tambunan Jakarta dan Suhertanto Surabaya terbongkar,  maka terjawab sudah pertanyaan yang selama ini begitu sulit dicari jawabannya oleh para ahli ekonomi, para pakar perpajakan atau bahkan oleh kita semua  sebagai  warga  negara  Indonesia   yaitu  pertanyaan  kenapa  tax  ratio Indonesia prosentasenya begitu sulit untuk meningkat,  sementara negara-negara berkembang lainnya yang selevel dengan Indonesia sudah mampu mencapai tax ratio sebesar 20%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambannya kenaikan tax ratio Indonesia terkait erat dengan belum baiknya pengelolaan potensi pajak yang masih dirongrong pungutan liar, suap, "pengemplangan" pajak, adanya kong-kalikong antara oknum orang dalam pajak yang  juga   melibatkan  para  pejabat  tinggi  dengan  para  wajib  pajak  nakal, penggunaan  validasi  bank  palsu  dan  pembobolan  data  base  perpajakan,  serta berbagai  aspek  lain  (Ana  Arisanti,  2010  dalam  Berita  Pajak,  4  Mei  2010). Sebenarnya, nilai tax ratio masih bisa ditingkatkan, karena selama beberapa tahun terakhir ini jumlah Wajib Pajak senantiasa bertambah. Meskipun demikian tetap ada kendala dalam upaya meningkatkan tax ratio ini. Kendala tersebut adalah masalah kepatuhan wajib pajak (tax compliance) (Darmin, 2009 dalam Bisnis Indonesia, 22 Januari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan tentang Tax Compliance (terkait dengan bagaimana memasukkan  dan  melaporkan  tepat  pada  waktunya  semua  informasi  yang diperlukan, mengisi secara benar jumlah pajak terutang dan membayar pajak pada&lt;br /&gt; waktunya tanpa ada tindakan pemaksaan) merupakan permasalahan lama dalam bidang  perpajakan. Penelitian tentang Tax Compliance (Kepatuhan Pajak) pun sudah sering dilakukan. Sebelum tahun 1982, literatur akademis empiris tentang Tax Compliance masih sangat sedikit dan penelitian tersebut menggunakan desain survey. Perkembangan berikutnya setelah tahun 1980’an riset tentang kepatuhan kebanyakan menggunakan desain eksperimental. Fokus penelitian rata-rata adalah perilaku para pembayar pajak (tax payer) dan pengaruh berbagai macam variabel terhadap perilaku kepatuhan. Adapun variabel yang pernah diteliti antara lain ambiguitas dan kompleksitas (Sanders and Wyndelts, 1989; Magro, 1999; Spilker et al, 1999 dalam Mustikasari 2007), tarif pajak (Mason dan Calvin, 1984; Keller,1998 dalam Mustikasari 2007), Penalti (Reckers, 1991; Flemming, 1995; Keller,1998 dalam Mustikasari 2007), Faktor-faktor ekonomi (Duncan et al, 1989 dalam Mustikasari 2007), pemeriksaan (Flemming, 1985; Trevedi, 1997 dalam Mustikasari  2007),  Sanksi  hukum  (Hite,  1998  dalam  Siahaan,  2005)  dan Kewajiban moral (Bobek dan Hatfield, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peneliti juga menggunakan kerangka model Theory of Planned Behavior (TPB) untuk menjelaskan perilaku tax compliance Wajib Pajak Orang Pribadi. Model TPB  yang digunakan dalam penelitian memberikan penjelasan yang signifikan, bahwa perilaku tidak patuh (noncompliance) wajib pajak sangat dipengaruhi oleh variabel sikap, norma subjektif dan  kontrol keperilakuan yang dipersepsikan. Bobek &amp; Hatfield (2003), Blanthorne (2000) dalam  Mustikasari (2007), dan Hanno &amp; Violette (1996) memanfaatkan Theory of Planned Behavior (TPB) untuk menjelaskan Tax Compliance Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Temuan Bobek &amp; Hatfield (2003), dan Hanno &amp; Violette (1996) adalah sikap berpengaruh  terhadap niat ketidakpatuhan pajak. Sedangkan Blanthorne (2000) dalam  Mustikasari  (2007),  tidak  bisa  membuktikan  pengaruh  sikap  terhadap ketidakpatuhan terhadap niat karena model  pengukuran sikap yang digunakan tidak valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan  menunjukkan  bahwa  penelitian  yang  berkaitan  dengan kepatuhan  Wajib Pajak tidak hanya terfokus pada pembayar pajak, tetapi juga terfokus  pada  profesional  di  perusahaan  yang  ahli  di  bidang  perpajakan  (tax professional)  (Magro,  1999,  Spilker  et   al,  1999  dalam  Mustikasari  2007). Pembayar pajak menggunakan tax professional untuk  berbagai macam alasan, antara  lain  untuk  mengurangi  kewajiban  pajaknya  dan  meminimumkan  biaya yang berkaitan dengan perpajakan. Bradley (1994) dan Siahaan (2005) melakukan penelitian  kepatuhan  wajib  pajak  badan  dengan  responden  tax  professional. Penelitian keduanya bukan merupakan penelitian perilaku. Oleh karena itu, untuk menjelaskan perilaku WP badan yang dalam hal ini diwakili oleh tax professional perlu menggunakan teori  perilaku individu dan perilaku organisasi seperti yang direkomendasikan oleh peneliti sebelumnya, Mustikasari (2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kesadaran dan kepatuhan wajib pajak merupakan faktor penting bagi  peningkatan penerimaan pajak, maka perlu secara intensif dikaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, khususnya wajib pajak badan.   Berdasarkan   latar   belakang   tersebut   maka   penelitian   tentang   tax compliance  Wajib  Pajak  Badan  ini  disusun  dengan  mengambil  judul  skripsi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tax Compliance Wajib Pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan pada Perusahaan Industri Manufaktur di Semarang”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6031083821207406605?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6031083821207406605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6031083821207406605&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6031083821207406605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6031083821207406605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-faktor-faktor-yang.html' title='Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tax Compliance Wajib Pajak Badan Pada Perusahaan Industri Manufaktur Di Semarang (EKN-132)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6973309830217006600</id><published>2011-02-21T06:44:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:46:50.697-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Informasi Fundamental Terhadap Return Saham Tudi Komparatif Pada Sub Sektor Industri Otomotif Terhadap Sub Sektor Industri (EKN-131)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan investasi. Salah satunya adalah dengan melakukan investasi di pasar modal. Dalam hal ini pasar modal didefinisikan sebagai suatu tempat berlangsungnya kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (UU  No. 8/1995 Tentang Pasar Modal). Dengan  pengertian  tersebut  dapat  dikatakan  bahwa  pasar  modal  mempunyai  peran  yang strategis sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar modal  menjadi  alternatif  pendanaan  dalam  mengembangkan  perusahaan  di Indonesia, karena melalui pasar modal, dana dapat diperoleh dalam jumlah besar dibanding dana dari perbankan. Perusahaan yang membutuhkan dana, menjual surat berharganya dalam bentuk saham di pasar modal, melalui penawaran perdana kepada publik atau Initial Public Offering (IPO) di pasar primer yang selanjutnya  diperdagangkan di pasar sekunder. Bagi investor  sendiri,  pasar  modal  selain  sebagai  wahana  investasi   juga  merupakan  upaya diversifikasi. Setiap investor dapat memilih berbagai investasi yang ada, di mana setiap jenis investasi memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam hal tingkat pengembalian (return) dan risiko.&lt;br /&gt;Sejak dibukanya pada tahun 1912, pasar modal di Indonesia mengalami pasang surut dalam  perkembangannya.  Pemerintah  membentuk  BAPEPAM  (Badan  Pengawas  Pasar Modal) dan dalam  Keputusan Menteri Keuangan RI nomor 503/KMK.01/1997, BAPEPAM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;berfungsi  sebagai   pembina,   pengatur,   dan   pengawas   kegiatan   pasar   modal.   Dengan dibentuknya  BAPEPAM  dan  dikeluarkannya  beberapa  deregulasi  pemerintah  pada  tahun 1987-1988 yang berkaitan dengan pasar modal, aktivitas pasar modal menjadi meningkat. Hal tersebut  disebabkan oleh peningkatan jumlah perusahaan yang bergabung ke dalam pasar modal, dan juga meningkatnya besar dana yang dihimpun. Sejak Januari 1996, dalam rangka memberikan informasi yang lebih lengkap kepada publik, Bursa Efek Indonesia (dulu Bursa Efek Jakarta) mengelompokkan semua saham yang tercatat di BEI ke dalam sembilan sektor yang didasarkan pada klasifikasi industri, yaitu sektor ; (1)  pertanian, (2) pertambangan, (3) industri dasar dan kimia, (4) aneka industri, (5) industri barang konsumsi, (6) property dan real estat, (7) transportasi dan infrastruktur, (8) keuangan, dan (9) perdagangan, jasa, dan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan bersadarkan tingkat toleransinya  terhadap  resiko.  Sejalan  dengan  konsep  investasi  “High  Risk-High  Return”, investor  yang  menyukai   resiko   (risk  lover),  mereka  akan  memilih  saham-saham  yang mempunyai resiko yang tinggi, agar  dikemudian hari akan mendapatkan return yang tinggi pula.   Sebaliknya   investor   yang   tidak   menyukai   resiko   (risk   avester)   merencanakan keuntungan  normal.  Investasi  selalu  mengandung  unsur  resiko,   karena  perolehan  yang diharapkan baru akan diterima pada masa yang akan datang, resiko itu juga timbul  karena return yang diterima mungkin lebih besar atau lebih kecil dari dana yang diinvestasikan.&lt;br /&gt;Hubungan return dan risiko searah dan linier, artinya semakin besar return yang diharapkan, maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung. Dengan kata lain investor yang berharap memperoleh  tingkat keuntungan yang tinggi, berarti bersedia menanggung risiko  yang  tinggi  pula.  Oleh  karena  itu,  tidak  relevan  mengharapkan  keuntungan  yang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sebesar-besarnya melalui investasi pada aset yang menawarkan return paling tinggi, karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus juga mempertimbangkan tingkat risiko yang harus ditanggung.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6973309830217006600?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6973309830217006600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6973309830217006600&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6973309830217006600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6973309830217006600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-pengaruh-informasi-fundamental.html' title='Analisis Pengaruh Informasi Fundamental Terhadap Return Saham Tudi Komparatif Pada Sub Sektor Industri Otomotif Terhadap Sub Sektor Industri (EKN-131)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1512405472574732342</id><published>2011-02-21T06:43:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:44:52.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Rasio Camel Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Perbankan Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2008 (EKN-130)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja  keuangan  pada  perusahaan  perbankan  dapat  dinilai  dengan menggunakan pendekatan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan ini berfungsi sebagai ukuran dalam  menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan. Rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan perbankan umumnya digunakan  aspek  penilaian  menggunakan  metode  CAMELS  (Capital,  Assets quality, Management, Earnings, Liquidity, dan sensitivity  to  market risk), yang mengacu pada Surat Edaran BI No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang Tata Cara  Penilaian  Kesehatan Bank dan Peraturan  BI  No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Hal ini menunjukan bahwa rasio keuangan dapat digunakan untuk menilai tingkat kesehatan bank.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank-bank yang ada di Indonesia tidak semuanya dapat dikatakan sehat, khususnya  di  bidang  permodalan.  Kegiatan  operasional  bank  dapat  berjalan dengan lancar apabila bank  tersebut memiliki modal yang cukup sehingga pada saat-saat kritis, bank tetap dalam posisi aman karena memiliki cadangan modal di Bank Indonesia. Penilaian terhadap faktor kualitas aset mencakup aktiva produktif dan  aktiva  non  produktif.  Bank  wajib  memperhatikan  faktor  prospek  usaha, kinerja, dan kemampuan membayar dari debitur dalam penetapan kualitas kredit sebagai bagian dari aktiva produktif. Bank juga dapat melakukan restrukturisasi kredit  untuk   debitur  yang  masih  memiliki  prospek  usaha  dan  kemampuan membayar  setelah  dilakukan  restrukturisasi,  sebagai  salah  satu  upaya  untuk meminimalkan potensi kerugian dari kredit bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentabilitas atau profitabilitas juga merupakan faktor yang sangat penting, terutama   berkaitan  dengan  kesinambungan  dan  stabilitas  bisnis  perbankan. Rentabilitas  bisnis   perbankan  adalah  kesanggupan  bisnis  perbankan  untuk mendapatkan laba berdasarkan investasi yang dilakukannya. Kesehatan bank juga dipengaruhi  oleh  tingkat  likuiditas  bank.  Likuiditas  adalah  kemampuan  bank untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat  membayar kembali semua nasabah deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, semakin baik kinerja keuangan suatu perusahaan semakin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh pemegang  saham,  juga  semakin  besar  kemungkinan  harga  saham  akan  naik. Secara  ringkas  dapat  dikatakan   bahwa   harga  saham  ditentukan  oleh  nilai perusahaan.  Halim  (2003:17)  mendukung  pernyataan  diatas  bahwa  ide  dasar pendekatan ini adalah bahwa harga saham dipengaruhi oleh  kinerja perusahaan. Apabila kinerja perusahaan baik maka nilai usaha akan tinggi. Di bursa efek hal seperti itu akan di respon oleh pasar dalam bentuk kenaikan harga saham. Dengan nilai usaha yang tinggi membuat para investor melirik perusahaan tersebut untuk menanamkan modalnya  sehingga akan terjadi kenaikan harga saham. Meskipun demikian saham yang memiliki kinerja  baik sekalipun, harganya bisa saja turun karena keadaan pasar.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1512405472574732342?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1512405472574732342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1512405472574732342&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1512405472574732342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1512405472574732342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/pengaruh-rasio-camel-terhadap-perubahan.html' title='Pengaruh Rasio Camel Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Perbankan Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2008 (EKN-130)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3105605404961634248</id><published>2011-02-21T06:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T06:41:17.993-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skripsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tesis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI (ekn-129)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kegiatan operasinya, suatu perusahaan secara periodik menyiapkan   laporan  keuangan  untuk  pihak–pihak  yang  berkepentingan  seperti pemegang saham, investor,  dan pemerintah.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan keuangan berfungsi sebagai salah  satu  sumber  informasi  yang  digunakan  untuk  menilai  kinerja  perusahaan. Laporan  keuangan  merupakan  ringkasan  dari  transaksi-transaksi  keuangan  yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan (Baridwan, 2004). Chariri dan Ghozali (2007) menyatakan bahwa salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang dapat menunjukkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba (earning per share). Informasi keuangan yang dapat menunjukkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba adalah laporan laba rugi. Laporan laba rugi adalah laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan selama periode tertentu (Kieso dan Weygandt, 2002). Laporan laba rugi digunakan oleh para investor untuk melihat profitabilitas perusahaan dan memprediksi prospek perusahaan di masa yang  akan  datang.  Akan  tetapi,  laba  yang  dihasilkan  dalam  laporan  laba  rugi seringkali dipengaruhi oleh metode akuntansi yang  digunakan, sehingga laba yang tinggi belum tentu mencerminkan kas yang besar.&lt;br /&gt;Laba  yang  merupakan  cerminan  kinerja  perusahaan  dapat  dikelola  secara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;efisien atau oportunis. Secara efisien artinya dikelola untuk meningkatkan keinformatifan informasi, dan secara oportunis artinya untuk meningkatkan laba sesuai  dengan  yang  diinginkan  dan  menguntungkan  pihak–pihak  tertentu.  Untuk tujuan   menunjukkan  prestasi  perusahaan  dalam  menghasilkan  laba,  manajemen cenderung  mengelola   laba  secara  oprtunis  dan  melakukan  manipulasi  laporan keuangan agar menunjukkan laba yang  memuaskan meskipun tidak sesuai dengan kondisi  perusahaan  yang  sebenarnya.  Manajemen  perusahaan  dapat  menentukan kebijakan penggunaaan metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangan untuk mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Scott (2006) didalam bukunya yang berjudul  “Financial  Accounting  Theory”  menyatakan  bahwa  pilihan  kebijakan akuntansi yang dilakukan manajer untuk tujuan spesifik disebut dengan manajemen laba. Sedangkan menurut Belkaoui (2004), manajemen laba yaitu suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan–pilihan yan tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen laba yang dilakukan perusahaan muncul karena adanya hubungan agensi antara  principal (pemegang saham) dan agent (manajer). Hubungan agensi antara pemegang saham dan manajer tersebut dijelaskan dalam teori keagenan. Teori keagenan (agency theory) adalah teori yang  menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal)  mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Prinsip utama teori ini menyatakan   adanya   hubungan   kerja   antara   pihak   yang   memberi   wewenang (principal) yaitu pemegang saham dengan pihak yang menerima wewenang (agent)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaitu manajer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang sering muncul dalam hubungan agensi antara pemegang saham dan manajer adalah terjadinya konflik agensi. Konflik agensi muncul ketika manajer mempunyai  kewajiban  untuk  memaksimumkan  kesejahteraan  para  pemegang  saham, namun  disisi  lain  manajer  juga   mempunyai  kepentingan  untuk  memaksimumkan kesejahteraan  mereka.  Penyatuan  kepentingan  antara  pihak  manajer ini  sering  kali menimbulkan masalah keagenan atau agensi konflik (Faisal, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang lebih mengetahui kondisi internal perusahaan dan prospek perusahaan dimasa  yang  akan  datang  adalah  manajer  yang  bertindak  sebagai  agent,  sedangkan pemegang saham mengetahui keadaan dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang hanya  melalui  informasi   yang   diberikan  oleh  manajer.  Oleh  karena  itu,  manajer berkewajiban untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi perusahaan kepada pemegang saham sebagai bentuk pemenuhan kewajiban dalam mengelola perusahaan. Informasi yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan  sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi  (information asymmetric) (Haris, 2004 dalam Ujiyantho dan Pramuka, 2007). Asimetri informasi  antara manajer (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) (Richardson, 1998). Saat asimetri informasi tinggi,   pemegang   saham   tidak   mempunyai   informasi   yang   diperlukan   untuk megetahui kondisi perusahaan sehingga manajer dengan leluasa dapat  melakukan praktik manajemen laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kasus   manipulasi   keuangan yang   muncul   karena   perusahaan melakukan earning manajemen , misalnya kasus manipulasi laporan keuangan yang dilakukan Enron, World Com, dsb. Terjadinya manipulasi laporan keuangan tersebut karena  lemahnya  penerapan corporate  governance.  Ciri  utama  dari  lemahnya corporate governance adalah  adanya tindakan mementingkan diri sendiri di pihak para  manajer  perusahaan  (Komsiyah  dan   Rahayu,  2004).  Sebuah  survei  yang dilakukan pada  tahun 1999  oleh PriceWaterhouseCoopers antara investor internasional di Asia,  menunjukkan bahwa peringkat  Indonesia  adalah salah satu yang terburuk  dalam standar audit dan kepatuhan, akuntabilitas kepada pemegang saham, standar pengungkapan dan transparansi (FCGI, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian corporate governance menurut FCGI yaitu seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,  karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Nasution dan Setyawan   (2007)   mendefinisikan   corporate   governance   sebagai   konsep   yang diajukan  demi  peningkatan  kinerja  perusahaan  melalui  supervisi  atau  monitoring kinerja  manajemen  dan  menjamin  akuntabilitas  manajemen  terhadap  stakeholder dengan  mendasarkan  pada  kerangka  peraturan.  Konsep  corporate  governance diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan&lt;br /&gt;Dari  konsep  corporate  governance  tersebut,  dapat  disimpulkan  bahwa penerapan corporate governance yang baik dapat memberikan pemahaman mengenai pentingnya hak pemegang  saham untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi internal perusahaan secara menyeluruh dan kewajiban manajemen unuk mengungkapkan semua informasi yang berkaitan dengan perusahaan sehingga dapat mengurangi tindakan manajemen laba yang dilakukan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  penerapan  corporate  governance,  faktor  lain  yang  mempengaruhi praktik manajemen laba yaitu ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan yang kecil dianggap  lebih  banyak  melakukan  praktik  manajemen  laba  daripada  perusahaan besar. Hal ini dikarenakan perusahaan kecil cenderung ingin memperlihatkan kondisi perusahaan yang selalu berkinerja baik agar investor  menanamkan modalnya pada perusahaan  tersebut.  Perusahaan  yang  besar  lebih  diperhatikan  oleh  masyarakat sehingga  mereka  akan  lebih  berhati-hati  dalam  melakukan  pelaporan  keuangan, sehingga  berdampak  perusahaan   tersebut  melaporkan  kondisinya  lebih  akurat (Nasution dan Setiawan, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini mengacu pada penelitian – penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh   mekanisme  Corporate  Governace  terhadap  manajemen  laba.  Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menguji kembali faktor – faktor yang berpengaruh terhadap manajemen laba karena adanya  perbedaan hasil penelitian (research gap)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;pada penelitian–penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, variabel yang digunakan yaitu  kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan  komisaris, komposisi dewan komisaris, komite audit dengan proksi jumlah rapat komite audit, dan  ukuran  perusahaan.  Sampel   yang  digunakan  berasal  dari  sektor  industri manufaktur. Sektor manufaktur dipilih karena  sektor tersebut memiliki kontribusi yang relatif besar terhadap perekonomian dengan memberikan kontribusi yang paling besar dalam nilai ekspor Indonesia selama tahun 2004-2007 yaitu rata-rata 66% dari total nilai ekspor Indonesia ( Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2008) dan juga  tingkat kompetisi yang kuat. Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka peneliti memilih judul “ PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE  DAN  UKURAN  PERUSAHAAN  TERHADAP  MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI”&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3105605404961634248?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3105605404961634248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3105605404961634248&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3105605404961634248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3105605404961634248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/pengaruh-mekanisme-corporate-governance.html' title='Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI (ekn-129)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5661948820297025276</id><published>2011-02-15T15:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:52:58.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Laporan Tahunan Perusahaan (EKN-128)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjaga eksistensinya, perusahaan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat  sebagai lingkungan eksternalnya. Ada hubungan resiprokal (timbal balik) antara perusahaan dengan masyarakat. Perusahaan dan masyarakat adalah pasangan   hidup   yang   saling  memberi   dan   membutuhkan.   Kontribusi   dan harmonisasi keduanya akan menentukan keberhasilan pembangunan bangsa. Dua aspek penting harus diperhatikan agar tercipta kondisi sinergis antara  keduanya sehingga  keberadaan  perusahaan  membawa  perubahan  ke  arah  perbaikan  dan peningkatan taraf hidup masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek ekonomi, perusahaan harus berorientasi mendapatkan keuntungan dan dari aspek sosial, perusahaan harus memberikan kontribusi secara langsung kepada masyarakat. Perusahaan tidak hanya dihadapkan pada tanggung jawab  dalam  perolehan  keuntungan  semata,  tetapi  juga  harus  memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masyarakat menganggap perusahaan tidak memperhatikan  aspek sosial dan  lingkungannya  serta  tidak  merasakan  kontribusi  secara  langsung  bahkan merasakan dampak negatif dari beroperasinya sebuah perusahaan maka kondisi itu akan menimbulkan resistensi masyarakat. Komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dengan memperhatikan aspek finansial atau ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line) itulah yang menjadi isu utama dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide  tanggung  jawab  sosial  pada  dasarnya  adalah  bagaimana  perusahaan memberi  perhatian kepada lingkungannya, terhadap dampak yang terjadi akibat kegiatan  operasional  perusahaan.  Menurut  Holmes (1976)  dalam  Moir  (2001) menyatakan   selain   menghasilkan   keuntungan,   perusahan   harus   membantu memecahkan masalah-masalah sosial terkait atau tidak perusahaan ikut menciptakan  masalah  tersebut  bahkan  jika  disana  tidak  mungkin  ada  potensi keuntungan jangka pendek atau jangka panjang.&lt;br /&gt;Menurut WBCSD (World Business Council for Sustainable Development)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam Moir (2001) mendefinisikan CSR sebagai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…CSR is the continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi tersebut disimpulkan bahwa perusahaan harus dapat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, beriringan dengan meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat luas. Hal ini bisa  dilakukan  dengan  cara  mengerti  aspirasi  dan  kebutuhan  stakeholder  dan kemudian berkomunikasi dan berinteraksi dengan para stakeholder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep CSR pada umumnya menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak hanya terhadap pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi juga  terhadap   para  stakeholder  yang  terkait  dan/atau  terkena  dampak  dari keberadaan  perusahaan.   Perusahaan  yang  menjalankan  aktivitas  CSR  akan memperhatikan  dampak  operasional   perusahaan  terhadap  kondisi  sosial  dan lingkungan  dan  berupaya  agar  dampaknya  positif.  Sehingga  dengan  adanya konsep CSR  diharapkan kerusakan lingkungan yang terjadi di dunia, mulai dari penggundulan  hutan,  polusi   udara  dan  air,  hingga  perubahan  iklim  dapat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai dampak dari keberadaan perusahaan ditengah-tengah masyarakat telah menyadarkan masyarakat di dunia bahwa sumber daya alam adalah terbatas dan oleh karenanya pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan,   dengan   konsekuensi   bahwa   perusahaan   dalam   menjalankan usahanya  perlu  menggunakan  sumber  daya dengan  efisien  dan  memastikan bahwa sumber daya tersebut tidak habis, sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi di masa datang. Dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), maka kegiatan CSR menjadi lebih terarah, paling tidak perusahaan perlu berupaya melaksanakan konsep tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran stakeholder akan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang dilakukan oleh perusahaan mendorong perusahaan untuk mengungkapkan praktik- praktik atau kegiatan CSR yang dilakukan. Lebih lanjut lagi, menurut Deegan dan Gordon (1996) dalam Jose dan Lee  (2006) bahwa tekanan stakeholder terhadap perusahaan untuk dapat secara efektif menjalankan kegiatan lingkungannya serta tuntutan  agar  perusahaan  menjadi  akuntabel  juga  menyebabkan  meningkatnya perusahaan yang melakukan pengungkapan lingkungan. Selain itu  Owen (2005) mengatakan  bahwa  kasus  Enron  di  Amerika  telah  menyebabkan  perusahaan- perusahaan lebih memberikan perhatian yang besar terhadap pelaporan sustainabilitas dan pertanggungjawaban sosial perusahaan. Ini menjelaskan isu-isu yang berkaitan  dengan  reputasi, manajemen  risiko dan keunggulan  kompetitif juga menjadi kekuatan yang mendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan CSR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin  kuatnya  tekanan  stakeholder  dalam  hal  pengungkapan  praktik- praktik CSR  yang  dilakukan  oleh perusahaan menyebabkan perlunya memasukkan  unsur   sosial  dalam  pertanggungjawaban  perusahaan  ke  dalam akuntansi. Hal ini mendorong lahirnya suatu konsep yang disebut sebagai Social Accounting, Socio Economic Accounting ataupun    Social  Responsibility Accounting (Indira dan Dini, 2005).  Dengan lahirnya akuntansi sosial, produk akuntansi juga   dapat  digunakan  oleh  manajemen  sebagai sarana untuk mempertanggungjawabkan kinerja sosial  perusahaan dan memberikan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan bagi stekeholders.&lt;br /&gt;Dalam lingkup wilayah Indonesia, standar akuntansi keuangan Indonesia belum mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial, akibatnya yang terjadi di dalam praktik perusahaan hanya dengan sukarela mengungkapkannya.   Secara  implisit  Ikatan  Akutansi  Indonesia  (IAI)  dalam Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK) Nomor 1 (revisi 2004) paragraf 9 menyarankan untuk mengungkapkan tanggung jawab akan masalah sosial sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Perusahaan  dapat  pula  menyajikan  laporan  tambahan  seperti  laporan mengenai   lingkungan   hidup   dan  laporan   nilai  tambah   (value   added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang  peran  penting  dan  bagi  industri  yang  menganggap  pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, adanya CSR di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 40  Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74 ayat 1 Undang- undang  tersebut  menyebutkan  bahwa  ”Perseroan  yang  menjalankan  kegiatan usahanya  di  bidang  dan/  atau   berkaitan  dengan  sumber  daya  alam  wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan  lingkungan”. Dalam Undang-undang Nomor  25  Tahun  2007  tentang  Penanaman  Modal,  pasal  15  (b)  menyatakan bahwa ”setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya  pengungkapan  CSR  telah  membuat  banyak  peneliti  untuk melakukan  penelitian  dan  diskusi  mengenai  praktik  dan  motivasi  perusahaan untuk melakukan CSR.  Beberapa penelitian yang terkait dengan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan telah banyak dilakukan, baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Belkaoui dan Krapik (1989); Cowen, (1987); Hackston dan Milne (1996); Sembiring (2005)  dan Anggraeni (2006) yang meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR.  Diantara  faktor-faktor  yang  menjadi  variabel  dalam  penelitian  tersebut adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan ukuran dewan komisaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan CSR tercermin dalam teori agensi yang menjelaskan bahwa perusahaan besar mempunyai biaya agensi yang besar, oleh karena itu perusahaan besar akan lebih banyak mengungkapkan informasi   daripada   perusahaan   kecil.   Akan   tetapi,   tidak   semua   penelitian mendukung hubungan antara ukuran perusahaan dengan  tanggung jawab sosial perusahaan. Penelitian yang tidak berhasil menunjukkan hubungan kedua variabel ini seperti yang disebutkan dalam Hackston dan Milne (1996) antara lain Roberts (1992),  Sigh   dan  Ahuja  (1983),  Davey  (1982)  dan  Ng  (1985).  Sebaliknya penelitian yang berhasil  menunjukkan hubungan kedua variabel ini antara lain Belkaoui dan Karpik (1989), Adam et.  al., (1995, 1998), Hackston dan Milne (1996), Kokubu et. al., (2001), Hasibuan (2001), Sembiring (2005) dan Anggraeni (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor   lain   yang   diduga   mempengaruhi   pengungkapan   CSR   adalah profitabilitas.   Hubungan  profitabilitas  terhadap  pengungkapan  CSR  menurut Bowman dan Haire (1976)  dalam Heckston dan Milne (1996) bahwa kepekaan sosial membutuhkan gaya managerial yang  sama sebagaimana yang diperlukan untuk dapat membuat perusahaan menguntungkan  (profitable). Penelitian yang dilakukan oleh Bowman dan Haire (1976) serta Preston (1978) dalam Hackston dan  Milne  (1996)  mendukung  hubungan  profitabilitas  dengan  pengungkapan CSR.  Sedangkan  penelitian  yang  dilakukan  Hackston  dan  Milne  (1996)  dan Belkaoui dan Karpik (1989) melaporkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.&lt;br /&gt;Leverage memberikan gambaran mengenai  struktur  modal yang dimiliki perusahaan,  sehingga  dapat  dilihat  tingkat  resiko  tak tertagihnya  suatu  utang. Scott (2000) menyampaikan  pendapat yang mengatakan bahwa semakin tinggi leverage kemungkinan besar perusahaan  akan  mengalami pelanggaran terhadap kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi dibandingkan laba dimasa depan. Perusahaan yang memiliki rasio leverage tinggi akan lebih sedikit mengungkapkan CSR supaya dapat melaporkan laba sekarang yag lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor   lain   yang   mempengaruhi   pengungkapan   CSR   adalah   dewan komisaris. Dengan wewenang yang dimiliki, dewan komisaris dapat memberikan pengaruh  yang cukup  kuat  untuk menekan manajemen untuk mengungkapkan CSR. Sehingga perusahaan yang  memiliki ukuran dewan komisaris yang lebih besar akan lebih banyak mengungkapkan CSR.  Hal ini sejalan dengan penelitian Hadi dan  Arifin (2002) dan Sembiring (2005)  yang  menunjukan hasil bahwa proporsi  dewan  komisaris  independen  mempengaruhi  tingkat   pengungkapan sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian-penelitian  yang  telah  dilakukan  sebelumnya  mengenai  faktor- faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR menunjukkan hasil yang berbeda- beda. Pertentangan hasil penelitian tersebut dapat terjadi karena beberapa alasan seperti: perbedaan periode waktu penelitian, interpretasi peneliti terhadap laporan keuangan perusahaan atas variabel yang  digunakan maupun perbedaan metode pengujian yang ditempuh oleh peneliti. Penelitian ini  menarik untuk dilakukan karena untuk memverifikasi ulang hasil penelitian terdahulu tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi praktek pengungkapan informasi pertanggungjawaban sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  ini  akan  menguji  variabel  faktor-faktor  yang  mempengaruhi pengungkapan  CSR.  Penelitian  ini  akan  menguji  pengaruh  variabel  ukuran perusahaan,   profitabilitas,   leverage   dan   ukuran   dewan   komisaris   terhadap pengaruhnya dalam pengungkapan CSR pada perusahaan manufaktur di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5661948820297025276?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5661948820297025276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5661948820297025276&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5661948820297025276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5661948820297025276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html' title='Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Laporan Tahunan Perusahaan (EKN-128)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3542334892126898646</id><published>2011-02-15T15:48:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:50:40.151-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Penyelesaian Kredit Bermasalah Pada PT. Bank Danamon, Tbk. Cabang Semarang (EKN-127)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.  LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi nasional dalam rangka  mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut dengan UUD   1945)   harus dapat memenuhi segala keperluan dari masyarakat. Guna mencapai   tujuan tersebut,  maka pelaksanaan pembangunan  ekonomi  harus lebih   memperhatikan asas   keserasian, keselarasan  dan  keseimbangan  pada  setiap  unsur-unsur  pembangunan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta terciptanya stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ekonomi  modern  tidak  dapat  lepas  begitu  saja  dari aspek  dan  tujuan  pemberian  kredit  sebagai  upaya  riil  untuk  mengangkat aspek  pertumbuhan   modal  dan  investasi  dunia  usaha  dikalangan  para pengusaha  sebagai  pelaku  usaha   atau  pelaku  bisnis.  Dalam  kondisi perekonomian  yang  sedang  mengalami  kelesuan  seperti  saat  ini,  karena sektor riil yang tidak bertumbuh, maka sangat dibutuhkan adanya  suntikan dana  fresh  money  baik  dari  pihak  pemerintah  baik  melalui  Lembaga Keuangan  Bank  (selanjutnya  disingkat  menjadi  LKB)  ataupun  Lembaga Keuangan  Bukan Bank (selanjutnya disingkat menjadi LKBB) kepada para pengusaha sebagai pelaku usaha dan pelaku bisnis yang memanfaatkan dana tersebut sebagai modal kerja untuk meningkatkan prifibilitas perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbankan  adalah  salah  satu  sumber  dana  bagi  masyarakat perorangan  atau  badan  usaha  untuk  memenuhi  kebutuhan  konsumsinya seperti  kebutuhan untuk membeli rumah, mobil atau motor ataupun untuk meningkatkan produksi usahanya mengingat modal yang dimiliki perusahaaan ataupun perorangan tidak cukup untuk mendukung peningkatan usahanya. Usaha perbankan sebagaimana diketahui bukanlah badan usaha biasa seperti halnya perusahaan  yang bergerak dibidang perdagangan dan jasa, melainkan suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa keuangan. Bank mempunyai kegiatan usaha khusus seperti yang diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang  Perbankan jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang- Undang  Nomor  7  Tahun  1992  tentang  Perbankan  (selanjutnya  disebut Undang- Undang Perbankan), Yaitu :&lt;br /&gt;a.  Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa Giro, Deposito  berjangka, Deposito, Tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.&lt;br /&gt;b.  Memberikan kredit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Melakukan kegiatan valuta asing dengan ketentuan yang ditetapkan oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbankan  dalam  memberikan  kredit  harus  benar-benar  teliti, sebab  dalam hal ini perbankan memberikan kepercayaan kepada debitor untuk   mengembalikan   uang  yang  diterima  bank  dari  orang-orang  yang percaya kepada bank  dengan menyimpan uangnya di bank sehingga pihak bank  dalam  memberikan  kredit  harus  melakukan  pemeriksaan  terhadap calon debitornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredit dari segi ekonomi berarti suatu kegiatan memberikan nilai ekonomi  yang  sama  akan  dikembalikan  kepada  kreditor  (bank)  setelah jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan yang telah disetujui kreditor (bank) dengan  debitor.  Sebagai   keuntungan  bagi  pihak  kreditor  karena  telah memberikan nilai ekonomi tersebut maka kreditor (bank) menerima pembayaran bunga dari debitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbankan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan kredit memperoleh sumber dana dari masyarakat, sehingga sumber dana perbankan yang disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukan dana  milik bank sendiri, namun dana yang berasal dari masyarakat. Hal ini menyebabkan  perbankan dalam melakukan penyaluran kredit harus melakukannya dengan prinsip kehati-hatian melalui analisis yang akurat dan mendalam, penyaluran kredit yang tepat dan pengawasan kredit yang ketat, serta perjanjian kredit yang sah menurut hukum  pengikatan  jaminan yang kuat dan administratif perkreditan yang teratur dan lengkap. Semua tindakan tersebut semata-mata bertujuan agar kredit yang disalurkan oleh pihak bank kepada masyarakat dapat kembali tepat waktu dan sesuai dengan perjanjian kreditnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis  dilakukan  perbankan   untuk   mengetahui   dan  menentukan apakah  seseorang itu layak atau tidak untuk memperoleh kredit. Pada umumnya  pihak   perbankan  menggunakan  instrumen  analisis  yang dikenal  dengan  the  five  of   credit  atau  the  5  C,  yaitu  character (kepribdian) yaitu penilaian atas karakter atau watak dari  calon debitornya, capacity (kemampuan) yaitu prediksi  tentang kemampuan bisnis  dan  kinerja  bisnis  debitor  untuk  melunasi  hutangnya,  capital (modal) yaitu penilaian kemampuan keuangan debitor yang mempunyai korelassi langsung dengan tingkat kemampuan bayar kreditor, condition of economy  (kondisi ekonomi) yaitu analisis  terhadap kondisi perekonomian  debitor  seccara  mikro  maupun  makro  dan  collateral (agunan) yaitu harta kekayaan debitor sebagai jaminan bagi pelunasan hutangnya jika kredit dalam keadaan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredit yang dianalisa dengan  prinsip  kehati-hatian akan menempatkan  kredit  pada  kualitas  kredit  yang  performing  loan  sehingga dapat  memberikan pendapatan yang besar bagi pihak bank.  Pendapatan tersebut diperoleh dari  besarnya  selisih antara biaya dana dengan pendapatan  bunga  yang  dibayar  para  pemohon  kredit  sehingga  untuk mencapai  keuntungan tersebut maka sejak awal permohonan kredit harus dilakukan analisis yang  akurat  dan  mendalam oleh  pejabat  yang  bekerja pada unit/bagian kreedit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan perkreditan adalah risk asset bagi bank karena asset bank dikuasai oleh pihak luar bank, yaitu para debitor, akan tetapi kredit yang diberikan kepada para debitor selalu ada risiko berupa kredit tidak kembali tepat pada  waktunya yang dinamakan kredit bermasalah.”2   Banyak terjadi kredit yang diberikan menjadi bermasalah yang disebabkan berbagai alasan, misalnya usaha yang dibiayai  dengan kredit mengalami kebangkrutan atau merusut  omset  penjualannya.  Krisis   ekonomi,  kalah  bersaing  ataupun kesengajaan  debitor  melakukan  penyimpangan  dalam  penggunaan  kredit seperti untuk membiayai usaha yang tidak jelas masa  depannya, sehingga mengakibatkan sumber pendapatan usaha tidak mampu untuk mengembangkan usahanya dan akhirnya mematikan usaha debitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi dimana kredit yang telah disalurkan bank kepada masyarakat dalam jumlah besar ternyata tidak dibayar kembali kepada pihak bank  oleh  debitor  tepat  pada  waktunya  sesuai  perjanjian  kreditnya  yang meliputi; pinjaman pokok dan bunga menyebabkan kredit dapat digolongkan menjadi non perfoming loan ( selanjutnya disingkat menjadi NPL) atau kredit bermasalah. Banyaknya NPL akan  berakibat pada terganggunya likuiditas bank yang bersangkutan. “Dengan adanya kredit  bermasalah maka bank tengah menghadapi resiko usaha bank jenis resiko kredit (default risk) yaitu&lt;br /&gt;resiko akibat  ketidakmampuan  nasabah  debitor  mengembalikan  pinjaman yang diterimanya dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.”3&lt;br /&gt;Seperti sudah disebut sebelumnya bahwa dengan adanya kredit bermasalah, bank tengah menghadapi default risk. Kredit bermasalah selalu ada dalam  kegiatan  perkreditan bank, karena bank tidak mungkin menghindari  adanya  kredit  bermasalah,  bank  hanya  berusaha  menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah  agar  tidak  melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan4. PT. Bank&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danamon Tbk. Cabang Semarang (selanjutnya disebut dengan Bank Danamon)  merupakan  salah  satu  bank  yang  sedang  menghadapi  kredit bermasalah  yang  terjadi  pada  bulan  Maret  2008,  dimana  debitor  yang mengajukan  pinjaman  uang  kepada  Bank  Danamon  mengalami  kesulitan dalam hal pembayaran dan mengembalikan pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak bank dalam menyelesaikan/ menyelamatkan kredit bermasalah  akan  melihat  terlebih  dahulu  kondisi  kredit  yang  bermaslah tersebut.  Penyelesaian kredit macet yang dilakukan oleh bank itu sendiri terdiri atas dua alternatif penyelesaian yaitu:&lt;br /&gt;1.  “Penyelesaian melalui jalur litigasi&lt;br /&gt;Penyelesaian melalui  jalur  litigasi  yaitu  penyelesaian  yang  dilakukan terhadap debitor yang usahanya masih berjalan, yaitu debitor tidak mau&lt;br /&gt;melunasi kewajiban melunasi kreditnya atau hutangnya baik angsuran pokok maupun bunganya, sedangkan bagi debitor yang usahanya tidak lagi berjalan adalah  debitor yang tidak dapat bekerja sama dan tidak mau memenuhi kewajiban melunasi kreditnya.&lt;br /&gt;2.  Penyelesaian melalui jalur non litigasi&lt;br /&gt;Pada taraf penyelesaian ini usaha debitor yang dimodali dengan kredit itu masih  berjalan meskipun angsuran kreditnya tersendat-sendat atau meskipun  kemampuannya telah melemah dan tidak dapat membayar angsurannya ia masih harus membayar bunganya, bahkan debitor yang usahanya  sudah  tidak  berjalan,  penyelesaian  kreditnya  masih  dapat dilakukan  melalui  upaya  negoisasi  seorang   debitor  yang  jaminan kreditnya mencukupi serta masih ada usaha lain yang  dianggap layak dan  kepadanya  masih  dimungkinkan  diberi  suntikan  dana  sehingga diharapkan akan mempunyai hasil untuk digunakan membayar seluruh kewajibannya, artinya dengan kesepakatan baru, kredit macetnya akan menjadi kredit yang lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Danamon dalam proses penyelesaian kredit bermasalahnya lebih  memilih  menggunakan  jalur  non  litigasi.  Tentunya  pihak  perbankan mempunyai beberapa pertimbangan atau alasan-alasan tertentu yang membuat mereka memilih menyelesaikan permasalahan kredit bermasalah melalui  jalur   non  litigasi.  Penyelesaian  melalui  jalur  non  litigasi  pada umumnya memberikan keuntungan kepada pihak debitor maupun kreditor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  dan  permasalahan  diatas  dan  ketentuan- ketentuan  yang ada, maka penulis tertarik untuk menyusun Tesis dengan judul :”PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH PADA PT. BANK DANAMON Tbk. CABANG SEMARANG”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3542334892126898646?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3542334892126898646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3542334892126898646&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3542334892126898646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3542334892126898646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/penyelesaian-kredit-bermasalah-pada-pt.html' title='Penyelesaian Kredit Bermasalah Pada PT. Bank Danamon, Tbk. Cabang Semarang (EKN-127)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6321100558834335683</id><published>2011-02-15T15:46:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:48:00.751-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Atas Pendidikan, Kesehatan Dan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (EKN-126)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu  tujuan  suatu  negara  adalah  untuk  meningkatkan  pertumbuhan ekonominya.  Salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi adalah pendapatan nasional. Pendapatan  nasional  suatu   negara  dapat  menunjukkan  seberapa  besar  aktivitas perekonomian secara keseluruhan. Konsep pendapatan nasional adalah ukuran yang paling sering dipakai sebagai indikator pertumbuhan  ekonomi namun bukan satuñ satunya  indikator  pertumbuhan  ekonomi.  Pertumbuhan  ekonomi   adalah  sebuah proses, bukan merupakan suatu gambaran ekonomi pada suatu periode tertentu, ada perkembangan atau perubahan dan penggunaan waktu (Boediono,1992).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terakhir mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi perekonomian dunia. Pendapatan nasional sebagai tolak  ukur  pertumbuhan  ekonomi  memperlihatkan  pertumbuhan  yang  fluktuatif. Kondisi   perekonomian Indonesia   sebagai   negara   sedang   berkembang   belum mencapai  kondisi  steady  state  dimana  suatu  perekonomian  sudah  berada  dalam keadaan stabil dan tidak mudah terkena goncangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh berbagai goncangan (shock).&lt;br /&gt;Goncangan tersebut seperti krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1966, menyebabkan hyper inflation hingga mencapai 650 persen. Selanjutnya  goncangan yang membuat perekonomian Indonesia terganggu adalah krisis ekonomi tahun 1998 yakni inflasi 78 persen dan PDB turun sekitar 11 persen. Krisis ekonomi tahun 1998 membuat kondisi perekonomian Indonesia mengalami resesi meskipun tidak separah krisis ekonomi tahun 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian dunia pada tahun 2008 tengah berada dalam keadaan resesi (resesi ekonomi  global)  yang  dipicu  oleh  gejolak  finansial  di  Amerika  Serikat.  Krisis finansial  ini  tidak  hanya  menimpa  Indonesia  tapi  juga  negarañnegara  di  seluruh dunia. Dampak krisis finansial di  Indonesia  ditandai dengan turunnya nilai Indeks Harga  Saham  Gabungan  (IHSG)  sehingga  membuat  otoritas  perdagangan  bursa saham menutup perdagangan untuk sementara. Tingkat inflasi mencapai 11,9 persen merupakan dampak yang terjadi di akhir tahun. Pemerintah sudah dapat mengatisipasi&lt;br /&gt;keadaan  sehingga  pertumbuhan  ekonomi  Indonesia  masih  berada  pada  tingkat pertumbuhan  ekonomi yang relatif aman yaitu sebesar 6,38 persen. Indonesia lebih siap  bertahan  pada  krisis  kali  ini  dengan  belajar  dari  pengalaman  krisisñkrisis sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  negara  harus  memiliki  pemerintahan  yang  berfungsi  sebagai  peredam gejolak ekonomi dan politik baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Peredam gejolak  dalam  arti  mampu  menstabilkan  situasi  menjadi  lebih  kondusif  melalui berbagai  kebijakan.  Pemerintah   merupakan  aktor  yang  sangat  penting  dalam perekonomian  suatu  negara.  Suatu  kegiatan  ekonomi  akan  optimal  jika  terdapat aktifitas pemerintah didalamnya. Pemerintah dapat menjadi pelaku kegiatan ekonomi yang memacu produksi dan konsumsi. Pihak swasta biasanya mengalokasikan sumber daya yang dimilki melalui mekanisme pasar, jika sistem pasar benar-benar efisien di dalam  mengalokasikan  sumber  daya,  maka  peranan  pemerintah  terbatas,  salah satunya ketika terjadi kegagalan dalam private market (Samuelson dan Nordhaus,2005). Pemerintah akan masuk dan menyelesaikan permasalahan kegagalan pasar jika pihak  swasta dan individu-individu tidak bersedia memperbaiki keadaan dan mengeluarkan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dapat melalukan dua jenis kebijakan yaitu kebijakan moneter dan kebijakan   fiskal.   Kebijakan   moneter   merupakan   kebijakan   pemerintah   dalam mempengaruhi tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar. Kebijakan fiskal adalah kebijakan  pemerintah  melalui  pengeluaran   pemerintah.  Pengeluaran  pemerintah&lt;br /&gt;mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.  Pemerintah  melalui  instrumen kebijakan  dapat  menyelamatkan  keadaan ketika perekonomian mengalami kelesuan akibat adanya resesi ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Samuelson  dan  Nordhaus  (2005)  ada  empat  faktor  sebagai  sumber pertumbuhan  ekonomi. Faktor-faktor tersebut adalah (1) sumberdaya manusia, (2) sumberdaya   alam,   (3)   pembentukan   modal,   dan   (4)   teknologi.   Pengeluaran pemerintah berperan dalam pembentukan modal melalui pengeluaran pemerintah di berbagai bidang seperti sarana dan prasarana. Pembentukan modal di bidang sarana dan prasarana ini umumnya menjadi social overhead  capital  (SOC) yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. SOC ini sangat penting karena pihak  swasta tidak akan mau menyediakan berbagai fasilitas publik, namun tanpa adanya fasilitas publik   ini   maka  pihak  swasta  tidak  berminat  untuk  menanamkan  modalnya. Pertumbuhan  ekonomi  dan  peningkatan  pendapatan  akan  terdorong  naik  dengan adanya berbagai fasilitas publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran  pemerintah  yang  terdapat  dalam  Anggaran  Pendapatan  Belanja Negara (APBN) merupakan salah satu alat kebijakan fiskal pemerintah. Pemerintah dapat   menggunakannya   untuk   mengelola   perekonomian   negara.   APBN   pada perkembangannya  telah  mengalami  banyak  perubahan  struktur. APBN  saat  ini menggunakan sistem anggaran berbasis kinerja berdasarkan UU No.1 tahun 2004. Sejak  tahun  1969  diterapkan  sistem  berimbang  dan  dinamis  dalam  penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja  Negara. Sistem anggaran berimbang dan dinamis ini&lt;br /&gt;menggantikan  sistem  anggaran  sebelumnya  pada  masa  orde  lama  yang  belum membedakan antara anggran belanja dengan penerimaan. Pembedaan antara anggaran belanja dengan penerimaan  akan mempermudah mengetahui berapa besar anggaran belanja  pemerintah  untuk  sektor  publik.Sistem  penyusunan  yang  berimbang  dan dinamis  didasarkan  pada  Indische  Comptabiliteitswet  yang  lebih  dikenal  dengan nama ICW stbl. 1925 No.488 yang ditetapkan  pertama kali pada tahun 1864 dan mulai berlaku tahun 1867. Kemudian pada tahun 2003 dikeluarkan UU No.17/2003 tentang pengelolaan keuangan negara. Undang-undang tersebut menandai dimulainya reformasi manajemen keuangan pemerintah.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6321100558834335683?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6321100558834335683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6321100558834335683&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6321100558834335683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6321100558834335683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-pengaruh-pengeluaran.html' title='Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Atas Pendidikan, Kesehatan Dan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (EKN-126)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5428535644134284483</id><published>2011-02-15T15:40:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:45:36.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Pengaruh Return On Equity, Insider Ownership, Investment Opportunity Set, Firm Size, Cash Flow, &amp; Debt Ratio Thdp Dividend Payout (EKN-125)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemodal di dalam menginvestasikan dana bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran.   Tujuan  ini  telah  menjadi  tujuan  normatif  atau  tujuan  yang seyogyanya  dicapai  oleh  manajer  keuangan.  Dari  sudut  pandang  manajemen keuangan, salah satu tujuan perusahaan adalah  untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang  saham  atau stockholder (Brigham, 2001). Nilai perusahaan go public dicerminkan oleh  harga pasar saham perusahaan tersebut (Husnan, 1997).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor mempunyai tujuan utama dalam menanamkan dananya ke dalam perusahaan  yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat pengembalian investasi baik berupa pendapatan dividen (dividend yield) maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain). Dengan adanya stabilitas dividen dapat meningkatkan kepercayaan  investor terhadap perusahaan. Di sisi lain,  perusahaan  yang  akan  membagikan  dividen  dihadapkan  pada  berbagai macam  pertimbangan,  antara  lain:  perlunya  menahan  sebagian   laba  untuk diinvestasikan  kembali  yang  mungkin  lebih  menguntungkan,  kebutuhan  dana perusahaan,  likuiditas  perusahaan,  dan  faktor  lain  yang  berhubungan  dengan kebijakan dividen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan kepentingan terhadap penggunaan laba yang dihasilkan  oleh  perusahaan.  Di  satu  sisi  manajer  sebagai  pemegang  kendali perusahaan lebih menyukai untuk menahan laba perusahaan sebagai laba ditahan (retained  earnings), yang nantinya akan digunakan sebagai sumber dana dalam membiayai kegiatan perusahaan dan kepentingan ekspansi perusahaan. Namun di sisi lain, pihak investor lebih menyukai bila laba dibagikan dalam bentuk dividen yang merupakan pendapatan bagi pemegang saham selain capital gain. Menurut Husnan (1997), pada dasarnya perusahaan lebih menyukai menahan keuntungan daripada membagikan dalam bentuk deviden, sedangkan investor lebih menyukai pembayaran dividen saat ini daripada menundanya untuk direalisasikan dalam bentuk  capital gain. Oleh karena adanya kepentingan yang kontradiktif antara pihak  perusahaan  dan investor, maka perusahaan harus dapat mengambil suatu kebijakan dividen yang membawa manfaat khususnya bagi peningkatan kemakmuran para pemegang saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer   sebagai  agent pengelola  perusahaan diharapkan mampu menghasilkan keuntungan yang akhirnya dapat dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen.  Di sisi  lain,   manajer cenderung    untuk menginvestasikan kembali keuntungan yang diperoleh  agar perusahaan mengalami  pertumbuhan  yang  lebih  tinggi.  Kepentingan  ini  seringkali  tidak sejalan dengan apa yang merupakan keinginan  pemegang saham. Makin tinggi dividen yang dibagikan berarti makin sedikit laba yang ditahan  sehingga akan menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam pendapatan dan harga saham,  demikian  pula  sebaliknya  (Riyanto,  1995).  Kebijakan  deviden  yang optimal adalah kebijakan dividen yang menciptakan keseimbangan antara deviden saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang yang akan memaksimumkan harga saham perusahaan (Brigham, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  ini  dipilih  karena  dalam  kebijakan  dividen  terlihat  bahwa kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator utama dari kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, sehingga profitabilitas (return on  equity) sebagai  faktor penentu  terpenting terhadap  dividen  (lintner,  1956). Selain itu manajemen dalam menentukan besarnya  dividen yang dibagikan juga dihadapkan oleh peluang untuk berinvestasi (investment opportunity set).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu adanya beberapa pihak yang saling berbeda kepentingan, yaitu  kepentingan pihak perusahaan, kepentingan pihak pemegang saham diluar manajemen perusahaan, dan kepentingan pihak manajemen perusahaan yang juga sekaligus sebagai pemegang saham (insider ownership / managerial ownership). Kebijakan dividen dalam teori keagenan digunakan sebagai bonding mechanism untuk  mengendalikan  agency  cost.  Perusahaan  yang  mempunyai  mekanisme pengendalian dan kepemilikan yang tersebar luas, biasanya merupakan perusahaan besar dan cenderung membagikan dividen untuk mengurangi konflik keagenan antara manajemen dan pemegang saham. Sebaliknya perusahaan kecil dengan  strktur  kepemilikan  terpusat  pada  beberapa  individu  akan  cenderung membagikan dividen rendah karena kemungkinan terjadi konflik keagenan relatif kecil  (Megginson  dalam  Reni  dan  Achmad,  2006).  Jadi   variabel  ukuran perusahaan  (firm  size)  perusahaan  penting  dalam  mengendalikan  kebijakan dividen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada beberapa alternatif untuk mengurangi konflik kepentingan dan biaya keagenan,  pertama  dengan  meningkatkan  kepemilikan  saham  perusahaan  oleh manajemen. Kepemilikan ini akan menyejajarkan kepentingan manajemen dengan kepentingan  pemegang  saham  (Jensen  dan  Meckling  dalam  Sartono,  2001). Kedua, dengan meningkatkan cash flow karena cash  flow akan diserap untuk membayar dividen bagi pemegang saham. Dan pada akhirnya pembayaran dividen akan  mencegah  manajemen  untuk  melakukan  perquisites.  Alternatif  terakhir adalah dengan meningkatkan pendanaan dengan utang. Peningkatan utang akan menurunkan skala konflik antara pemegang saham dan manajemen ( Sartono,2001).  Hal  itu  dapat  dipahami  karena apabila  perusahaan  memerlukan  kredit, maka harus siap untuk dievaluasi dan dimonitor oleh pihak eksternal dan berarti akan mengurangi konflik antara manajemen dengan pemegang saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasio pembayaran dividen atau Dividend Payout Ratio (DPR) pada intinya merupakan  persentase dari laba setelah pajak yang dibagikan kepada pemegang saham yang merupakan  perbandingan antara Dividend per share (DPS) dengan Earning per share (EPS). Laba setelah  pajak yang diperoleh perusahaan dapat diperlakukan dengan dua alternatif. Alternatif pertama, seluruh laba setelah pajak dibagikan kepada pemilik modal pemegang saham sebagai dividen.  Alternatif kedua,  sebagian  laba  setelah  pajak  dibagikan  kepada  pemilik  modal  sebagai dividen dan sebagian lagi tidak dibagikan melainkan sebagai laba ditahan untuk menambah modal perusahaan (Brigham, 2001). Brigham (2001) juga mengatakan bahwa  manajer  percaya   bahwa  investor  lebih  menyukai  perusahaan   yang mengikuti dividend payout ratio yang stabil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pembagian dividen, perusahaan memperhitungkan proporsi pembagian antara pembayaran kepada investor dan reinvestasi dalam perusahaan. Besarnya   dividend  payout  ratio   yang  dapat   ditetapkan  perusahaan   sangat tergantung   pada   faktor-faktor yang   mempengaruhinya.   Faktor-faktor   yang mempengaruhi  pembagian  dividen  yang  diproksikan  melalui  dividend  payout ratio antara lain profitabilitas, insider ownership, investment opportunity set, cash flow, size, dan leverage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan  perusahaan  dalam  memperoleh  laba  merupakan  indikator utama dari  kemampuan perusahaan  untuk membayar   dividen, sehingga profitabilitas sebagai faktor penentu terpenting terhadap dividen (Lintner, 1956). Alat pengukur profitabilitas dapat melalui ROE (Return on Equity). Menurut Suad Husnan (2004), profitabilitas merupakan faktor  pertama yang biasanya menjadi pertimbangan manajemen    dalam  pembayaran deviden. Meningkatnya profitabilitas  dapat  tercermin  pada  meningkatnya  return  on  equity.  Partington (1989)  secara  eksplisit  menunjukkan  bahwa  profitabilitas  (earning  after  tax) merupakan  variabel  yang  penting  sebagai  dasar  pertimbangan  para  manajer perusahaan di   Australia  dalam rangka menentukan kebijakan  dividen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya ROE akan  meningkatkan  kemampuan  perusahaan dalam membayar dividen. Penelitian yang tidak konsisten tersebut diantaranya Akhmadi (2006) yang menyatakan bahwa “ ROE tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap  DPR  “,  dan  penelitian  oleh  Kania  dan  Balkon  (2005)  menunjukkan bahwa  ROE  berpengaruh  negatif,  sedangkan  pada  penelitian  Suharli  (2006)menyatakan bahwa “Variabel independen yang digunakan memberikan hasil yang signifikan yaitu ROE” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi kepemilikan dari perusahaan–perusahaan yang telah go publik dan tercatat di Bursa Efek Indonesia berbeda dengan komposisi perusahaan yang belum go publik (Mulyono, 2009). Adanya komposisi kepemilikan yang dimiliki oleh publik ini tentu menimbulkan implikasi bagi perusahaan. Pemegang saham dari kalangan publik ini akan meminta imbal hasil dari investasi yang dilakukan pada suatu perusahaan dalam bentuk dividen. Sementara itu  pihak  manajemen akan merasa keberatan apabila nilai dividen yang diberikan kepada  pemegang saham  memiliki  jumlah  yang  besar,  karena  pihak  internal  dapat  memiliki keinginan  untuk  menggunakan  keuntungan  yang  diperoleh  untuk  memperluas kegiatan  operasinya.  Benturan  kepentingan  ini  seringkali  dibahas  dalam  teori keagenan (agency theory).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori keagenan memberikan pandangan bahwa perusahaan yang memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap konflik  keagenan. Pada agency theory yang disebut principal adalah pemegang saham dan yang  dimaksud agen adalah manajemen yang mengelola perusahaan (Wahidahwati,  2002).  Manajer  perusahaan  mempunyai  kecenderungan  untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya  dengan pihak lain. Perilaku ini biasa disebut  sebagai  keterbatasan  rasional  (bounded  rationality) dan manajer cenderung  tidak  menyukai  resiko  (risk  averse).  Manajer  dapat   mengambil tindakan   yang   diperlukan   untuk   meningkatkan   keuntungan   pribadi   (gaji), berlawanan  dengan  upaya  untuk  memaksimalkan  harga  saham  yang  menjadi tujuan dari pemegang saham. Tingkat asimetri informasi akan cenderung relatif tinggi pada  perusahan dengan tingkat kesempatan investasi yang baik. Manajer memiliki informasi tentang nilai proyek di masa mendatang dan tindakan mereka tidak dapat diawasi dengan detail oleh  penegang saham, sehingga biaya agensi antara  manajer  dengan  pemegang  saham  akan  meningkat.  Pemegang  saham perusahaan  tersebut  akan  sangat  bergantung kepada insentif  guna memotivasi manajer  untuk  melakukan  kepentingan  pemegang  saham,  hal  ini  tentu  akan berdampak pada pembagian dividen perusahaan. Sehingga seringkali pembahasan mengenai dividen harus mengacu pada kerangka teori keagenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi teori keagenan (agency theory) semakin nyata dan jelas dalam kajian  tentang  perusahaan  yang  telah  memanfaatkan  sumber  dana  dari  pasar modal. Teori asimetri informasi yang menyatakan adanya perbedaan kepemilikan informasi antara manajer dengan  investor, dimana manajer memiliki informasi yang  lebih  lengkap  dibandingkan  investor,   memberi  pemahaman  dan  bukti empiris bahwa terdapat biaya dalam hubungan antara manajer dan investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jensen et al. (1992) dalam maria (2008) menghubungkan interaksi antara dividen   payout   ratio   dengan   insider   ownership.   Maka   insider   ownership merupakan varibel yang  diduga berpengaruh pada dividend payout ratio. Untuk menunjukkan ketidak simetrisan antara pemilik (insider) dan investor luar. Jensen menemukan  bahwa  keputusan  financial  perusahaan   dan  insider  ownership memiliki  ketergantungan  satu  dengan  yang  lainnya.  Dividend   payout  ratio perusahaan juga sangat dipengaruhi oleh keputusan dari pemilik (insider) hal itu dikarenakan  informasi  yang  dimiliki  oleh  insider  mengenai  rencana-rencana perusahaan yang akan datang sangat lengkap, maka akan membawa pengaruh yang sangat  besar terhadap kepentingan dalam menetapkan kebijakan dividen. Untuk itu semakin besar  kepemilikan insider berarti semakin kecil biaya agen, dan semakin besar kekuatan dalam menentukan kebijakan dividen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugrahaini  (2002) dengan hasil: insider ownership   berpengaruh   positif   terhadap   DPR.   Sedangkan   penelitian   yang dilakukan  oleh Hatta (2002) dan  didukung oleh  penelitian  Kania dan  Balkon (2005), Wahyudi (2008), Maria (2008) menunjukkan bahwa insider ownership tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dividend payout ratio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan   yang  memiliki   Invesment  Opportunity  Set   (IOS)  tinggi memiliki  peluang pertumbuhan yang tinggi. Tingkat pertumbuhan  yang tinggi diasosiasikan   dengan   penurunan   dividen.   Perusahaan   dengan   pertumbuhan penjualan  yang  tinggi  diharapkan  memiliki  kesempatan  investasi  yang  tinggi. Untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan, perusahaan memerlukan dana besar yang dibiayai dari sumber internal yang akan menyebabkan penurunan pembayaran  dividen.  Hasil  penelitian  Suharli  (2006)  menyatakan  IOS  tidak mempunyai  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  dividen  dan  Saxena   (1995) menunjukkan  bahwa  IOS  memiliki  hubungan  yang  negatif  dengan  dividen. Namun penelitian oleh Sunarto (2004) dan Maria (2008), menyatakan bahwa IOS berkoefisien positif signifikan dengan dividend payout ratio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perusahaan besar dan mapan akan mudah menuju ke pasar modal. Tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan (size), yaitu total aktiva (Frankfurter, 2003).  Selain itu perusahaan besar mempunyai kemudahan untuk berhubungan  dengan  pasar  modal,  berarti  fleksibilitas  lebih  besar  dan mempunyai   kemampuan   untuk   mendapatkan   dana   dalam   jangka   pendek, perusahaan  besar  dapat  mengusahakan  pembayaran  dividen  yang  lebih  besar dibanding dengan perusahaan kecil.  Perusahaan besar dengan akses pasar yang lebih baik seharusnya membayar dividen yang  tinggi kepada pemegang saham, sehingga antara ukuran perusahaan dan pembayaran dividen memiliki hubungan yang positif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chang dan Wang (2002) menyebutkan bahwa size dinyatakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap DPR.  Hal ini kontradiktif dengan penelitian yang dilakukan oleh Hatta (2002), Prihantoro  (2003)  dengan  hasil:  size  dinyatakan  tidak  berpengaruh  signifikan terhadap DPR, sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cash flow bersumber dari dana internal perusahaan yang penggunaannya tergantung   pada  kebijakan  manajer.  Penggunaan  disini  adalah  pembayaran dividen,  pembelian  kembali  saham  perusahaan,  penginvestasian  dalam  aktiva tetap atau aktiva lainnya, akuisisi terhadap perusahaan lain. Teori free cash flow hypothesis yang disampaikan oleh Jensen (1986) menyebutkan bahwa perusahaan dengan kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi memiliki free cash flow yang rendah karena sebagian besar dana yang digunakan untuk investasi untuk investasi pada proyek yang memiliki nilai NPV yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cash  flow  suatu  perusahaan  sangat  mempengaruhi  kebijakan  dividen perusahaan,   dimana  jika  cash  flow  meningkat,  maka  hal  ini  menunjukkan kemampuan  perusahaan   dalam  membayar  dividen  juga  semakin  meningkat. Dengan  demikian  meningkatnya  cash  flow  juga  akan  meningkatkan  harapan dividen yang akan diterima oleh investor, sehingga terdapat kemungkinan cash flow  berpengaruh  positif  terhadap  pendapatan  dividen.  Penelitian  oleh  Hatta (2002) dan Arilaha  (2009) menyatakan bahwa  cash flow tidak mempengaruhi dividen.  Namun  Rosdini  (2009)  menunjukkan  bahwa  cash  flow  berpengaruh positif  terhadap dividend payout ratio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang mempengaruhi besarnya dividend payout ratio adalah tingkat  leverage. Tingkat leverage ini dapat diukur dengan menggunakan debt ratio. Debt Ratio (Rasio Hutang) merupakan rasio total utang terhadap total aktiva atau  menghitung  persentase  total   dana  yang  disediakan  oleh  para  kreditur (Brigham,  1999).  Menurut  Syamsuddin  (2000),  digunakan  untuk  mengetahui jumlah aktiva perusahaan yang dibiayai oleh hutang atau modal yang berasal dari kreditur. Semakin tinggi rasio hutang, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan  dalam  perusahaan,  dan  semakin  tinggi  pula  resiko  yang  dimiliki perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasio hutang yang rendah lebih disukai oleh kreditur karena akan tersedia dana penyangga yang besar bagi kreditur apabila terjadi likuidasi. Selain itu, dengan debt ratio yang  rendah dapat meningkatkan keuntungan yang akan dibagikan sebagai dividen, karena alokasi  untuk pembayaran kewajiban hutang juga   akan   rendah.   Menurut   Pecking   Order   Theory   bahwa   rasio   hutang berhubungan terbalik dengan profitabilitas. Dengan demikian semakin tinggi rasio hutang  maka  akan  semakin  rendah  profitabilitas  suatu  perusahaan.  Dengan semakin  rendahnya  profitabilitas  suatu  perusahaan  maka  akan  mengurangi kemampuan  perusahaan tersebut dalam membayarkan dividen. Sehingga hutang diduga berpengaruh negatif terhadap DPR. Dalam penelitiannya  Nugroho (2004) menyatakan bahwa DR berpengaruh signifikan terhadap DPR. Namun penelitian dari  Sunarto  dan  Kartika  (2003)  menunjukkan  bahwa  DR  tidak  mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividend payout ratio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan   ekonomi   di   Indonesia   dipengaruhi   kelompok   Industri Manufaktur. Industri manufaktur memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB ( pendapatan domestik bruto) (Hadiwidjaja, 2007 dalam Hastuti, 2009). Kelompok industri   manufaktur   memiliki   target   dividend   payout   ratio   paling   tinggi dibandingkan dengan kelompok industri lainnya (Hastuti, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi  ekonomi   dalam   negeri   memberikan   warna   tersendiri   bagi perkembangan  persepsi  investor  pada  dividen  yang  dibagikan.  Gejolak  harga minyak  pada  tahun  2004  mulai  mempengaruhi  kondisi  perekonomian  dalam negeri.  Harga minyak dunia meningkat tajam memasuki tahun 2005 mencapai 78 dollar AS. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. (Kompas Edisi 18/9/2007). Kenaikan harga  minyak mentah dunia akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Penurunan ekonomi tentu akan menurunkan permintaan barang dan jasa. Kegiatan ekspor juga terganggu oleh peningkatan biaya-biaya operasi, seperti biaya angkutan, biaya pergudangan, dan  lain-lain.   (Bisnis  Indonesia  Edisi  28/10/2007).  Peningkatan  biaya-biaya tersebut dapat mengurangi  keuntungan (profitabilitas) perusahaan karena biaya operasinya yang semakin besar. Hal  tersebut dapat mengurangi minat investor dalam  menanamkan dananya  di  perusahaan.  Gambaran  pertumbuhan  ekonomi yang menurun, diduga akan mempengaruhi pembagian dividen oleh perusahaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada variabel ROE terjadi fenomena di tahun 2004-2005, ROE meningkat 2,28 %  namun  DPR  menurun  sebesar  1.66  %.  Pada  tahun  2005-2006  DPR meningkat 3.77 % tetapi tidak diikuti dengan peningkatan ROE, Return On Equity tahun  2005-2006   menurun  sebesar  1.49  %.  Hal  ini  berbeda  dengan  yang dinyatakan  Lintner  (1956)  bahwa  kemampuan  perusahaan  dalam  memperoleh laba merupakan indikator utama dari kemampuan perusahaan untuk membayar dividen,   sehingga  profitabilitas  sebagai  faktor  penentu  terpenting  terhadap dividen.&lt;br /&gt;Pada  variabel  kepemilikan  manajerial  fenomena  juga  terjadi  di  tahun 2004-2005,  kepemilikan  manjerial  meningkat  sebesar  0.02  %  namun  DPR menurun  sebesar 1.66 %. Tetapi di tahun 2005-2006 peningkatan kepemilikan manajerial  diikuti  oleh  peningkatan  DPR,  kepemilikan  manajerial  meningkat sebesar 0.27 % dan DPR meningkat sebesar 3.77 %. Hal ini berbeda bila dikaitkan dengan teori keagenan, dengan semakin meningkatnya kepemilikan dari manajemen,   maka  biaya  agensi  akan  semakin  menurun,  sepanjang  manajer tersebut   mengharapkan   efek   kesejahteraan   yang   lebih   pada  keputusannya. Semakin besar kepemilikan insider maka semakin besar informasi yang dimiliki oleh  manajemen  sekaligus  sebagai  pemilik  perusahaan,  sehingga  hal  tersebut mengakibatkan biaya agen semakin kecil, karena pemilik sekaligus  merangkap sebagai mnajemen sehingga biaya pengawasan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena terjadi pada variabel investment opportunity set di tahun 2005-2006, IOS meningkat sebesar 0.09% dan diikuti kenaikan DPR sebesar 3.77%. Variabel  Ukuran perusahaan (size) juga mengalami fenomena pada tahun 2004-&lt;br /&gt;2005, ukuran perusahaan meningkat sebesar 0.14 milyar namun DPR menurun sebesar 1.66 %. Hal ini berbeda dengan teori yang dinyatakan oleh Riyanto (2001) bahwa semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka semakin besar kebutuhan  dana  yang  diperlukan  untuk   membiayai  perumbuhan  perusahaan tersebut. Semakin besar kebutuhan dana untuk investasi  di waktu mendatang,perusahaan  lebih  senang  untuk  menahan  labanya  dari  pada  membayarkannya sebagai dividen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada variabel size terjadi fenomena di tahun 2004-2005. Size meningkat&lt;br /&gt;0,14 %  namun  DPR  menurun  sebesar  1.66  %.  Pada  tahun  2005-2006  DPR&lt;br /&gt;meningkat 3.77 % tetapi tidak diikuti dengan peningkatan size. Size tahun 2005-&lt;br /&gt;2006 menurun sebesar 0.06 %. Hal ini berbeda dengan teori yang disampaikan oleh Smith dan Watts (1992) dalam Agustanto (2004), menunjukkan dasar teori pengaruh ukuran perusahaan dengan terhadap dividend payout ratio sangat kuat. Perusahaan dengan aset yang besar lebih cepat mendiversifikasikan hutang yang lebih besar dan menekan financial distress dibanding  dengan perusahaan yang memiliki aset kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga antara ukuran perusahaan dan pembayaran dividen memiliki pengaruh yang positif Pada variabel cash flow di tahun 2005-2006 terjadi penurunan sebesar 10.83 milyar, namun DPR meningkat sebesar 3.77 %. Pada tahun 2006-2007 peningkatan cash flow diikuti oleh peningkatan DPR. Cash Flow meningkat 69.95 milyar dan DPR meningkat  sebesar 2.91 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori Jensen dalam Tarjo dan Jogiyanto HM (2003) mengenai cash flow, menyatakan bahwa tekanan pasar akan mendorong manajer untuk mendistribusikan cash flow kepada pemegang saham atau risiko akan kehilangan kendali terhadap perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada variabel DR fenomena terjadi pada tahun 2005-2006 dimana terjadi kenaikan  sebesar 0.01 % dan diikuti kenaikan DPR sebesar 3.77%. Pada tahun&lt;br /&gt;2006-2007 juga terdapat fenomena, dimana DR meningkat sebesar 0.03 % dan diikuti  peningkatan  DPR  sebesar  2.91  %.  Hal  ini  tidak  sesuai  dengan  teori Balancing model of agency cost. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akan  berusaha  mengurangi  agency  cost  of  debt  dengan  mengurangi  hutang sehingga untuk membiayai investasinya menggunakan pendanaan dari aliran kas internal yang secara tidak langsung akan mengurangi dividen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  ini  mencoba  mengembangkan  dari  penelitian  sebelumnya mengenai  faktor-faktor  yang  berhubungan  dengan  dividend  payout  ratio  pada perusahaan manufaktur  yang terdaftar di  Bursa Efek  Indonesia periode 2004-&lt;br /&gt;2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah tersebut,  maka  penelitian  ini  diberi  judul  “Analisis  Pengaruh  ROE,  Insider Ownership, Invesment Opportunity Set, Firm Size, Cash Flow, dan Debt Ratio Terhadap Dividend Payout Ratio ( Studi Empiris Perusahaan Manufaktur di BEI Periode 2004 – 2007 )”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5428535644134284483?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5428535644134284483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5428535644134284483&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5428535644134284483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5428535644134284483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-pengaruh-return-on-equity.html' title='Analisis Pengaruh Return On Equity, Insider Ownership, Investment Opportunity Set, Firm Size, Cash Flow, &amp; Debt Ratio Thdp Dividend Payout (EKN-125)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5361349032701563490</id><published>2011-02-15T15:37:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:40:07.803-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Kemampuan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Peringkat Obligasi Perusahaan Di Indonesia (EKN-124)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar modal sebagai pasar dari berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka  panjang yang dapat  diperjualbelikan,  menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan yang dapat  menunjang perkembangan ekonomi dan keuangan dalam suatu negara. Oleh karena itu, pasar  modal juga merupakan indikator kemajuan perekonomian  negara  tersebut.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.  Dalam  melaksanakan  fungsinya,  pasar  modal menjadi penghubung bagi pihak yang mempunyai kelebihan dana (investor) dan pihak yang membutuhkan dana (emiten) dalam tranksaksi pemindahan dana. Bagi investor, pasar modal dapat memberikan alternatif investasi yang lebih  variatif sehingga memberikan peluang untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Bagi emiten, pasar modal dapat memberikan sumber pendanaan lain untuk melakukan kegiatan operasional  termasuk  ekspansi usaha  selain  kredit  perbankan.  Modal yang diperjualbelikan dalam pasar modal terbagi menjadi dua, yaitu Debt Capital (modal hutang) dan Equity Capital (modal ekuitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obligasi merupakan salah satu jenis modal hutang yang diperjualbelikan dalam pasar  modal. Bursa Efek Indonesia (2010) mengartikan obligasi sebagai surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada  waktu yang telah ditentukan kepada   pihak   pembeli  obligasi  tersebut.   Dengan  demikian   obligasi  dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen pasar modal yang memberikan pendapatan tetap  (fixed-income securities) bagi pemegang obligasi . Menurut Purwaningsih (2008)   obligasi   menarik bagi   investor   dikarenakan   kelebihan   dalam   hal keamanannya bila dibandingkan dengan saham, yaitu (1) volatilitas saham lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi sehingga daya tarik saham berkurang, dan (2) obligasi  menawarkan  tingkat  return  yang  positif  dan  memberikan  pendapatan yang tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang investor  yang akan membeli obligasi hendaknya  tetap memperhatikan  default  risk,  yaitu  peluang  dimana  emiten  akan  mengalami kondisi tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya (gagal bayar). Menurut Manurung  dkk.  (2008),  obligasi  yang  diterbitkan  oleh  pemerintah,  biasanya mendapatkan   peringkat obligasi   investment   grade   (level   A),   dikarenakan pemerintah dianggap akan mampu untuk melunasi kupon dan pokok hutang saat obligasi jatuh tempo. Namun obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan (corporate bonds),   terdapat   default   risk,   yang   bergantung   pada   kesehatan   keuangan perusahaan emiten. Untuk menghindari risiko  tersebut,  investor harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah peringkat obligasi perusahaan emiten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat obligasi menyatakan skala risiko atau tingkat keamanan suatu obligasi  yang   diterbitkan.  Peringkat  obligasi  merupakan  sarana  pengawasan aktivitas manajemen (Foster,  1986: 501). Lebih lanjut, Raharja dan Sari (2008) mengungkapkan bahwa peringkat obligasi ini  penting karena peringkat tersebut memberikan   pernyataan yang informatif   dan memberikan sinyal   tentang probabilitas kegagalan hutang suatu perusahaan. Proses pemeringkatan berguna untuk  menilai  kinerja  perusahaan  dari  berbagai  faktor  yang  secara  langsung maupun  tidak  langsung  berhubungan  dengan  keuangan  perusahaan.  Berdasar informasi  peringkat  obligasi,   investor   dapat  mengetahui  return  yang  akan diperoleh sesuai dengan risiko yang dimiliki obligasi tersebut. Peringkat obligasi yang diberikan oleh agen pemeringkat dapat dikategorikan menjadi  dua, yaitu investment grade (AAA, AA, A, dan BBB) dan non-investment grade (BB,B, CCC, dan D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat  obligasi  diberikan  oleh  agen  pemeringkat  yang  independen, obyektif, dan  dapat  dipercaya. Investor dapat  menilai tingkat  keamanan suatu obligasi dan kredibilitas  obligasi berdasar  informasi yang  diperoleh dari agen pemeringkat.  Agen  pemeringkat  yang  terbesar  dan  terkenal  di  dunia  adalah Moody’s  dan  Standard   &amp;  Poor’s.   Sedangkan  di   Indonesia  terdapat   agen pemeringkat sekuritas hutang yaitu PT PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa kejadian yang menimbulkan suatu pertanyaan apakah peringkat obligasi yang dinilai oleh agen pemeringkat di Indonesia akurat. Salah satunya  pada peringkat obligasi Bank Global pada tahun 2004, dimana peringkat obligasi  dinilai  oleh  agen  pemeringkat  Kasnic  dengan  A-,  kemudian  dengan pengumuman BI bahwa izin Bank Global dibekukan peringkat obligasi tersebut diturunkan  menjadi  D  (default).  Menurut  Chan  dan  Jagadeesh  (1999)  dalam Amrullah   (2007),   salah   satu   alasan   mengapa   pemeringkat   obligasi   yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat tersebut bias karena agen Moody’s dan S&amp;P’s tidak  melakukan  monitor  terhadap  kinerja  perusahaan  setiap  hari.  Dengan demikian agen pemeringkat hanya dapat menilai setelah terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan perubahan peringkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foster (1986) mengungkapkan faktor dapat yang dipertimbangkan agen pemeringkat dalam menentukan pemeringkat suatu obligasi diantaranya berbagai rasio keuangan, provisi indentiture agreements, perlindungan terhadap aset yang ada dan kualitas manajemen. Tidak  terdapat  penjelasan lebih  lanjut  dari agen pemeringkat bagaimana laporan keuangan dapat  digunakan dalam menentukan peringkat obligasi. Hal ini yang mendorong peneliti untuk  melakukan penelitian mengenai  pemeringkatan  obligasi  dengan  menggunakan  rasio-rasio  keuangan yang  didasarkan pada  laporan keuangan perusahaan,  dengan  anggapan  bahwa laporan keuangan perusahaan lebih menggambarkan kondisi perusahaan. Analisis laporan keuangan yang berupa analisis rasio keuangan dan perhitungan statistik dapat  dipergunakan   untuk  mendeteksi  under  or  overvalued  suatu  sekuritas (Kaplan dan Urwitz, 1979 dalam Raharja dan Sari, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  terhadap  rasio  keuangan  di  Indonesia  banyak  dihubungkan dengan  harga   saham  ataupun  kinerja  perusahaan.  Sejumlah  penelitian  yang meneliti prediksi peringkat obligasi di Indonesia masih jarang dilakukan. Hal ini disebabkan  karena  keterbatasan  data  obligasi serta  pengetahuan  para  investor terhadap  obligasi.  Selain  itu,  Wansley  et  al.  (1992,  dalam Setyapurnama dan Norpratiwi) menyatakan bahwa sebagian besar perdagangan obligasi  dilakukan melalui  pasar  negosiasi  (over  the  counter  market)  dan  secara  historis  tidak terdapat informasi harga yang tersedia pada saat penerbitan atau saat penjualan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan  tidak  tersedianya  informasi  tersebut  membuat  pasar  obligasi  menjadi tidak semeriah pasar saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  penelitian  yang  dapat  ditemukan  telah  menguji  rasio-rasio keuangan yang dapat memprediksi peringkat obligasi di Indonesia dan ditemukan berbagai hasil empiris yang  berbeda. Nurhasanah (2003) menggunakan dua alat analisis yaitu Multiple Discriminant Analysis (MDA) dan Logistik untuk menguji&lt;br /&gt;26 rasio keuangan dan mengambil sampel perusahaan manufaktur. Dengan 99 observasi   obligasi,  didapatkan  variabel  yang  signifikan  dalam  memprediksi peringkat  obligasi  menggunakan MDA adalah LEVLTLTA,  LEVNWTA, LIK CACL, SOLNWFA, dan  PRODCGSS.  Sementara itu, dengan regresi logistik, diperoleh rasio LEVLTLTA dan SOLNWFA yang memberikan hasil signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesumawati (2003)  melakukan penelitian  pengaruh utang  obligasi dan faktor-faktor  yang mempengaruhi harga obligasi sebagai variabel terhadap yield premium obligasi. Dengan 6  variabel kontrol menggunakan 13 rasio keuangan, peneliti mengambil sampel dari agen PEFINDO periode 2000-2002 sebanyak 60 sampel. Dari alat analisis  MDA yang digunakan peneliti diperoleh rasio keuangan TLTA, rata-rata umur piutang, ROA, fix asset turnover dan  debt sebagai hasil yang signifikan mempengaruhi yield premium obligasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari   (2004) melakukan   penelitian yang membandingkan   ketepatan penentuan  peringkat obligasi dengan menggunakan lima rasio keuangan antara model yang diajukan dan penentuan peringkat yang dilakukan PEFINDO. Lima rasio keuangan tersebut adalah LEVLTLTA,  LIKCAICL, SOLCFOTL, PROFOIS, dan PRODSFA. Hasilnya, kelima rasio tersebut memiliki kemampuan membentuk model untuk memprediksi peringkat obligasi. Ketepatan model yang diajukan  peneliti  lebih  besar  (69,6%)  daripada  PEFINDO  (56,5%).  Sari pada tahun 2008 kembali  melakukan penelitian dengan menggunakan sampel tahun&lt;br /&gt;2004-2005 pada agen Kasnic. Dengan 52 observasi sebagai sampel, diperoleh hasil yang signifikan pada rasio LTLTA, CACL, CFLTL, OIS, dan STA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryanindita (2005) melakukan penelitian dengan menggunakan 41 rasio keuangan  dan  setelah  dilakukan  analisis  faktor  untuk  mendapatkan  kejelasan mengenai  proses  yang  tepat  dan  memberikan  kontribusi,  diperoleh  21  rasio keuangan yang terbagi menjadi 7 kelompok. Peneliti menggunakan analisis MDA dan  sampel  dari  agen  PEFINDO  dan  Kasnic  periode  1995-2003.  Hasil  yang diperoleh  rasio  CACL,  COIN  CFTA,  CATA,  SLTA,  NWTA,  NWTL  yang signifikan pada agen PEFINDO dan rasio CACL, COIN, SLAR, CLIN, SLCL, NITL yang signifikan pada agen Kasnic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  ini merupakan replikasi penelitian  Raharja dan Sari (2008). Proxy rasio  keuangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan proxy rasio keuangan yang signifikan pada penelitian Sari (2008), yaitu LTLTA, CACL, CFLTL,  OIS,  dan  STA.   Penelitian  Raharja  dan  Sari  merupakan  penelitian terhadap peringkat obligasi pada agen pemeringkat Kasnic. Adanya dampak dari krisis global pada tahun 2008 berakibat pada penutupan kantor cabang Moodys d i Indonesia  (Kasnic)  pada  tahun  2009,  sehingga   dilakukan   penarikan  secara nasional peringkat obligasi agen Kasnic. Berdasar hal tersebut  perlu dilakukan pengujian   kembali  terhadap   kemampuan  prediksi  rasio   keuangan dalam penelitian Raharja dan Sari (2008) pada agen pemeringkat PEFINDO, agar dapat diperoleh informasi mengenai rasio keuangan yang mampu membentuk model prediksi  peringkat obligasi yang lebih tepat dengan menggunakan data laporan keuangan terbaru tahun 2007-2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penelitian ini  mengambil  judul  ”Kemampuan  Rasio  Keuangan  dalam  Memprediksi Peringkat Obligasi Perusahaan di Indonesia”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5361349032701563490?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5361349032701563490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5361349032701563490&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5361349032701563490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5361349032701563490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/kemampuan-rasio-keuangan-dalam.html' title='Kemampuan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Peringkat Obligasi Perusahaan Di Indonesia (EKN-124)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5752381961167903395</id><published>2011-02-15T15:35:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:37:39.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Corporate Governance Dan Profitabilitas; Pengaruhnya Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (EKN-123)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) merupakan  sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam  kondisi keuangannya (financial) saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple  bottom lines yaitu juga memperhatikan masalah sosial dan lingkungan (Daniri, 2008a).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya  sendiri saja sehingga  teralienasi  atau  mengasingkan  diri  dari  lingkungan  masyarakat  di  tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan  lingkungan sosialnya. CSR Asia seperti dikutip Darwin (2008) memberikan definisi CSR sebagai  berikut; CSR is a company’s commitment to operating in an economically, socially and  environmentally sustainable manner whilst balancing the interests of diverse stakeholders. Utama (2007) menyatakan bahwa perkembangan CSR terkait  dengan  semakin  parahnya  kerusakan  lingkungan  yang  terjadi  di  Indonesia maupun dunia, mulai dari penggundulan hutan, polusi udara dan air, hingga perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan tersebut, Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang   Perseroan  Terbatas  diterbitkan  dan  mewajibkan  perseroan  yang  bidang usahanya di bidang atau terkait dengan bidang sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Undang-Undang tersebut (Pasal 66 ayat 2c) mewajibkan semua perseroan untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab social dan lingkungan  dalam Laporan Tahunan. Pelaporan tersebut merupakan pencerminan dari perlunya akuntabilitas perseroan atas   pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan, sehingga  para stakeholders dapat menilai pelaksanaan kegiatan tersebut. CSR dalam undang-undang tersebut  (Pasal 1 ayat 3) dikenal dengan istilah tanggung jawab sosial dan lingkungan yang diartikan sebagai komitmen perseroan untuk berperan serta dalam   pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi  perseroan  sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena perkembangan isu CSR secara khusus dibahas oleh majalah MIX edisi 16 Oktober 2006. Menurut penelusurannya, dalam lima tahun terakhir ini istilah CSR sangat popular di  Indonesia. Banyak perusahaan antusias menjalankan karena beberapa  hal,  antara  lain;  dapat  meningkatkan  citra  perusahaan,  dapat  membawa keberuntungan perusahaan, dan dapat menjamin keberlangsungan. Warta Ekonomi pada tahun 2006 melaporkan bahwa perusahaan semakin menyadari pentingnya menerapkan program CSR sebagai bagian dari strategi bisnisnya. Survey global yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa 85% eksekutif senior dan investor dari   berbagai   organisasi   menjadikan   CSR   sebagai   pertimbangan   utama   dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniri  (2008b)  menyatakan  bahwa  pelaksanaan  CSR  di  Indonesia  sangat tergantung  pada  pimpinan  puncak  korporasi.  Artinya,  kebijakan  CSR  tidak  selalu dijamin selaras dengan visi  dan misi korporasi. Jika pimpinan perusahaan memiliki kesadaran  moral  yang  tinggi,  besar   kemungkinan  korporasi  tersebut  menerapkan kebijakan CSR yang benar. Sebaliknya, jika orientasi pimpinannya hanya berkiblat pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi)  serta  pencapaian  prestasi  pribadi,  boleh  jadi  kebijakan  CSR  hanya  sekadar kosmetik. Daniri (2008c) menyebutkan bahwa pemahaman perusahaan tentang konsep CSR masih beragam yang salah satunya disebabkan minimnya literatur yang ada. Hal senada juga diungkapkan Miranty dalam tulisannya di majalah MIX edisi 16 Oktober 2006. Sampai  saat  ini,  pemahaman  mengenai  CSR  masih  belum  merata.  Banyak perusahaan  yang menjadikan karitas (charity) sebagai bentuk CSR mereka. Padahal CSR  seyogyanya  merupakan  kebijakan  strategis  dengan  tujuan  jangka  panjang  dan dilaksanakan secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utama (2007) mengungkapkan bahwa saat ini tingkat pelaporan dan pengungkapan CSR di Indonesia masih relatif rendah. Selain itu, apa yang dilaporkan dan  diungkapkan  sangat  beragam,  sehingga  menyulitkan  pembaca  laporan  tahunan untuk melakukan  evaluasi. Pada umumnya yang diungkapkan adalah informasi yang sifatnya positif mengenai  perusahaan. Laporan tersebut menjadi alat public relation perusahaan dan bukan sebagai bentuk akuntabilitas perusahaan ke publik. Dan hingga kini belum terdapat kesepakatan standar pelaporan  CSR yang dapat dijadikan acuan bagi  perusahaan  dalam  menyiapkan  laporan  CSR.  (www.ui.edu).  Syafrani  (2007) menyatakan  bahwa  pengaturan  CSR  dalam  pasal  74  UU  No.  40  Tahun  2007 menimbulkan kontroversi. (www.legalitas.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darwin  (2007)   dalam   Novita   dan   Djakman   (2008)   menyatakan   bahwa pengungkapan kinerja lingkungan, sosial, dan ekonomi di dalam laporan tahunan atau laporan terpisah adalah untuk mencerminkan tingkat akuntabilitas, responsibilitas, dan transparansi korporat kepada investor dan stakeholders lainnya. Pengungkapan tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan dengan publik dan stakeholders lainnya tentang bagaimana perusahaan telah mengintegrasikan corporate social responsibilty (CSR): - lingkungan dan sosial - dalam setiap  aspek   kegiatan  operasinya.  Selain  itu,  perusahaan  juga  dapat  memperoleh legitimasi dengan memperlihatkan tanggung jawab sosial melalui pengungkapan CSR dalam media termasuk dalam  laporan tahunan perusahaan (Oliver, 1991; Haniffa dan Coke,  2005;  Ani,  2007).  Kiroyan  (2006)   dalam  Sayekti  dan  Wondabio  (2007) menyatakan bahwa dengan menerapkan CSR, diharapkan perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan yang menerapkan CSR  mengharapkan akan direspon positif oleh para pelaku pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belkaoui (1989) dalam Anggraini (2006), menemukan hasil (1) pengungkapan sosial mempunyai hubungan yang positif dengan kinerja sosial perusahaan yang berarti bahwa perusahaan  yang  melakukan aktivitas sosial akan mengungkapkannya dalam laporan sosial, (2) ada hubungan positif antara pengungkapan sosial dengan visibilitas politis,   dimana   perusahaan   besar   yang   cenderung   diawasi   akan   lebih   banyak mengungkapkan  informasi  sosial  dibandingkan  perusahaan  kecil,  (3)  ada  hubungan negatif antara pengungkapan sosial dengan tingkat financial leverage, hal ini  berarti semakin  tinggi  rasio  utang/modal  semakin  rendah  pengungkapan  sosialnya  karena semakin  tinggi tingkat leverage maka semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian  kredit. Sehingga perusahaan harus menyajikan laba yang lebih tinggi pada saat sekarang dibandingkan laba di masa depan. Supaya perusahaan dapat menyajikan laba yang lebih tinggi, maka perusahaan  harus mengurangi biaya-biaya (termasuk biaya-biaya untuk mengungkapkan informasi sosial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab  sosial   di  Indonesia  memunculkan  hasil  yang  beragam.  Sembiring  (2003) menghasilkan   temuan   bahwa   profitabilitas   tidak   terbukti   berpengaruh   terhadap pengungkapan  CSR.  Variabel  ukuran   perusahaan  terbukti  signifikan  berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Penelitian Sembiring (2005) menunjukkan  hasil  yang  hampir  sama.  Variabel  independen  yang   diteliti  adalah profitabilitas, size, leverage, ukuran dewan komisaris dan profile. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap  pengungkapan  CSR.  Variabel  lainnya  (ukuran  dewan  komisaris,  size,  dan profile)  menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggraini  (2006)  dalam  penelitiannya  menunjukkan  hasil  yang  berbeda. Profitabilitas dan size perusahaan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial.   Variabel   prosentase   kepemilikan   manajemen   dan   tipe   industri   terbukti mempunyai  hubungan  positif  signifikan.   Temuan  ini  sejalan  dengan  hasil  yang diperoleh  Hackston  dan  Milne  (1996)  dalam  Anggraini  (2006)  yang  tidak  berhasil menemukan hubungan profitabilitas dengan pengungkapan informasi  sosial. Reverte (2008) serta Branco dan Rodriguez (2008) juga menemukan hasil yang sama, yaitu profitabilitas tidak terbukti signifikan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan CSR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian  Sembiring  (2003  dan  2005)  dan  Anggraini  (2006)  di  atas berbeda dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Roberts (1992) dan Gray dkk. (1999) dalam Parsa dan Kouhy (1994) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengungkapan   sosial   dengan   profitabilitas.   Penelitian   Parsa   dan   Kouhy   (1994) menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan yang diukur dengan proksi trading profit margin  menunjukkan  hubungan  positif  terhadap  pengungkapan  sosial.  Hossain  dkk (2006) juga  menemukan  hasil  yang  sama.  Profitabilitas  (dengan  proksi  net  profit margin)   mempunyai  pengaruh  signifikan  terhadap  pengungkapan  tanggung  jawab sosial. Dan faktor tipe industri juga terbukti signifikan berpengaruh positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farook  dan   Lanis   (2005)   menemukan   bahwa   faktor   size   tidak   terbukti berpengaruh  terhadap  pengungkapan  CSR.  Sementara  Novita  dan  Djakman  (2008) menemukan  hasil  berbeda,  bahwa  size  perusahaan  terbukti  berpengaruh  signifikan. Parsa dan Kouhy (2007) melakukan penelitian tentang pengungkapan informasi sosial oleh  perusahaan  kecil  dan  menengah  (UMKM)   yang  terdaftar  pada  Alternative Investment Market (AIM) Inggris menghasilkan temuan bahwa size  brkorelasi positif terhadap  pengungkapan  CSR.  Hasil  yang  sama  juga  diperoleh  Reverte  (2008)  dan Branco   dan   Rodriguez   (2008),   yaitu   bahwa   size   berpengaruh   positif   terhadap pengungkapan CSR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial juga dikaitkan dengan corporate   governance.  Forum  for  Corporate  Governance  in  Indonesia  (FCGI) mendefinisikan corporate governance sebagai sistem yang mengarahkan dan mengendalikan  perusahaan.  Menilik  definisi  tersebut,  bahwa  corporate  governance merupakan   system  yang  dapat  memberikan  arahan  dan  kendali  agar  perusahaan melaksanakan dan mengungkapkan aktivitas CSRnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tentang  kaitan  corporate  governance  dengan  pengungkapan  CSR dilakukan oleh Novita dan Djakman (2008) dan juga dilakukan oleh Farook dan Lanis (2005)  dengan  sampel   bank  Islam  di  seluruh  dunia.  Farook  dan  Lanis  (2005) menemukan bahwa islamic governance (sebagai proksi corporate governance di bank Islam) terbukti berpengaruh positif secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab  sosial.  Novita  dan  Djakman  (2008)  menemukan  hasil   bahwa  kepemilikan institusional tidak mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Hal ini senada dengan hasil penelitian Barnae dan Rubin (2005) yang menyebutkan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki hubungan dengan pengungkapan CSR. Demikian juga dengan variabel kepemilikan asing yang tidak terbukti berpengaruh signifikan.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5752381961167903395?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5752381961167903395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5752381961167903395&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5752381961167903395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5752381961167903395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/corporate-governance-dan-profitabilitas.html' title='Corporate Governance Dan Profitabilitas; Pengaruhnya Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (EKN-123)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3266470021066715573</id><published>2011-02-15T15:32:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:35:18.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Pengaruh  Informasi  Arus  Kas  Dan  Laba  Akuntansi Terhadap Harga Saham Dan Return  Saham (Studi Empiris pada Perusahaan Consumer Goods (EKN-122)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar modal memiliki peran besar dalam perekonomian suatu negara, seperti  Indonesia,  karena  pasar  modal  menjalankan  dua  fungsi  sekaligus, yaitu fungsi ekonomi  dan fungsi keuangan. Pasar modal disebut memiliki fungsi  ekonomi  karena  menyediakan  fasilitas  untuk  mempertemukan  dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal  maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan)  dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal disebut memiliki fungsi keuangan karena pasar modal memberikan kemungkinan  dan  kesempatan  memperoleh  imbalan  (return)  bagi  pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadji  (2001),  dengan  adanya  pasar  modal  diharapkan  aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan. Dengan demikian, perusahaan dapat beroperasi   dengan   skala   yang   lebih   besar   dan   pada   gilirannya   akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang investor harus memiliki perencanaan investasi yang efektif agar  memperoleh  keuntungan  di  pasar  modal.  Perencanaan  ini  meliputi pertimbangan  keputusan  yang  diambil  untuk  mengalokasikan  dana  yang dimiliki dalam bentuk aktiva tertentu dengan harapan mendapat keuntungan ekonomis di masa  mendatang. Salah satu bentuk investasi yang dilakukan investor adalah membeli saham,  dengan harapan akan memperoleh return baik  berupa  dividen  maupun  capital  gain.   Dalam  mempertimbangkan keputusannya untuk berinvestasi dalam bentuk saham, investor membutuhkan berbagai informasi mengenai perusahaan issuer. Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang penting dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  Asyik   (1999)   dijelaskan   bahwa   sebelum   dikeluarkannya Statement of Financial Accounting Standard (SFAS) No. 95, laporan arus kas belum   merupakan   bagian   dari   pelaporan   keuangan   karena   pelaporan keuangan yang dikehendaki oleh Generally Accepted Accounting Principles (GAAP)  hanya  neraca  dan  laporan  laba  rugi.  Laporan  arus  dana  yang diharuskan oleh Accounting Principles Board (APB) sejak tahun 1971 masih bersifat  sukarela  dan  posisinya  dalam  pelaporan  keuangan  masih  bersifat suplemen.  Laporan  arus  dana  banyak  menimbulkan  kritik  karena  tidak memberikan pengungkapan yang cukup mengenai kemampuan perusahaan untuk menentukan pendanaan jangka pendek dan memilih keputusan investasi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tanggal  7  September  1994,  Ikatan  Akuntan  Indonesia  (IAI) mengeluarkan  Standar  Akuntansi  Keuangan  (SAK)  yang  mulai  berlaku efektif tanggal  1 Januari 1995 dan melalui Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2, IAI mengubah penyajian laporan perubahan posisi keuangan yang semula berupa laporan arus  dana tersebut menjadi laporan arus kas.  Dalam Asyik (1999), IAI berargumentasi bahwa informasi arus kas historis  berguna untuk: (1) menunjukkan jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan, dan (2) meneliti kecermatan taksiran arus kas masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan bagi investor, kreditor, dan pengguna lainnya. Laba akuntansi dalam laporan keuangan  merupakan salah satu parameter kinerja perusahaan yang mendapat   perhatian   utama   dari   investor.   Investor   juga   menggunakan informasi dalam laporan arus kas sebagai ukuran kinerja perusahaan. Kedua ukuran  kinerja,  yaitu  laba  akuntansi  dan  informasi  arus  kas,  harus  dapat meyakinkan investor serta menjadi fokus perhatian investor dalam mengambil keputusan.   Ukuran   kinerja   akuntansi   perusahaan   yang   menjadi   fokus perhatian  investor  adalah  yang  mampu  menggambarkan  kondisi  ekonomi dengan baik serta menyediakan sebuah dasar bagi peramalan aliran kas masa depan  suatu  saham  biasa.  Harga  dan  return  saham  merupakan  alat  yang digunakan untuk mengukur peramalan aliran kas masa depan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono dan Hartono (1998) melakukan penelitian mengenai hubungan kandungan informasi arus kas, komponen arus kas dan laba akuntansi dengan harga atau return saham. Hasilnya menunjukkan bahwa total arus kas tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham, tetapi dari hasil analisis ditemukan bahwa pemisahan total arus kas ke dalam tiga komponen arus  kas,  yaitu  arus  kas  dari  aktivitas  pendanaan,  investasi  dan  operasi mempunyai  hubungan  yang  signifikan  dengan  harga  saham  (penelitian menggunakan model levels). Pengujian yang dilakukan pada laba akuntansi menunjukkan  adanya hubungan antara laba akuntansi dengan harga saham.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengujian dengan model return menunjukkan bahwa perubahan laba akuntansi   dan  perubahan  arus  kas  tidak  menunjukkan  hubungan  yang signifikan dengan return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Ardiyanto  (2003)  bertujuan  untuk  mengetahui  hubungan antar komponen arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan dengan abnormal  return saham serta mengetahui hubungan antara arus kas total dengan abnormal return  saham. Hasil studi mengindikasikan bahwa komponen arus kas yang diminta oleh PSAK  No. 2 berhubungan dengan abnormal return saham, sebaliknya arus kas total tidak berhubungan dengan abnormal return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handoyo  (2006)   melakukan   penelitian   untuk   memperoleh   bukti empiris mengenai pengaruh kandungan informasi arus kas dan laba akuntansi terhadap harga saham,  serta memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh perubahan total arus kas dan perubahan laba akuntansi terhadap return saham. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  total  arus  kas  mempunyai  pengaruh signifikan  terhadap  harga  saham,  perubahan  arus  kas  tidak  berpengaruh terhadap  return  saham,  laba  akuntansi  tidak  berpengaruh  terhadap  harga saham,  dan  perubahan  laba  akuntansi  tidak  berpengaruh  terhadap  return saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  di  atas,  peneliti  bermaksud  untuk  melakukan replikasi terhadap penelitian yang dilakukan oleh Triyono dan Hartono (1998) tersebut untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh informasi arus kas  dan  laba  akuntansi  terhadap  harga  saham,  serta  pengaruh  perubahan informasi  arus  kas  dan  perubahan  laba  akuntansi  terhadap  return  saham.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan  penelitian   ini   dengan   penelitian   sebelumnya   terletak   pada pemilihan sampel dan pemakaian tahun buku sampel. Sampel yang digunakan dalam  penelitian   sebelumnya  adalah  perusahaan  manufaktur  sedangkan penelitian ini menggunakan  perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEJ.  Penelitian  sebelumnya  menggunakan  sampel  dengan  periode  waktu&lt;br /&gt;1995 dan 1996, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan sampel dengan periode  waktu  2002 hingga 2005. Judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “Pengaruh  Informasi Arus Kas dan Laba Akuntansi terhadap Harga Saham dan Return Saham (Studi Empiris pada Perusahaan Consumer Goods yang Terdaftar di BEJ)”.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3266470021066715573?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3266470021066715573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3266470021066715573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3266470021066715573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3266470021066715573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/pengaruh-informasi-arus-kas-dan-laba.html' title='Pengaruh  Informasi  Arus  Kas  Dan  Laba  Akuntansi Terhadap Harga Saham Dan Return  Saham (Studi Empiris pada Perusahaan Consumer Goods (EKN-122)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1428251965895118255</id><published>2011-02-15T15:29:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T15:31:15.286-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Analisis Perbandingan Kinerja Perusahaan Domestik Dan Asing Dengan Menggunakan Rasio Modal Saham (EKN-121)</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia  merupakan  salah  satu  negara  berkembang,  dimana  salah  satu  faktor pendukung berkembangnya suatu negara adalah dari bidang ekonomi. Di bidang ekonomi inilah tentunya yang  berkaitan dengan banyaknya berdirinya perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Perusahaan yang  berdiri itu bisa milik asing maupun domestik dengan modal  kecil  maupun  modal  yang  sangat  besar.  Masyarakat  cenderung  menilai  bahwa kinerja perusahaan asing lebih baik dibandingkan dengan  perusahaan domestik. Hal ini, disebabkan adanya anggapan bahwa perusahaan asing mempunyai modal yang relatif lebih besar,  teknologinya,  serta  keahlian  yang  dimiliki  lebih  baik  dibandingkan   dengan perusahaan domestik. Anggapan lainnya yaitu pada saat sebelum, semasa, dan setelah krisis kinerja perusahaan milik asing lebih baik dibandingkan kinerja perusahaan domestik.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  saat  sebelum  krisis  perekonomian  Indonesia  sangat  baik  sehingga  kinerja perusahaanpun baik. Namun pada saat krisis dimana perekonomian Indonesia sedang buruk sehingga  kinerja perusahaanpun sangat  buruk. Hal  ini, disebabkan  karena biaya bahan baku, biaya produksi, dan biaya pemasaran menjadi sangat mahal. Sedangkan setelah krisis perekonomian  Indonesia  sudah  menjadi  baik  kembali  sehingga  kinerja  perusahaanpun&lt;br /&gt;kembali menjadi baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, berhasil atau tidaknya suatu perusahaan pada umumnya ditandai dengan kemampuan  manajemen dalam melihat kemungkinan dan kesempatan dimasa yang akan datang  baik  jangka   pendek   maupun  jangka  panjang.  Oleh  karena  itu,  adalah  tugas manajemen untuk merencanakan masa depan perusahaannya, agar sedapat mungkin semua semua kemungkinan dan kesempatan dimasa  yang akan datang telah disadari dan telah direncanakan  cara  menghadapi  sejak  sekarang.  Perencanaan  pada  dasarnya  merupakan kegiatan membentuk masa depan sekarang. Kegiatan pokok manajemen dalam perencanaan perusahaan  adalah  memutuskan  sekarang  berbagai  macam  alternatif   dan  perumusan kebijakan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran yang sering dipakai untuk menilai berhasil atau tidaknya manajemen suatu perusahaan  adalah  laba  bersih  yang  terdapat  di  dalam  laporan  keuangan  perusahaan. Laporan keuangan tidak  hanya ditujukan bagi pihak internal perusahaan tetapi juga bagi pihak eksternal perusahaan. Setiap elemen laporan keuangan akan mempunyai makna yang lebih  bila  dianalisis  dengan  berbagai  model  yang  tersedia  dengan  kebutuhan  pemakai informasi.  Manajemen  merupakan  pihak  yang  bertanggung  jawab  tentang  pencapaian tujuan perusahaan maka dengan sendirinya manajemen berkepentingan untuk mengetahui, mengukur, merencanakan dan mengendalikan semua resiko keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, manajer pada suatu perusahaan, harus mempunyai alat yang dapat membuat investor percaya  bahwa dananya akan lebih produktif dan menguntungkan bila ditanam dalam  perusahaan mereka. Pihak manajemen juga harus meningkatkan kualitas dan kinerja perusahaan.  Termasuk dalam lingkup tanggung jawab tersebut, manajemen&lt;br /&gt;harus  menciptakan  rasio  keuangan  yang  sehat  sehingga  dapat  memberikan  jaminan pencapaian kepentingan semua pihak, baik internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal saham merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan pada  Perseroan Terbatas. Pihak manajemen harus melaporkan keadaan perusahaan kepada para pemegang saham. Pemegang saham sebagai investor sangat berkepentingan dalam sebuah perusahaan, yaitu untuk mengetahui apakah mereka akan mendapatkan keuntungan atau mendapatkan resiko  dalam  menanamkan  dananya  dalam   sebuah  perusahaan  dengan  menggunakan analisis rasio keuangan perusahaan. Salah satu teknik yang  digunakan untuk penyajian analisis ini adalah rasio modal saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pihak manajemen hasil analisis ini menjadi sangat penting karena dengan menggunakan pendekatan analisis tersebut kinerja manajemen dapat diukur dan dievaluasi, baik dalam satu periode berjalan maupun dalam satu siklus operasi tahunan secara berturut- turut.  Sebagaimana  halnya  pihak  manajemen,  pihak-pihak  luar  perusahaan  juga  dapat mengetahui kinerja dan menilai  prospek sebuah perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  latar  belakang  yang  telah  diuraikan  diatas,  penulis  tertarik  untuk mengambil judul  “  ANALISIS  PERBANDINGAN  KINERJA  PERUSAHAAN DOMESTIK DAN   ASING  DENGAN  MENGGUNAKAN  RASIO  MODAL SAHAM   “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1428251965895118255?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1428251965895118255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1428251965895118255&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1428251965895118255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1428251965895118255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2011/02/analisis-perbandingan-kinerja.html' title='Analisis Perbandingan Kinerja Perusahaan Domestik Dan Asing Dengan Menggunakan Rasio Modal Saham (EKN-121)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-345052661045729875</id><published>2010-08-04T17:24:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:27:18.245-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Penggunaan Sistem Du-Pont sebagai SALAH SATU Metode Untuk Menganalisis Tingkat Return Perusahaan dalam rangka Evaluasi Kinerja Keuangan (EKN-120)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Perkembangan dunia usaha mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Hal ini menyebabkan persaingan diantara para pelaku usaha juga semakin kompetitif. Persaingan usaha yang ketat  terjadi ditengah kondisi ekonomi negara yang masih dalam kondisi perbaikan akibat krisis ekonomi yang melanda beberapa waktu, memberikan hadangan bagi pelaku usaha untuk berkembang. Suku bunga bank yang cukup tinggi, pengangguran semakin banyak, harga bahan bakar yang meningkat, daya beli masyarakat yang belum pulih, nilai tukar rupiah yang masih terus berfluktuatif serta keadaan keamanan dalam negeri yang masih belum kondusif membuat persaingan usaha menjadi semakin ketat guna mempertahankan kelangsungan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha sebagai pemilik perusahaan harus terus semakin kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kinerja perusahaannya agar investor tertarik masuk dalam pengembangan usaha. Untuk mendukung kondisi usaha agar semakin baik, diperlukan juga dukungan pemerintah dengan senantiasa mengeluarkan kebijakan yang mendukung terciptanya iklim investasi yang semakin baik. Investor dalam rangka untuk menanamkan modalnya membutuhkan serangkaian informasi yang bermanfaat untuk mendukung pengambilan keputusan ekonominya, baik informasi yang berasal dari intern dan ekstern perusahaan. Laporan keuangan dapat menjadi sumber informasi bagi investor yang berasal dari pihak intern perusahaan.&lt;br /&gt;Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban pihak manajemen kepada pemegang saham sebagai representasi dari aktivitasnya selama periode tertentu. Laporan ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahui kinerja dan menilai perkembangan yang dicapai perusahaan. Dari laporan keuangan diperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan perusahaan terutama yang berkaitan dengan posisi keuangan, kinerja perusahaan serta perubahan posisi keuangan. Informasi mengenai kinerja keuangan serta tingkat kesehatan perusahaan dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan karena sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan ekonominya. Untuk mendapatkan informasi dari laporan keuangan dapat digunakan analisa laporan keuangan, yang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menilai kinerja dan memperoleh informasi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan pemakainya sebagai dasar pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan adalah seni untuk mengubah data dari laporan keuangan ke informasi yang berguna bagi pengambil keputusan (Van Horne &amp;amp; Waschowicz, 2005, h. 193).&lt;br /&gt;Rasio Keuangan merupakan salah satu cara yang paling sering digunakan dalam analisa laporan keuangan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan. Faktor-faktor utama dalam rasio keuangan yang mendapatkan perhatian seorang analis keuangan adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi atau kewajiban jangka pendek atau likuiditas, juga dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau solvabilitas. Faktor lain ialah kemampuan perusahaan dalam mengefektifkan penggunaan aset dihubungkan dengan aktivitas aset atau aktivitas dan tingkat profitabilitasnya atau kemampuan dalam menghasilkan laba. Penggunaan salah satu rasio keuangan di atas tidak dapat digunakan untuk menilai keseluruhan hasil kegiatan yang sudah dilakukan perusahaan. Untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan perlu digunakan sejumlah rasio dan dilakukan penilaian secara bersama-sama. ROI dan ROE merupakan beberapa rasio profitabilitas dalam analisa rasio keuangan yang digunakan sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Rasio ROI dan ROE digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.&lt;br /&gt;Sistem Du-Pont merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Du-Pont Company untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Sistem ini memberikan gambaran faktor-faktor yang saling berhubungan dan berpengaruh pada tingkat pengembalian atas investasi suatu perusahaan (ROI) dan tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) yaitu marjin laba bersih, perputaran total aktiva dan tingkat hutang suatu perusahaan. Dengan mengetahui dan memahami faktor-faktor tersebut, dapat membantu manajemen dalam memutuskan kebijakannya dalam rangka untuk meningkatkan tingkat pengembalian atas investasi dan ekuitas suatu perusahaan.&lt;br /&gt;Industri rokok merupakan salah satu dari banyak industri yang ada di Indonesia. Industri rokok beberapa tahun ini mengalami kondisi yang cukup dilematis, khususnya di Indonesia. Di satu sisi, semakin meluasnya kampanye anti rokok didunia melalui Konvensi Internasional Pengendalian Produk Tembakau,  makin ketatnya peraturan-peraturan tentang rokok, seperti pembatasan ruang gerak dalam beriklan, dibatasinya tempat-tempat umum untuk merokok, peringatan kesehatan pada setiap kemasan, pencantuman kandungan tar dan nikotin, kebijakan harga jual eceran dan tarif cukai yang naik, serta maraknya peredaran rokok ilegal yang tanpa cukai membuat industri rokok di negara ini semakin tertekan. Di sisi lain, industri rokok merupakan penyumbang penerimaan negara dari cukai paling besar serta mempunyai kemampuan untuk menyerap tenaga kerja yang cukup besar pula, ditengah meningkatnya tingkat pengangguran di Indonesia. Selain itu rokok sebagai produk industri rokok, juga telah menjadi gaya hidup yang telah berakar cukup kuat di masyarakat, bahkan dapat disebut masuk dalam “norma sosial” masyarakat. Keadaan-keadaan tersebut, menjadikan industri rokok dan produknya, menjadi kontroversi di kalangan masyarakat dan pemerintah. Industri rokok dan produknya, dikategorikan musuh karena dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, sekaligus menjadi kawan karena industri ini menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah melalui lapangan pekerjaan dan cukainya.&lt;br /&gt;Ditengah kontroversi mengenai industri rokok tersebut di atas,                  PT. Gudang Garam Tbk, yang merupakan salah satu perusahaan besar termasuk industri rokok, harus dapat memberikan gambaran bahwa industri ini dapat memberikan prospek yang bagus di masa depan, khususnya kepada para pemilik saham. Hal ini menjadi tugas  manajemen PT. Gudang Garam Tbk untuk dapat mewujudkan lewat perencanaan perusahaan. Dalam rangka mendukung perencanaan perusahaan, manajemen PT. Gudang Garam Tbk membutuhkan informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perusahaan, terutama kondisi keuangan perusahaan. Laporan keuangan dapat menjadi sumber  untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi keuangan                                          PT. Gudang Garam Tbk dengan tepat dan akurat. Penggunaan rasio keuangan dalam analisa laporan keuangan diharapkan dapat membantu manajemen             PT. Gudang Garam Tbk untuk mengetahui kondisi perusahaan, terutama tingkat kinerja keuangan perusahaan, dalam kurun waktu tertentu berhasil atau tidak dalam pengelolaan perusahaan. Untuk memahami tingkat return                            PT. Gudang Garam Tbk yaitu tingkat ROI dan ROE nya, dapat dianalisa lebih lanjut menggunakan Sistem Du-Pont, yang berguna untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dan berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan terhadap investasi dan ekuitas dari pemilik atau pemegang saham.&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengambil judul “Penggunaan Sistem Du-Pont sebagai Salah Satu Metode untuk Menganalisis Tingkat Return Perusahaan dalam rangka Evaluasi Kinerja Keuangan Perusahaan”  ( Studi pada PT. Gudang Garam Tbk. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimana gambaran keadaan kinerja keuangan PT. Gudang Garam Tbk, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir  (tahun 2003-2005) ?&lt;br /&gt;2. Bagaimana tingkat ROI dan ROE  PT. Gudang Garam Tbk, jika dianalisa dengan Sistem Du-Pont ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah:&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan PT. Gudang Garam Tbk, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005).&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui tingkat ROI dan ROE PT. Gudang Garam Tbk jika dianalisa menggunakan Sistem Du-Pont.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kontribusi Penelitian&lt;br /&gt;1. Kontribusi Akademis&lt;br /&gt;a. Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Dapat menambah ilmu pengetahuan serta pengalaman dalam menganalisa permasalahan yang terdapat dalam perusahaan.&lt;br /&gt;b. Bagi Masyarakat&lt;br /&gt;Dapat memberikan informasi bagi pembaca sebagai bahan study dan referensi serta pihak lain yang mengadakan penelitian lebih lanjut yang sesuai dengan bahasan pada penelitian ini.&lt;br /&gt;2. Kontribusi Praktis&lt;br /&gt;a. Bagi Perusahaan&lt;br /&gt;Dapat memberikan sumbangan berupa masukan atau pemikiran dalam bentuk saran-saran yang bermanfaat dalam peningkatan perbaikan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Sistematika Pembahasan&lt;br /&gt;BAB I  PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Bab yang memuat pengantar bagi penelitian ini seperti latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kontribusi penelitian serta sistematika pembahasan.&lt;br /&gt;BAB II TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;Bab yang menjelaskan teori yang menjadi dasar dalam membahas permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, dan terdiri dari teori tentang Laporan Keuangan, Analisis Laporan Keuangan, Sistem Du-Pont, dan Evaluasi Kinerja Perusahaan.&lt;br /&gt;BAB III  METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Menjelaskan mengenai Jenis penelitian, Fokus penelitian, Lokasi Penelitian, Sumber Data, Metode Pengumpulan Data, Instrumen Penelitian dan Analisis Data yang dipakai peneliti didalam melakukan penelitian.&lt;br /&gt;BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Menjelaskan mengenai hasil dari penelitian yang berisi tentang gambaran umum perusahaan yaitu PT. Gudang Garam Tbk, seperti Sejarah Perusahaan, Penawaran Umum Efek Perusahaan, Anak Perusahaan, Struktur Organisasi, Sumber Daya Manusia, Proses Produksi, Produk, Saluran Distribusi serta Laporan Keuangan Konsolidasi (Neraca dan Laporan Laba Rugi). Terdapat juga analisis data mengenai analisis rasio keuangan dan analisis Sistem Du-Pont terhadap ROI dan ROE PT. Gudang Garam Tbk, beserta interpretasi dan pembahasannya.&lt;br /&gt;BAB V  PENUTUP DAN SARAN&lt;br /&gt;Bagian ini memaparkan tentang kesimpulan yang didapat dari penelitian yang sudah dilakukan serta saran-saran yang direkomendasikan untuk perusahaan yaitu PT. Gudang Garam Tbk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan file tersebut diatas dalam bentuk MS-Word, silahkan klik &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ziddu.com/download/11078630/ekn-120.doc.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-345052661045729875?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/345052661045729875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=345052661045729875&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/345052661045729875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/345052661045729875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/penggunaan-sistem-du-pont-sebagai-salah.html' title='Penggunaan Sistem Du-Pont sebagai SALAH SATU Metode Untuk Menganalisis Tingkat Return Perusahaan dalam rangka Evaluasi Kinerja Keuangan (EKN-120)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-8090355699744546123</id><published>2010-08-04T17:20:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:23:54.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Analisis Kinerja Keuangan pada PDAM Kabupaten Sukoharjo tahun 2002-2005 (EKN-119)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Negara seperti negara di dunia pasti mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan negara ini diwujudkan dalam penyelenggaraan negara. Penyelenggaraan negara dilaksanakan melalui pembangunan nasional dalam segala aspek oleh penyelenggara negara. Konsep pembangunan secara umum adalah usaha untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat, melalui pembangunan diusahakan ada perbaikan dari kondisi pasif, statis, dan tertinggal manjadi aktif, dinamis, serta masyarakat yang lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kebijakan pembangunan adalah peningkatan sarana air bersih, meskipun bukan prioritas utama tetapi menempati urutan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Usaha dalam mengelola air bersih memerlukan organisasi yang handal dan profesional. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah salah satu organisasi publik yang ada di daerah. PDAM bertugas mengelola sumber daya air yang ada di daerah untuk didistribusikan pada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih. &lt;br /&gt;Sebagaimana perusahaan swasta, PDAM  juga menjalankan fungsi manajemen. Perusahaan  menjalankan fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan dari perusahaan tersebut. Salah satu dari fungsi tersebut adalah manajemen keuangan. Manajemen keuangan sangat penting bagi perusahaan, karena tanpa adanya dana dan pengelolaan yang baik maka perusahaan tidak dapat berjalan dengan baik. Pengelolaan dana oleh perusahaan tercermin dalam laporan keuangan.&lt;br /&gt;Informasi yang ada pada laporan keuangan hanyalah informasi yang berupa angka-angka yang merupakan rekaman dari transaksi yang terjadi selama satu periode. Informasi ini akan lebih bermakna jika diketahui maksud dari angka-angka yang ada. Untuk mengetahui makna yang ada pada laporan keuangan diperlukan sebuah alat analisis. Alat analisis tersebut adalah analisis laporan keuangan yang berupa rasio-rasio laporan keuangan.&lt;br /&gt;Analisis rasio keuangan yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya, dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisinya pada saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer keuangan memperkirakan  reaksi para kreditor dan investor dan memberikan pandangan ke dalam tentang bagaimana kira-kira dana dapat diperoleh. Rasio keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk periode beberapa tahun, dengan adanya daftar ini dapat dipelajari komposisi perubahan-perubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu perbaikan atau bahkan sebaliknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi perusahaan selama jangka waktu tersebut.&lt;br /&gt;Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sukoharjo merupakan perusahaan daerah yang bertugas dalam pengelolaan air bersih di Kabupaten Sukoharjo. PDAM memerlukan pengelolaan keuangan yang baik agar kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar. Pengelolaan keuangan pada PDAM Kabupaten Sukoharjo sudah cukup baik, namun belum maksimal dari segi efisiensi penggunaan dana&lt;br /&gt;PDAM Kabupaten Sukoharjo merupakan badan usaha yang menjalankan dua fungsi yaitu sebagai Social Oriented (Pelayanan yang baik terhadap masyarakat dalam penyediaan air bersih) dan Profit Oriented (Bertujuan untuk menghasilkan laba sebagai dana untuk beroperasi dan sumber penerimaan daerah). Adanya kedua fungsi tersebut, mengakibatkan perusahaan harus  memantau tingkat kesehatan dengan mengadakan analisis terhadap data keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan.&lt;br /&gt;Keberhasilan direksi dalam mengelola PDAM, diketahui dengan melakukan penilaian terhadap kinerja sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Penilaian Kinerja PDAM dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan pada PDAM Kabupaten Sukoharjo tahun 2002-2005”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, muncul berbagai masalah. Adapun permasalahan tersebut dapat penulis identifikasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Informasi yang ada pada laporan keuangan hanyalah informasi yang berupa angka-angka yang merupakan rekaman dari transaksi yang terjadi selama satu periode. Informasi ini kurang bermakna jika belum diketahui maksud dari angka-angka yang ada.&lt;br /&gt;2. PDAM memerlukan pengelolaan keuangan yang baik agar kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar. Pengelolaan keuangan pada PDAM Sukoharjo sudah cukup baik, namun belum maksimal dari segi efisiensi penggunaan dana.&lt;br /&gt;3. PDAM Kabupaten Sukoharjo menjalankan dua fungsi yaitu sebagai Social Oriented (Pelayanan yang baik terhadap masyarakat dalam penyediaan air bersih) dan Profit Oriented (Bertujuan untuk menghasilkan laba sebagai dana untuk beroperasi dan sumber penerimaan daerah) sehingga perusahaan harus  memantau tingkat kesehatan dengan mengadakan analisis terhadap data keuangan. Selanjutnya hasil analisis ini dapat dijadikan rekomendasi bagi pimpinan perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan khususnya kinerja keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;Agar masalah dapat dikaji dan dijawab secara mendalam maka dilakukan pembatasan terhadap masalah-masalah yang timbul. Masalah yang akan diteliti adalah mengenai tingkat kesehatan keuangan PDAM Kabupaten Sukoharjo dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan periode 2002 – 2005 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah perkembangan kinerja keuangan PDAM selama empat tahun terakhir (2002-2005) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999 ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Suatu penelitian akan terarah apabila dirumuskan tujuan dari penelitian tersebut, karena akan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai arah penelitian yang  ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini  adalah: Untuk mengetahui dan mendeskripsikan perkembangan kinerja  PDAM dari aspek keuangan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Manfaat penelitian adalah hasil dari penelitian yang dapat digunakan oleh berbagai pihak. Manfaat dalam penelitian ini dibedakan menjadi manfaat teoritis dan praktis.&lt;br /&gt;1. Manfaat teoritis&lt;br /&gt;Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;a. Memberikan sumbangan terhadap dunia pendidikan khususnya mata kuliah  manajemen keuangan.&lt;br /&gt;b. Dapat digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan sebagai bahan acuan pertimbangan, perbandingan, dan pemyempurnaan bagi penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;2.  Manfaat praktis&lt;br /&gt;Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;a. Sebagai bahan pertimbangan bagi Perusahaan Daerah Air Minum Sukoharjo dalam menentukan kebijaksanaan agar perusahaan lebih maju.&lt;br /&gt;b. Sebagai sumbangan pemikiran untuk diadakannya penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan file tersebut diatas dalam bentuk MS-Word, silahkan klik &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ziddu.com/download/11078667/ekn-119.doc.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-8090355699744546123?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/8090355699744546123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=8090355699744546123&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8090355699744546123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8090355699744546123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/analisis-kinerja-keuangan-pada-pdam.html' title='Analisis Kinerja Keuangan pada PDAM Kabupaten Sukoharjo tahun 2002-2005 (EKN-119)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3725051677918208818</id><published>2010-08-04T17:17:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:19:20.029-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>SUATU TINJAUAN TENTANG USAHA-USAHA UNTUK MENINGKATKAN VOLUME EKSPOR KOMODITI KOPI PADA PT. GUNUNG GIRI INDAH JAKARTA (EKN-118)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Pokok Permasalahan&lt;br /&gt; Sesuatu hal yang wajar, bahwa dalam melaksanakan aktivitas usaha, perusahaan sering mengalami permasalahan.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut penulis dapat menjelaskan masalah-masalah yang dihadapi PT. Gunung Giri Indah Jakarta, dalam memasarkan komoditi kopi ke luar negeri, dan dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengaturan mutu ekspor komoditi kopi melalui ICO dan peraturan-peraturan pelaksanaannya.&lt;br /&gt;2. Terbatasnya produktivitas kopi yang berkualitas tinggi yang siap jadi komoditi ekspor.&lt;br /&gt;3. Persaingan yang ketat antar eksportir di dalam negeri.&lt;br /&gt;4. Persaingan yang ketat antara eksportir dari negara produsen dari luar negeri.&lt;br /&gt;5. Kurangnya aktivitas promosi yang dilakukan perusahaan.&lt;br /&gt;6. Kopi yang di ekspor oleh perusahaan, harganya masih relatif rendah.&lt;br /&gt;7. Wilayah pemasaran yang terbatas, ini disebabkan beberapa hal antara lain :&lt;br /&gt;• Biaya untuk transportasi yang mahal.&lt;br /&gt;• Tidak selalu tersedianya trayek kapal laut, yang langsung menuju ke negara tujuan pengimpor.&lt;br /&gt;   Dari permasalahan yang diuraikan di atas, maka masalah pokok yang hingga saat ini dihadapi perusahaan adalah :&lt;br /&gt;a. Terbatasnya produktivitas kopi, yang berkwalitas tinggi yang siap jadi komoditi ekspor.&lt;br /&gt;b. Persaingan yang ketat antara eksportir dari negara produsen dari luar negeri.&lt;br /&gt;c. Kopi yang diekspor oleh perusahaan, harganya masih relatif rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Alasan Pemilihan Judul&lt;br /&gt;   Sebagai salah satu sumber pendapatan devisa bagi pemerintah, kopi Indonesia yang sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat setelah diekspor sejak awal abad ke-18 (delapan belas), pentingnya arti komoditi kopi bagi Indonesia tercermin dari besarnya sumbangan yang diberikannya terhadap pendapatan devisa negara.&lt;br /&gt;   Dalam hal ini besar sekali peranan eksportir komoditi kopi, semakin besar usaha dari masing-masing eksportir, maka akan semakin besar pula sumbangannya terhadap penerimaan devisa negara, selain itu juga akan dapat meningkatkan keuntungan perusahaannya. Hal ini semuanya tergantung dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mempertahankan usahanya dalam meningkatkan volume penjualannya (ekspornya) dengan strategi pemasarannya yang baik dan mapan.&lt;br /&gt;   Bahan baku kopi asalnya dari daerah pedesaan cukup murah, disamping itu juga negara Indonesia yang subur dan luas, merupakan negara yang berpotensi tinggi dalam menghasilkan kopi jenis Robusta dan Arabica, yang cukup laku di pasar Internasional.&lt;br /&gt;   Apalagi pada saat sekarang Pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan di bidang perdagangan yaitu Deregulasi Perdagangan, dimana pengusaha (eksportir) akan semakin bebas melakukan aktivitas ekspornya, karena campur tangan pemerintah semakin berkurang.&lt;br /&gt;   Hal ini tidak lain Pemerintah telah memberikan peluang bagi eksportir untuk mengembangkan usahanya di bidang ekspor. Terutama yang menyangkut ekspor non migas karena bidang ini telah banyak memberikan sumbangannya bagi penerimaan devisa negara.&lt;br /&gt;   Untuk mengadakan koordinasi para eksportir kopi di Indonesia, ternyata sudah berdiri suatu wadah yang disebut : AEKI yaitu Assosiasi Eksportir Kopi Indonesia, mempunyai kantor pusat di Jakarta serta memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia, yang daerahnya dilihat berpotensi tinggi untuk mengembangkan ekspor komoditi kopi.&lt;br /&gt;   Para eksportir kopi Indonesia, diharuskan mendaftar menjadi anggota AEKI, dari wadah ini para anggota diupayakan untuk peningkatan mekanisme perdagangan ekspor yang sehat dan dinamis.&lt;br /&gt;   Dengan semakin tajamnya persaingan antar eksportir akhir-akhir ini untuk merebut konsumen di pasaran Internasional di dalam memasarkan komoditi kopi ini, maka kegiatan perusahaan harus diarahkan kepada pasar yang berorientasi pada sasaran untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yaitu : mutu, harga yang sesuai dengan ketepatan waktu penyerahan, maka dalam hal ini perusahaan harus dapat memasarkan komoditinya secara baik agar komoditi kopi yang dipasarkannya dapat berhasil.&lt;br /&gt;   Jika komoditi kopi yang di ekspor, tidak sesuai dengan keinginan, serta waktu penyerahan tidak tepat waktunya maka untuk memenuhi kebutuhan, kepuasan dan keinginan konsumen, tidak akan dapat terlaksana dengan baik, maka cara mengatasinya, diperlukan kegiatan pemasaran.&lt;br /&gt;   Dengan melaksanakan kegiatan pemasaran, perusahaan akan mampu menghadapi semua tantangan yang menghambat kegiatan pemasarannya ke luar negeri. Disamping itu perusahaanpun tidak hanya mempertahankan strategi pemasarannya saja tetapi harus juga memberlakukan persyaratan-persyaratan ke negara tujuan, baik negara anggota ICO, (International Coffee Organization) atau negara bukan anggota ICO, terutama negara pelanggan baru.&lt;br /&gt;   Pada dasarnya perusahaan harus tahu apakah negara yang dituju tersebut ada perwakilan dagangnya di Indonesia atau juga apakah ada trayek pelayaran internasional yang ada pada perusahaan pelayaran di Indonesia.&lt;br /&gt;   Hal ini bertujuan untuk efisiensi waktu pengiriman, penghematan biaya, dan menghindari kerusakan komoditi kopi. Karena bagaimanapun, sekiranya trayek kapal pengangkut, tidak ada yang langsung ke tempat tujuan, dapat dipastikan komoditi kopi yang diangkut, akan singgah di beberapa tempat pelabuhan hingga menunggu jadwal keberangkatan menuju ke tempat lokasi konsumen.&lt;br /&gt;   Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka penulis merasa tertarik ingin mengetahui sejauh mana kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan PT. Gunung Giri Indah Jakarta, dalam memasarkan komoditi kopinya ke pasaran Internasional tersebut, maka untuk itu penulis memberi judul skripsi ini : “USAHA-USAHA UNTUK MENINGKATKAN VOLUME EKSPOR KOMODITI KOPI PADA PT. GUNUNG GIRI INDAH JAKARTA”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;   Untuk lebih terarahnya pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis menganggap perlu mengadakan pembatasan-pembatasan, mengingat konsep strategi pemasaran adalah mencakup dimensi yang sangat luas.&lt;br /&gt;   Dengan demikian, adapun yang mendasari strategi pemasaran, menurut Sofjan Assauri, dalam bukunya terdiri dari :1)&lt;br /&gt;1. Segmentasi Pasar (market segmentation).&lt;br /&gt;2. Penentuan Posisi Pasar (marketing position).&lt;br /&gt;3. Strategi Memasuki Pasar (market entry strategy).&lt;br /&gt;4. Strategi Bauran Pasaran (marketing mix).&lt;br /&gt;5. Strategi Penentuan Waktu (timing strategy).&lt;br /&gt; Dari konsep-konsep di atas, penulis membatasi dan menitikberatkan pada “Segmentasi Pasar dan Strategi bauran pemasaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkan file tersebut diatas dalam bentuk MS-Word, Silahkan klik &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ziddu.com/download/11078669/ekn-118.doc.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3725051677918208818?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3725051677918208818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3725051677918208818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3725051677918208818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3725051677918208818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/suatu-tinjauan-tentang-usaha-usaha.html' title='SUATU TINJAUAN TENTANG USAHA-USAHA UNTUK MENINGKATKAN VOLUME EKSPOR KOMODITI KOPI PADA PT. GUNUNG GIRI INDAH JAKARTA (EKN-118)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-2571626652863491011</id><published>2010-08-04T17:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:16:58.141-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>PENGARUH POTONGAN HARGA TERHADAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA TSHIR’T DI CV. Bn’C BANDUNG (EKN-117)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Penelitian&lt;br /&gt;Menghadapi pasar bebas, perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Maka perubahan-perubahan terjadi di berbagai bidang, baik itu sosial, politik, ekonomi. Khususnya dalam bidang ekonomi banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi setiap zaman dan tahunnya, misalnya zaman dahulu kita melakukan transaksi jual beli dengan cara barter. Tapi di zaman sekarang yaitu zaman modern kita melakukan transaksi jual beli dengan menggunakan alat yang berupa uang. Hal tersebut menjadi bukti bahwa perubahan-perubahan yang begitu tampak dan berganti setiap zamannya, adalah perubahan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesiapun banyak sekali mengalami perubahan dalam bidang ekonomi, tidak hanya dari cara transaksi jual beli, tapi sudah mengalami perubahan dari keadaan atau kondisi ekonomi, sejak tahun 1997 keadaan ekonomi kita mengalami masanya transisi atau krisis ekonomi, akibat dari krisis tersebut banyak terjadi masalah, seperti pengangguran, kemiskinan dan harga semua kebutuhan primer, sekunder dan tersier melonjak naik. Sehingga masyarakat Indonesia khususnya Jawa Barat mengalami depresi. Akibatnya banyak konsumen  yang membatasi pembelian kebutuhannya.&lt;br /&gt;Dari semua kejadian diatas yang benar-benar mengalami krisis ekonomi khususnya penurunan pendapatan yaitu para pengusaha yang bergerak di bidang sekunder contohnya pengusaha pakaian jadi. Mereka enar-benar kewalahan dalam mengelola uasahanya karena pendapatan mereka lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran , untuk bisa mempertahankan usahanya mereka mempunyai strategi pemasaran yang berbeda-beda&lt;br /&gt;CV. Bn’C yang bergerak dibadang usaha pakaian jadi mempunyai strategi pemasaran yaitu promosi penjualan dengan adanya potongan harga dari jenis barang yang dihasilkan CV. Bn’C terutama untuk jenis pakaian. Potongan harga tersebut merupakan strategi yang terakhir dilakukan oleh Bn’C untuk mempertahankan usahanya karena dengan adanya potongan harga keputusan konsumen untuk membeli menjadi meningkat permasalahan yang mungkin muncul apakah potongan harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, berdasarkan uraian latar belakang tersebut  penulis tertarik menganalisis  masalah dengan judul  :&lt;br /&gt;“ PENGARUH POTONGAN HARGA TERHADAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA TSHIR’T DI CV. Bn’C BANDUNG “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Identifikasi Masalah&lt;br /&gt; Dalam penelitian yang dilaksanakan pada CV Bn’C Bandung, penulis mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan judul sekripsi yang penulis tetapkan. Oleh karna itu penulis mengidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimana Potongan Harga yang ditetapkan Pada Tshir’t CV B’NC Bandung.&lt;br /&gt;2. Bagaimana Proses keputusan Konsumen dalam membeli produk Tshir’t CV. Bn’C Bandung.&lt;br /&gt;3. Seberapa besar pengaruh potongan harga terhadap Proses Keputusan Pembelian Pada Tshir’t CV Bn’C Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Maksud Dan Tujuan Penelitian&lt;br /&gt; Berdasarkan latar belakang dari identifikasi masalah diatas, maka maksud dilakukannya penelitian ini adalah berhubungan dengan masalah pengaruh Potongan harga terhadap keputusan pembelian konsumen  C V Bn’C serta untuk memperoleh data guna menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk mengikuti sidang kelulusan program Sarjana S1 Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia Bandung.&lt;br /&gt; Sedangkan maksud penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Untuk Mengetahui Potongan Harga yang ditetapkan Pada Tshir’t CV Bn’C  Bandung.&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui Proses Keputusan Konsumen dalam membeli produk Tshir’t CV Bn’C Bandung.&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui Pengaruh Potongan Harga terhadap Proses Keputusan Pembelian Pada Tshir’t CV Bn’C Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 kegunaan Hasil Penelitian&lt;br /&gt; Dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan berguna bagi berbagai pihak, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1. Kegunaan Operasional&lt;br /&gt;Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan tentang pentingnya pengaruh  potongan harga terhadap kepuasan pengunjung. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan manfaat bagi perusahaan (CV. Bn’C Bandung) dalam pengambilan keputusan perusahaan terutama yang berkaitan dengan bidang pemasaran.&lt;br /&gt;2. Pengembangan Ilmu&lt;br /&gt;• Bagi Penulis&lt;br /&gt;Memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi penulis baik secara teoritis maupun praktis mengenai pengaruh potongan harga dalam meningkatkan keputusan pembelian.&lt;br /&gt;• Untuk Kepentingan Pengembangan Ilmu :&lt;br /&gt;Memberikan manfaat untuk penelitian lebih lanjut serta pengembangan ilmu dibidang manajemen pemasaran terutama mengenai pengaruh potongan harga dalam meningkatkan keputusan pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda butuh file tersebut dalam bentuk MS-Word, silahkan klik &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ziddu.com/download/11078671/ekn-117.doc.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-2571626652863491011?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/2571626652863491011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=2571626652863491011&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2571626652863491011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2571626652863491011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/pengaruh-potongan-harga-terhadap-proses.html' title='PENGARUH POTONGAN HARGA TERHADAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA TSHIR’T DI CV. Bn’C BANDUNG (EKN-117)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3398945569695542746</id><published>2010-08-04T17:06:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:14:16.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA, LOKASI, PELAYANAN DAN PROSEDUR   KREDIT TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH DALAM PENGAMBILAN KREDIT  PADA  PD  BPR  (EKN-116)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;Di era globalisasi ini persaingan dalam bisnis perbankan sangat ketat. Persaingan tersebut tidak hanya terjadi antar bank, tetapi persaingan juga datang dari lembaga keuangan lain yang berhasil mengembangkan produk-produk keuangan baru. Persaingan dan perkembangan yang cukup pesat pada usaha perbankan tersebut menjadikan masing-masing lembaga perbankan harus berlomba untuk memenangkan persaingan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Persaingan antar bank tersebut tentunya akan lebih menguntungkan nasabah karena nasabah dapat memilih berbagai jasa perbankan yang ditawarkan. Kualitas produk dan layanan perbankan akan menentukan apakah lembaga perbankan tersebut mampu bersaing di pasar global atau tidak. Syarat sederhana yang harus dipenuhi oleh lembaga perbankan tersebut adalah kemampuan perusahaan perbankan tersebut dalam menyediakan produk dan jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Manajemen sebuah bank dituntut kecepatan dan ketepatan dalam merespon apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Sebagai perusahaan jasa, perusahaan perbankan harus berorientasi pada kualitas pelayanan yang diberikan. Pelayanan yang diberikan harus mampu menciptakan kepuasan bagi para pelanggannya. Adapun manfaat dari kepuasan pelanggan tersebut adalah meningkatkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan pelanggan, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang, dapat  mendorong terciptanya loyalitas pelanggan dan memungkinkan terciptanya rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga semakin banyak orang membeli dan menggunakan produk perusahaan ( Fandy Tjiptono, 2004: 24 )&lt;br /&gt;Persaingan bisnis di bidang perbankan yang nampak akhir-akhir ini adalah persaingan dalam penyaluran, khususnya dalam pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Di Indonesia sendiri UMKM menempati jumlah mayoritas dari total unit usaha yang ada. Akan tetapi kebanyakan dari para pengusaha UMKM masih mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha, dan secara garis besar kesulitan yang dihadapi berkisar masalah permodalan, persaingan pasar dan bahan baku yang sulit didapat. Permodalan nampaknya menjadi alasan yang klasik yang menghadang perkembangan UMKM. Kebanyakan pelaku bisnis memutar usahanya dengan mengandalkan usahanya dengan modal sendiri. Ada pula sebagian kecil yang berusaha menambah modalnya dengan melakukan pinjaman ke bank atau lembaga non bank.&lt;br /&gt;Mengingat potensi yang cukup besar dari para pelaku UMKM tersebut maka PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik menyiasati dengan membuka simpan pinjam yang khusus untuk melayani segmen Usaha Kecil dan Menengah. Adapun pertumbuhan pertumbuhan kredit PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik selama bulan Mei Tahun 2007 - April 2008 disajikan dalam tabel 1.1 sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.1&lt;br /&gt;Pertumbuhan Kredit PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik&lt;br /&gt;bulan Mei Tahun 2007 - April 2008&lt;br /&gt;No  Bulan Jumlah Kredit&lt;br /&gt;1 Mei 2007 Rp. 238.000.000&lt;br /&gt;2 Juni  2007 Rp. 649.000.000&lt;br /&gt;3 Juli  2007 Rp. 367.000.000&lt;br /&gt;4 Agustus 2007 Rp. 912.000.000&lt;br /&gt;5 September  2007 Rp. 818.000.000&lt;br /&gt;6 Oktober 2007 Rp 568.000.000&lt;br /&gt;7 November 2007  Rp. 524.000.000&lt;br /&gt;8 Desember 2007 Rp 343.000.000&lt;br /&gt;9 Januari  2008 Rp. 637.000.000&lt;br /&gt;10 Februari 2008 Rp. 713.000.000&lt;br /&gt;11 Maret  2008 Rp. 439.000.000&lt;br /&gt;12 April 2008 Rp. 359.000.000&lt;br /&gt; Jumlah Rp6.200.000.000&lt;br /&gt;Sumber: PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik, 2008&lt;br /&gt;Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik sangat fluktuatif. Setiap bulannya pihak Bank seharusnya mengucurkan dananya kepada masyarakat sebesar                    Rp. 400.000.000,- akan tetapi pada bulan-bulan tertentu tidak dapat memenuhi target tersebut. Mengingat target dan tantangan bisnis di masa yang akan datang semakin meningkat, PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik harus berusaha memberikan pelayanan dan fasilitas yang menarik. Dalam usaha memahami keinginan masyarakat saat ini, dirasakan perlu untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi Keputusan nasabah dalam pengambilan kredit. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan dan prosedur kredit. Apabila masyarakat sebagai nasabah merasa puas dengan apa yang telah diberikan perusahaan mereka akan loyal terhadap perusahaan dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mempengaruhi orang lain dalam mengambil fasilitas kredit yang disediakan oleh PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Lokasi, Pelayanan dan Prosedur Kredit terhadap Keputusan Nasabah Dalam Pengambilan Kredit Pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Dengan melihat pertumbuhan kredit yang tidak selalu mencapai target dan untuk meningkatkan penyaluran kredit yang telah ditentukan maka diperlukan suatu strategi pemasaran yang tepat untuk mencari peluang pasar baru serta memelihara nasabah yang sudah ada. Dengan demikian bank harus menciptakan suatu inovasi yang akan menambah daya tank nasabah khususnya dalam pengambilan kredit.&lt;br /&gt;Untuk menciptakan inovasi baru dan dalam upaya meningkatkan penyaluran kreditnya, pihak bank seharusnya mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan kredit. Berdasarkan uraian tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;a. Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik?&lt;br /&gt;b. Adakah pengaruh antara lokasi terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik?&lt;br /&gt;c. Adakah pengaruh antara pelayanan terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik?&lt;br /&gt;d. Adakah pengaruh antara prosedur kredit terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik?&lt;br /&gt;e. Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan dan prosedur kredit terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;a. Untuk mengetahui adakah pengaruh tingkat suku bunga terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik.&lt;br /&gt;b. Untuk mengetahui adakah pengaruh lokasi terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik.&lt;br /&gt;c. Untuk mengetahui adakah pengaruh pelayanan terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik.&lt;br /&gt;d. Untuk mengetahui adakah pengaruh prosedur kredit terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik.&lt;br /&gt;e. Untuk mengetahui adakah pengaruh antara tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan dan prosedur kredit terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Manfaat Praktis&lt;br /&gt;Diharapkan dan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi manajemen PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik terutama untuk meningkatkan jumlah debitur dan volume kredit.&lt;br /&gt;2. Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;Untuk menambah pengetahuan bagi penulis dan agar dapat menerapkan teori dengan keadaan di lapangan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. DEFINISI OPERASIONAL&lt;br /&gt;1.  Tingkat suku bunga&lt;br /&gt;Tingkat suku bunga adalah besarnya bunga yang dibebankan kepada para peminjam atau harga jual yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank (Kasmir, 2004:197).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Lokasi&lt;br /&gt;Lokasi adalah tempat di mana perusahaan melakukan kegiatan kerja yang sangat menentukan keputusan karena lokasi erat kaitannya dengan pasar potensial suatu perusahaan (Fandy Tjiptono, 2004: 41)&lt;br /&gt;3.  Pelayanan&lt;br /&gt;Pelayanan adalah usaha pemenuhan kebutuhan dari keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen (Fandy Tjiptono, 2004:44).&lt;br /&gt;4.   Prosedur kredit&lt;br /&gt;Secara umum prosedur dari perkreditan adalah dimulai dari permohonan kredit, analisa kredit, persetujuan kredit, perjanjian kredit, pencairan kredit dan pengawasan kredit (Lukman Dendawijaya, 2003:78).&lt;br /&gt;5. Keputusan Pengambilan  Kredit &lt;br /&gt;Keputusan Pengambilan Kredit adalah tahap dalam proses pengambilan  kredit  di mana nasabah secara aktual membeli produk bank (Kotler,2003: 258)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. SISTEMATIKA PENULISAN&lt;br /&gt;Adapun sistematika dari penelitian ini terdiri dari:&lt;br /&gt;Bab I   Pendahuluan&lt;br /&gt;Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional dan sistematika penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab II  Landasan Teori&lt;br /&gt;Dalam bab ini berisi tinjauan pustaka, kerangka pemikiran dan hipotesis.&lt;br /&gt;Bab III Metode Penelitian&lt;br /&gt;Dalam bab ini berisi jenis penelitian, lokasi penelitian, variabel penelitian populasi, sampel dan teknik sampling, teknik pengambilan data dan teknik analisis data.&lt;br /&gt;Bab IV Hasil dan Pembahasan&lt;br /&gt;Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan, gambaran umum responden dan hasil penelitian serta pembahasan.&lt;br /&gt;Bab V  Penutup&lt;br /&gt;Bab ini berisi tentang kesimpulan dari penelitian dan saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda butuh dalam bentuk file ms-word, silahkan klik &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" href="http://www.ziddu.com/download/11078668/ekn-116.doc.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3398945569695542746?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3398945569695542746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3398945569695542746&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3398945569695542746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3398945569695542746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/pengaruh-tingkat-suku-bunga-lokasi.html' title='PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA, LOKASI, PELAYANAN DAN PROSEDUR   KREDIT TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH DALAM PENGAMBILAN KREDIT  PADA  PD  BPR  (EKN-116)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-3874579130127597220</id><published>2010-08-04T17:04:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T17:06:46.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS PENGARUH  CITRA MEREK DAN SIKAP MEREK TERHADAP BRAND EQUITY (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Diponegoro Semarang) (EKN-115)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt; Dunia adalah pasar bagi seluruh pelaku bisnis. Dunia yang tengah dihadapkan pada globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi memperluas pasar produk, di sisi lain keadaan tersebut menimbulkan persaingan yang semakin tajam, dengan kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Begitu pula yang terjadi dengan sektor usaha jasa yang mengalami perubahan yang revolusioner, yang secara dramatis mempengaruhi cara hidup dan kerja konsumen. Berbagai jasa baru ditawarkan untuk memuaskan konsumen melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, seperti kebutuhan akan e-mail, online banking, web site dan jasa layanan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena persaingan yang ada telah membuat manajer menyadari suatu kebutuhan untuk mengeksploitasi sepenuhnya aset-aset mereka demi memaksimalkan kinerja perusahaan dan mengembangkan keuntungan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable competitive advantage) yang berlandaskan kompetisi non harga. Salah satu aset untuk mencapai keadaan tersebut adalah melalui merek, merek digunakan perusahaan untuk menguasai pasar (Kotler, 1993). Merek memegang peranan yang sangat penting, karena mengembangkan suatu merek akan terkait dengan janji (promise) dan harapan (expectation), sehingga salah satu perannya adalah menjembatani harapan konsumen pada saat perusahaan menjanjikan sesuatu pada konsumen, merek yang prestisius dapat dikatakan memiliki ekuitas merek (brand equity) yang kuat. &lt;br /&gt;  Salah satu industri di Indonesia yang mempunyai potensi besar memanfaatkan kekuatan merek adalah industri perbankan yang mengalami gambaran suram pada saat terjadi krisis moneter 1997, yang diyakini telah menimbulkan krisis kepercayaan terhadap bank. Sebagai industri jasa, setiap pengusaha perbankan akan berusaha memberikan layanan produk dan jasa yang maksimal bagi nasabahnya. Suatu bank harus mempunyai nilai tambah yang membuat bank tersebut  berbeda dari bank lainnya. Dalam kondisi ini nasabah bukan lagi sebagai pelengkap usaha tetapi sebagai partner usaha bagi bank.&lt;br /&gt; Penanganan citra merek merupakan salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan ekuitas merek, karena penanganan citra merek adalah salah satu metode dalam merumuskan positioning yang merupakan proses untuk meyakinkan nasabah bahwa merek dapat bersaing dengan merek-merek lainnya, karena memiliki keunikan dan nilai superior sehingga dapat masuk ke benak nasabah. Berdasarkan penelitian Tonny Sitinjak (2006), untuk menciptakan ekuitas merek yang tinggi, bank harus memiliki citra merek yang tinggi di mata nasabahnya&lt;br /&gt; Untuk industri perbankan yang menjadi fokus utama adalah bagaimana membangun ekuitas merek yang kuat, bagaimana citra merek (nama bank) menjadi yang pertama diingat di benak nasabah (Top of mind), bagaimana mengelola merek sebagai asset terpenting perusahaan sehingga dipercaya.  Lassar et. al (1995), menyatakan bahwa ekuitas merek adalah kualitas merek yang dipersepsi oleh konsumen termasuk komponen tangible dan komponen intangible. Adapun komponen tersebut, yang merupakan dimensi kualitas layanan jasa menurut Parasuraman et. al dalam JRS, Tumpal (2005), antara lain: bukti fisik, daya tanggap, keandalan, jaminan, dan empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGKAT 10 BANK TERBAIK BERDASARKAN DIMENSI KEANDALAN&lt;br /&gt;Tabel 1.1&lt;br /&gt;NAMA NILAI PERINGKAT&lt;br /&gt;BANK 2005 2006 2007 2005 2006 2007&lt;br /&gt;CITIBANK 4.0496 4.1841 6.5037 1 1 1&lt;br /&gt;NIAGA 3.8871  3.9544 6.4293 9 7 2&lt;br /&gt;PERMATA 4.0443 4.0154 6.3367 2 2 3&lt;br /&gt;BUKOPIN - 3.9125 6.2506 - 9 4&lt;br /&gt;DANAMON 4.0389 3.9674 6.2080 3 5 5&lt;br /&gt;MANDIRI  3.9218 4.0026 6.1779 7 3 6&lt;br /&gt;BII 3.9869 3.8754 6.1599 4 10 7&lt;br /&gt;BRI 3.9605 3.9723 6.0636 5 4 8&lt;br /&gt;BNI 3.8823 3.9644 6.0607 10 6 9&lt;br /&gt;LIPPO BANK 3.9196 3.9184 6.0445 8 8 10&lt;br /&gt;Sumber: Institute of Service Management Studies (ISMS), diolah kembali oleh Biro Riset InfoBank (BIRL)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGKAT 10 BANK TERBAIK BERDASARKAN DIMENSI JAMINAN&lt;br /&gt;Tabel 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA NILAI PERINGKAT&lt;br /&gt;BANK 2005 2006 2007 2005 2006 2007&lt;br /&gt;CITIBANK 4.0683 4.2393 4.7693 3 1 1&lt;br /&gt;NIAGA 4.0187  4.1086 4.7148 8 2 2&lt;br /&gt;PERMATA 4.1029 4.0568 4.6469 1 4 3&lt;br /&gt;BUKOPIN  - 4.0733 4.5838 - 3 4&lt;br /&gt;DANAMON 4.0192 4.0271 4.5525 7 5 5&lt;br /&gt;MANDIRI  4.0416 4.0200 4.5304 5 6 6&lt;br /&gt;BII 4.0141 3.9438 4.5172 9 10 7&lt;br /&gt;BRI 4.0498 3.9644 4.4466 4 7 8&lt;br /&gt;BNI 3.9915 3.9564 4.4445 10 8 9&lt;br /&gt;LIPPO BANK -  3.9490 4.4326  - 9 10&lt;br /&gt;Sumber: Institute of Service Management Studies (ISMS), diolah kembali oleh Biro Riset InfoBank (BIRL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGKAT 10 BANK TERBAIK BERDASARKAN DIMENSI EMPATI&lt;br /&gt;Tabel 1.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA NILAI PERINGKAT&lt;br /&gt;BANK 2005 2006 2007 2005 2006 2007&lt;br /&gt;CITIBANK 3.8075 3.9812 2.8182 6 1 1&lt;br /&gt;NIAGA 3.7245  3.7808 2.7860 10 7 2&lt;br /&gt;PERMATA 3.8914 3.8193 2.7459 1 3 3&lt;br /&gt;BUKOPIN -  3.7890 2.7086 -  6 4&lt;br /&gt;MANDIRI  3.8704 3.8448 2.6770 4 2 5&lt;br /&gt;BII 3.8024 3.7091 2.6692 7 9 6&lt;br /&gt;BRI 3.7289 3.7148 2.6275 9 8 7&lt;br /&gt;BNI 3.8607 3.7943 2.6263 5 5 8&lt;br /&gt;LIPPO BANK -  3.7048 2.6193 -  10 9&lt;br /&gt;BCA 3.8911 3.8110 2.5936 2 4 10&lt;br /&gt;Sumber: Institute of Service Management Studies (ISMS), diolah kembali oleh Biro Riset InfoBank (BIRL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari ketiga dimensi diatas yakni keandalan, jaminan, dan empati untuk bank BNI, dari tahun ke tahun mengalami penurunan peringkat. Dalam dimensi keandalan, pada tahun 2006 di mata nasabah berada di peringkat ke 6 namun di tahun 2007, turun tiga peringkat dan berada di posisi 9. Dari sini dapat disimpulkan bahwa BNI belum sepenuhnya mampu memenuhi janjinya kepada nasabah.  Indikator bahwa bank sudah cukup baik dilihat dari sisi keandalannya, antara lain jika bank tak pernah membuat kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya. Sistem komputerisasi bank yang tidak sering offline, ATM selalu dalam keadaan berfungsi dan phone banking dapat memproses transaksi dengan akurat. Dilihat dari sisi jaminan, peringkat BNI juga mengalami penurunan satu tingkat. Hal ini karena adanya penyesuaian dalam rangka perombakan pelayanan di suatu bank kearah yang lebih baik, namun jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan mengancam ekuitas merek BNI di mata konsumen. Ditinjau dari segi empati, BNI juga tak luput dari penurunan peringkat, sejumlah tiga tingkat. Dari peringkat kelima menjadi peringkat ke delapan pada tahun ini. Perlu diingat bahwa kunci dari empati adalah perhatian bank kepada nasabah secara intens dan bersifat lebih pribadi. Dengan menurunnya empati nasabah pada BNI, menunjukkan bahwa BNI belum berhasil dalam mengakomodasi berbagai tuntutan dan kebutuhan nasabah dari berbagai segmen yang ada.&lt;br /&gt; Sikap konsumen terhadap suatu bank melalui asosiasi layanan yang diberikan dapat mempengaruhi keputusan pemilihan bank yang akan dipilihnya, demikian pula sikap dan citra merek suatu bank dimata konsumen dapat mempengaruhi ekuitas merek suatu bank&lt;br /&gt; Penelitian ini akan menganalisis pengaruh, dari faktor-faktor yang mempengaruhi ekuitas merek, khususnya Bank Negara Indonesia.  Penelitian ini berjudul “ANALISIS PENGARUH CITRA MEREK DAN SIKAP MEREK TERHADAP EKUITAS MEREK BANK NEGARA INDONESIA (Studi Kasus pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt; Dari ketiga faktor yang dapat mempengaruhi baik atau buruknya  citra suatu merek bank, yakni  keandalan, jaminan dan empati , dari tahun ke tahun peringkat BNI mengalami penurunan, padahal citra suatu merek yang kuat di mata nasabah akan memperkuat ekuitas merek. Menurununnya citra merek BNI berarti menandakan ekuitas merek BNI di mata nasabah juga mengalami penurunan. Melalui merek dengan ekuitas merek yang kuat perusahaan dapat menggunakannya untuk menguasai pasar dengan mengembangkan keuntungan yang kompetitif dan berkelanjutan (sustainable competitive advantage).&lt;br /&gt; Adapun  masalah  penelitian ini adalah “apa sajakah faktor-faktor yang dapat meningkatkan ekuitas merek Bank Negara Indonesia?”. Dari rumusan masalah diatas akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Apakah citra merek berpengaruh  terhadap ekuitas merek?&lt;br /&gt;2. Apakah sikap merek berpengaruh terhadap ekuitas merek?&lt;br /&gt;1.3 Tujuan dan Kegunaan  Penelitian&lt;br /&gt;1.3.1 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt; Tujuan dari penelitian ini tertuang dalam point-point berikut ini:&lt;br /&gt;1. menganalasis pengaruh citra merek terhadap ekuitas merek.&lt;br /&gt;2. menganalisis pengaruh sikap merek terhadap ekuitas merek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.2 Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt; Penelitian ini berguna untuk memberikan masukan bagi Bank Negara Indonesia (BNI), mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ekuitas mereknya, sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan strategi di masa yang akan datang.&lt;br /&gt; Penelitian ini berguna bagi para perusahaan-perusahaan lain sebagai masukan dalam mengembangkan ekuitas mereknya. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi rekan-rekan mahasiswa serta masyarakat umum mengenai ekuitas merek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 SISTEMATIKA PENULISAN&lt;br /&gt; Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang dilakukan, maka disusunlah suatu sistematika penulisan yang berisi informasi mengenai materi dan hal yang dibahas dalam tiap-tiap bab. Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pada bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan serta sistematika penulisan.&lt;br /&gt;BAB II  TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;Dalam tinjauan pustaka ini diuraikan landasan teori yang digunakan sebagai dasar dari analisis penelitian, penelitian terdahulu, dan kerangka penelitian.&lt;br /&gt;BAB III  METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini diuraikan tentang jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis.&lt;br /&gt;BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Bab ini akan menguraikan mengenai deskripsi objek penelitian, analisis data, dan pembahasan atas hasil pengolahan data.&lt;br /&gt;BAB V  PENUTUP&lt;br /&gt;Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan serta saran-saran yang dapat diberikan kepada perusahaan dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkan file tersebut diatas dalam bentuk MS-Word, silahkan klik &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ziddu.com/download/11078670/ekn-115.doc.html"&gt;download&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-3874579130127597220?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/3874579130127597220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=3874579130127597220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3874579130127597220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/3874579130127597220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/08/analisis-pengaruh-citra-merek-dan-sikap.html' title='ANALISIS PENGARUH  CITRA MEREK DAN SIKAP MEREK TERHADAP BRAND EQUITY (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Diponegoro Semarang) (EKN-115)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6401845134477837569</id><published>2010-03-16T07:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:41:01.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>HUBUNGAN PERSONAL SELLING TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH NASABAH PADA  PT. AETNA LIFE INDONESIA CABANG LAMPUNG (EKN-114)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa sekarang ini, perkembangan dan kemajuan disegala bidang akan mempengaruhi perilaku setiap orang yang selalu ingin mencapai masa depan yang lebih baik. Mereka akan berusaha sekuat tenaga bekerja untuk memenuhi segala macam kebutuhan keluarga. Disamping kehidupan yang kita lalui setiap hari ada resiko yang mungkin terjadi dalam kehidupan manusia, seperti meninggal dunia, cacat, dan lain-lain. Sebagai manusia kita tidak kuasa menolak resiko kehidupan tersebut. Manusia tidak bisa melampaui ke-Mahakuasaan Tuhan. Manusia hanya dapat mengantisipasi jika resiko tersebut menimpa salah satu anggota keluarga.&lt;br /&gt;Sebagai insan yang berwawasan luas dan menyadari pentingnya jaminan terhadap rasa aman serta persiapan masa depan yang lebih baik, mereka merasa perlu untuk memiliki polis asuransi jiwa, hal ini dimaksudkan untuk melindungi atau mengalihkan resiko yang tidak dapat dielakan oleh setiap orang sebagai mahluk hidup.&lt;br /&gt;Dari kasus tersebut salah satu tujuan perusahaan asuransi yang ada adalah untuk mengurangi kerugian yang akan terjadi bila musibah menimpa manusia. Usaha pengasuransian adalah salah satu elemen sektor jasa keuangan, yang dalam kegiatannya itu terdapat pihak tertanggung dan pihak penanggung.&lt;br /&gt;Menurut UU No. 3 tahun 1992 tentang usaha perasuransian yang dimaksudkan dengan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua belah pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengingatkan dari pada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan pergantian kepada tertanggung yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau pembayaran atas meninggalnya seseorang yang dipertanggung jawabkan. Asuransi jiwa dapat diartikan sebagai suatu usaha yang memberikan jaminan penanggulangan resiko yang dikaitkan  dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan.&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya asuransi bagi masyarakat, maka perusahaan asuransi harus melakukan strategi pemasaran agar produk jasanya dikenal masyarakat, serta mendapat konsumen. Dikarenakan semuanya membutuhkan, asuransi jiwa yang semula hanya merupakan kebutuhan tersier akan bergeser menjadi kebutuhan sekunder atau bahkan primer. Pergeseran ini akan menempatkan asuransi jiwa pada daftar prioritas dalam pola konsumsi masyarakat, sehingga merupakan peluang bagi industri asuransi jiwa.&lt;br /&gt;Untuk itu perusahaan memerlukan tenaga penjual yang berkualitas. Tenaga penjual adalah tulang punggung perusahaan dalam memasarkan asuransi. Ketidak mampuan tenaga penjual akan berakibat buruk bagi perusahaan. Salah satu perusahaan yang menyadari akan pentingnya tenaga penjual yang berkualitas adalah asuransi jiwa PT. Aetna Life Indonesia. Perusahaan ini bergerak dibidang jasa asuransi jiwa, yang merupakan jasa asuransi yang diselenggarakan untuk masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6401845134477837569?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6401845134477837569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6401845134477837569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6401845134477837569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6401845134477837569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/hubungan-personal-selling-terhadap.html' title='HUBUNGAN PERSONAL SELLING TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH NASABAH PADA  PT. AETNA LIFE INDONESIA CABANG LAMPUNG (EKN-114)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-37904274896834947</id><published>2010-03-16T07:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:39:56.435-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS SELISIH ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN STOCK YARD AUTO 2000 DAN REALISASINYA PADA CV WIRACO PERDANA DI BALIKPAPAN (EKN-113)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi pada era globalisasi sekarang ini, menuntut negara-negara berkembang untuk turut serta dalam menciptakan penemuan-penemuan teknologi terbaru. Bagi Indonesia sebagai salah satu negara yang mempunyai daya tarik cukup besar dalam bidang teknologi membuka peluang besar kesempatan bisnis di bidang teknologi khususnya otomotif. &lt;br /&gt;Dengan adanya teknologi tersebut, maka permintaan konsumen semakin tinggi pada bidang otomotif ini. Hal ini merangsang pengusaha yang bergerak di bidang otomotif memperluas pangsa pasarnya melalui mencari lahan guna mengembangkan usahanya sebagai tempat penyedia otomotif. Oleh sebab itu untuk memenuhi permintaan pasar maka diperlukan lahan untuk tempat penyimpanan dalam hal ini gudang atau yang juga disebut stock yard. Sebagai tempat penyimpanan unit-unit mobil yang siap untuk dipasarkan.&lt;br /&gt;Di Balikpapan pada khususnya, daya tarik akan bidang pembelian otomotif cukup tinggi sehingga mendorong pengusaha otomotif mempunyai gudang penyimpanan untuk menyimpan unit-unit mobil atau stock yard. Auto 2000 sebagai salah satu dealer penyedia di bidang otomotif mempunyai alasan yang tepat sehingga harus mempunyai stock yard. Semakin tingginya penawaran maka  permintaan akan semakin tinggi pula oleh karena itu harus diikuti oleh persediaan yang memadai. Berdasarkan alasan inilah Auto 2000 harus mempunyai stock yard dimana untuk memenuhi permintaan pasar agar terpenuhi dan tercukupi tanpa harus mengalami tenggang waktu kekosongan atau kehabisan persediaan. Demikianlah maka Auto 2000 mempunyai gudang tempat penyimpanan mobil atau stock yard yang dekat dengan dealer tempat pemasarannya yang berlokasi di Jl. MT Haryono No 189 Balikpapan. Hal ini memudahkan dalam pengambilan barang karena tidak memerlukan biaya dalam pengambilan barang. &lt;br /&gt;CV Wiraco perdana merupakan pemenang tender dalam proyek pembangunan gudang mobil atau stock yard Auto 2000 yang luasnya 1250 m2 yang pengerjaannya harus selesai dalam waktu enam bulan. CV Wiraco Perdana merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor dan suplier dan sekarang mengalami peningkatan yang pesat, dengan ditandai peningkatan operasi perusahaan, agar jumlah biaya yang dikeluarkan dapat diketahui untuk pekerjaan/proyek ini, maka perusahaan perlu untuk membuat perencanaan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya perencanaan merupakan tindakan yang dibuat berdasarkan fakta dan asumsi mengenai gambaran kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan dengan memperhatikan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh perusahaan dan kendala-kendala yang akan dihadapi. Salah satu jenis perencanaan adalah anggaran (Budget) yang mana juga dapat membantu pihak manajemen dalam pengambilan keputusan untuk memilih berbagai alternatif yang mungkin dapat dilaksanakan. Penyusunan anggaran memuat tentang kegiatan-kegiatan yang akan digunakan oleh suatu perusahaan, yang penyusunannya biasanya berdasarkan setiap pusat pertanggungjawaban yang ada didalam perusahaan yang bersangkutan. Untuk kepentingan pengawasan setiap manajemen membuat laporan realisasi anggaran setelah dianalisis kemudian laporan realisasi anggaran disampaikan kepada direksi.&lt;br /&gt;Analisis ini bertujuan untuk mengetahui selisih anggaran                 biaya pembangunan stock yard auto 2000, karena dalam pengajuan anggaran jarang terjadi perencanaan anggaran yang sama persis dengan realisasinya, seperti terdapat pada biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. &lt;br /&gt;Namun jika terjadi penyimpangan, varians tersebut dapat disebabkan oleh volume (unit) yang tidak sesuai dengan anggaran, tetapi dapat juga karena harga/tarif per unit yang tidak sama dengan anggaran.&lt;br /&gt;Jumlah biaya yang dikeluarkan dapat diketahui lebih terperinci, maka perusahaan perlu untuk membuat anggaran biaya. Anggaran biaya merupakan proses menghitung volume pekerjaan dan harga dari berbagai macam kebutuhan yang akan dipakai dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dan setiap perhitungan tersebut hanya merupakan taksiran. Namun meskipun dengan membuat taksiran perhitungan biaya dan jumlah biaya yang diperlukan adalah merupakan biaya yang sesungguhnya, tetapi dalam penyusunannya anggaran biaya ini diusahakan agar tidak mempunyai selisih yang sangat besar dari biaya sesungguhnya.&lt;br /&gt;Sebelum memulai suatu pekerjaan atau proyek, CV Wiraco Perdana terlebih dahulu akan membuat anggaran biaya untuk pelaksanaan pekerjaannya. Begitu juga halnya dalam pengerjaan proyek pembangunan stock yard Auto 2000. CV Wiraco Perdana menganggarkan biaya sebesar          Rp 3.020.377.551,00 dengan masa kerja selama 6 bulan pada tahun 2006 dengan periode pebruari sampai dengan agustus 2006. Adapun biaya yang dianggarkan tersebut antara lain biaya untuk pembelian material, pasir, paving block, batu bata, semen, kawat duri, besi siku, cat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan suatu proyek CV Wiraco Perdana perlu mengetahui analisis biaya proyek yang ditawarkan, sehingga perusahaan bisa mengkaji dan menentukan harga penawaran dengan tepat, yaitu yang mendekati pembiayaan anggaran dalam suatu proyek. Dalam analisis biaya terdapat selisih menguntungkan dan selisih yang tidak menguntungkan. Bila dalam pelaksanaan proyek biaya yang terjadi lebih kecil dari yang dianggarkan, maka akan terjadi selisih menguntungkan (laba), sebaliknya bila biaya yang terjadi lebih besar dari yang dianggarkan, maka akan terjadi selisih yang tidak menguntungkan (rugi). Selisih menguntungkan tidak selalu baik, karena bisa saja hal itu disengaja sehingga mutu proyek yang dikerjakan kurang baik. Oleh karena itu, dalam melaksanakan suatu kegiatan proyek hendaknya pekerjaan dilakukan dengan profesional yaitu secara efektif dan efisien. Pengendalian biaya memerlukan patokan atau standar sebagai dasar yang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Biaya yang dipakai sebagai tolak ukur pengendalian ini disebut dengan biaya standar. Biaya standar merupakan alat yang penting didalam menilai pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Anggaran yang dimaksud disini adalah biaya yang ditentukan terlebih dahulu pada awal pengajuan tender terhadap biaya produksi yang didasarkan pada laporan keuangan periode–periode sebelumnya yang ada di CV Wiraco Perdana. Realisasi adalah biaya yang benar–benar terjadi dalam proses pembangunan stock yard pada periode yang bersangkutan yang ada di           CV Wiraco Perdana. Sedangkan perbandingan realisasi dilakukan untuk mengetahui selisih yang terjadi pada biaya standar, baik standar biaya bahan baku, standar biaya tenaga kerja langsung maupun standar biaya overhead pabrik terhadap biaya yang sesungguhnya terjadi dalam pembangunan stock yard pada periode yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-37904274896834947?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/37904274896834947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=37904274896834947&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/37904274896834947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/37904274896834947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/analisis-selisih-anggaran-biaya.html' title='ANALISIS SELISIH ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN STOCK YARD AUTO 2000 DAN REALISASINYA PADA CV WIRACO PERDANA DI BALIKPAPAN (EKN-113)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-4583823918325773402</id><published>2010-03-16T07:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:38:04.004-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>EVALUASI JENIS OPINI AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BEJ (EKN-112)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;           Di era globalisasi dimana tingkat kompetisi semakin tinggi dan ketat  mendorong setiap perusahaan untuk mempersiapkan informasi yang tepat dan berguna bagi setiap pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Salah satu media untuk mempersiapkan informasi bagi seluruh pihak yang berkepentingan adalah dengan menyusun laporan keuangan.&lt;br /&gt;  Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta arus kas suatu perusahaan yang bermanfaat bagi para pemakai laporan keuangan dalam mengambil keputusan ekonomi. Informasi dalam laporan keuangan tersebut harus relevan dan andal supaya dapat berguna bagi pemakai.&lt;br /&gt;  Namun, ada kendala untuk menjadikan informasi dalam laporan keuangan relevan dan andal, yaitu salah satunya adalah kemampuan dan tanggung jawab manajemen. Manajemen dituntut untuk menyediakan laporan keuangan yang relevan dan andal guna memberikan informasi tentang keuangan dan keadaan perusahaan kepada pihak – pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;  Bagi perusahaan – perusahaan yang go public penyampaian laporan keuangannya diatur tersendiri, yaitu mereka diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan dan telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). &lt;br /&gt; Seorang Akuntan Publik dalam melakukan tuganya harus mengacu pada standar yang telah ditetapkan, yaitu Standar Profesional Akuntan Publik ( SPAP ) dari Ikatan Akuntan Indonesia, khususnya tentang standar pekerjaan lapangan yang mengatur tentang prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlu adanya perencanaan atas aktivitas yang akan dilakukan, pemahaman yang memadai atas pengendalian intern dan pengumpulan bukti – bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. &lt;br /&gt; Pemenuhan standar audit oleh auditor dapat berdampak pada peningkatan kualitas hasil auditnya. Pelaksanaan audit yang semakin sesuai dengan standar memberikan suatu pendapat audit ( audit opinion )yang semakin akurat.&lt;br /&gt; Pendapat audit (audit opinion) sangat mempengaruhi perkembangan perusahaan – perusahaan go public. Dengan adanya opini audit ini, semua pihak yang berkepentingan, seperti pemerintah, investor, distributor, para pemegang saham (stakeholders) akan memakai laporan dan pendapat akuntan publik sebagai tolak ukur dalam pengambilan keputusan. Misalnya, jika dalam laporan keuangan menunjukkan adanya laba pada tahun berjalan, tetapi laporan keuangan perusahaan tersebut mendapat opini tidak wajar  (adverse) atau tidak memberikan pendapat (disclaimer) pada laporan auditor independennya, maka investor akan berpikir dua kali apakah keputusan untuk melakukan investasi pada perusahaan tersebut adalah keputusan yang terbaik.&lt;br /&gt;Namun, terkadang pendapat audit bisa saja tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atas laporan keuangan perusahaan. Hal ini bisa dilihat pada skandal akuntansi yang terjadi pada perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat seperti Enron, Worldcom, Xerox, dan terakhir perusahaan farmasi Merck pada awal Juli 2002, yang telah mengakibatkan turunnya kepercayaan publik terutama investor di pasar modal terhadap pelaporan keuangan yang dilakukan perusahaan. Kesalahan ini juga dialamatkan kepada profesi akuntan terutama akuntan publik yang seharusnya berperan sebagai public watchdog terhadap informasi keuangan yang disusun oleh perusahaan. &lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi di Indonesia dengan adanya kasus Telkom dan Indofarma, yang mengharuskan penilaian kembali laba yang dilaporkan perusahaan pada periode-periode sebelumnya karena kesalahan manajemen tidak ditemukan oleh KAP yang mengaudit periode terdahulu.&lt;br /&gt;Auditor memberikan opini terhadap laporan keuangan perusahaan meliputi kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Opini yang dikeluarkan auditor akan menambah keyakinan pemakaian atas informasi yang dihasilkan oleh perusahaan.&lt;br /&gt; Pentingnya pendapat audit yang wajar dengan atau tanpa kalimat penjelas akan memberikan pengaruh yang positif bagi semua pihak yang berkepentingan tersebut. Sedangkan ketidakwajaran pendapat atau tidak memberikan pendapat oleh akuntan publik akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Artinya, informasi dari laporan audit beserta pendapatnya atas laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen perusahaan yang dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham. Ketidakwajaran pelaporan secara tidak langsung diartikan sebagai sinyal yang buruk bagi perusahaan.&lt;br /&gt;  Penelitian ini bertujuan untuk meneliti opini – opini audit yang ada di perusahaan – perusahaan go public dan perbedaan jenis opini dalam teori dengan praktek di lapangan. Berdasarkan uraian di atas, maka disusun skripsi dengan judul EVALUASI JENIS OPINI AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BEJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-4583823918325773402?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/4583823918325773402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=4583823918325773402&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4583823918325773402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4583823918325773402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/evaluasi-jenis-opini-auditor-atas.html' title='EVALUASI JENIS OPINI AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BEJ (EKN-112)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-8591624920577850577</id><published>2010-03-16T07:36:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:37:11.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Terhadap Tanggung Jawab Sosial Pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) (EKN-111)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Ia bisa memberikan kesempatan kerja, menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakat untuk dikonsumsi, ia membayar pajak, memberikan sumbangan, dan lain-lain. Karenanya perusahaan mendapat legitimasi bergerak leluasa melaksanakan kegiatannya. Setiap perusahaan didirikan dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Tetapi dibalik semua itu, ada hal lain yang lebih penting menyebabkan keberadaan dari perusahaan-perusahaan tersebut yaitu mencari keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya dalam setiap aktivitas produksi mereka.&lt;br /&gt;Dalam upaya untuk mendatangkan laba tersebut, setiap perusahaan selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan nilai tambah, dan pada akhirnya jika hal itu dibiarkan tidak terkontrol maka kemungkinan besar yang dapat timbul adalah dampak-dampak negatif yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat. &lt;br /&gt;Dampak-dampak yang semakin lama dan semakin besar serta sukar untuk dikendalikan ini seperti: polusi, keracunan, kebisingan, eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, diskriminasi, pemaksaan, kesewenang-wenangan, produksi makanan haram, sampai ke penipuan-penipuan terhadap konsumen seperti penjualan barang dengan kualitas rendah atau barang-barang yang sudah tidak layak pakai lagi (kadaluarsa), dan sebagainya. Dampak luar ini disebut Externalities. Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, maka masyarakatpun menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif, external diseconomy atau social cost yang ditimbulkan tidak semakin besar. &lt;br /&gt;Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, masyarakat pun menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif atau social cost yang ditimbulkan tidak semakin besar. Selain dapat menimbulkan  social cost, dampak dari keberadaan perusahaan terhadap keadaan sosial masyarakat dan lingkungan juga merupakan biaya-biaya sosial yang bisa menunjukkan kontribusi positif atau manfaat keberadaan perusahaan kepada masyarakat (social benefits).&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, akuntansi sebagai salah satu disiplin ilmu yang selalu mengikuti perkembangan lingkungan, harus mampu selalu berkembang dan menjangkau segala aspek yang ada. Enthoven (Harahap, 1992) menyatakan :&lt;br /&gt;“Akuntansi harus peka terhadap perubahan lingkungan yang terus menerus berlangsung, akuntansi harus waspada terhadap perubahan itu apakah melalui sistemnya yang dimilikinya maupun atas bantuan sistem informasi regional dan internasional, untuk menyakinkan agar produknya tetap relevan bagi pemakainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini berkembanglah ilmu akuntansi yang selama ini dikenal hanya memberikan informasi tentang kegiatan perusahaan dengan pihak ketiga, maka dengan adanya tuntutan ini, akuntansi bukan hanya merangkum informasi tentang hubungan perusahaan dengan pihak ketiga, tetapi juga dengan lingkungannya. Ilmu Socio Economic Accounting  (SEA) atau istilah lainnya Environmental Accounting, Social Responsibility Accounting, dan lain sebagainya, yang merupakan bidang ilmu akuntansi yang berfungsi dan mencoba mengidentifikasi, mengukur, menilai, melaporkan pengaruh hubungan antara perusahaan dengan lingkungan sosialnya yang ditunjukkan dengan adanya social benefit dan social cost. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntansi sosial ekonomi atau akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan alat yang sangat berguna bagi perusahaan dalam mengungkapkan aktivitas sosialnya di dalam laporan keuangan. Pengungkapan melalui social reporting disclosure akan membantu pemakai laporan keuangan untuk menganalisis sejauh mana perhatian dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis. Di Indonesia bentuk akuntansi ini belum mempunyai format atau standar yang baku sehingga pelaporannya bersifat voluntary (sukarela), dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 Paragraf ke sembilan dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri di mana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PSAK tersebut tidak secara tegas mengharuskan perusahaan untuk melaporkan tanggung jawab sosial mereka. Pengelompokan, pengukuran, dan pelaporan juga belum diatur, jadi untuk pelaporan tanggung jawab sosial diserahkan pada masing-masing perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Berbeda dengan negara-negara Eropa, laporan yang dibuat bersifat mandatory (kewajiban) yaitu mewajibkan perusahaan-perusahaan terutama perusahaan  yang telah go public untuk membuat sustainability reporting (Laporan Pertanggungjawaban) yang meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan  yang terjadi di perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan akuntansi sosial ekonomi antara lain: United Airlines, General Motor U.S.A, Intel, dan British Telecom.&lt;br /&gt;Sebagai contoh : PT. Caltex Pacific (tambang minyak) di Pekanbaru, Riau, tiap terjadi banjir yang diakibatkan oleh Sungai Siak, senantiasa membantu para penduduk dengan memberikan bantuan obat-obatan dan membantu pemerintah daerah dalam membuat jembatan di atas Sungai Siak, sehingga melancarkan lalu-lintas antara Pekanbaru dan Dumai di pinggir laut. PT. Inalum di Sumatera Utara pada bulan puasa membantu masyarakat kota Medan dengan menyalurkan sebagian energi listriknya  ke Medan sehingga umat Islam selama bulan puasa terjamin adanya penerangan terutama diperlukan pada waktu sahur malam. PT. Pupuk Sriwidjaja sebagai salah satu BUMN terbesar di Sumatera telah menyelesaikan proyek Pusri Effluent Treatment (PET) guna  pengolahan limbah secara terpadu untuk memperbaiki kualitas limbah yang akan dibuang ke lingkungan sesuai dengan mutu limbah yang ditetapkan  pemerintah dan Pusri juga telah menyalurkan dananya untuk pembinaan usaha kecil dan koperasi.&lt;br /&gt;Memang tidak semua perusahaan menyebabkan dampak yang negatif seperti yang telah disebutkan di atas, hanya demi mengejar keuntungan yang berlipat ganda. Banyak perusahaan lain yang berusaha untuk memberikan servis atau layanan terbaiknya kepada lingkungan dan terutama kepada masyarakat. Berbagai kegiatan sosial dilakukan seperti : pendirian tempat ibadah, mensponsori kegiatan olahraga, memberikan beasiswa, pelayanan kesehatan terutama sekali memberikan bantuan kepada mereka yang telah berusaha mengolah limbah buangan pabrik mereka semaksimal mungkin sehingga kadar racun yang ada dapat dihilangkan atau tidak berbahaya bagi kehidupan..   &lt;br /&gt;Di dalam era perdagangan bebas (free trade) ini, isu-isu mengenai masalah sosial perusahaan akan membuat perusahaan lebih memperhatikan kelangsungan hidupnya karena pertimbangan berbisnis saat ini tidak hanya dilihat dari kualitas produk maupun kualitas perusahaan secara finansial tetapi juga dilihat dari performa tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Hal ini diharapkan dapat mendorong perusahaan bukan hanya mengejar keuntungan semata tetapi juga ikut memperhatikan dan peduli terhadap kondisi lingkungan sosialnya. Walaupun belum ada standar yang baku mengenai penerapan akuntansi sosial ekonomi ini tetapi penerapan ini bertujuan untuk menimbulkan dan meningkatkan kesadaran perusahaan terhadap tanggung jawab sosialnya. Dengan kenaikan biaya sosial yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat diartikan bahwa terjadi peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) yang lebih dikenal sebagai PT Pusri, merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran pupuk. PT Pusri dengan Kantor Pusat dan Pusat Produksi yang berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan, merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia. Sebagai warga dunia usaha yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat, PT Pusri secara konsisten terus berupaya untuk maju sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, terutama untuk menghindari dari isu-isu maupun sentimen negatif dari masyarakat yang terkait dengan dampak negatif yang timbul akibat kegiatan operasional perusahaan. Oleh karena itu, untuk meredam sentimen-sentimen negatif dari masyarakat sehingga akan memperlancar kegiatan operasional perusahaan dan juga guna meningkatkan dan menjaga nama baik PT Pusri, maka PT Pusri harus memperlihatkan tanggung jawab sosial yang dilakukan terhadap masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-8591624920577850577?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/8591624920577850577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=8591624920577850577&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8591624920577850577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8591624920577850577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/penerapan-akuntansi-sosial-ekonomi.html' title='Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Terhadap Tanggung Jawab Sosial Pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) (EKN-111)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1924150872330786771</id><published>2010-03-16T07:34:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:35:52.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>SISTEM DAN PROSEDUR PENANGANAN DAN PENYELESAIAN PENGADUAN NASABAH PRODUK KREDIT DALAM MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA PADA PT. BTN (EKN-110)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;       Kondisi perekonomian Indonesia yang semakin mengglobal menuntut setiap perusahaan baik BUMN (Badan Usaha Milik Negara) maupun swasta, tak terkecuali lembaga perbankan untuk mempunyai daya saing tinggi dengan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan, karena pelanggan merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Keberhasilan perusahaan adalah jika perusahaan dapat mempertahankan pelanggan, sebab perusahaan tidak akan berarti tanpa pelanggan. Sedang di dalam pelaksanaan kegiatan usaha perbankan sendiri, seringkali hak-hak pelanggan / nasabah tidak dapat terlaksana dengan baik sehingga menimbulkan friksi antara nasabah dengan bank yang ditunjukkan dengan munculnya pengaduan nasabah. Pengaduan nasabah ini apabila tidak diselesaikan dengan baik oleh bank berpotensi menjadi perselisihan atau sengketa yang pada akhirnya akan dapat merugikan nasabah dan / atau bank. Tidak adanya mekanisme standard dalam penanganan pengaduan nasabah selama ini telah menyebabkan perselisihan atau sengketa antara nasabah dengan bank cenderung berlarut-larut, antara lain ditunjukkan dengan cukup banyaknya keluhan-keluhan nasabah di berbagai media. Munculnya keluhan-keluhan yang tersebar kepada publik melalui berbagai media tersebut dapat menurunkan reputasi bank di mata masyarakat dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan apabila tidak segera ditanggulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Oleh karena itu, untuk mengurangi publikasi negatif terhadap operasional bank dan menjamin terselenggaranya mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah secara efektif, maka Bank Indonesia telah menetapkan standard minimum mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah dalam Peraturan Bank Indonesia yaitu Nomor 7/7/PBI/2005 dan perubahannya, yaitu Nomor 10/10/PBI/2008 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dengan adanya peraturan tersebut maka diharapkan akan meningkatkan persaingan antar bank dan tak lupa memberikan kemudahan dan kepuasan bagi para nasabahnya. Tiap lembaga bank mempunyai prosedur tersendiri untuk menciptakan kepuasan nasabah demi mewujudkan pelayanan prima pada perusahaannya. Kepuasan  memegang peranan penting bagi citra perusahaan, karena perusahaan yang menjadikan kepuasan pelanggan sebagai nilai tambah dan tanggap menghadapi perubahan akan mampu memenangkan persaingan perekonomian global. Dengan demikian akan terwujud kelancaran kegiatan dan tercapainya tujuan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     PT. Bank Tabungan Negara (Persero) adalah salah satu BUMN Indonesia yang berbentuk perseroan terbatas. BTN yang bergerak di bidang jasa keuangan perbankan ini, dalam hal pelayanan nasabah telah meraih juara pertama Customer Service Championship 2004 untuk kategori perusahaan BUMN dan telah menyisihkan 89 tim lainnya. BTN memiliki Section Ritel Service, yaitu bagian yang menjamin keakuratan pelayanan yang tinggi dalam bidang Loan Service, Customer Service, Teller Service dan Kantor Kas. Oleh sebab tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengetahui dan mempelajari lebih lanjut mengenai system dan prosedur penanganan dan penyelesaian pengaduan nasabah khususnya pada bagian Loan Service (Pelayanan Kredit) guna menciptakan kepuasan nasabah dan mewujudkan pelayanan prima pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Malang, dalam bentuk laporan yang berjudul: “Sistem dan Prosedur Penanganan dan Penyelesaian Pengaduan Nasabah Produk Kredit dalam Mewujudkan Pelayanan Prima pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Malang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1924150872330786771?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1924150872330786771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1924150872330786771&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1924150872330786771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1924150872330786771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/sistem-dan-prosedur-penanganan-dan.html' title='SISTEM DAN PROSEDUR PENANGANAN DAN PENYELESAIAN PENGADUAN NASABAH PRODUK KREDIT DALAM MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA PADA PT. BTN (EKN-110)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-6551730689931276929</id><published>2010-03-16T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:34:27.500-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS IMPLEMENTASI PENJUALAN KREDIT PADA PT.RODASURYA ADIMAS BANJARMASIN (EKN-109)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai negara kepulauan dengan struktur keadaan alam yang sangat bervariasi, penggunaan beraneka ragam alat transportasi sangat dominan di Indonesia. Hal tersebut menjadikan Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi hampir semua jenis alat transportasi. Apakah itu transportasi udara seperti pesawat, transportasi laut sejenis kapal, ataukah transportasi darat semisal mobil dan motor. Ditambah dengan jumlah penduduk yang sangat besar, maka pemasaran produk transportasi maupun jasa transportasi dengan sendirinya memiliki prospek yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, kondisi ruas jalan masih tergolong sempit dan tingkat pendapatan masyarakatnya yang mayoritasnya berada pada level menengah, sangat menunjang bagi suatu perusahaan  memasarkan produk transportasi darat seperti motor roda dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Khususnya di Kota Banjarmasin, kita bisa melihat demikian banyak para pengguna jalan yang memakai roda dua sebagai sarana transportasi. Sarana ini bahkan hampir tidak mengenal batasan usia pemakainya. Dari para remaja yang menggunakan untuk alat angkut kesekolah hingga tidak sedikit orang dewasa yang menggunakan motor sebagai alat mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pasar yang sangat potensial ini terlihat oleh PT. Rodasurya Adimas Banjarmasin. Sebuah perusahaan yang bergerak disektor perdagangan motor dengan merek YAMAHA, dan meliputi daerah pemasaran Kalimantan Selatan dan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-6551730689931276929?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/6551730689931276929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=6551730689931276929&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6551730689931276929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/6551730689931276929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/analisis-implementasi-penjualan-kredit.html' title='ANALISIS IMPLEMENTASI PENJUALAN KREDIT PADA PT.RODASURYA ADIMAS BANJARMASIN (EKN-109)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-5931994773151177061</id><published>2010-03-16T07:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T07:33:21.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Penerimaan dan Pengeluaran Kas Berbasis Komputerisasi (Studi Kasus pada Cabang Pegadaian Syariah (EKN-108)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi suatu negara. Salah satu perkembangan tersebut adalah pada komputer. Perkembangan komputerisasi memang telah mampu memicu sistem yang semakin kompleks, maka skala usaha tentunya membutuhkan otomatisasi pengolahan berbagai macam data. Pengambilan keputusan manajemen juga memerlukan validitas informasi yang dapat ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan pengolahan data. Kondisi demikian menuntut mekanisme kerja yang mampu mendukung produktifitas manusia dalam mengolah informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan komputer dalam sistem akuntansi harus dipertimbangkan secara hati-hati, karena jumlah investasi dana untuk teknologi tersebut relatif besar. Bagi suatu perusahaan, manfaat yang diperoleh dari penggunaan komputer dapat melebihi biaya yang dikeluarkan. Hal ini wajar, karena tujuan utama perusahaan adalah mencari keuntungan serta menjamin kontinuitas usaha perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perum Pegadaian sebagai salah satu BUMN yang menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sesuai dengan aturan-aturan yang telah tetapkan dalam pedoman operasionalnya yaitu Peraturan Pemerintah no.103 tahun 2000 yang mengatur tentang Perum Pegadaian. Cabang Pegadaian Syariah dan cabang-cabang lainnya menggunakan sistem terkomputerisasi dalam melakukan kegiatan operasionalnya untuk memperlancar pekerjaannya sehinga keamanan dan keakuratan pengelolaan kekayaan perusahaan terjamin dan informasi yang diberikan kepada masyarakat dan pihak yang berkepentingan juga relevan dan tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem dan Prosedur serta program aplikasi pada setiap perum pegadaian di seluruh Indonesia adalah seragam, karena telah dirancang oleh programer dari pusat teknologi perum pegadaian yang berpusat di Jakarta. Program yang digunakan dalam aplikasi adalah Fox Pro. Program ini disebut aplikasi SISCAB (Sistem Cabang). Pimpinan dan bagian tata usaha mempunyai otorisasi penuh sehingga dapat mengakses semua informasi dengan menggunakan password. Sedangkan kasir dan penaksir hanya dapat mengakses sebatas ruang lingkup kebutuhan bagiannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Pegadaian Syariah Landungsari di bentuk sebagai unit bisnis yang mandiri dengan maksud untuk menjawab tantangan kebutuhan masyarakat yang mengharapkan adanya pelayanan pinjam meminjam yang bebas dari unsur riba yang dilarang menurut syariat Islam. Dalam kenyataannya di lapangan, sudah ada institusi lain yang menjawab tantangan ini dengan mengeluarkan produk gadai berprinsip syariat (Rahn). Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi Pegadaian. Apabila ingin tetap eksis di mata masyarakat luas terutama terhadap penduduk muslim, maka harus mampu menjawab tuntutan kebutuhan pasar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi perkembangan keadaan tersebut, maka dibentuklah Unit Layanan Gadai Syariah sebagai cikal bakal anak perusahaan yang dikemudian hari diharapkan menjadi institusi layanan syariah mandiri yang terpisah dari pegadaian. Terbentuknya Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) ini adalah untuk mengemban tugas pokok melayani kegiatan pemberian kredit kepada masyarakat luas atas dasar penerapan prinsip-prinsip gadai yang dibenarkan secara syariah islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahn (gadai syariah) dalam hukum islam dilakukan secara sukarela atas dasar tolong menolong dan tidak untuk mencapai keuntungan. Sedangkan gadai menurut hukum perdata, disamping berprinsip tolong menolong juga menarik keuntungan melalui sistem bunga atau sewa modal yang ditetapkan dimuka. Dalam hukum islam tidak dikenal istilah ”bunga uang”, dengan demikian dalam transaksi rahn (gadai syariah) pemberi gadai tidak dikenakan tambahan pembayaran atas pinjaman yang diterimanya. Namun demikian masih dimungkinkan bagi penerima gadai untuk memperoleh imbalan berupa sewa tempat penyimpanan marhun (Barang jaminan atau agunan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengendalian intern merupakan aspek terpenting dalam sistem informasi akuntansi suatu perusahaan. Sistem pengendalian intern meyarankan tindakan–tindakan yang harus di ambil oleh manajemen untuk mengatur dan menggerakan aktivitas–aktivitas perusahaan terutama aktivitas pengeluaran dan penerimaan kas. Setiap aktivitas perusahaan terutama yang berkaitan dengan pengeluaran dan penerimaan kas perlu dikelola dengan baik dan dengan perencanaan yang matang. Pengendalian ini dilakukan karena pada aktivitas ini tingkat penyelewengan yang terjadi sangat tinggi. Banyak hal yang dapat menyebabkan timbulnya kerugian pada suatu perusahaan, misalnya saja proses pengambilan keputusan manajemen yang kurang tepat, kesalahan pencatatan data penerimaan dan pengeluaran kas, ketidakpatuhan karyawan terhadap manajemen dan penyelewengan yang dilakukan oleh karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kas merupakan aktiva lancar yang paling likuid, kas sering menjadi sasaran kecurangan. Mengingat hal tersebut, maka pengendalian terhadap kas merupakan masalah yang penting bagi perusahaan. Dengan pengendalian intern yang baik, diharapkan kemungkinan penyelewengan terhadap kas dapat di atasi sedini mungkin.&lt;br /&gt;Pada Cabang Pegadaian Syariah, pengeluaran kas terjadi akibat dari aktivitas perusahaan dalam memberikan uang pinjaman kredit atas barang jaminan yang digadaikan. Pemasukan kas pada Cabang Pegadaian Syariah diperoleh dari hasil penjualan lelang barang jaminan dan penebusan marhun (barang jaminan) oleh rahin (nasabah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-5931994773151177061?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/5931994773151177061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=5931994773151177061&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5931994773151177061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/5931994773151177061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/evaluasi-sistem-pengendalian-intern.html' title='Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Penerimaan dan Pengeluaran Kas Berbasis Komputerisasi (Studi Kasus pada Cabang Pegadaian Syariah (EKN-108)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-4759677046115689157</id><published>2010-03-15T07:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T07:40:20.487-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS ANGGARAN BIAYA PRODUKSI SEBAGAI ALAT PENGAWASAN PADA PT. COCA COLA (EKN-107)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan usaha, tidak dapat disangkal pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi yang sangat pesat serta faktor – faktor lainnya sangat berpengaruh pada kegiatan perusahaan yang semakin kompleks. Tujuan utama didirikannya perusahaan adalah untuk mendapatkan laba semaksimal mungkin dari hasil operasinya. Sebagaimana diketahui laba merupakan ukuran untuk menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Akan tetapi laba yang diharapkan tidaklah datang begitu saja atau terjadi secara kebetulan. Hal ini akan dapat dicapai apabila didukung oleh perencanaan yang baik. Perencanaan yang baik dapat memberikan tuntutan untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejalan dengan perkembangan dunia usaha pada umumnya, maka banyak perusahaan yang berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar. Sehubungan dengan perkembangan perusahaan tersebut, maka kegiatan – kegiatan yang ada dalam perusahaan menjadi bertambah banyak, baik jenis kegiatan maupun volume kegiatan yang dilaksanakan. Jika perusahaan berkembang menjadi besar atau perusahaan yang didirikan dengan skala perusahaan besar, maka perencanaan dan pengawasan kegiatan yang dilaksanakan haruslah memadai dengan besarnya perusahaan tersebut. Kegiatan – kegiatan yang ada di dalam perusahaan semacam ini akan merupakan kegiatan yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Kegagalan pelaksanaan salah satu kegiatan akan mempunyai akibat terhadap kegiatan lain di dalam suatu bagian, atau bahkan dengan bagian yang lain di dalam perusahaan. Dengan demikian, maka perencanaan dan pengawasan dalam perusahaan tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik – baiknya dan secara terpadu. Dengan diharapkan pemborosan dapat dicegah atau setidak-tidaknya dapat dikurangi dari periode-periode sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk menjawab tantangan dalam perusahaan, maka dewasa ini lazim dipergunakan anggaran sebagai sistem perencanaan, koordinasi dan pengawasan dalam perusahaan. Anggaran sebagai suatu sistem nampaknya cukup memadai untuk dipergunakan sebagai alat perencanaan, koordinasi dan pengawasan dari seluruh kegiatan perusahaan. Dengan mempergunakan anggaran, perusahaan akan dapat menyusun perencanaan dengan lebih baik sehingga koordinasi dan pengawasan yang dilakukan dapat memadai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anggaran merupakan kumpulan berbagai informasi yang diharapkan akan dapat dicapai di masa yang akan datang dalam suatu periode tertentu. Anggaran dibutuhkan manajemen untuk merencanakan semua aktivitas dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Selain sebagai alat perencanaan, anggaran juga mempunyai arti yang sangat penting dalam pengkoordinasian kegiatan. Dengan adanya koordinasi diharapkan kerja sama yang baik dari seluruh bagian untuk mencapai tujuan bersama. Di sisi lain, anggaran menjadi sangat penting, karena anggaran juga berperan sebagai alat pengawasan. Pengawasan berfungsi untuk menjamin bahwa aktivitas yang dilaksanakan telah berjalan seperti yang direncanakan.&lt;br /&gt; Penyusunan anggaran biaya produksi yang baik akan menunjang kegiatan produksi perusahaan sehari – hari yang nantinya akan menunjang seluruh kegiatan perusahaan. Demikian pula, pengawasan biaya produksi sebagai suatu fungsi memperbandingkan biaya produksi yang sebenarnya dengan anggaran biaya produksi. Dengan adanya perbandingan tersebut dapat dievaluasi apakah telah terjadi penyimpangan baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan adanya penyusunan anggaran yang baik, maka akan mengarah kepada efektivitas dan efisiensi perusahaan. Efektivitas dan efisiensi merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai prestasi kerja dari suatu pusat pertanggungjawaban tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan antara keluaran dengan masukan atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu unit masukan yang dipergunakan. Efektivitas adalah hubungan antara keluaran suatu pusat pertanggungajawaban dengan sasaran yang harus dicapainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyimpangan biaya yang terjadi, baik itu yang bersifat menguntungkan/merugikan perusahaan perlu dianalisis supaya lebih informatif dan akurat dalam pemakaiannya. Analisis ini perlu untuk meneliti dimana penyimpangan itu terjadi, apa penyebabnya dan siapa saja yang bertanggung jawab atas penyimpangan tersebut. Lebih lanjut hasil analisis ini dapat digunakan pihak manajemen sebagai dasar untuk melakukan tindakan perbaikan dan juga sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan-keputusan yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PT. Coca Cola merupakan sebuah perusahaan pembotolan yang bergerak dalam bidang minuman ringan (soft drink). Adapun minuman yang diproduksi adalah Coca Cola, Sprite, Fanta, Frestea, dan Hi-C. Seperti yang kita ketahui, penjualan produk-produk ini sampai pada daerah yang terpencil sekalipun. Ini menggambarkan bahwasanya penjualan merupakan hal yang sangat berpengaruh pada pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan penghematan biaya produksi agar laba yang nantinya diperoleh perusahaan akan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana peranan anggaran biaya produksi sebagai alat pengawasan pada perusahaan tersebut. Oleh sebab itu, penulis memilih judul “Analisis Anggaran Biaya Produksi Sebagai Alat Pengawasan pada PT. Coca Cola.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-4759677046115689157?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/4759677046115689157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=4759677046115689157&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4759677046115689157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/4759677046115689157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/analisis-anggaran-biaya-produksi.html' title='ANALISIS ANGGARAN BIAYA PRODUKSI SEBAGAI ALAT PENGAWASAN PADA PT. COCA COLA (EKN-107)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-1965375547870701308</id><published>2010-03-15T07:36:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T07:38:20.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>PERBANDINGAN LUAS PENGUNGKAPAN SOSIAL PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN LOKAL DAN PERUSAHAAN ASING (EKN-106)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan sosial (social disclosure) merupakan produk dari akuntansi sosial (social accounting). Akuntansi sosial yang masih merupakan bidang baru dalam ilmu akuntansi ini lahir dan berkembang karena terjadinya perubahan paradigma pertanggungjawaban. Bila dahulu laporan tahunan (annual report), sebagai produk akuntansi, dimaksudkan sebagai pertanggungjawaban manajemen kepada pemegang saham (stockholders), kini paradigma tersebut diperluas menjadi pertanggungjawaban kepada seluruh pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholders) (Utomo, 2000).&lt;br /&gt;Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (Revisi 1998) paragraf kesembilan, Ikatan Akuntan Indonesia (2002) secara implisit memberikan penjelasan mengenai pengungkapan sosial pada laporan tahunan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengungkapan sosial, perusahaan mengkomunikasikan kepada stakeholders mengenai aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukannya. Di dalamnya, perusahaan mengungkapkan informasi yang lebih luas di luar batas-batas akuntansi konvensional. Informasi tersebut antara lain mengenai karyawan, produk, konsumen, lingkungan hidup dan kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya pengungkapan sosial perusahaan (corporate social disclosure) berkaitan dengan adanya kontrak (perjanjian) sosial (social contract). Kontrak antara perusahaan dengan masyarakat—baik yang sifatnya eksplisit maupun implisit—yang timbul karena interaksi perusahaan dengan lingkungan sosialnya, membawa konsekuensi perusahaan harus bertanggungjawab tidak hanya terhadap kesejahteraan pemegang saham, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial, yaitu tanggung jawab untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial (Belkaoui, 2000). Kasus pencemaran Teluk Buyat oleh PT Newmont, kasus produk mengandung enzim babi yang pernah menimpa PT Ajinomoto, serta demonstrasi para karyawan akibat ketidakadilan perusahaan di berbagai kota membuktikan bahwa mengabaikan tanggung jawab sosial akan berakibat pada munculnya berbagai masalah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup perusahaan. Itulah sebabnya mengapa perusahaan perlu melakukan pengungkapan sosial. Pengungkapan sosial merupakan wujud pertanggungjawaban sosial perusahaan (corporate social responsibility) (Hadi, 2006). Melalui pengungkapan sosial pada laporan tahunan, masyarakat dapat memantau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosialnya. Dengan cara demikian, perusahaan akan memperoleh perhatian, kepercayaan dan dukungan dari masyarakat sehingga perusahaan dapat tetap eksis (Parsons dalam Hadi, 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tanggung jawab sosial perusahaan kini telah menjadi perhatian para akademisi dan praktisi di bidang akuntansi, namun hingga saat ini belum ada standar yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengukur pertanggungjawaban sosial perusahaan dalam laporan tahunan (Murni, 2001). Namun demikian, dalam berbagai studi, banyak peneliti di bidang akuntansi sosial menggunakan luas pengungkapan sosial (extent of social disclosure)—yaitu seberapa banyak informasi sosial yang diungkapkan oleh perusahaan untuk mengukur besarnya tanggung jawab sosial perusahaan (Hadi, 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa riset yang pernah dilakukan sebelumnya, para peneliti akuntansi sosial menemukan adanya perbedaan luas pengungkapan sosial antara satu kelompok perusahaan dengan kelompok perusahaan yang lain. Hackston dan Milne (Hall, 2002) dan Utomo (2000) menemukan adanya perbedaan luas pengungkapan sosial yang signifikan antara kelompok perusahaan high profile dan kelompok perusahaan low profile. Sementara itu, Parsa dan Ghaffari (2003) dan Adams et. al. (Utomo, 2000) menemukan bukti adanya perbedaan luas pengungkapan sosial antara kelompok perusahaan besar dan kelompok perusahaan kecil. Perbedaan luas pengungkapan sosial antar kelompok perusahaan yang ditemukan pada penelitian-penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepedulian (tanggung jawab) sosial antara satu kelompok perusahaan dengan kelompok perusahaan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukannya bukti mengenai adanya perbedaan luas pengungkapan sosial pada berbagai kelompok perusahaan dalam penelitian-penelitian akuntansi sosial terdahulu membuat penulis merasa tertarik untuk melakukan investigasi terhadap pengungkapan sosial pada laporan tahunan yang dilakukan oleh dua kelompok perusahaan yang ada di Indonesia, yaitu: perusahaan lokal dan perusahaan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan asing (perusahaan yang lebih dari 25% sahamnya dimiliki oleh investor asing) diduga akan memiliki pengungkapan sosial yang lebih luas daripada perusahaan lokal. Kemungkinan ini disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran perusahaan-perusahaan di Indonesia akan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial. Menurut Yudiani (Murni, 2001), di Indonesia, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) belum membudaya jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Kurangnya kesadaran para pengusaha untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya menyebabkan upaya perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitar masih relatif rendah. Banyak perusahaan yang beroperasi semata-mata untuk mengejar maksimalisasi laba tanpa menghiraukan dampak negatif yang timbul dari aktivitas perusahaan. Hal ini terbukti dari polusi, kebakaran hutan, kerusakan lingkungan, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan karyawan dan masyarakat sekitar masih banyak terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di Indonesia, penggunaan laporan tahunan sebagai media komunikasi antara perusahaan dengan stakeholders juga masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Utomo (2000) mengemukakan bahwa selama ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia membuat laporan tahunan hanya untuk keperluan para pemegang saham, sedangkan kepentingan stakeholders lain seperti karyawan, masyarakat dan konsumen cenderung terabaikan. Perusahaan asing di Indonesia diduga memiliki pengungkapan sosial pada laporan tahunan yang lebih luas daripada perusahaan lokal, karena investor asing di Indonesia pada umumnya membutuhkan serta menuntut informasi sosial yang luas. Pengungkapan informasi sosial pada laporan tahunan sangat dibutuhkan oleh para investor asing tersebut untuk membuat keputusan investasi. Hal ini disebabkan karena umumnya investor asing mau berinvestasi pada daerah yang aman, tidak banyak klaim (tuntutan) baik dari komunitas masyarakat sekitar, lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerintah. Sehingga, investor asing dalam membuat keputusan investasi tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan ekonomi dan keuangan, tetapi juga pada pertimbangan sosiologis. Selain melihat profit, mereka juga melihat tanggung jawab perusahaan pada stakeholders selain pemegang saham. Tanggung jawab tersebut antara lain mencakup perlindungan lingkungan, perlakuan terhadap karyawan, hubungan dengan pemerintah, serta kualitas dan inovasi produk (Rockness dan Williams dalam Belkaoui, 2000). Oleh karena itu, investor asing yang berinvestasi di Indonesia diduga akan lebih memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang memiliki pengungkapan sosial yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang telah dikemukakan di atas menimbulkan dugaan adanya perbedaan luas pengungkapan sosial yang signifikan antara perusahaan lokal dan perusahaan asing. Melihat pentingnya pengungkapan sosial pada laporan tahunan—baik bagi perusahaan maupun stakeholders—serta kemungkinan terjadinya perbedaan luas pengungkapan sosial antara perusahaan lokal dan perusahaan asing, maka melalui penelitian ini penulis ingin melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam luas pengungkapan sosial pada laporan tahunan antara perusahaan lokal dan perusahaan asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-1965375547870701308?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/1965375547870701308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=1965375547870701308&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1965375547870701308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/1965375547870701308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/03/perbandingan-luas-pengungkapan-sosial.html' title='PERBANDINGAN LUAS PENGUNGKAPAN SOSIAL PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN LOKAL DAN PERUSAHAAN ASING (EKN-106)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-2752685870809271091</id><published>2010-01-11T21:53:00.001-08:00</published><updated>2010-01-11T21:53:57.780-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS LAPORAN KEUANGAN  SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA  PADA P.D.UNION  MEDAN (EKN-105)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Setiap perusahaan yang didirikan baik perusahaan dagang, perusahaan industri maupun perusahaan jasa memiliki satu tujuan utama yaitu mencapai laba maksimal. Setiap perusahaan berusaha untuk menerapkan strategi yang tepat sehingga dapat secara cepat merespons perkembangan pasar untuk dapat mempertahankan dan sekaligus merebut pasar dan peluang yang ada dimana terdapat para pesaing dari bidang usaha sejenis yang ketat berkompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi-informasi bisnis harus secara cepat dapat diperoleh sehingga pihak perusahaan dapat segera mengambil kebijakan yang diperlukan. Di samping kecepatan, keakuratan dari informasi yang diperoleh juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dan menjadi aset yang sangat berharga bagi perusahaan dalam menerapkan kebijakan dan  strategi-strateginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kecepatan dan keakuratan informasi tidak akan berharga jika tidak dapat dianalisis dan diinterpretasikan dengan baik dan tepat dalam kebijakan dan strategi yang dibuat oleh perusahaan. Hal ini menuntut kemampuan dan kejelian pihak manajemen perusahaan dalam menganalisis dan menginterpretasikan informasi tersebut khususnya informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai kegiatan di masa yang lalu dianalisa dan disesuaikan dengan keadaan di masa sekarang untuk dijadikan dasar kebijaksanaan yang berguna sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, suatu keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada intuisi manajer belaka, melainkan suatu keputusan yang tepat dan lebih rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan keuangan adalah salah satu sumber informasi yang penting dalam hal pengambilan keputusan oleh pihak manajemen perusahaan karena menyangkut tentang posisi keuangan perusahaan baik dari segi likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, hasil-hasil atau kerugian yang dialami oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.&lt;br /&gt;Dengan informasi dari laporan keuangan periode yang lalu, manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan untuk kebijakan-kebijakan yang lebih tepat, membuat perencanaan yang lebih baik untuk periode yang akan datang  serta memperbaiki sistem pengawasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah untuk membuat perencanaan laba pada periode yang akan datang serta bagaimana cara untuk mencapai target laba yang sudah ditetapkan oleh perusahaan karena tingkat laba perusahaan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan.&lt;br /&gt;Hal menarik inilah yang menjadi salah satu alasan penulis memilih judul “ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA P.D.UNION MEDAN “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-2752685870809271091?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/2752685870809271091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=2752685870809271091&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2752685870809271091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/2752685870809271091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/01/analisis-laporan-keuangan-sebagai-alat.html' title='ANALISIS LAPORAN KEUANGAN  SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA  PADA P.D.UNION  MEDAN (EKN-105)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-8028198434993717006</id><published>2010-01-11T21:51:00.001-08:00</published><updated>2010-01-11T21:52:59.229-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>ANALISIS PENGUMUMAN DIVIDEN UNTUK MENGUJI EFISIENSI PASAR BENTUK SETENGAH KUAT SECARA KEPUTUSAN (STUDI PERISTIWA PADA PERUS. MANUFAKTUR (EKN-104)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pasar modal yang efisien yaitu pasar modal yang harga-harga sekuritasnya secara penuh merefleksikan (fully reflect) informasi yang tersedia di pasar serta merespon secara cepat (quickly react) setiap munculnya informasi baru. Efisiensi pasar dapat dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu efisiensi pasar bentuk lemah (weak form efficiency), efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semi strong form efficiency) dan efisiensi pasar bentuk kuat (strong form efficiency) (Fama, 1970). Efisiensi pasar bentuk setengah kuat versi Fama tersebut kemudian dikembangkan oleh Hartono (1998) menjadi efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara informasi (informationally efficient market) dan efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara keputusan (decisionally efficient market). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pasar yang efisien secara informasi, efisiensi pasar diukur berdasarkan seberapa luas suatu informasi tersedia di pasar. Jika harga sekuritas secara penuh mencerminkan informasi yang dipublikasikan saat ini, maka pasar sekuritas tersebut dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat secara informasi. Sedangkan pada pasar yang efisien secara keputusan, efisiensi pasar dinilai tidak hanya dari segi ketersediaan informasi saja tetapi juga mempertimbangkan kemampuan pelaku pasar dalam mengolah informasi sehingga dapat berguna dalam pengambilan keputusan investasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hartono (1998), definisi pasar efisien bentuk setengah kuat versi Fama tepat untuk informasi yang tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut, misalnya pengumuman laba. Pengumuman laba dengan mudah dapat diinterpretasikan sebagai peningkatan kinerja perusahaan. Terhadap informasi pengumuman laba, pasar akan bereaksi dengan cepat sehingga harga sekuritas akan segera bergerak ke arah keseimbangan yang baru. Harga keseimbangan yang baru tersebut mencerminkan informasi  pengumuman laba yang beredar di pasar. Untuk informasi yang tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut, ketersediaan informasi sudah mencukupi untuk menilai efisiensi pasar.&lt;br /&gt;Akan tetapi, untuk informasi yang masih memerlukan pengolahan lebih lanjut, seperti pengumuman dividen meningkat, ketersediaan informasi saja tidak menjamin suatu pasar menjadi efisien. Ketika informasi dividen meningkat diumumkan dan kemudian semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, belum tentu informasi tersebut dengan segera tercermin dalam harga sekuritas perusahaan bersangkutan. Hal ini karena sebelum memberikan reaksi terhadap pengumuman dividen meningkat, pelaku pasar terlebih dahulu harus menganalisis apakah pengumuman dividen meningkat tersebut merupakan sinyal yang valid atau tidak. Pengumuman dividen meningkat merupakan sinyal yang valid jika dikeluarkan oleh perusahaan yang bertumbuh. Hal ini karena kenaikan dividen merupakan sinyal yang membutuhkan cost tinggi sehingga hanya perusahaan bertumbuh yang akan mampu menanggungnya. Jika suatu perusahaan mengumumkan kenaikan dividen, maka perusahaan tersebut harus mampu memenuhi pembayaran dividen yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya serta mempertahankan tingkat pembayaran dividen yang sudah meningkat tersebut. Pelaku pasar akan memberikan reaksi yang positif terhadap pengumuman dividen meningkat yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bertumbuh. Sebaliknya, jika perusahaan yang tidak bertumbuh mengumumkan kenaikan dividen, maka perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan likuiditas di masa mendatang untuk mempertahankan tingkat pembayaran dividennya. Dengan demikian, kenaikan dividen yang diumumkan oleh perusahaan yang tidak bertumbuh merupakan sinyal yang tidak valid sehingga pasar akan bereaksi negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan informasi pengumuman laba yang dapat dengan mudah diinterpretasikan  sebagai kabar baik, interpretasi pengumuman dividen meningkat memerlukan analisis yang mendalam dan waktu yang lebih lama. Untuk mengolah informasi semacam ini dengan benar, maka pelaku pasar harus canggih (sophisticated). Pelaku pasar yang canggih yaitu pelaku pasar yang mampu menilai apakah suatu informasi merupakan sinyal yang valid (memiliki nilai ekonomis dalam pengambilan keputusan investasi) atau tidak valid (tidak memiliki nilai ekonomis dalam pengambilan keputusan investasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua pelaku pasar dapat menilai dengan tepat apakah suatu informasi memiliki nilai ekonomis dalam pengambilan keputusan investasi atau tidak. Sebagian pelaku pasar masih merupakan investor yang naif, yaitu investor yang kurang atau tidak dapat menginterpretasikan informasi dengan benar. Meskipun suatu informasi sudah tersedia untuk semua pelaku pasar, pasar yang tidak efisien bisa saja terjadi. Hal itu karena tidak semua pelaku pasar merupakan investor yang canggih. Dengan demikian pembagian efisiensi pasar berdasarkan ketersediaan informasi saja tidaklah cukup. Untuk menilai apakah suatu pasar sekuritas sudah efisien atau tidak juga harus memperhitungkan kecanggihan pelaku pasar dalam mengolah suatu informasi. Jika semua informasi tersedia bagi semua pelaku pasar dan semua pelaku pasar dapat mengambil keputusan dengan canggih, maka pasar sekuritas tersebut dikatakan efisien secara keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini bermaksud menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara keputusan terhadap pengumuman dividen meningkat. Pengujian efisiensi pasar secara keputusan meliputi pengujian kandungan informasi pengumuman dividen, kecepatan reaksi pasar serta ketepatan reaksi pasar terhadap pengumuman dividen. Pengujian kandungan informasi dan kecepatan reaksi pasar dilakukan tidak hanya terhadap pengumuman dividen meningkat saja tetapi juga terhadap pengumuman dividen menurun. Sedangkan pengujian ketepatan reaksi pasar dilakukan terhadap pengumuman dividen meningkat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Setiawan dan Hartono (2003) serta Setiawan dan Subekti (2005). Kedua penelitian tersebut menguji ketepatan reaksi pasar terhadap pengumuman dividen meningkat. Perusahaan yang mengumumkan kenaikan dividen dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok perusahaan bertumbuh dan kelompok perusahaan yang tidak bertumbuh dengan menggunakan proksi Investment Opportunity Set (IOS). Pengujian ketepatan reaksi pasar dilakukan dengan menguji abnormal return pada masing-masing kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penelitian ini dari penelitian sebelumnya yaitu proksi IOS yang digunakan untuk mengklasifikasikan perusahaan yang mengumumkan kenaikan dividen sebagai perusahaan bertumbuh atau tidak bertumbuh. Jika penelitian sebelumnya menggunakan proksi IOS individual (Setiawan dan Hartono, 2003 menggunakan rasio market to book value of assets, sementara Setiawan dan Subekti, 2005 menggunakan rasio capital addition to book value of assets), maka penelitian ini menggunakan proksi gabungan. Proksi gabungan yaitu suatu proksi yang terbentuk dari gabungan proksi-proksi individual. Penggunaan proksi gabungan dapat mengurangi measurement error yang melekat pada proksi individual, sehingga akan menghasilkan pengukuran IOS yang lebih baik (Kallapur dan Trombley, 2001 dalam Saputro, 2003). Penelitian ini menggunakan proksi gabungan yang digunakan oleh Pagalung (2003), yaitu: (1) rasio market to book value of assets, (2) rasio market to book value of equity, (3) rasio earning to price, dan (4) rasio Tobin’s Q. Karena rasio Tobin’s Q menggunakan nilai persediaan dalam perhitungannya, maka penelitian ini tidak bisa menguji semua perusahaan yang mengumumkan kenaikan dividen, tetapi hanya mengambil sampel dari kelompok usaha manufaktur saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan latar belakang dan penelitian terdahulu yang telah diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul: “ANALISIS PENGUMUMAN DIVIDEN UNTUK MENGUJI EFISIENSI PASAR BENTUK SETENGAH KUAT SECARA KEPUTUSAN (STUDI PERISTIWA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG LISTING DI BURSA EFEK JAKARTA PERIODE 2004-2006) ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-8028198434993717006?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/8028198434993717006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=8028198434993717006&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8028198434993717006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/8028198434993717006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2010/01/analisis-pengumuman-dividen-untuk.html' title='ANALISIS PENGUMUMAN DIVIDEN UNTUK MENGUJI EFISIENSI PASAR BENTUK SETENGAH KUAT SECARA KEPUTUSAN (STUDI PERISTIWA PADA PERUS. MANUFAKTUR (EKN-104)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-782845390735012499</id><published>2009-12-28T15:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T18:26:00.225-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>TRANSPARANSI DAN TRANSFORMASI AUDIT SEKTOR PUBLIK SEBAGAI USAHA PEMENUHAN AKUNTABILITAS PUBLIK (Studi Kasus Pada Pemerintahan Kota Batu) (EKN-103)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntansi merupakan disiplin ilmu yang terus berkembang sesuai  dengan kebutuhan para penggunanya. Tujuan akuntansi diarahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki manfaat. Akuntansi digunakan baik pada sektor swasta maupun sektor publik untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan sifat dan karakteristik akuntansi tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhinya. Dalam waktu yang relatif singkat, akuntansi sektor publik telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fenomena yang dapat diamati, dalam perkembangan sektor publik dewasa ini adalah semakin menguatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik oleh organisasi sektor publik (seperti: pemerintahan pusat dan daerah, unit-unit kerja pemerintah, departemen dan lembaga-lembaga negara). Tuntutan akuntabilitas sektor publik terkait dengan perlunya dilakukan transparansi dan pemberian informasi kepada publik dalam rangka pemenuhan hak-hak publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit sektor publik merupakan salah satu bidang akuntansi sektor publik. Sebagai salah satu bidang, audit sektor publik lebih merupakan pilar. Apabila pilar itu runtuh, maka keberadaan akuntansi sektor publik pun akan dipertanyakan. Oleh sebab itu, keseriusan pengembangan akuntansi sektor publik baik ditingkat sistem maupun standar seharusnya diikuti dengan pengembangan audit. Selain itu, berbagai stagnasi politik yang terjadi dalam reformasi manajemen keuangan sektor publik akan dapat dipecahkan melalui implementasi opini audit, baik untuk pemeriksaan keuangan maupun pemeriksaan kinerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan amandemen UUD 1945 dan UU Keuangan Negara, Badan Pemeriksa Keuangan telah diperkuat posisinya sebagai salah satu pilar kehidupan bernegara. Pilar ini adalah auditor eksternal satu-satunya. Ini berarti, pilar audit sektor publik telah mendapatkan pengakuan yang tegas dan jelas dalam perundang-undangan negara ini (Bastian, 2003:V). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan bisnis sekarang menuntut adanya transparansi manajemen dalam mengelola perusahaan. Pihak manajemen harus menyajikan kondisi perusahaan secara jelas, baik secara finansial maupun operasional. Transparansi manajemen ini tidak lepas dari peran independen yaitu audit eksternal. Audit eksternal yang independen adalah akuntan publik dan akuntan pemerintah. Akuntan publik sebagai badan pemeriksa laporan keuangan perusahaan privat, sedangkan akuntan pemerintah dalam hal ini Badan Pemeriksa Keuangan sebagai Pemeriksa Perusahaan Publik atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Oleh karena itu perusahaan Indonesia dapat dipercaya masyarakat maupun investor jika sudah diperiksa laporan keuangan oleh akuntan (Safriliana, 2003:68).&lt;br /&gt;Dalam tahun-tahun belakangan ini berbagai tuntutan dari masyarakat agar mendapatkan pelayanan yang baik merupakan suatu gejala yang sulit dihindari baik disektor pemerintahan maupun sektor swasta. Pada sektor swasta, mengingat sangat terbatasnya stakeholder, jelasnya produk yang dihasilkan, dan banyaknya perusahaan yang menyediakan barang dan jasa tingkat persaingan diantara perusahaan akan memacu perusahaan untuk dapat melayani stakeholdernya dengan baik. Lain hanya dengan sektor pemerintahan sebagai satu-satunya institusi yang memberikan pelayanan terhadap kebutuhan barang publik dan jasa publik, upaya pelayanan kepada para stakeholdernya relatif bersifat monopolistik, sehingga kesadaran dan upaya-upaya untuk memberikan pelayaan terbaik kepada publiknya agak tertinggal dibandingkan sektor swasta. Dalam rangka merespon apa sebenarnya yang diinginkan warganya, badan-badan ini sedapat mungkin melibatkan para stakeholder dalam merumuskan rencana strategisnya, terutama ketika mereka merumuskan misi organisasinya. Dengan demikian nampak adanya perubahan yang mendasar bagaimana pemerintah seharusnya melayani masyarakatnya (Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah BPKP, 2001:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengacu pada World Bank dan UNDP, orientasi pembangunan sektor publik adalah untuk menciptakan good governance. Pengertian good governance sering diartikan sebagai kepemerintahan yang baik. Sementara itu, World Bank mendefinisikan good governance sebagai suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran dari salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha (Mardiasmo, 2002:24).&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan good governance diperlukan reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi publik (public managemen reform). Reformasi kelembagaan menyangkut pembenahan seluruh alat-alat pemerintahan didaerah baik struktur maupun infrastrukturnya. Kunci reformasi kelembagaan tersebut adalah pemberdayaan masing-masing elemen didaerah, yaitu masyarakat umum sebagai “stakeholder”, pemerintahan daerah sebagai eksekutif, dan DPRD sebagai “shareholder” (Mardiasmo, 2002:25). &lt;br /&gt;Dalam dunia bisnis, good governance, dikenal dengan istilah good corporate governance dengan prinsip yang kurang lebih sama. Dalam setiap penyelenggaraan good governance, harus berlandaskan pada tiga prinsip dasar, yaitu: transparansi, partisipasi, akuntabilitas. Ketiga prinsip dasar tersebut, merupakan bagian tak terpisahkan dalam setiap penentuan kebijakan publik, implementasia, dan pertanggungjawabannya dalam bingkai good governance (Rosjidi, 2001:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang No 32 Tahun 1999 merupakan perubahan dari Undang-undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Serta peningkatan daya saing daerah. Dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global. Dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Hal ini telah  melahirkan nuansa baru, yaitu pergeseran kewenangan pemerintahan yang sentralistik birokratik ke pemerintahan yang desentralistik partisipatoris (Undang-Undang No. 32, 2004:137). &lt;br /&gt;Kondisi tersebut juga terpacu seiring dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah diyakini akan membawa perubahan yang mendasar. Ditujukan untuk menciptakan suatu sistem perimbangan keuangan yang profesional, demokratis, adil dan transparan berdasarkan atas pembagian kewenangan pemerintahan antara pemerintah pusat dan daerah, karena Undang-Undang tersebut juga mengatur tentang dana perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah (Undang-Undang No. 33, 2004:247).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor publik sering dinilai negatif oleh beberapa pihak, misalnya sebagai sarang inefisiensi, pemborosan, sumber kebocoran dana dan institusi yang selalu merugi. Tuntutan kualitas dan profesionalisme serta value for money dalam menjalankan aktivitasnya. Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Selain itu, tuntutan yang lain adalah perlunya akuntabilitas publik dan privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan milik publik untuk menciptakan good publik and corporate governance (Mardiasmo, 2002:27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model value for money (3E) mengukur dengan analisis varian yakni membandingkan antara input dan output yang direncanakan dengan input dan output aktualnya. Ekonomi dasar melalui rasio antara masukan aktual dengan masukan rencana. Efisiensi diukur melalui rasio efisiensi aktual dengan rasio efisiensi yang direncanakan. Efektivitas diukur dengan membandingkan keluaran realisasian (aktual) dengan keluaran menurut rencana (Suharyani, 2003:40). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks otonomi daerah, value for money merupakan jembatan untuk menghantarkan pemerintah daerah mencapai good governance. Untuk mendukung dilakukannya pengelolaan dana publik (public money) yang mendasarkan konsep value for money, maka diperlukan sistem pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah yang baik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah daerah memiliki sistem akuntansi yang baik.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, mengingat masih banyaknya potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam mewujudkan good governance yang memenuhi tuntutan akuntabilitas publik, maka dalam penelitian ini diambil judul: “TRANSPARANSI DAN TRANSFORMASI AUDIT SEKTOR PUBLIK SEBAGAI USAHA PEMENUHAN AKUNTABILITAS PUBLIK” (Study Pada Pemerintahan Kota Batu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-782845390735012499?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/feeds/782845390735012499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=829283168332983273&amp;postID=782845390735012499&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/782845390735012499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/829283168332983273/posts/default/782845390735012499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilmiahekonomi.blogspot.com/2009/12/transparansi-dan-transformasi-audit.html' title='TRANSPARANSI DAN TRANSFORMASI AUDIT SEKTOR PUBLIK SEBAGAI USAHA PEMENUHAN AKUNTABILITAS PUBLIK (Studi Kasus Pada Pemerintahan Kota Batu) (EKN-103)'/><author><name>ilmiahekonomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08075981872086292834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-829283168332983273.post-2920209108080353969</id><published>2009-12-27T14:37:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T18:26:14.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akuntansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>PERANAN DU PONT SYSTEM UNTUK MENGEVALUASI KINERJA KEUANGAN PT BAT INDONESIA,TBK SESUDAH PELAKSANAAN AKUISISI (EKN-102)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan arus globalisasi ekonomi yang menyebabkan suatu negara tanpa batas secara ekonomi, mengakibatakan setiap perusahaan yang ingin bertahan dan berkembang dalam menjalankan bisnisnya maka perusahaan tersebut diharapkan dapat lebih tanggap dalam menghadapi semua permasalahan yang timbul saat ini maupun masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi meningkatnya arus globalisasi ini, penerapan akuisisi dapat dijadikan suatu alternatif bagi suatu perusahaan untuk mengembangkan dimensi eksternal perusahaan, daripada membangun perusahaan baru yang tidak hanya membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama serta faktor resiko kegagalan yang tinggi. Dengan memilih alternatif akuisisi maka hal ini sejalan dengan karakteristik vertikal yang pada umumnya cenderung ingin mengendalikan atau memiliki kekuatan dalam pengelolaan bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pelaksanaan akuisisi tidak hanya melibatkan para pelaku akuisisi, tetapi juga melibatkan pihak lain seperti lembaga keuangan, lembaga perpajakan dan pemegang saham publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa suatu fenomena akuisisi yang sangat komplek. Salah satu wujud dari kompleksitas masalah akuisisi adalah kompleknya transaksi akuisisi. Suatu jenis transaksi akuisisi tertentu mempunyai karakteristik yang berbeda dengan karakteristik transaksi akuisisi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang terjadi pada PT BAT INDONESIA, Tbk yang bergerak dibidang industri, pemasaran, dan penjualan cerutu, rokok, dan produk-produk lain yang dibuat dengan atau dari tembakau, ekspor, impor, dan distribusi. Guna memperkokoh alternatif kegiatan usaha utamanya, maka persero menganggap perlunya untuk menentukan alternatif yang akan dipilih untuk mencapai tujuannya sebagai suatu kelompok usaha yang berhasil dibidang usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar kondisi yang demikian maka PT BAT INDONESIA, Tbk mengadakan akuisisi untuk meningkatkan kinerja dimasa mendatang yaitu dengan mengakuisisi PT BAT Kareb (“BATK”) yang bergerak dibidang pemrosesan daun tembakau dan PT Rothmans Of Pall Mall Indonesia yang bergerak dibidang pembuatan rokok putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuisisi dijadikan suatu alternatif bagi persero dengan tujuan agar lebih dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan sekaligus dapat lebih mengembangkan dunia bisnisnya yaitu dengan bertambahnya pangsa pasar perseroan maka berdampak pada peningkatan profitabilitas, dengan akuisisi akan berdampak juga pada likuiditas perusahaan. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan analisis Du Pont.&lt;br /&gt;Analisis Du Pont memisahkan profitabilitas dengan pemanfatan assets. Analisis Du Pont menghubungkan antara ROI, Profit Margin, dan perputaran aktiva. Komposisi laporan keuangan digunakan sebagai elemen analisisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/829283168332983273-2920209108080353969?l=ilmiahekonomi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application
